Novel ini berkisahkan tentang pernikahan yang terjadi karena adanya perjodohan,
Namun pernikahan yang mulanya berjalan tanpa Cinta itu, dapat berubah. Dua insan yang mulanya tidak saling mengenal, kini saling tidak ingin meninggalkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANISA RANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN ZAHRA
"Emmm i-iyaa ummi, enak. Enak sekali, rasanya cocok sekali dilidahku" (Jawab Izzan terbata-bata menahan rasa mual, karena memakan pepes buatan Zahra)
"Rasain kamuu, makannya jadi orang jangan suka jahil!" gumam Zahra sambil melirik Izzan disertai dengan senyuman smirk nya
***
Setelah selesai makan malam bersama, Hafidz dan Aziz mengajak Izzan ketaman yang ada dibelakang rumah. Ketiga pria itu, kini duduk dibangku santai yang ada ditaman
"Zan" (Panggil Aziz pada Izzan)
"Iya kak" (Jawab Izzan singkat sambil menatap Aziz yang juga menatapnya dengan tatapan serius)
"Kakak mau tanya, apa boleh?" (Tanya Aziz dengan nada serius)
"Tentu kak, silahkan" (Jawab Izzan)
"Bagaimana rencanamu untuk melamar Zahra? apa sudah kamu persiapkan?" (Tanya Aziz sembari menuangkan teh hangat untuknya, untuk Hafidz dan juga Izzan)
"Sudah kak, aku berencana melamarnya dihari Pesta Pelajar sekolah. Aku ingin memberikannya kejutan" (Jawab Izzan dengan jujur dan juga antusias)
"Dik, maaf. Zahra ingin menyembunyikan hubungan kalian ini pada oranglain" (Ucap Hafidz yang kini bersuara)
"Disembunyikan? memangnya kenapa harus disembunyikan kak?" (Tanya Izzan pada kedua kakak laki-laki Zahra)
"Sebelum kakak menjawabnya, kakak ingin bertanya dulu Zan" (Ucap Hafidz)
"Iya kak, silahkan apapun itu pasti aku jawab dengan jujur" (Tukas Izzan dengan mantap)
"Sebelum kamu bertemu dengan Zahra dan dijodohkan dengannya, apa kamu punya hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan wanita lain?" (Tanya Hafidz pada Izzan, yang membuat Izzan tampak menghela nafasnya panjang)
"Iyaa kak. Dulu, aku pernah dekat dengan beberapa wanita. Tapi tidak lebih dari sekedar kencan, makan, dan mengajak mereka berbelanja kak" (Jawab Izzan dengan jujur)
"Apakah ada salah satu diantara mereka yang masih bersikeras mengejarmu?" (Tanya Hafidz lagi)
"Aku tidak tau pastinya siapa saja yang masih berusaha mengejarku kak. Tapi yang paling menonjol, hanya satu. Naya, yaa Naya. Dia adalah salah satu mantan pacarku" (Jawab Izzan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal)
"Ceritakan semua tentang dia Zan, agar nantinya tidak ada salah faham diantara kita. Dan kakak harap, apapun yang kamu katakan itu benar adanya" (Ucap Aziz pada Izzan, membuat Izzan mengangguk cepat)
"Nama lengkapnya. Sonaya Arika, dulu ketika aku pertama kali mengenalnya dia adalah sosok gadis yang sederhana. Maka, akupun memperkenalkan diriku sebagai seseorang yang sederhana juga. Tapi ketika dia tau bahwa aku adalah anak papa, dia menjadi sangat gila harta. Dan bodohnya aku, aku selalu menuruti apapun permintaannya. Mulai dari mobil mewah, apartemen, dan perhiasan aku berikan untuknya. Tapi, disuatu malam aku dan dia baru saja pulang dari bar dikota B. Dan saat itu aku dalam kondisi sangat mabuk, jadi mau tak mau aku menginap diapartemen yang aku berikan untuknya itu. Dia berniat jahat padaku, dia berniat memanfaatkan kondisiku yang sedang mabuk itu untuk menumbuhkan benihku dirahimnya. Untung saja, aku masih setengah sadar. Dan dengan cepat, aku pergi meninggalkan dia diapartemennya. Lalu, aku sudah tidak menemuinya lagi bahkan menghubungi pun tidak" (Ucap Izzan menceritakan panjang lebar)
