Selamat datang di kisah cinta rakyat jelata. Yang di tulis di pinggir kota. Tidak perlu mengkhayalkan yang serba wah. Karena ini hanya tulisan receh dari seorang rakyat jelata. Silahkan di baca dan nikmati! Barangkali nasib kita sama.
Alya Rahmawati (18 tahun) gadis manis, baik hati, dan rajin menabung. Demi cita-citanya yang mulia, dia bekerja sebagai petugas tiket di bus kota milik pemerintah kota Semarang.
Pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Gusti Agung Prasetyo (29 tahun) yaitu laki-laki mapan, salah satu Direktur utama di PT. Asia Maju Abadi membuat gadis itu ragu. Haruskah dia membuka kisah cinta baru atau bertahan terbelenggu dengan kisah masa lalunya bersama Mas Rudi (21 tahun) yang entah tiada ujung dan kejelasannya.
Akan aku buktikan kalau cintaku tidak pernah salah. Aku akan tetap menunggu~Alya Rahmawati
Jika ucapan adalah doa, maka setiap hari aku akan berucap, bahwa kamu adalah jodohku~Gusti Agung Prasetyo
Biarkan aku egois untuk memilikimu. Karena hanya aku yang berhak untuk itu~Rudi Setiawan
Bagaimana kisah mereka bergulir, jatuh bangun Alya mengejar cita-citanya, konflik internal didalam lingkungan kerja, dan perjuangan Gusti mendapatkan cinta Alya.
Mampukah Alya lepas dari belenggu kisah masa lalunya bersama mas Rudi???
.
.
.
.
❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17: Bakso Beranak
Suasana malam datang. Terminal Mangkang yang dari tadi pagi sibuk dengan segala aktivitasnya, kini tampak sepi. Hanya tinggal beberapa bis kecil yang parkir menunggu penumpang datang. Itupun hanya sisa bis tujuan Kaliwungu-Kendal.
Menunggu Gusti menjemput. Alya berdiri di pinggir jalan tepat di seberang Terminal Mangkang. Lampu-lampu kota menjadi satu-satunya sumber cahaya dimana dia berdiri. Lima belas menit menunggu, akhirnya sebuah mobil Ayla menepi tepat di depannya. Membuka kaca otomatis, Gusti menyuruhnya masuk.
"Sori, udah lama nunggunya?"
"Lima belas menitan." Jawab Alya singkat. Dia terlihat kesusahan memasang seat belt.
Sial kenapa susah sekali sih pasang gini aja. Dasar katrok. Umpat Alya dalam hati.
"Sini biar aku bantu!" Membantu Alya memasangkan seat belt nya, posisi mereka sangat dekat. Wajah mereka bahkan hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Alya sangat malu. Pandangan mereka bertemu, degup jantung Gusti sudah tak karuan. Alih-alih menundukkan pandangan, sangking nervous nya, Alya malah cegukan.
" Higgss...higghss...higggsss..." Memalukan sekali.
Gusti mengambilkan sebotol air mineral yang ada di dasbor mobil.
"Hahaha...kamu lucu sekali Al. Minum dulu biar berhenti cegukannya!"
Alya langsung meneguk habis setengah botol minuman itu. Tapi cegukannya belum juga berhenti.
"Higgs...higgs..."
"Coba kamu tahan nafas sepuluh detik!"
"Higgs...apa bisa? Higgss...higgsss...aku...Higgs...
Walaupun terdengar aneh Alya mengikuti saran Gusti. Menahan nafas, menghitung dalam hati, 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. Empat belas detik dan boom!!! Cegukan seketika hilang.
" Hiuuuuhhh... " Alya membuang nafas kasar. "Ajaib om langsung hilang cegukannya."
"Bilang a-pa?" Menggoda Alya.
" Terimakasih Om!" Nyengir.
"Oke sayang, kita jalan ya!" Menggoda Alya lagi.
"Aku turun aja!" Juteknya keluar.
"Eh jangan!..Aku revisi oke. Kita jalan sekarang no-na Alya?" Tersenyum manis.
"Oh...manisnya." Gumam Alya tersipu malu.
Gusti pun tersenyum bahagia. Ingin rasanya mencubit pipi gadis di sebelahnya. Menggemaskan sekali. Batinnya.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Tidak mau buru-buru sampai tujuan. Kalau perlu biarkan saja mobilnya berjalan ngesot. Batin Gusti.
"Kita cari makan dulu ya! Kamu mau makan apa?"
"Hemm...boleh. Tapi aku yang traktir ya!"
"Emang kamu punya uang?" Ejek Gusti.
"Punya sedikit. Emang wajah aku miskin banget ya?'
"Hahahaha...enggak kog. Wajah kamu ga miskin tapi cantik."
"Ommm... bisa-bisa aku mengidap diabetes kalau kamu gombalin terus." Mengerucutkan bibirnya.
"Aku kan jujur Al. Mengungkapkan apa yang aku lihat. Beneran deh kamu itu cantik, manis dan baik hati."
"Makasih om tapi aku ga punya uang receh."
