Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lover
Livi sudah kembali ke sekolah saat Jona sangat ingin tahu kabarnya. Tetapi, sebisa mungkin gadis itu malah menjauhi Jona. Bahkan ketika ditanya, Livi menjawab dengan ketus. Kebencian telah benar-benar tertanam di hatinya. Semua usaha mereka berdua untuk menjalin persahabatan di waktu yang telah lalu, hilang sudah tak bersisa.
Sesungguhnya hal itu sangat membuat Jona bersedih dan sakit. Akan tetapi juga menyadari bahwa itu juga merupakan kesalahannya karena menjalin cinta dengan Jordy. Dia tidak bisa serta merta menyalahkan Livi.
Sikap Livi yang dingin membuat suasana hati Jona benar-benar kacau. Apalagi setelah dia tidak mendapatkan kabar apapun dari Jordy, kekasihnya. Jona benar-benar merasa hampa. Apakah Jordy tidak merindukannya? Atau jangan-jangan dia mulai melupakan Jona? Kepalanya mulai dibanjiri tanya yang menenggelamkan kesadaran ketika Rudian tiba-tiba mengambil buku catatan Jona dan menaruh bukunya sendiri sebagai gantinya.
"Kamu catat di bukuku ya," pintanya.
"Kenapa? Terus aku gimana?" Jona jengkel merasa dimanfaatkan oleh Rudian, cowok yang tiba-tiba saja mengakrabinya.
"Bukumu biar aku yang catat. Aku ingin punya kenang-kenangan darimu. Tulisanmu bagus, aku suka."
"Ah." Jona menggangguk setuju. Kalau hanya bertukar buku tidak masalah, mereka sama-sama mencatat. Jona tertawa mengingat dirinya sendiri yang bahkan tak lebih pintar dari Rudian, mantan ketua OSIS. Bagaimana mungkin cowok itu memanfaatkan dirinya?
Sekilas ada rasa nyaman yang masuk ke dalam hati Jona. Di saat dia merasa hampa, kehadiran Rudian bagaikan udara segar untuk jiwanya bernapas. Lagipula dia cowok yang rupawan, Jona merasa beruntung.
Rudian sangat mengagumi Jona. Ketika pelajaran berlangsung, berkali-kali dia melihat ke arahnya. Bagaimana rambut panjangnya sesekali menutupi wajah bagian sampingnya. Rudian bertanya-tanya setengah berharap juga, apakah Jona melirik ke arahnya juga dari balik rambut indah itu?
"Nanti pulang bareng, ya." Jona mengangguk, menyetujui ide Rudian meski merasa sedikit aneh akan sikap kawan barunya.
*
"Lo mau jenguk dia? Oh, gue nggak ikut. Ya udah sampai nanti." Livi mengakhiri pembicaraan di telepon dengan Rudian. Dia sudah bersiap untuk berangkat sekolah seusai sarapan. Gadis itu bicara sambil berdiri di balik konter dapur, berbisik-bisik seperti takut ketahuan.
"Temanmu sakit?" tanya Jordy mengagetkan putrinya yang seketika menjadi pucat pasi.
"Iya, Yah. Kecelakaan."
"Kalau Livi nggak mau jenguk nggak pa-pa. Kan, baru sembuh. Nanti di RS malah kena virus, takut sakit lagi."
"I-ya, Ayah."
"Temanmu yang kecelakan cowok?"
"Cewek, Yah. Emh ... Jona."
"Ya Tuhan! Jona kecelakaan?" Suara Jordy meninggi, lelaki itu sangat terkejut. Sementara putrinya semakin pucat dan mengekeret melihat reaksi sang ayah. Gadis itu hanya mengangguk lesu.
Jordy mendesis jengkel sebelum mengecam putrinya, "Dan kamu nggak kasih tahu Ayah?!"
Tenggorokan Livi kering seketika. Sia-sia dia mencoba menelan ludah. Saat ini dirinya bagaikan seorang tertuduh yang amat bersalah. Jordy yang tadinya bersiap ke kantor langsung menyambar jaket dan kunci mobil tak lupa mengenakan sneaker. Beruntung hari ini dia mengenakan jins dan kaos V- neck.
"RS mana?" selidik Jordy tajam, memaksa Livi membuka mulut.
"RS Umum Bekasi." Mendengar itu Jordy tak mempedulikan apapun lagi termasuk air mata Livi yang mulai merangsek keluar dari bali kelopak matanya.
"Tapi Ayah sudah janji, akan berpisah dengan Jona." Suara Livi hilang, menguap di udara. Saat itu Jordy sudah melaju secepat yang dia bisa.
***
Sudah dua hari Jona berbagi kamar dengan orang-orang lain yang kadang berisik. Sungguh bukan keadaan yang nyaman. Apalagi sakit yang dideritanya, membuat Jona benar-benar merasa tak berguna. Mungkin dirinya saat ini sama seperti keadaannya ketika masih bayi. Terbuang, terabaikan, tak ada yang menginginkan. Suasana di bangsal sungguh tidak kondusif. Jona melirik kursi roda di pojok kamar dekat kamar mandi. Ketika seorang perawat datang untuk mengecek tensi darah, dia meminta untuk dibawa keluar.
"Suster, tolong bawa saya keluar."
"Belum boleh, Mbak."
"Di sini berisik. Saya bisa stress. Tolong ya, Sus," pintanya dengan nada yang didramatisir agar si perawat bersimpati.
"Saya tidak punya siapapun yang menemani," katanya lagi membuat perawat berbaik hati membantunya keluar dari bangsal dengan kursi roda.
