Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Berkubu; Taruhan Yang Krusial
"Wika orang baik!" Olla berkeras. "Apa kau mau taruhan?"
"Apa yang kau pertaruhkan?" Konyol, pikir Alvin.
Olla berpikir sejenak. Memangnya apa yang menurutnya sangat berharga yang Alvin sangat menginginkannya.
"Aku bertaruh seluruh hidupku selama pernikahan kita." Olla berpikir Alvin butuh penerus. "Aku siap berdedikasi penuh sebagai istrimu dan akan lahirkan 3 anak untuk kamu jika Wika memang bukan orang baik. Tapi aku mau kau membebaskan aku jika aku benar."
"Yang tidak pernah kamu tahu bahwa, tanpa taruhan, kau akan terikat denganku selamanya." Alvin meladeni. "Dan jalan kita masih panjang. Wika tidak akan melepaskan topeng dengan mudah."
"Ck ... bilang aja kalau takut!" Olla penuh keyakinan menantang. "Aku tahu, memang tipe seperti aku mudah membuat pria jatuh cinta. Itu sebabnya banyak pria yang enggan putus dariku, bahkan rela aku gantung demi nungguin keputusanku!"
Alvin merasa jengkel. Olla kenapa? Seingatnya, wanita ini pendiam dan cenderung murung, tapi kenapa dia ngoceh seperti burung beo begini?
"Sudahlah, nggak asik main sama orang cemen!" Olla bersedekap lalu berkata keras pada Sony. "Jalan Son!"
"Kita tidak punya saksi!" Alvin sungguh tidak suka bila semuanya menjadi tidak jelas begini. Yang dia takutkan adalah jika Olla sudah pisah darinya, maka targetnya adalah Olla. Jika punya anak maka targetnya anaknya.
Tapi susah mengatakan itu semua pada wanita yang gila realita dan bukti nyata. Alvin pasti dituduh membual. Ia tahu, Ayahnya diam bukan karena dia menyerah, tapi karena diserang mendadak dan ditodong nadinya dengan pisau. Bisa apa dia memangnya?
"Sony saksinya!" Olla tersenyum senang. "Aku hanya mau dua hal itu, Al ... nggak mau harta apalagi kekayaan kamu walau nggak habis sampai kiamat!"
Olla mengulurkan tangannya. "Deal ya, Mr. Alvin!"
Senyum Olla sedikit membuat denyut jantungnya bergejolak. Alvin mengakui pesona Olla walau dia tidak terlihat cantik yang luar biasa. Ia tahu perawatan Olla apa, dan putih di kulitnya cenderung pucat. Sudahlah, mungkin memang cinta seharusnya hadir diantara mereka. Alvin boleh jatuh cinta lebih dulu ke Olla. Tidak ada larangan dan tidak ada perjanjian.
"Deal!" Alvin menjabat erat tangan Olla tanpa memindahkan tatapan intens penuh makna dari mata Olla.
"Wikaaa!" Olla sedikit mendesah menyebut nama itu. "Kerja sama ya, please ... kamu orang baik, kamu orang baik!"
Alvin hanya sedikit menarik bibirnya untuk mengejek keyakinan Olla. "Kita sampai!"
Ha? Apa itu? Ini baru 3 menit dari tempat yang tadi. Tunggu ....
"Aku beli 3 unit! Dua aku sewakan pada orang Amerika!" Alvin turun di depan rumah tanpa gerbang. Ya, rumah Alvin tanpa gerbang. Tapi bukan berarti masuk ke sini mudah.
Olla ternganga. Nyaris pingsan. Ia turun perlahan dan menatap sekitar. Dua orang terlihat tergopoh dari bagian depan rumah dan menyambut Alvin.
"Al—"
"Kamu masih mau jumpalitan di desa tanpa internet itu dan meninggalkan kemewahan ini?" Alvin berjalan masuk, mengisyaratkan dengan tangan agar Olla mengikuti ke ruangan—yang Olla pikir adalah ruang depan, teras atau semacamnya. Tapi, itu adalah gerbang rumah yang menyamar jadi sebuah ruangan. Di sana keamanan berjaga. Siapapun tidak akan bisa masuk kecuali memang dikenali di sini.
Olla takjub, sampai gemetaran, "Kamu sepenting ini? Kamu siapa Al?"
Itu seperti gumaman memang, tapi Alvin mendengar. "Aku hanya suamimu!"
Olla kaget lalu terhuyung ke belakang saat Alvin menariknya.
"Tapi Al, kita hanya berjarak beberapa meter dari rumah Ayah kamu, apa ini aman?!" Olla khawatir. Entah untuk apa.
"Hanya di sini kita akan aman, Sayang!" Alvin membawa Olla duduk, memandang Olla sedikit dibumbui perasaan. Seperti suami yang penuh pengertian pada istrinya yang khawatir.
"Di sini, tidak boleh ada keributan. Kami tidak saling mengenal. Jika kamu tahu siapa tetanggamu berarti hanya ada dua kemungkinan." Alvin mengeluarkan jari telunjuknya.
"Satu: kamu mengintai seseorang, dua; kamu hanya orang yang mengaku kaya!" Alvin menyeringai. "Karena aku punya 3, dua milik Ayah dan Demian, dan lima lainnya adalah penghuni tidak tetap, buat apa aku repot-repot cari tahu. Semua yang aku ingin tahu datang sendiri."
"Artinya kamu kepo dan nggak ada kerjaan kan?" Olla mengejek.
"Beruntungnya jadi orang pendiam dan dinilai bodoh adalah: aku punya segudang informasi yang mungkin mereka sudah lupa. Ayah dan Demian adalah orang yang suka bicara di rumah, dan aku hanya harus duduk sambil membaca data." Alvin tersenyum. "Begitulah aku memiliki semuanya!"
"Licik sekali?!" Olla mencebik. Tapi hidungnya membaui aroma parfum bayi. Dia kenal sekali.
"Sudah ku bilang, kau harus lebih licik dari seekor rubah." Alvin memencet tombol di sebelah sofa. Lalu tak lama kemudian, saat Olla masih menggerutu dan mengkritik dirinya yang bersikap tidak baik, suara anak kecil terdengar.
"Mami ...!"
Olla terdiam seketika. Air matanya jatuh bagai hujan di pipi. Ya ampun, buntelan apem ini sudah gede dan Olla sangat merindukannya.
"Ya ampun, buntelan mami jadi bakpao cina yang isinya daging!" Olla merosot ke lantai dan berlutut, merentangkan tangan dan membiarkan Rere menubruk badannya hingga oleng.
"Re kangen Mami sama Uncle Dokter!" Rere bercuit tak jelas. Tapi Untel Dotel, pastilah Abid orangnya. Haih.
"Sekarang ada Uncle Boss yang harus Re kangenin!" timpal Alvin yang merasa dia kenal baik dengan Rere. Ia merasa sangat percaya diri sekali di hadapan anak itu.
"No!" tolak Rere. "Untel jahat!"
Olla terbahak-bahak. Bahkan sampai nyaris pipis di celana rasanya. Ya ampun. Re, kok kamu ngerti apa yang mami pikirkan?
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