"Stop di depan! Kita makan bakso beranak ya? Lagi viral ini om. Aku jadi penasaran."
"Oke...kita turun sini ya." Memarkirkan mobil di posisi yang sekiranya aman. Terlebih lagi parkiran penuh dengan kendaraan bermotor.
Duduk di meja nomer dua belas. Tepat di samping pintu utama. Warung bakso beranak tidak begitu besar. Namun cukup bersih dan nyaman. Walaupun kipas angin tidak sedingin Air conditioner masih beruntung mereka mendapat angin alami dari pintu yang terbuka.
"Om mau pesan apa? Bakso beranak dalam kubur, bakso beranak kuntilanak, atau bakso beranak durhaka?" Membacakan daftar menu. "Hahaha... kenapa namanya horor semua."
"Hehe...jadi ngeri ya Al! Coba deh pesen bakso beranak kuntilanak. Aku penasaran sama kuntilanak nya. Cantik apa ga kira-kira?"
"Hehe.. kalau beneran cantik emang mau di bawa pulang?"
"Aku nikahin kalau beneran cantik. Hahaha..."
"Hahaha... absurd banget kita ya."
Setelah beberapa menit, bakso pesanan mereka datang. Dua mangkuk bakso berukuran jumbo tanpa mie terhidang di depan mereka. Satu mangkuk berisi satu bakso berukuran jumbo dan tiga glinding bakso berukuran sedang. Seperti pilihannya tadi. Gusti memesan bakso beranak kuntilanak, sedangkan Alya memesan bakso beranak dalam kubur. Menurut mereka bakso pilihan mereka tidak begitu menakutkan untuk di makan. Dibandingkan bakso beranak durhaka. Jelas mereka lebih takut kualat. Aroma sedap bakso sudah tercium dan menggugah nafsu makan mereka.
"Ini mana anaknya Al? Boro-boro ada kuntilanak anak kandungnya aja biasa gini!" Menunjuk tiga glinding bakso berukuran kecil.
Ternyata obrolan absurd mereka belum selesai.
"Buahahahha......" Tawa Alya pecah. "Sabar om kuntilanak nya mungkin masih malu-malu meong. Ini harus di belah dulu om! Baru kelihatan anaknya. Lihat ini di dalam bakso jumbo ada bakso kecil-kecil. Ini anaknya berarti om! Baru tambahkan sambel, tanpa saos, tanpa kecap. Yummy...yummy..."
"Oh gitu...wow beneran beranak kalau ini. Lihat punyaku ada cabainya juga. Mungkin ini cabai jelmaan kuntilanaknya Al" Mengikuti cara Alya membelah bakso dengan pisau kecil.
"Kamu suka pedas?" Tanyanya lagi.
"Hahaha...bisa jadi Om. Suka banget. Bahkan biasanya kalau lagi galau atau badmood pelarian ku cukup makan yang pedas-pedas. Setelah itu hati ku jadi lebih baik." Tiba-tiba Alya berbicara dengan nada melow.
"Oh...Kenapa kamu galau? Apa alasannya?"
"Karena seseorang."
"Pacar?"
"Bisa jadi."
"Kemana dia? Keluar negeri?"
"Bisa jadi."
"Jadi hubungan mu gantung gitu?"
"Bisa jadi." Menjawab dengan sedikit melamun. Sambil mengaduk-aduk kuah bakso miliknya.
"Hemm...jangan khawatir sebentar lagi kamu pasti jatuh cinta sama aku!"
"Bisa ja...apa Om bilang!" Alya sadar dan tidak meneruskan jawabannya.
"Hehehe...habisnya dari tadi kamu jawabnya bisa jadi, bisa jadi. Emang kamu pikir kita lagi main tebak kata hah?"
"Aku tiba-tiba sedih aja. Jadi pengen nangis. Huaaa...." Matanya sudah berkaca-kaca.
"Sudah kog jadi baper gitu. Ayok dimakan, nanti keburu adem ga enak."
"Iya" Menunduk pasrah.
Mereka mulai memakan bakso masing-masing. Sesuap demi sesuap. Menikmati daging bakso yang terasa kenyal dan lezat. Ditambah kuah bakso yang terasa gurih bercampur pedas. Mantap.
"Ahhh... kenyang om beneran. Gila pedes banget! Kenapa punya om ga habis?" Melirik mangkuk milik Gusti.
"Udah, aku kenyang. Kamu hebat bisa sampai habis. Body aja yang kecil ternyata makannya banyak ya!" Ejek Gusti.
"Hahaha...maklum om masa pertumbuhan." Nyengir. "Om mau nambah minum?"
"Boleh, air mineral aja. Ini jelmaan kuntilanak ternyata galak juga pedesnya."
"Haha...ga jadi di nikahin dong! Oke aku ambilkan yang dingin. Sekalian bayar ke kasir."
"Eh...ini uangnya." Mengeluarkan dompet dari saku celananya.
Mengibaskan tangannya. "Aku yang traktir" Tersenyum bangga.
...***...
"Om ga mampir dulu?"
"Makasih besok lagi aja. Kamu pasti juga capek. Salam buat Bapak dan Ibu kamu."
