NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Berbaikan / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:351.2k
Nilai: 4.7
Nama Author: Rizfa29

Dilan, harus menghadapi kenyataan pahit karena anaknya sedang sakit keras. Sang ibu menuntut Dylan agar mengikuti saran dokter dalam penyembuhan anaknya itu.

Menurut dokter tak ada jalan lain yang bisa menjadi obat untuk anaknya selain darah tali pusat milik saudara sekandung. Dengan kata lain, Dylan harus memberikan adik untuk anaknya agar darah tali pusat sang bayi bisa dijadikan obat.

Namun masalahnya, ibu dari anaknya bukanlah istrinya yang sekarang.

Akankah Dilan mencari ibu kandung anaknya dan setuju untuk membantu kesembuhan sang putra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizfa29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Anak Siapa yang Memanggilmu Mama?

Anyelir langsung terhenyak begitu mendapat teguran dari Dylan. Bukan karena ia merasa tuduhan Dylan itu benar, namun karena sebaliknya, ia sama sekali tak melihat ke arah perut seperti yang dituduhkan oleh Dylan padanya.

Sontak ia pun mengelak. “Apa maksud Anda?”

“Kau sengaja, kan, memintaku melepas baju karena ingin melihat bagian atas tubuhku?” tuduh Dylan pada Anyelir.

Wanita itu langsung mencibir. “Memang apa yang spesial dari perut Anda? Saya sama sekali tak tertarik walau melotot saat melihatnya!” sinis Anyelir sambil membersihkan sisa-sisa kompres di atas nakasnya.

“Apa katamu?” Dylan merasa tak terima saat Anyelir menyebut jika perutnya ini tak menarik.

Sementara itu, Anyelir sudah tak peduli lagi dengan protes yang diucapkan oleh Dylan. Wanita itu langsung pergi begitu saja sambil membawa bekas baskom air dingin keluar.

Saat Anyelir keluar, Dylan masih menatap kain putih yang membalut pundaknya. Rasanya saat luka memar dibebat seperti itu lebih baik daripada sebelumnya. Pria itu pun mengambil baju yang tergantung di sudut kamar, lalu mengenakannya kembali. Ketika ia memasang kancing terakhir, Anyelir telah datang kembali ke kamarnya.

“Loh, kok, Anda masih di sini?” protes wanita itu pada suaminya sendiri.

“Ini juga mau keluar!”  balas Dylan dengan ekspresi dinginnya. Ia meninggalkan kamar Anyelir saat itu juga.

Pada saat yang sama, dari kejauhan Nyonya Lastri melihat Dylan yang baru keluar dari kamar menantunya. Ia tersenyum-senyum sendiri saat mengetahui interaksi kedua anak muda itu. Sambil dalam hatinya berharap agar bunga-bunga cinta cepat bermekaran di antara keduanya. Lalu yang paling penting adalah Dylan bisa melupakan Andin, istri pertama yang akan segera menjadi mantan istri Dylan Bagaskara.

*

Keesokan harinya di pagi hari.

“Saya permisi untuk berangkat dulu, Bu,” pamit Anyelir terburu-buru.

“Kenapa kamu buru-buru? Belum sarapan, kan?” tanya Nyonya Lastri pada menantunya itu.

“Saya sudah membuat bekal untuk saya sendiri, Bu. Nanti dimakan kalau sudah sampai. Tak perlu khawatir,” jawab Anyelir yang terburu-buru.

“Bawa mobil, ya. Kamu bisa menyetir, kan?” tanya Nyonya Lastri sambil menyerahkan sebuah kunci mobil.

Namun wanita itu menggeleng. “Tidak perlu, saya naik ojek sampai halte saja nanti dilanjut dengan naik bus.”

“Ah, kalau begitu pakai sopir saja, ya.” Tentu saja Lastri tidak akan membiarkan Anyelir untuk berangkat sendiri.

