Kai Adrian atau kerap di sapa Gus Kai, seorang anak kiyai terkenal, Gus Kai adalah seorang dokter spesialis jantung.
Gus Kai terkenal dengan ketampanannya dan juga prestasinya di bidang akademi dan juga Dakwahnya melalui media sosial pribadi miliknya.
Kepribadinnya yang tenang dan tidak sukanya huru- hara, membuat dirinya harus mengiklaskan calon istrinya untuk sang Kakak.
Namun apakah Gus Kai bisa mencari kebahagiaannya sendiri? dan adakah perempuan yang mampu membuatnya jatuh Cinta? Nantikan kisah perjalanan cinta Gus Kai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.
Najma di antar oleh Syifa ke kos nya yang hanya satu petak tersebut, kamar mandipun di luar dan harus sharing dengan yang lainnya.
Najma mulai mengemasi bajunya, tadi ia di telfon oleh Nyai Ida, atau Najma sering memanggilnya Umi ida, istri kiyai Idris dimana ibunya bekerja.
Nyai Ida tadi memberitahu Najma jika ibunya sakit dan memanggil namanya terus menerus dan hari ini Nyai Ida akan menjemput putrinya yang mondok di jogja juga dan Nyai Ida meminta Najma untuk bersiap dan ikut pulang ke bandung untuk melihat ibunya.
" Kamu berangkat dari mana Ma? biar aku antar" tanya Syifa yang masih menemani Najma.
" Gapapa kok Fa, aku kesana sendiri saja, aku di suruh ke pesantren Darrussalam" jawab Najma.
" Nahhh itu mahh deket rumah aku ma... ayo sekalin aja aku antar, itu pesantren yang gede itu kan? punya Kiyai Ibrahim" sahut Syifa yang memang rumahnya daerah Sleman bagian utara.
" Iya memang deket rumah kamu Fa, tapi aku enggak enak, kamu udah terlalu banyak nolong aku" jawab Najma, Najma sering ke pondok tersebut karena sering di mintai tolong Nyai Ida tunggu menjenguk Billa, anak bungsu nyai Ida dan kiyai Idris.
" Udah bareng aja ,orang searah juga" sahut Syifa.
" Ini udah semua Ma? aku bawa ke motor yaa?" imbuh Syifa melihat tas najma yang hanya membawa beberapa baju.
" biar aku aja Fa, ini tinggal masukin laptop" sahut Najma kemudian merapikan kembali kamarnya sebelum ia tinggal.
Kini Najma dan Syifa perjalanan menuju pesantren Darrussalam jalan begitu lenggang dan kurang dari dua puluh menit mereka sudah sampai, yang bisanya membutuhkan waktu dua puluh menitan, untuk sampai.
Saat di depan pondok, Najma melihat mobil Nyai Ida baru saja masuk ke kawasan pesantren, tidak lama ponselnya juga berbunyi.
" Fa, kamu mau masuk dulu enggak, ini umi ida udah telfon lagi?" tanya Najma pada Syifa.
" enggak usah Ma, aku langsung aja, oh yaa... hati- hati yaa... kalau ada apa- apa kasih tau aku yaa... berkabar yaaa" jawab Syifa yang sudah menyalakan motornya.
" Makasih banget yaa Fa.... ,maaf kalau aku banyak ngerepotin" sahut Najma yang benar - benar tidak enak hati pada sahabatnya tersebut.
" Udah, makasih mulu sana masuk, aku mau jemput adik aku dulu, Assalamualaikum " pamit Syifa, Najma melihat kepergian Syifa hingga tak terlihat kembali.
" Teh Najma" teriak seorang gadis dari arah gerbang pesantren.
Gadis tersebut adalah Billa, anak Nyai Ida yang biasanya di jenguk oleh Najma, Najma cukup dekat dengan keluarga Nyai Ida.
" Ning Billa" sapa Najma melampaikan tangannya.
Ning Billa kemudian menghampiri Najma yang masih berada di luar gerbang pesantren, Ning Billa kemudian mengajak Najma untuk masuk, karena uminya juga baru saja datang.
" Teh Najma dari kuliah?" tanya Najma yang melihat pakaiannya Najma, yang masih pakai celana,karena biasanya jika menjenguk dirinya Najma akan menyesuaikan, jika tidak pakai gamis dirinya akan pakai rok.
" Iyaa Ning, tapi saya baru saja selesai kuliah, pas mau pulang Umi ida telfon, bilang ibu saya sakit demam tinggi dan terus panggil nama saya, dan umi ida mengajak saya buat sekalian pulang ,.buat lihat keadaan ibu Ning" jawab Najma menjelaskan kejadiannya pada Ning Billa.
" Iya teh, tadi umi juga udah bilang sama aku, Ayo teh masuk dulu, Umi tadi habis dari luar, sambil nunggu teteh" sahut Ning Billa.
Najma dan Billa mulai berjalan, saat melewati rumah- rumah pengajar, mereka berpapasaan dengan mobil hitam gagah.
Seseorang dalam mobil tersebut membuka katanya dan menyapa Billa, " Dek, di Cari Balqis " ujar seseorang di dalam mobil tersebut.
" Iya ini mau ke sana, Mas Kai mau kemana?" tanya Billa.yahh... orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah Kai, anak kiyai Ibrahim dan Nyai Siti.
"Mas, mau ke rumah sakit dulu, ada pekerjaan, nanti mas langsung nyusul dari rumah sakit, itu Umi juga udah nunggu loh" jawab Kai.
Kai menghiraukan Najma, begitu pun dengan Najma yang sama sekali tidak melirik ke arah kai, fokusnya pada ponselnya yang kini sudah di iket dengan karet gelang dan berkabar dengan teman ibunya yang juga juru masak di pesantren milik Nyai Ida.
" Ya sudah Mas, berangkat dulu yaa.. Assalamualaikum " pamit Kai.
" Waalaikumsalam " jawab Najma dan Ning Billa bersamaan, Namun Najma sama sekali tidak melihat ke arah Kai.
" Ayo mbak" ajak Ning Billa kembali.
Mereka kembali menyusuri rumah - rumah para pengajar yang memang di sediakan oleh pesantren, setelah berjalan sekitar 6 menit mereka sampai di depan Ndalem utama, dengan bangunan yang cukup mewah.
Tidak di pungkiri karena Kiyai Ibrahim juga seorang pengusaha tambang batu bara, memeliki perusahan percetakan, perusahan tekstil dan memeliki toko banu serta restoran khas Timur yang kini di kelola oleh kedua anaknya.
"Assalamualaikum " Ucap Najma dan Billa bersamaan.
Umi Ida yang memang menunggu di teras kemudian berdiri saat melihat kedatangan Najma dan juga Billa.
" Waalaikumsalam, maaf ya Naj, umi baru bilang, sebenarnya ibu mu enggak mau umi bilang ke kamu" jawab Nyai Ida.
" Tidak papa umi, Najma berterima kasih sama umi, karena sudah memberi tahu najma dan mengajak Najma untuk pulang bareng,Najma dan ibu sudah terlalu banyak ngerepotin umi dan keluarga" jawab Najma yang tidak lupa mencium tangan Nyai Ida.
" Udah siap dek?" tanya Nyai Ida yang memang sudah tiba sedari tadi dan tadi sempat keluar sebentar.
" Sudah umi, Balqis mana?" tanya Billa.
" I' m here.... " teriak balqis dengan koper besarnya yang berwarna kuning .
" ih.... cantik banget, MasyaAllah mbaknya siapa bulek?"tanya Balqis pada buliknya.
" ini Teh Najma namanya, anaknya bu asih, kamu kenal bu asih kan?" sahut Nyai Ida.
" Tau dong, Aku suka masakan bu Asih enak banget teh" sahut Balqis tersenyum ke arah Najma.
" Terima kasih Ning, sudah memuji masakan ibu saya, ibu saya memang pandai masak" sahut Najma yang tiba- tiba saja merindukan masakan ibunya, sudah lama dirinya tidak makan masakan sang ibu.
" Ya sudah yukk... udah semua kan, Kang tolong angkat barangnya ndoro ini kang, cuma lima hari bawaannya udah kayak mau pindahan " Nyai Ida meminta tolong pada kang ujang, yang biasanya mengantarkan Nyai ida kemana- mana.
" Baik Umi " jawab Kang Ujang yang mulai memasukan barang Balqis dan bila, di bantu oleh Najma.
Kriknggg.....
suata dering ponsel Nyai Ida berbunyi, Nyai ida segera mengangkat panggilan dari suaminya.
" Halo Assalamualaikum bi" .
" ......."
" kenapa bi?" tanya Nyai Ida.
" ......."
" Udah, ini kita mau berangkat ,ada apa?" tanya Nyai ida.
" ......"
"Innalilahi, iyaa umi hubungi Kai dulu, kai baru berangkat soalnya "
baguslah KAI niatmu menjaga dn menjadikan najma satu satunya seumur hidupmu
jgn bilang bakal ada poli poligamian ya Thor aku paling GK bisa kalo tntg poligami bawaannya emosi apalagi aiza udh Namba juteknya 🙄