Hafidz dan Aziz tampak menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka berdua sangat salut terhadap respon Izzan. Karena untuk seorang laki-laki yang dalam kondisi mabuk, pastilah otak mereka akan kalah dengan nafsunya
"Apa kamu masih mencintai gadis bernama Naya itu?" (Tanya Aziz sambil menatap dalam-dalam mata Izzan)
"Tidak kak, sama sekali tidak. Aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku padanya" (Jawab Izzan cepat dengan mantap, dan membuat Aziz semakin menatap lebih dalam kedua bola matanya mencari kebohongan)
"Abah tak salah pilih calon menantu, bah" gumam Aziz setelah mendapati tak ada kebohongan sedikit pun pada Izzan
"Sekarang, bolehkah aku meminta jawaban mengenai Zahra yang tidak ingin memberitau hubungan kita pada oranglain kak?" (Tanya Izzan dengan sangat penasaran)
"Biar kak Hafidz yang menjawabnya, karena dialah yang paling dekat dengan Zahra" (Ucap Aziz sambil menatap kearah Hafidz yang sedang meminum tehnya)
"Kalau kakak menjawabnya, apa kamu yakin akan menurutinya?" (Tanya Hafidz sambil meletakkan kembali gelasnya dimeja)
"Iya kak, pasti" (Jawab Izzan dengan cepat)
Hafidz tersenyum tipis dan mulai menjelaskan,
"Dik, Zahra meminta untuk menyembunyikan hubungan kalian ini karena tiga hal. Pertama, setelah kakak simpulkan... masalalumu pastilah selalu mengejarmu dan hartamu. Kita semua tau, kalau sudah menyangkut soal harta semua orang pastilah menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya. Jadi Zahra takut, jika nanti ada yang menyakitinya dan keluargamu karena orang dimasalalumu itu tidak bisa mengikhlaskanmu. Kedua, dia masih ingin melanjutkan sekolahnya dulu dan yang terakhir dia masih belum siap untuk menyebarluaskan hubungan kalian ini pada publik. Dia bilang padaku, kalau dia takut kamu akan dipandang remeh ketika publik tau kamu menikah dengan anak kelas 2 SMA" (Ucap Hafidz menjelaskan)
Disetiap perkataan Hafidz, Izzan selalu mendengarkannya dengan baik. Dia sudah cukup paham dengan penjelasan yang diberikan oleh Hafidz itu,
"Haahh.. baiklah kak, hal ini akan aku bicarakan dengan papa. Aku harap, papa pun tidak keberatan untuk ikut menyetujuinya" (Ucap Izzan sembari menghela nafasnya panjang)
Hafidz dan Aziz pun mengangguk mengiyakan perkataan Izzan, lalu mereka bertiga memutuskan untuk masuk kedalam rumah karena udara semakin dingin
"Kak, kak Hafidz dan kak Aziz masuk duluan saja. Aku mau menelfon papa, kalau aku menginap disini. Karena daritadi siang, aku belum mengabari papa" (Ucap Izzan pada Hafidz dan Aziz)
"Kamu tidak usah khawatir Zan, kakak sudah menghubungi papamu. Beliau membolehkanmu menginap disini" (Ucap Aziz sambil tersenyum tipis)
"Terimakasih kak" (Ucap Izzan pada Aziz)
"Iyaa sama-sama, ayo cepat. Disini udaranya semakin dingin" (Tukas Aziz sembari lebih dulu melangkah masuk kedalam rumah, yang kemudian disusul oleh Hafidz dan Izzan)