"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 ~ Tujuh Hari
"Kean Xieee! Tunggu kamu, ya!" pekik Ailin saat Kean kabur setelah mendengar ruang kerja sang ayah terbuka.
Juan menekan tuas kursi rodanya dalam, menghampiri Ailin yang tengah berusaha bangun.
"Kenapa bisa jatuh?" tanya Juan panik.
Tangannya sempat terulur, namun berhenti di udara. Dalam kondisi seperti ini, bahkan membantu sang istri berdiri pun ia tak mampu. Untuk pertama kalinya, ia membenci keterbatasan dirinya sendiri.
"Ini gara-gara putra kesayangan Kakak!" Ailin bergumam kesal setelah berhasil bangun. Ia menatap ke arah di mana Kean kabur dengan kesal.
"Lihat saja. Aku akan menyita ponselnya lebih lama." Ailin menggenggam tangannya erat, sengaja berkata lebih kencang agar Kean mendengar. Karena ia yakin, anak lelaki itu pasti hanya bersembunyi. Bukan lari menjauh.
Dan benar saja, di balik dinding, Kean tengah memasang wajah marah. Dalam hati, ia ingin sekali keluar untuk membalas ucapan Ailin. Namun bayangan akan dimarahi sang ayah membuatnya mengurungkan niat.
"Wanita jahat!" gumamnya sembari menghentakkan kaki kesal.
"Kakak lagi ngapain?" bisik Lian dengan wajah penasaran.
Kean yang kaget segera menoleh. Ternyata sang adik sudah berdiri di sampingnya, ikut menempel ke dinding tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Kamu ngapain di sini? Pergi sana."
"Itu mama dan papa?" Tanpa bisa dicegah, Lian berlari keluar sembari menarik tangan sang kakak.
"Mama, Papa." Anak perempuan itu memanggil dengan suara ceria.
"A-aku hanya bertemu dengan Lian dan dia menarikku," jelas Kean tanpa diminta.
"Aku tadi lihat kakak lagi sembunyi. Jadi aku talik kelual." Lian mengatakannya dengan polos, tanpa menyadari wajah sang kakak yang tiba-tiba memucat.
"Kenapa bersembunyi, hem?" Ailin mendekat, menatap sang putra dengan alis terangkat.
"Aku... aku cuma nemenin Lian!"
"Enggak, Mama! Bukan begitu. Kakak bohong." Lian cepat-cepat melambaikan kedua tangan. Sementara Ailin tersenyum, ia mengelus pelan kepala sang putri beberapa kali.
"Mama percaya kok. Lili enggak usah takut."
Mendengar itu Kean yang awalnya cemas berubah sedikit marah. "Wanita jahat! Kau pilih kasih!"
Ailin kembali menarik senyum. Ia mengangkat tangannya dan mengacak rambut pria kecil itu beberapa kali. "Mau mama adil? Coba panggil mama dulu!"
Kean langsung mengatupkan bibir rapat. Wajah kecilnya memerah, ia tidak akan tertipu lagi. Terakhir kali Ailin bilang akan mengembalikan ponselnya kalau ia memanggil mama. Namun wanita itu tidak menepati.
Sekarang ia tak akan percaya. Lagipula Ailin dari awal sudah tahu bahwa dialah pelakunya.
"Enggak mau? Ya sudah. Berarti yang punya mama cuma Lili." Tatapan Ailin kembali pada Lian, gadis kecil itu langsung tersenyum senang.
"Mama." Lian mengangkat kedua tangannya yang langsung disambut Ailin. Dalam sekejap tubuh kecil itu telah bersandar di dada sang ibu bak koala.
Melihat interaksi yang tampak manis itu, Kean justru tidak senang. "Wanita jahat!" geramnya dan berlari pergi.
Ailin tertawa saja, melihat punggung kecil itu menjauh lalu menoleh pada Juan yang sedari tadi diam. "Kakak enggak merasa aku pilih kasih, kan?"
Juan menggeleng pelan. "Aku percaya kamu tahu cara memperlakukan mereka."
Ailin menarik senyuman lembut. Juan memang selalu memahaminya.