"Jangan ke mana-mana, ya. Di sini saja, dekat nurse station."
"Makasih, Suster. Saya merasa baikan."
Jona merasa lebih tenang saat berada di selasar RS menghadap ke arah taman yang ditata asal-asalan. Namun taman itu tetap saja adalah taman terindah bagi Jona sekarang. Ketika sedang sendiri, tiba-tiba seseorang datang menghampiri.
"Jona ... Jona. Ya Tuhan apa yang terjadi?" Dia berlutut di depan kursi roda menatap Jona dengan ekspresi sangat cemas. Sementara itu, Jona hanya tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"Kenapa nggak kasih kabar?" Jordy merasa sangat bersalah mengetahui apa yang menimpa kekasihnya. Padahal dia sudah berjanji untuk selalu melindunginya. Tetapi, apa yang terjadi? Baru saja kemarin dia berjanji untuk mengakhiri hubungan, tapi justru kemalangan yang menimpa.
"HP-ku hilang."
"Kamu bisa pakai apa saja kan, untuk menghubungiku."
"Maaf."
Jona bimbang, apakah dia harus merasa lega dan bahagia sekarang, atau biasa saja. Toh, Jordy baru saja mengabaikan dirinya. Apakah cinta mereka masih sama? Gadis itu ragu. Jordy tak lagi menuntut alasan. Dia sadar bahwa wanitanya kecewa.
Jordy kehabisan kata-kata. Sama seperti kekasihnya. Mereka berdua diam dengan gejolak dan keresahan di hati masing-masing. Jordy membelai rambut Jona, mengalirkan kekuatan yang lahir dari kasih sayang yang tulus. Berharap itu bisa sedikit mengurangi derita Jona. Atau setidaknya mengurangi rasa kecewanya.
Seseorang memandang keduanya dalam diam. Hatinya nyaris hancur. Betapa kecil dirinya saat ini dibandingkan dengan Jordy yang karismatik dan juga matang nyaris dalam segala hal. Rudian diam-diam masuk ke bangsal dan menaruh buku catatan pelajaran yang telah dirangkumnya untuk Jona. Cowok itu segera pergi dari tempat menyedihkan itu menuju sekolah. Hari di mana Jona mengalami kecelakaan, Rudian mengikuti rapat OSIS. Sebenarnya Rudian juga merasa bersalah pada Jona.
Tak lama setelah kepergian Rudian yang tak disadari Jona, seorang perawat mendekat untuk mengajak Jona sarapan di bangsal. Jona terkejut mendapati buku catatan di atas tempat tidurnya. Seketika rasa bersalah merasuk ke dalam hatinya. Apa Rudian melihatnya bersama Jordy? Jona membatin.
"Ayok aku suapin."
Jona menggeleng, rasanya dia sama sekali tidak selera makan. Tapi Jordy memaksa, dia berjanji akan segera mengajak Jona keluar jika gadis itu mau makan. Karena iming-iming itulah Jona akhirnya mau makan. Jordy sedih melihat keadaan kekasih belianya.
"Suster, tolong pindahkan pasien Jona ke kamar yang lebih layak."
"Anda orang tuanya?"
"Ya, saya mau pasien dipindahkan ke kamar yang paling nyaman."
"Silakan ke bagian administrasi, Pak."
Jordy segera menuju bagian administrasi untuk mengurus kepindahan Jona. Kamar yang dimaksud sudah penuh dan hanya tersedia kamar rawat kelas 1 yang akan kosong pada jam sembilan. Artinya mereka tidak perlu menunggu lama.
"Sabar ya," pinta Jordy sementara Jona belum mengerti maksudnya. Ketika kamar yang dimaksud sudah siap pada jam sembilan lewat 20 menit, Jona diantar menggunakan kursi roda. Sesampainya di kamar yang nyaman itu, Jordy sendiri yang membopong Jona ke tempat tidur.
"Sayang, kamu segeralah pulih."
"Iya."
"Jadi siapa yang mencelakaimu? Biar kutuntut sampai pengadilan."
"Nggak usah. Mereka yang membawaku ke sini. Itu kan, nggak sengaja."
"Membawamu ke tempat yang buruk tadi?"
"Jordy, kemampuan mereka memang itu. Masih untung aku tidak ditinggal gitu aja."
"Argh! Sialan. Saat aku nggak ada, kamu kecelakaan gini. Aku nggak guna sama sekali."
Jona meraih tangan kekasihnya, menggenggamnya erat dan tersenyum. Menenangkan Jordy, membuatnya bisa meredakan kemarahannya sendiri.
"Aku nggak tega liat kamu menderita, Sayang." Kali ini suara Jordy nyaris selembut ngeongan kucing jinak. Sangat berbeda dari beberapa saat sebelumnya. Jona tertawa melihat tingkah aneh dan manja Jordy. Hatinya mekar kembali, dia senang ada Jordy saat ini. Merasa beruntung bisa dicintai. Sebuah kecupan mendarat di kening Jona.
"Kenapa Jona dipindahkan tanpa persetujuan saya?"
Mbah masuk mengejutkan kedua sejoli kasmaran itu. Suasana mendadak berubah canggung dan kaku. Sekuat jiwa raga Jordy menahan amarah, mencoba untuk tetap sopan.
"Kenapa Mbah tidak mengabari saya kalau Jona kecelakaan?"
"Memangnya kamu siapa? Belum puas mempermainkan Jona?"--
HALO. TERIMA KASIH ATAS SEMUA BENTUK DUKUNGAN UNTUK CERITA INI. SEMOGA TERHIBUR... JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE DAN KOMEN YA. SUKSES SELALUUU.&
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta