NovelToon NovelToon
Avonturir Dua Deputi

Avonturir Dua Deputi

Status: tamat
Genre:Mafia / Dunia Lain / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Teriablackwhite

Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.

Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?

Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...

Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADD Eps 17

    Kedua gadis cantik itu adalah Ellena dan Kalea yang tengah dikejar-kejar dua pria berbadan besar yang tengah dipengaruhi alkohol di siang bolong, bahkan matahari saja masih begitu semangat untuk memancarkan sinarnya.

    Awan kumulus bergerak lambat bersamaan dengan terik matahari yang mengganas. Kedua gadis itu terus berlari dengan tergopoh-gopoh saling berpegangan, raut wajahnya memancarkan ketakutan yang sebelumnya pernah dilihat oleh Kano.

    "Kal ... Cepetan ayo kita lari, mereka menyeramkan." Ellena menarik Kalea berlari bersamanya.

    "Bentar Len, kakiku gak bisa menyeimbangkan dengan kecepatan lari kamu," keluh Kalea, kayuhan larinya perlahan mengendur.

    Ellena terpaksa menghentikan langkahnya untuk memberikan Kalea ruang bernapas yang lebih panjang, dengan terengah-engah dan rasa takut yang membuncah karena kedua lelaki bertubuh kekar itu terus mendekatinya, gadis itu melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Kalea.

    "Kal ... Cepetan ayo kita lari lagi," pinta Ellena, dahinya mengerut.

    Gadis bermata pipih merah muda itu menarik Kalea yang tengah berlutut berusaha melegakan dadanya yang tersekat. Kalea membuntang dan mempersempit deru napasnya yang mengalir lambat.

    "Len ...," seru Kalea dengan nada suara yang melemah.

    Dari kejauhan lelaki itu nampak mempercepat rajutan larinya. "W-woii! Thunghgu ... Marhi bersenang-se-nang ...," urai lelaki itu meracau tanpa menghentikan kayuhan langkahnya.

    Ellena dan Kalea semakin mengayuh langkahnya dengan kecepatan yang lebih tinggi, walau kaki Kalea sudah kelu dan lemas, dia berusaha untuk menyeimbangkan kecepatannya dengan gadis berparas cantik yang nampaknya tidak kehabisan energi.

    Bugh!

    Dahi Ellena melanggar seorang pria bertubuh tinggi dengan dada bidangnya yang tegap, otot-otot tangannya pun nampak gagah. Perlahan tatapan Ellena memuncak dan mendapati Kano ada di depannya tengah memiringkan kepalanya tanpa ekspresi, wajah datar lelaki itu merenggut ketakutan Ellena dan menggantinya dengan kemarahan yang sempat tertunda.

    "Kamu!" pekik Ellena melepaskan genggamannya pada Kalea.

    Telunjuk kanannya meruncing seirama dengan bola matanya yang membuncah kuat, lantas dia mendorong lelaki di depannya dengan kasar sehingga tubuh Kano bergeser ke belakang.

    Namun, lelaki itu malah menyeringai, mengukir senyuman tipisnya yang mengundang kemarahan Ellena semakin mengeras. Lantas Kano menyugar rambutnya ke belakang sambil sesekali menyubuk ke belakang tubuh Ellena dan Kalea, dimana kedua lelaki setengah sadar itu sudah tiba di dekatnya.

    "Mau ditolong?" tawar Kano menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan kedua alisnya menaik bersamaan dengan sudut bibir kirinya yang memuncak.

    Mendengar hal itu, sontak Ellena menggantungkan kedua tangannya di pinggang, hidungnya mengerut geram. Namun, hal itu mengundang tawa kecil dari Kano, lelaki itu bukannya takut, melainkan menjadi semakin penasaran dengan gadis di depannya ini.

    "Enggak!" bentak Ellena kesal karena ci*m*n pertamanya telah direnggut oleh lelaki di depannya ini. "Gak sudi ditolong sama lelaki yang udah—" sambung Ellena yang kemudian tiba-tiba saja terhenti, lalu dia katupkan bibirnya dan tatapannya mematung dalam waktu yang sama merekam bola mata biru yang indah milik Kano.

    Lelaki itu tersenyum miring, tatapan nakal melokap jiwa Ellena tenggelam pada ketakutan, bayangan sentuhan yang membuat diri Ellena lemas itu kembali hadir dalam bayangannya. Kano melangkah ke dekat Ellena, dan menjatuhkan embusannya di belakang telinga gadis itu.

    Tubuhnya condong ke depan, dalam jarak yang sempit dada bidangnya bertemu dengan wajah paras cantik Ellena. "Ci*m*n itu masih melekat dalam ingatan ku," bisik Kano tepat di belakang telinga Ellena.

    Degh!

    Tanpa sadar bola mata gadis itu membuntang dan mendorong dada lebar milik Kano, sehingga Kano menegakkan punggungnya yang sesekali menoleh ke arah Kalea yang terdiam, sorot matanya menggambarkan rasa heran yang mendalam, angannya tidak bisa mengingat kejadian mengerikan itu.