Begitulah, tanpa disadari, satu minggu pertama Ailin di keluarga Xie berlalu dengan segala keributan kecil yang perlahan menghangatkan rumah.
Hari pertama setelah kejadian itu, Juan memenuhi lemari Ailin dengan pakaian baru. Bukan hanya pakaian, tetapi juga perhiasan, sepatu, tas, hingga berbagai kebutuhan sehari-harinya. Benar-benar dimanja habis-habisan.
"Kak, ini terlalu banyak. Tubuhku cuma satu, enggak bisa memakai pakaian sebanyak itu."
"Kalau begitu ganti setiap hari."
Hari kedua Linda kembali. Wanita paruh baya itu sangat yakin bahwa Kean akan ikut dirinya pulang. Namun jawaban sang cucu ternyata membuat kecewa.
"Kean, bagaimana? Kamu pasti udah tahu bagaimana sifat asli wanita itu, kan? Mau kembali ke rumah nenek?"
"Aku, aku masih mau di sini, Nenek."
Hari ketiga, Kean kembali mengerjai Ailin. Kali ini ia menyembunyikan ponsel baru milik sang ibu dan menolak mengembalikannya sebelum ponselnya sendiri dikembalikan. Saat Ailin mengejarnya, bocah itu berlari terburu-buru hingga menabrak kursi roda Juan.
"Kenapa lari-lari?"
"Wanita jahat itu mau merampokku."
Juan melirik ponsel yang sedang dipeluk erat oleh putranya, lalu menghela napas pelan.
"Mamamu yang mau merampok kamu... atau kamu yang sedang merampok mamamu?"
Hari keempat Ailin mulai terbiasa dengan rutinitas rumah. Wanita itu mulai mendekorasi ulang ruang-ruang yang terasa kosong. Menambah meja, hiasan dinding, vas bunga hingga rumah itu terasa lebih hidup.
"Kak, aku capek. Antar aku pulang ke kamar pakai kursi roda kamu, ya?"
Juan mengangguk, membiarkan sang istri duduk di pangkuannya.
"Cih, katanya aku harus mandiri. Tapi diri sendiri manja dan enggak memberikan contoh." Kean melipat kedua tangan di depan dada, kedua matanya menatap sinis.
"Kalau sama suami sendiri itu namanya bukan manja. Tapi hak asasi istri."
Hari kelima Ailin melihat Lulu menangis sendirian lagi. Wanita itu kembali mendekat, kali ini Lulu mulai sedikit terbuka. Mulai menceritakan sang ibu yang menjodohkannya dengan pria berusia empat puluhan yang tidak ia suka.
"Suruh mamamu saja yang menikahinya!"
Lulu langsung melotot. "Heh! Aku masih punya papa!"
Ailin langsung menutup mulutnya sendiri. "Iya juga."
Lulu mendengus pelan, tetapi untuk pertama kalinya ia tertawa tulus di depan Ailin.
Hari keenam Kean bermain bola di taman belakang. Saat merasa ingin ke toilet, ia asal meletakkan bolanya di rumput. Begitu kembali, ia melihat Ailin berjalan ke arah sana.
"Hei! Ada bola di sana!" serunya refleks.
Bocah itu buru-buru berlari, mengambil bola tersebut sebelum Ailin menginjaknya.
"Jangan salah sangka. Aku hanya enggak ingin Lian ikut jatuh," gerutunya sembari memeluk bola erat.
Lian di samping hanya bisa memiringkan kepalanya. "Tapi Lili kan balu datang."
Ailin tersenyum lebar, sementara Kean langsung berlari pergi. Salah tingkah sendiri.
Hari ketujuh, ketika mereka sedang sarapan bersama, Bibi Yu tiba-tiba masuk dengan langkah tergesa.
"Tuan... Nyonya...."
Wanita paruh baya itu tampak sedikit gugup.
"Di luar ada seorang pria yang mengaku sebagai kakaknya Nyonya."
Sendok di tangan Ailin terhenti. "Kakak...?"
Juan perlahan mengangkat pandangannya ke arah pintu.
Akhirnya... dia datang.
.
.
.