Anyelir tak enak karena harus berangkat dengan mobil milik mertuanya, belum lagi nanti hal itu akan menjadi banyak pertanyaan dari kawan-kawannya.

“Baiklah.”

Sekeras apa pun Anyelir menolak, ia tetap saja menerima tawaran wanita paruh baya tersebut.

*

Aroma rumah sakit adalah sesuatu yang familiar di indra penciuman Anye. Wanita itu kini telah mengenakan snelly berwarna putih dengan stetoskop di sakunya. Dia berjalan bersama seorang dokter tampan yang tidak lain adalah Dokter Rian, kawan dari suaminya.

Saat masuk ke dalam kamar pasien, dokter ahli akan selalu meminta koasnya untuk memeriksa pasien.

“Ini kenapa?” tanya Anyelir pada perawat yang ada di sana.

Perawat itu pun membacakan anamnesis dari pasien yang diberi diagnosa awal tengah menderita demam berdarah.

“Sudah lewat masa kritis, ya. Alhamdulillah. Coba kita cek lagi suhu tubuhnya,” ujar Anyelir yang langsung diikuti oleh sang perawat dengan segera mengarahkan termometer ke kening pasien.

“37,6,” jawab perawat tersebut.

“Masih demam tapi sudah tidak terlalu tinggi,” timpal Dokter Rian yang sejak tadi hanya memperhatikan. Ia pun menatap Anyelir seakan memberi perintah.

Anyelir langsung spontan melakukan tugasnya. “Permisi, saya periksa dulu ya.”

Wanita itu pun langsung memeriksa tubuh seorang anak kecil  yang terbaring di atas brankar otomatis.

Setelah melakukan pemeriksaan di sana, mereka pun menuju ke pasien-pasien lain yang dirawat di sana sampai ke kamar terakhir yang menjadi bagian dari kunjungan mereka.

“Baiklah, Anyelir. Sepertinya kemampuan semakin hari semakin baik. Besok giliran visit bersama siapa?”

“Besok saya menemani Dokter Putra,” jawab Anyelir.

Dokter Rian pun mengangguk. “Kamu dijadwalkan menjadi asisten saya saat praktik atau tidak, ya?” tanya dokter muda tersebut.

“Entah. Tapi untuk minggu ini saya belum kebagian untuk menjadi asisten saat praktik.”

Sang dokter pun mengangguk. “Baiklah. Kerja bagus untuk hari ini. Terima kasih.”

Mereka pun berpisah untuk istirahat. Setelah itu, Anyelir langsung menuju ke kantin untuk memakan bekalnya.

“Hei.” Seseorang menyerempet pada posisi Anyelir.

“Ya ampun, Lina. Kamu mengagetkan saja,” ujar dokter cantik berkacamata tersebut.

“Kamu ... nggak ada sesuatu yang mau diceritakan sama aku begitu?”

Seperti yang disebutkan sebelumnya, jika fenomena seorang anak kecil menyebut ‘mama’ pada Anyelir kemarin disaksikan banyak orang. Bahkan Dokter Rian pun sampai dibuat penasaran, apalagi Lina yang merupakan sahabat dekat dari Anyelir sendiri.

Namun Anyelir pun menggeleng. “Nggak ada, memangnya apa?” ungkap Anye berpura-pura tak tahu.

Lina pun memicingkan mata. “Kamu mulai bermain rahasia-rahasiaan sama aku ya?” Telunjuk gadis itu berada di depan hidung Anyelir.

“Apa sih?” Anyelir terkekeh sambil berusaha menyingkirkan telunjuk Lina. Wanita itu pun berjalan meninggalkan sahabatnya.

Mereka berdua dua hari terakhir mendapatkan jadwal yang berbeda. Sehingga Lina tak sempat bertemu dan mengobrol dengan Anyelir. Namun hari ini, kebetulan mereka dapat jadwal di waktu yang sama sehingga bisa bertemu saat istirahat tiba.