    Namun, tentu saja Kalea mengetahui siapa Kano sesungguhnya, gadis itu mengenali Kano sebagai sosok ketua geng motor Atlantis Aodra yang sudah terkenal di seluruh penjuru negeri ini.

    "Len ...," panggil Kalea dengan sorot matanya yang kelesah. "Bukankah dia ...?" seru Kalea kemudian dengan tatapan polosnya yang kosong.

    Bola mata yang mengeras itu perlahan beralih ke arah Kalea. "Di-a ...," seru Ellena yang nampak berat menjelaskan apa yang dia pikirkan.

    Karena percuma saja gadis itu menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya mengenai Kano sebenarnya pada sahabatnya itu, pasalnya Kalea seperti orang yang kehilangan ingatan, kejadian buruk malam itu sama sekali tidak melekat di dalam benaknya, membuat Ellena bingung, mengapa hal itu bisa terjadi.

    Ini manusia siapa sih, kok bisa buat Kalea melupakan kejadian malam itu.

    Eh, dia manusia kan? Atau jangan-jangan dia bukan manusia lagi.

    Rajutan batin Ellena berguruh, tubuhnya terhenyak ke belakang, ingin rasanya gadis itu segera melarikan diri, tetapi gadis berambut hitam legam itu tidak tahu harus melarikan diri kemana.

    "Jika mau menjadi santapan dua lelaki yang kehausan nafsu itu silakan, aku mau pergi," cetus Kano menyeringai tipis.

    Kano beranjak dari hadapan Ellena dan Kalea, langkahnya bergerak mundur sambil membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, sampai akhirnya tubuh kekar lelaki itu berputar memunggungi kedua gadis yang masih didekap rasa takut yang membuncah.

    Ellena terdiam dan membeku di tempat, wajahnya mengerut sambil sesekali menoleh ke arah dua lelaki yang menyeret langkah gelayarannya dan tentunya pada punggung Kano yang perlahan menjauh.

    Netra keruhnya menoleh pada Kalea yang nampak lemas di samping kanannya. "Kal ... Gimana ini?" seru Ellena lemah.

    Kalea yang tidak bisa melihat wajah Ellena mengeruh lekas mengayuh langkahnya menyusul Kano membuat Ellena membuntang. "Kal ... Jangan!" pekik Ellena dengan punggung yang membeku.

    Namun, gadis berambut sebahu berlayer itu tidak menggubris teriakan Ellena yang mencegahnya untuk mendekati Kano. Langkahnya semakin tegas mendekati Kano, dia memblokir jalan lelaki yang kemudian menghujaninya dengan tatapan tajam yang menakutkan.

    "Tolong! Jangan pergi, tolong kami ... Walau aku tahu kamu pimpinan geng motor kejam itu atau hubungan mu dengan Lena itu apa, tapi tolong bantu kami," pinta Kalea penuh harap, debur jantungnya berhamburan meminta pertolongan dari lelaki yang entah dari mana asal-usulnya ini.

    Wajah Kano memiring sambil menarik kedua tangannya menggantung di pinggang tegapnya. Alisnya memuncak sejenak yang kemudian kembali turun. Bibirnya menyeringai kecil.

    "Temanmu tidak menginginkannya," imbuhnya singkat yang kemudian kembali menganyam langkahnya lagi.

    Meninggalkan Kalea, tetapi gadis itu tidak menyerah. Dia mengejar Kano lagi, menggenggam pergelangan tangan kekar lelaki itu, seketika Kano menoleh begar dan merajam tubuh gadis yang tengah tertunduk itu.

    Menyadari jika Kano sudah kembali mengarah padanya, gegas dia lepaskan genggamannya pada pergelangan tangan lelaki tersebut. "Maaf! Tolong kami, aku tidak tahu harus meminta pertolongan siapa lagi, aku mohon ...," pinta Kalea sekali lagi dengan penuh pengharapan.

    Kedua pria yang tengah mabuk itu telah tiba di dekat Ellena, keduanya terjatuh tepat di depan Ellena, membuat gadis itu mengurai ketakutannya semakin memuncak, perlahan kaki jenjangnya yang indah bergerak mundur, tetapi tiba-tiba kedua lelaki yang setengah sadar itu menjerat kaki Ellena secara bersamaan.

    "Aaaargh ...." teriakan Ellena membuncah dan kemudian terjatuh, dia berusaha untuk lepas dari jeratan kedua lelaki itu, tetapi tidak mampu.

    Tangisan Ellena pecah sambil dia menyeret tubuhnya ke belakang, walau hasilnya sia-sia karena kedua pria itu kembali menarik Ellena ke dekatnya. "Aaaargh ...," pekikan Ellena kembali memuncak.

    "Ssstt! Berisik dong sayang," ucap salah satu lelaki itu yang sekarang mulai bergerak bersila di hadapan Ellena.

    "Aaargh—ha-ha-ha ...," rengek Ellena, butiran air matanya bercucuran dengan lebat, punggungnya bergetar, kedua tangan dan kakinya pun ikut bergetar.

    "Jangan menangis sayang ...," sahut pria satunya lagi, yang kini tersenyum seperti siap memangsa.

    Melihat kedua lelaki yang sudah bersiap, lekas Ellena menyiapkan diri dengan tubuhnya yang bergetar untuk kembali memecahkan teriakannya. "AAAARGH ...." Pekikan Ellena tembus ke dinding langit yang tenang, awan-awan yang berkumpul di atas sana seketika berpecahan.

    Kedua lelaki di depannya, sontak menutupi telinganya yang berdenging karena pekikan Ellena. Sementara Ellena dengan jiwa ketakutannya segera berlari tertatih-tatih merajut langkahnya ke dekat Kano, sampai tiba di depan Kano dia menghamburkan tubuhnya memeluk Kano dan dia melupakan kekesalannya pada lelaki itu.

    "Tolong ...!" rengek Ellena mengeratkan dekapannya.

    "Yakin," seru Kano mendekap punggung bergetar milik Ellena, "jika aku meminta suatu hal dari mu bagaimana?" sambung Kano menggoda gadis yang ada dalam dekapannya.

    Degh!

    Tubuh Ellena terdiam sejenak, dia menelan ludahnya secara kasar, sampai akhirnya kerlingannya memuncak dan mempertemukan bola mata merah mudanya dengan bola mata biru, sebiru lautan di ujung dermaga itu.

    "Jangan min-ta ...," kata Ellena lirih.

    Tatapan penuh gairah dari lelaki itu tenggelam pada kenyamanan yang dirajut oleh bola mata merah muda milik Ellena. Dalam waktu yang membisu itu Kano melempar tubuh Ellena dengan lembut ke samping kanannya sehingga tubuh Ellena membentur Kalea yang ada di dekatnya.

    "Aw ...," ringis Ellena mengerut geram, tetapi dia tidak bisa marah ataupun menghujani lelaki itu dengan kutukannya.

    Kano melangkah ke depan, menekuk lehernya ke arah kiri dan kanannya sambil dia menekan buku-buku tangannya sehingga mengeluarkan suara tangannya yang siap untuk bertarung dengan kedua pria di depannya.

    "Serahkan dua gadis itu, karena kami telah memilikinya," angkuh salah satu pria yang berdiri pun sepertinya tidak mampu.

    "Sialan!" cibir Kano sembari menghantamkan sebuah pukulan kasar di pipi pria yang berkata demikian, sehingga pria itu terpental satu meter dari keberadaannya.

    "Woi!" bentak pria satunya lagi.

    Wajah Kano terlempar ke hadapan pria itu dan tanpa segan lelaki bertubuh tinggi tegap itu menyeringai lalu menghantamkan pukulannya lagi dan pria itu berakhir sama dengan temannya itu, tubuhnya terpental tak berdaya sampai membentur pohon besar di belakangnya.

Aarrgh ...

    "Harusnya pukulan itu cukup untuk membuatnya pingsan, bukan mati," seru Kano yang melangkah maju ke dekat kedua pria yang sekarang sudah kehilangan kesadarannya dengan penuh.

    Seketika Ellena membuncah melihat pergerakan Kano, dia mengingat betul kejadian malam itu, mungkin saja Kano akan membunuh kedua pria itu, seperti yang lelaki itu lakukan pada mangsanya malam itu, sontak kaki Ellena mengayuh langkahnya dengan cepat dan menarik Kano ke dekatnya, sehingga tangan kekar nan lebar milik Kano terjatuh di pinggang kecil Ellena.

    "Jangan!" serunya tiba-tiba saja.

    Senyum tipis yang mematikan milik Kano terurai di depan mata Ellena. "Aku tidak akan membunuh seseorang dengan sembarangan." Lelaki berbadan tegap itu condong ke depan, "mereka yang terbunuh adalah orang-orang yang berjiwa kelam dan berhati hitam," bisik Kano tepat di belakang telinga Ellena sambil menarik pinggang gadis itu untuk terus tenggelam pada jeratannya yang kuat.

...----------------...

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ditunggu novel baru nya kak
Teriablackwhite: Terima kasih telah membaca Kak 🥰 ditunggu ya ...
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
fighting kak 💪
Teriablackwhite: Terima kasih 🥰 semangat juga ya
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
semangat kak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
makin seru kak cayoooo 😁 💪
Teriablackwhite: Terima kasih akak 🥰🥰
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
seru banget kak

jangan lupa mampir di novel pertama qu


🙏
Teriablackwhite
Selamat membaca ya semuanya, semoga suka, jika ada kekurangan silakan berkomentar /Smile/
La
Semangat thorr
Qy ࿐
Tulisan nya rapih, dan bikin baper nih
Qy ࿐
luar biasa, jangan lupa mampir juga ya kak "Dibalik Pesona Dahlia"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!