Semburat warna kasih dan rindu menjelma menjadi setumpuk asa yang membiru. ketika hati saling tertahan untuk mengungkap rasa karena masa, berharap sang pemilik rasa mempertemukan dengan dia yang pantas dan tepat untuk berbagi rasa.
Pernah ngga sih.., kamu suka seseorang tapi sebelum mengungkapnya orang itu udah pergi ke tempat yang jauh. Padahal kamu yakin cintamu tidak bertepuk sebelah tangan
Cinta yang tak terungkap di bangku kuliah diuji jarak dan waktu. Rasa Lau untuk Adrian yang tak lekang oleh waktu, hingga waktu berbaik hati mempertemukan. Tapi apalah daya sebuah ikatan menjadi penghalang. Akankah rasa itu berbalas dan menyatu.
Persahabatan, cinta, persaudaraan, dan kekonyoan berbaur membentuk pelangi keabadian nan indah.
Cinta yang tak terungkap membentuk warna yang unik, hingga lebih sulit dilupakan. Itu fakta menyebalkan tapi indah untuk dikenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyith S., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Rapuhnya Lau
Lau berjalan bergandengan dengan mamanya, sementara papanya dibelakang mengekori keduanya seperti pengawal pribadi. “Nak.. kuncinya mana, biar papa aja yang bawa mobil ya. Kita mampir kesuatu tempat” kata papa Lau seperti mengerti suasana hati putrinya saat ini. Lau hanya mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya.
Disinilah mereka sekarang.. hamparan pasir putih yang berkilau karena terpapar sinar matahari sore. memang tempat paling pas untuk melepas rasa Lelah jiwa dan raga. Kedua orang tua Lau nampak menikmati es kelapa muda dibawah payung besar sambil mengawasi putrinya yang bermain air laut seperti mengawasi anak kecil.
Mereka sengaja memberi waktu untuk Lau sendiri karena mereka mulai paham dengan apa yang terjadi dari cerita yang mereka dengar dari Lau walau hanya secuil. Tapi mereka mulai paham kemana arah kegalauan putrinya,
“putri kecil kita udah dewasa ya Pa” ucap mama Lau tanpa mengalihkan pandangannya dari putri semata wayang mereka.
“ya.. kadang rasa sakit juga akan mendewasakan, menjadi pembelajaran berharga untuk putri kita Ma” ucap Papa Lau menggenggam tangan istrinya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Ditepi pantai, sembari memainkan kakinya dipasir Lau masih setia dengan diamnya. Namun seklebat bayangan yang dia saksikan tadi memebuat air matanya berlahan meleleh dengan sendirinya.
Ketika hendak berpamitan tadi, tidak sengaja Lau melihat pasangan yang sangat romantis menurutnya. Adrian menenteng sepatu Andriana ibunya Cyla dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merengkuh pinggang perempuan itu. Mata Lau sempat bersitatap dengan Adrian, namun Lau buang muka karena tak sanggup melihat adegan itu.
“Bang.. kamu setega itu sama akuu.. apa memang inilah buah penantian yang harus aku petik” ucap Lau tergugu, dan mulai terisak.
Dia tidak tahu seperti ada rasa marah, namun juga bingung. Karena dia sadar disini Adrian pun mungkin tidak salah. Karena pria itu tidak menjanjikan apapun saat dia pergi. Dia hanya bilang dia disana sampai empat tahun.
Selama ini dia berdo’a semoga pria pujaan hatinya itu sehat dan selalu dilindungi oleh Allah, dia juga berdo’a supaya dirinya mampu bertahan sampai tiba saatnya penantian itu berakhir. Mungkin dia lupa menyematkan do’a agar hanya Lau satu-satunya perempuan yang dicintainya. Lau juga tidak pernah berdo’a agar Adrian menajadi pasangannya. Karena menurut dia jodoh, lahir, dan kematian sudah tertuliskan. Padahal harusnya berdo’a seperti itu juga tidak apa kan, pikir Lau sekarang.
Lau terus meluapkan apa yang mengganjal dihatinya sambil terus terisak hingga bahunya bergetar. Membuat mamanya khawatir.
“Pa.. samperin gih, mama udah nda tega liatnya, udah hampir sejam loh dia main air” pinta Mama Ayu dan diangguki suaminya yang berlalu mendekati putri mereka.
“Lau.. udah cukup, kita pulang ya..” ucap Papa lembut, Lau berbalik dan berhambur kepelukan papanya dengan isakan yang makin kencang.
Hati ayah mana yang tidak pilu melihat putrinya menangis sampai tersedu-sedu. Tapi ini masalah hati yang tidak bisa dibeli dengan uang apa lagi dinegosiasi seperti bisnis.
Papa lau mengelus lembut punggung putrinya cukup lama, dan akhirnya menepuk lembut bahu putrinya ketika mendengar isak tangis itu telah berhenti.
“tidak semua keinginan kita didunia ini selalu kita dapatkan, ada kalanya kita dibuat kecewa oleh sesuatu yang tidak pernah kita sangka akan mengecewakan kita, kamu tau biar apa Nak..?” nasehat Papanya dibalas dengan gelengan kepala Lau yang masih terbenam di pelukan Papanya.
“biar kita bersyukur sama yang kasih kita hidup atas apa yang kita punya selama ini, dan juga menyadarkan kita hanya Allah tempat bersandar dan berharap tanpa mengecewakan” lanjut Papanya memberi wejangan.
Ucapan papanya justru menambah deras air mata Lau membuat papanya bingung namun kemudian tersenyum ketika mendengar putrinya beristighfar.
“astaghfirullah hal aziim.. ya Allah,, ampuni Lau” ucapnya ditengah isakan tangisnya.
Mama Ayu yang sudah nda sabar dari tadi menunggu pun menghampiri ayah dan anak itu penuh rasa penasaran. Namun sebelum sampai, ternyata mereka telah berjalan mendekati sang mama dan disambut dengan senyuman dan pelukan. Kemudian berjalan beriringan dengan mengapit putri mereka menuju mobil untuk kembali pulang ke rumah mereka.
****
Kembali kepesta Kareen, terlihat seorang pria celingak celinguk seperti mencari seseorang.
“cari siapa Bang” tanya Amel yang kebetulan berpapasan dengan pria itu.
Ternyata Adrian mencari sosok Lau sedari tadi tidak ketemu. Ketika Lau dan keluarganya berpamitan, Adrian sedang mengantar Cyla yang kebetulan ngantuk dan ingin tidur siang. Alhasil dia menemani gadis kecil itu hingga ketiduran juga.
“Lau sudah sedari tadi pulang bareng mama dan papanya Bang” ucap Amel yang hanya disahuti “ow..” dengan ekspresi kecewa Adrian. sebenarnya Amel gemas pingin jitak kepala kakak sepupu bestienya itu.
Kalau memang tidak ada lagi harapan untuk Lau, kenapa pria itu seperti sok perhatian gitu sama sahabatnya.
“Bang.. jangan suka PHPin anak orang dong Bang, Abang gak tau kan seberat apa perjuangan Lau selama ini” ucap Amel lirih tapi penuh penekanan sambil berlalu meninggalkan Adrian yang terbengong entah memikirkan apa.
Daripada nanti Amel mencak-mencak tidak terkontrol, lebih baik dia pergi dan berpamitan untuk pulang.
Adrian masih terdiam berusaha mencerna ucapan teman adik sepupunya itu, termenung kemudian menarik nafas dalam karena tidak ketemu juga jawaban yang dia cari.
“apa sedalam itu aku menyakitinya.. aku pikir semua baik-baik saja, terus aku harus bagaimana” ucapnya dengan mode bingung.
Sesampai dirumah Lau langsung berlalu membersihkan diri di kamarnya, hujan turun dengan sangat derasnya seperti mengiringi rasa sakit yang sekarang Lau rasakan. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi mata Lau tidak mau diajak kompromi, dia keluar kamar menuju dapur mengambil susu hangat yang dia harap bisa membuatnya mengantuk tapi ternyata nihil.
Mama Ayu terbangun ketika mendengar sayup-sayup suara televisi, dia menengok kearah suaminya yang sudah berlayar dialam mimpi sambil memeluknya erat. Mama Ayu menyingkirkan pelan lengan kokoh suaminya, dan berjalan keluar. Ternyata putri cantiknya yang sedang menonton drama korea.
“belum tidur Nak..” sapanya mendekat duduk disamping Lau yang hanya dibalas dengan senyuman dan gelengan pelan, kemudian mengelus rambut hitam putrinya itu. Dia paham mungkin kegalauan masih belum hilang dari pikiran putrinya. Lau membringsut tiduran disofa dengan alas pangkuan mamanya, rasanya nyaman sekali. Memang tidak salah, pangkuan dan pelukan seorang ibu adalah tempat ternyaman serta dapat mengurangi rasa gundah dihati.
“tidur dikamarmu ya.. ini udah malam, nda baik untuk kesehatan. Besok jadi kan kamu ke Bandung” ucap mamanya lagi.
“iya Ma.., Ma,, boleh nda malam ini Mama temenin Lau tidur” pinta Lau memasang senyum menggemaskan. Yang akhirnya diiyakan oleh Mamanya, walau bisa dipastikan besok pagi akan ada kehebohan suaminya karena ketika dia bangun istrinya tidak ada disampingnya.
Pria itu dari dulu selalu begitu, baginya seorang suami dan ayah lah yang harus bangun lebih dulu kemudian baru membangunkan istri dan anak-anaknya untuk sholat subuh. Karena laki-laki itu pemimpin jadi harus memberi contoh yang baik untuk anak dan istrinya.