Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Bahaya yang Dikhawatirkan
Jam dinding antik di ruang tengah mansion Thorne berdentang dua kali. Pukul dua pagi. London di luar sana sedang diguyur hujan rintik-rintik, membungkus kota dalam kabut dingin yang menusuk tulang.
Alistair Thorne melangkah masuk melalui pintu samping, tempat yang biasanya ia gunakan untuk menghindari sorotan lampu depan jika ia pulang dalam kondisi... tidak terlalu bersih. Jas hitamnya basah di bagian bahu, dan ada noda merah gelap yang samar di manset kemeja putihnya.karena Ia baru saja menyelesaikan "pembersihan" terhadap faksi pembangkang di dermaga, sebuah tugas yang ia selesaikan dengan efisiensi yang mematikan.
Ia melepas sarung tangan hitam kulit, bersiap untuk keheningan mansion yang biasa menyambutnya. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet di atas sofa beludru ruang tengah.
Sloane Sterling tertidur lelap di sana.
Gadis itu tampak meringkuk kecil di balik selimut wol tebal. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya, dan di tangannya, ia masih memegang sebuah kemoceng seolah-olah itu adalah senjata pertahanan diri. Di atas meja kopi di depannya, terdapat secangkir cokelat panas yang sudah membeku dan membentuk lapisan lemak tipis di permukaannya.
Alistair mendekat dengan langkah tanpa suara. Ia berdiri mematung di samping sofa, menatap wajah Sloane yang tampak jauh lebih tenang saat tidur. Tidak ada omelan, tidak ada teriakan soal debu, hanya suara napas yang teratur. Untuk sesaat, Alistair merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—sebuah kehangatan yang tidak logis menyentuh hati nya.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan tiga detik.
Mata Sloane terbuka lebar saat ia merasakan kehadiran seseorang. Dengan gerakan refleks yang ceroboh, ia mencoba duduk tegak namun malah tersangkut selimutnya sendiri dan hampir terjatuh dari sofa.
"A-Aha! Pencuri! Jangan bergerak! Aku punya kemoceng beracun!" teriak Sloane sambil mengacungkan alat pembersihnya dengan liar ke udara.
Alistair menghela napas, suaranya kembali kaku. "Ini saya, Nona Sterling. Kenapa Anda tidak tidur di kamar Anda?"
Sloane mengerjap-erjap, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih mengantuk. Begitu ia menyadari bahwa itu adalah Alistair, bukannya merasa lega, wajahnya justru berubah menjadi sangat galak. Ia melompat berdiri, mengabaikan selimut yang jatuh ke lantai.
"KAU!..." Sloane menunjuk dada Alistair dengan kemocengnya. "KAU TAHU JAM BERAPA INI?!"
Alistair melirik jam tangannya secara otomatis. "Pukul dua lewat enam menit dini hari. ini masih admin—"
"TUTUP MULUTMU DENGAN ADMIN-ADMIN ITU!" Sloane memotong dengan suara melengking. Ia berkacak pinggang, menatap Alistair dari bawah ke atas dengan tatapan penuh amarah. "Aku menunggumu pulang sampai lumutan di sini! Kau lihat cokelat panas itu? Tadinya itu enak, sekarang sudah jadi barang antik karena terlalu lama menunggu!"
Alistair berkedip, merasa sedikit canggung. "Anda... menunggu saya?"
"Tentu saja! Siapa lagi yang mau menunggumu di rumah menyeramkan ini?!" Sloane mulai mondar-mandir di depan Alistair, persis seperti seorang ibu yang memarahi anaknya yang telat pulang sekolah. "Apa kau tidak punya otak, Tuan Kaku? Di luar sana itu berbahaya! London di jam-jam begini penuh dengan penjahat, pengedar, dan orang-orang gila yang membawa senjata!"
Alistair terdiam. Ia menatap manset kemejanya yang masih memiliki noda darah musuhnya. Ia, Alistair Thorne, pria yang namanya saja bisa membuat gangster paling kejam di Eropa gemetar, baru saja diperingatkan bahwa "di luar sana berbahaya".
"Kenapa kau berkeliaran di tengah malam begini?!" Sloane melanjutkan omelannya, suaranya makin kencang. "Bagaimana jika ada orang jahat yang menghadangmu? Bagaimana jika kau dirampok? Kau itu terlihat sangat... sangat mudah dirampok karena jas mahalamu itu! Kau pikir kau bisa melawan mereka dengan kata-kata formalmu itu, hah?!"
Mendengar itu, Alistair merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Sebuah dorongan kuat di tenggorokannya. Saraf tawanya yang biasanya membeku tiba-tiba menggelitik hebat.
Ia, sang predator puncak London, dianggap "mudah dirampok" dan butuh perlindungan dari bahaya jalanan oleh seorang gadis yang baru saja hampir jatuh dari sofa karena selimut.
Alistair segera mengangkat tangan kanannya, menutup mulut dan hidungnya. Bahunya sedikit bergetar. Ia berusaha keras menahan tawa agar tidak meledak. Suara pfft kecil hampir lolos dari bibirnya.
"Hei! Kenapa kau menutupi wajahmu?!" Sloane semakin mendekat, mencoba mengintip ekspresi Alistair. "Kau sakit gigi? Atau kau sedang mengejekku karena aku mengkhawatirkanmu?!"
Alistair memejamkan mata, masih menutupi wajahnya. Jangan tertawa, Alistair. Jaga citramu, pikirnya dalam hati. Tapi bayangan dirinya sendiri yang kaku sedang "dirampok" dan harus diselamatkan oleh Sloane benar-benar terlalu lucu untuk dinalar.
"Saya... saya tidak sakit gigi," suara Alistair terdengar serak karena menahan tawa. "Saya hanya... sedang melakukan evaluasi internal terhadap kata-kata Anda."
"Evaluasi kepalamu!" Sloane mendengus. "Pokoknya, mulai besok, kau tidak boleh pulang lebih dari jam sepuluh malam! Dan jika kau harus pergi ke tempat berbahaya, bawa sapu atau apa saja untuk membela diri! Kau mengerti?!"
Alistair akhirnya berhasil mengendalikan dirinya, meskipun matanya masih terlihat sedikit berair karena menahan tawa yang luar biasa kuat. Ia menurunkan tangannya, kembali ke wajah datarnya yang kaku, meskipun ada sedikit lengkungan yang tidak biasa di sudut bibirnya.
"Saya mengerti, Nona Sterling. Terima kasih atas... saran keamanan strategis Anda," jawab Alistair formal.
Sloane menyipitkan mata, merasa curiga. "Kau terlihat aneh. Tapi sudahlah, aku sudah mengantuk. Dan hei! Jaket basahmu itu!"
Sloane tiba-tiba menyambar jas Alistair yang baru saja ia lepas. "Kau mau menjemur jamur di atas sofa dengan jaket basah ini?! Ke kamar mandi sekarang, ganti bajumu, dan jangan biarkan setetes pun air hujanmu mengotori lantai yang sudah aku vakum tadi sore!"
Sloane mendorong punggung Alistair dengan kekuatan yang lumayan besar untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Alistair, yang biasanya tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya, kali ini hanya menurut. Ia membiarkan dirinya didorong menuju tangga.
"Cepat! Dan jangan lupa cuci kaki!" teriak Sloane dari bawah.
Alistair menaiki tangga dengan kepala tertunduk. