Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
"Den Devin, Bib..." Ucap Bi Asih tercekat karena melihat Devin mengangkat sebelah tangannya tanda tak ingin mendengar penjelasan apa pun dari pengasuhnya itu.
"Ayo ikut aku!" Seru Dev seraya menarik paksa Lulu ke dalam kamar mereka.
"Lepas, Dev! lepas! kamu menyakiti tanganku!" Ucap Lulu seraya memberontak.
Tak kehilangan akal, Dev yang hampir kewalahan menggiring Lulu ke kamar mereka segera menggendong tubuh istrinya itu bak karung beras.
"Dev, sialan! turunkan aku cepat! kamu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini! Bibi, tolong aku, Bi! aku mau pulang! aku tidak mau tinggal bersama monster mengerikan ini!" Jerit Lulu.
Bi Asih tak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik bagi kedua majikan mudanya itu. Bi Asih juga tau, jika Dev tidak mungkin berbuat hal yang tidak dia harapkan pada istrinya, sehingga Bi Asih tak dapat mencegah lagi Dev membawa istrinya ke dalam kamar.
Brak...
"Ka...kamu mau apa, Dev! jangan mendekat! cepat pergi! aku benci melihat kamu, aku benci! emm..." Racau Lulu yang segera di bungkam Devin dengan bibirnya.
Seketika, Lulu mendorong dada Devin sekuat tenaga, dan hal itu berhasil melepaskannya dari pagutan bibir Devin yang menyerangnya tiba-tiba.
"Jangan harap, kamu bisa menyentuhku seenaknya lagi, aku tidak akan tinggal diam mulai sekarang!" Ancam Lulu yang membuat Devin tersenyum menyeringai.
"Heh, apa kamu lupa kalau aku ini suami mu, aku berhak sepenuhnya atas tubuhmu itu! atau kamu memang lebih senang jika pria lain yang menjamah tubuh murahan mu ini!" Devin hendak menyentuh kepala Lulu, namun secepat kilat Lulu menghindarinya.
"Kamu berhutang penjelasan padaku sekarang! apa kamu menyukai pria selain mantan mu yang payah itu?" Ucap Devin seraya menarik sebatang rokok dari bungkusnya.
"Itu tidak penting dan tidak perlu aku jelaskan padamu! bukannya kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi kita masing-masing, lantas kenapa sekarang kamu menuntut penjelasan dariku?" Sahut Lulu.
"Heh, ternyata ingatanmu bagus juga! kalau begitu aku tidak akan bertanya apa pun lagi padamu!" Ucap Devin seraya mematikan rokok yang sebelumnya dia hisap dan bergegas pergi meninggalkan Lulu di kamarnya.
Brak...
Pintu kamar pun terdengar menggema di banting Devin. Bi Asih sampai memegangi dadanya karena terkejut, namun sebisa mungkin dia bersikap tenang saat Devin terlihat terus melangkah keluar dari apartemennya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Ya Tuhan, kasian sekali Nona kecilku ini!" Gumam Bi Asih segera bergegas masuk ke kamar Devin setelah majikan mudanya itu menghilang dari balik pintu apartemen.
Ceklek...
"Non, apa Non Lulu baik-baik saja?" Tanya Bi Asih seraya membelai surai Lulu dengan lembut.
"Bibi... kenapa aku selalu tak punya pilihan? aku selalu di paksa oleh keadaan yang kejam!" Lirih Lulu seraya menumpahkan kesedihannya.
Di lain tempat, Devin mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Setelah sampai di tempat yang dia tuju, Devin menyerahkan kunci mobilnya pada orang kepercayaannya untuk di parkir kan.
"Ruangannya sudah saya siapkan, Tuan!" Ucap seorang pelayan tempat tersebut.
"Bagus, aku akan menggunakannya sekarang juga!" Sahut Devin seraya bergegas masuk ke ruangan yang sudah disediakan untuknya.
"Lol, itu Devin, kan?" Ucap Karina saat melihat sosok yang dia kenal melenggang masuk ke arena Tinju.
"Iya, benar Rin! mau apa dia masuk ke ruangan tinju? apa dia seorang atlit tinju, ya? pantas saja badannya terlihat berotot!" Sahut Loli seraya memperhatikan Devin dari tempatnya berdiri bersama Karina.
Saat ini, kedua sahabat itu tengah melakukan rutinitas menjaga kesehatan tubuh di salah satu tempat fitness. Tanpa sengaja, Karina yang hendak mencoba beberapa alat yang baru, melihat Devin melangkah menuju ruang Tinju.
"Sepertinya kita harus ikuti dia, Lol! ayo, kita intip dia di sana! atau kita pura-pura salah masuk saja!" Seru Karina bersemangat.
"Jangan, Rin! kamu gak lihat kalau di depan pintu itu di jaga dua pria botak? mana badannya gede-gede lagi!" Ucap Loli ngeri sendiri.
"Tapi Lol, kalau kita diam aja di sini, kita gak akan tau apa yang Devin lakukan di sana, sebaiknya kamu ikut aku membujuk penjaganya saja ya, nanti kalau kita sudah berhasil masuk, aku akan mentraktir kamu makan es krim di kedai langganan kita!" Bujuk Karin.
"Sepakat! ayo pergi!" Sahut Loli.
"Dih! giliran dengar traktiran es krim aja semangat!" Umpat Karin.
Keduanya tak melanjutkan debat, Karin dan Loli memilih segera beraksi menghampiri kedua penjaga yang berdiri di depan pintu ruang Tinju.
"Permisi, Bang! kita berdua boleh masuk, kan?" Tutur Karina.
"Kalian mau apa ke dalam, ruangan ini tidak sembarangan orang bisa masuk, cuma yang berotot seperti kami saja yang boleh! selain itu, bos kami baru saja datang, jadi tidak boleh sembarangan menerima tamu!" Sahut Pria plontos berotot.
"Tapi saya kenal dengan bos kalian itu, Bang! dia Devin Ganendra Pranoto. Dia itu suami sahabat saya! saya cuma mau meminta ijin padanya untuk mengajak istrinya liburan di akhir pekan nanti! jadi, kami boleh masuk, ya!" Tutur Karin.
"Iya benar, Bang! kalau Abang gak percaya sama kita berdua, Abang-abang maco ini boleh, ko ikut masuk sama kita, biar kalian bisa memastikan kalau kita gak bohong!" Sahut Loli menambahkan.
"Hm... gimana Jek, apa kita biarkan saja mereka masuk?" Tanya pria pelontos berotot.
"Sudahlah, biarkan saja mereka masuk dulu, urusan bos menerima mereka atau tidak biar kita pikirkan nanti saja, sepertinya kedua gadis ini juga tidak sedang berbohong!" Sahut Jek, teman pria plontos berotot.
Karin dan Loli bersorak gembira dan juga lega. Keduanya lantas masuk ke salah ruang Tinju VIP tersebut dan memberanikan diri menemui Devin.
"Tuan, maafkan kami! tapi kedua gadis ini mengaku sahabat istri anda dan bersikukuh ingin menemui anda!" Ucap Jek.
Devi yang tengah memukul samsak, akhirnya menghentikan kegiatan menguras keringat tersebut. Setelah memastikan apa yang di ucapkan anak buahnya, Devin memerintahkan Karina dan Loli duduk menunggunya.
"Rin, kamu yakin keputusan kita ke sini sudah benar? kenapa aku tiba-tiba jadi takut, ya? ternyata pria tampan kalau sedang olah raga bisa menakutkan juga, ya?" Bisik Loli.
"Sudahlah, Lol! kita tunggu Devin selesai saja! kita harus menjelaskan kebenaran saat di bioskop tadi. Aku yakin, jika Devin salah paham pada Lulu!" Sahut Karina.
30 menit kemudian, Karina dan Lulu sudah nampak bosan dan kesal. Namun mereka tetap menunggu Devin dengan sabar. Hingga akhirnya, Devin menghampiri keduanya dengan keringat yang sudah bercucuran.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Devin seraya meneguk sebotol mineral.
"Ka...kami tidak menginginkan apa-apa, ko!" Sahut Loli gugup.
"Kalau begitu pergilah! aku sedang tak mau di ganggu oleh siapa pun!" Ucap Devin seraya beranjak kembali dari duduknya.
"Tunggu! kami ingin menjelaskan sesuatu!" Seru Karin angkat bicara. Devin terlihat membalikkan badan dan mencoba memberi kesempatan Karina untuk berbicara.
"Cepat katakan! aku harap bukan omong kosong yang tidak ingin aku dengar!" Ucap Devin dingin.
"Ini tentang Lulu dan Luis di bioskop tadi siang! apa kamu tidak ingin tau apa yang sebenarnya terjadi?" Tutur Karina sedikit geram dengan sikap angkuh Devin.
"Heh! aku tidak tertarik membahas mereka berdua! sepertinya mereka benar-benar cocok jika bersama!" Sahut Devin tersenyum kecut.
"Oh, ternyata saya sudah salah menilai anda Tuan Devin yang terhormat. Saya pikir, saya sudah bisa tenang menyerahkan sahabat saya pada anda! Meski dia jatuh dalam dekapan Luis karena tiba-tiba pusing, tapi dia tetap menjaga jarak dari laki-laki lain yang ingin mendekatinya, dan itu semua Lulu lakukan demi menghormati suaminya yang tak tau diri seperti anda! Bahkan saat di supermarket, Lulu sempat melihat anda memakaikan kalung dengan mesranya pada Model terkenal itu! tapi dia sama sekali tak pernah berpikir untuk pergi dari sisi anda!" Tutur Karina berapi-api.
Karin sudah sangat geram dengan sikap acuh Devin pada sahabatnya itu. Yang Karina mau, setidaknya Devin tidak membuat sahabatnya sedih jika tak menginginkannya.
"Ceraikan Lulu jika anda tak bisa membuatnya bahagia!" Ucap Karina lagi yang membuat Devin membelalakkan kedua bola matanya. Ada rasa perih dihatinya saat seseorang memintanya berpisah dari sang istri.
.
.
.
.
.
Karin the best banget kan... ayo kasih Karin hadiah, like, komen terbaik, gift dan vote nya ya 😁😁😁
See you next bab 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.