Lina pun tak mau menyerah dan tetap mengejar Anyelir.

“Hei, Anye. Kau tak bisa berbohong padaku,” bisik Lina di belakang telinga Anyelir.

“Lina ... apa maksudmu?” tanya Anyelir yang pura-pura tak tahu.

“Aku mendengar dari teman-teman kita katanya waktu sore di beberapa hari yang lalu kau dijemput oleh seorang pria tampan dalam mobil, lalu anak dari pria itu memanggilmu ‘mama’! Kau pikir hal semacam itu tak akan sampai ke telingaku?” ujar Lina yang menuntut Anyelir untuk jujur.

Wanita ini pun terkekeh pelan sambil berjalan terus tanpa menjawab pertanyaan Lina yang menuntut jawaban dan penjelasannya itu.

Anyelir pun duduk di salah satu bangku yang ada di kantin, dia berhadapan dengan Lina yang menatapnya dengan penuh kecurigaan.

“Kamu kenapa sih?” Anyelir menepuk lengan sahabatnya tersebut.

“Anye, kamu beneran nggak mau cerita, ini? Aku udah bukan teman kamu lagi?” Lina pun akhirnya mengeluarkan jurus andalannya, yaitu merajuk.

Anyelir kembali terkekeh. “Nanti, aku akan cerita padamu. Karena ceritanya juga cukup panjang dan aku bingung bagaimana memulainya,” jawab Anyelir.

“Tapi ... itu anak ... beneran itu anak kamu?” Lina tak mau menyerah. Walau ia tak mendapat cerita detailnya setidaknya dia bisa mengetahui siapa anak yang memanggilnya ‘mama’ itu.

Mengambil napas panjang, Anyelir pun mengangguk. Terang saja Lina benar-benar shock dengan pengakuan sahabat dekatnya itu.

“Kamu bener-bener punya anak?” ulang Lina pada Anyelir.

Karena tak ada pilihan dan dirinya pun tak mungkin untuk berbohong, Anyelir pun mengangguk. “Iya, aku sudah punya anak.”

1
susianna situmeang
Lumayan
susianna situmeang
Biasa
Miraecle
Dylan..kamu pintar dan kaya khan.. Kamu bisa kok ke Dokter lain klo kamu tidak percaya sama ucapan Doker yg selama ini menangani penyakit anak kamu Rio.. jgn cuma curiga trus sama Anyir donk. Goblok kok di pelihara.
UD Nida
cerita Drakor euy...... 🤣🤣🤣
~**Alfi_Pjm** ~💜💜💜
🎉
Lilis Yuanita
gk up lg
Lilis Yuanita
sedih
Lhelie
ini kenapa novel berhenti di tengah jalan gak di teruskan
Biduri Aura
aku merasa Anye yg goblok banget, mulut ny untuk apa 😤😤😤polos kok mau d tindas,,
Biduri Aura
🤔🤔🤔baru tau rasa,, kapok mu
Samiyah
Othor berhasil membuat readers nya naik darah. 🤣🤣🤣🤣
Samiyah
Kalau kau pergi .. Datanglah padaku..
Oooh Riyaaannn aku padamuuuu😍😍😍
Samiyah
Ngakak aku disini thor.. 😆😆😆😆
Samiyah
Luar biasa
Samiyah
Bener bener bikin gereget ceritanya. 🤩🤩🤩
Samiyah
Baru baca langsung sukaaaaa
Devi Lusi
sebenernya ceritanya seru tpi klau laki2 udah punya istri ya mnding kabur aja deh..
Dhinok Farrel
eeeaaaaaa....
seperti itu seharusnya pak Dylan....
aku mendukungmu bersama mama Anye
Dhinok Farrel
gantian ya mama Anye..😁
orang kok sak enak e dewe
Dhinok Farrel
Dylan kok gak dibuat kesereten toh Thor?
Ben gimana gituhhh😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!