"Beneran ga mampir?"
"Nanti kalau aku mampir, malah males pulang. Kan repot! Tapi kalau dipaksa boleh juga mampir. Hehe..."
"Enggak deh Om, aku basa-basi doang kog! Hehe..." Turun dari mobil. "Makasih ya Om. Aku masuk dulu ya, lama-lama di luar takut kena angin malam nanti kecantikan ku luntur. Hahaha..."
"Bisa aja kamu!"
Bim!
Gusti menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Alya. Alya pun masuk kedalam rumah. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikan mereka.
"Oh ternyata matre juga dia. Pantas saja menolak aku jodohkan dengan anakku. Ternyata lebih memilih pria yang lebih kaya!"
Batin wanita paruh baya itu.
...***...
Klunting!
[ Have a nice dream😘]
[🐂💨] Terkirim.
Klunting!
[😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘]
[🤦] Terkirim.
Klunting!
[Miss you Al🥰]
[Blokir ya!!!😤] Terkirim.
Klunting!
[🙊🙊🙊🙊🙊]
..............
"Tidak di balas. Menyebalkan sekali!"
Membanting hpnya di ranjang. Dia masuk ke toilet untuk membersihkan diri dan berganti baju rumahan. Keluar dari toilet dia kaget.
"Ya ampun Mamah! Ngagetin aja!"
Mamah Gusti sudah duduk manis di sofa di dalam kamarnya. Wanita setengah baya nan cantik jelita sepanjang masa itu menelisik raut wajah putra kesayangannya.
"Mobil kamu kemana? Akhir-akhir ini mamah lihat kamu malah pakai mobilnya si Jamal."
"Iya mah, emang sengaja aku tukeran mobil. Aku punya misi besar mah!"
"Misi besar? Maksud kamu?"
"Ada deh mah. Nanti kalau sudah berhasil baru aku kasih tahu ke mamah. Oke?"
"Jangan bilang kamu lagi ngejar wanita?"
"Ya katakanlah begitu." Jawab Gusti enteng.
"Oh ya? Siapa dia? Bukankah lebih keren mobil kamu, kenapa malah merendah pakai mobil Jamal?" Mama Gusti penasaran.
"Kepo mamah ya!"
"Dasar!" Memukul bahu kiri Gusti yang tengah duduk di sampingnya.
"Papah kapan pulang mah?" Mengalihkan pembicaraan.
"Bulan depan kayaknya. Kamu ga usah mengalihkan pembicaraan. Siapa gadis yang kamu sukai? Apa harus mamah gercep lamar dia buat kamu?"
"Huh... sepertinya perjuangan Gusti masih panjang mah. Mamah doain aja dia segera dapat hidayah, biar bisa membuka hatinya untuk Gusti."
"Apa? Siapa gadis yang bisa nolak kamu?" Mamah semakin penasaran.
"Hahaha...dia gadis yang udah limited edition mah. Jadi aku harus extra berjuang."
"Oh ya...kalau begitu jangan lama-lama nanti keburu di ambil orang. Gerak cepat gitu loh sayang!"
"Bener juga ya mah."
"Iya maka nya kamu jangan kelamaan mikir. Semakin cepat semakin baik. Orang menikah itu harus di segerakan. Mau nunggu apalagi coba? Karir, rumah, mobil, uang, kamu sudah punya semua! Umur juga sudah tua gitu! Hahaha..." Ledek mamah Gusti.
"Ahh...tau ah mah pusing!" Frustasi.
"Hahaha....ya sudah kamu istirahat, mamah juga mau tidur ngantuk.
Tanpa dosa setelah memprovokasi putranya. Mamah Gusti melenggang pergi keluar kamar. Bagaimana pun juga seorang ibu pasti ingin anaknya bahagia. Tidak ingin memaksakan perjodohan seperti halnya di dalam novel-novel populer. Mamah Gusti hanya bisa mendoakan agar putra kesayangannya bisa bertemu dengan gadis yang tepat. Yang bisa mendampinginya sampai kakek- nenek dalam suka maupun duka. Semoga.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️
...Tinggalkan jejak kalian...
...Like dan komen yok!...
...Terimakasih...
Otore kayak e tetangga satu kecamatan..
Krn di bab atas Ada tempat namanya Tlogosari...
Nuruti ego mulu tuch bocah..
Gedeg juga
OH Tuhan, otak itu apkh fungsinya?????
Tolol
Jangan Berlindung Dari kata anak berbakti klo km sendiri g mo Berjuang... Lemah
Gusti jg msh mau2nya di gituin
Kyk ga Ada cewex lain saja, Berjuang sudah tp klo sepihak yo bego namanya
Berjuang itu mesti 2 belah pihak klo Cmn sepihak yo ajur jum..
Bkn tdk mgk Dia akan gitu kelak..
Ya meski sdh ketebak klo gusti yg Sama alya, Cmn klo head to head rudi VS alya, kmd alya milih rudi ya jatuhnya oon...
Beberapa tahun g ngasih kbr, trs di mna letak tanggung jawabnya? Cowox kyk gini Pantesnya buang ke laut...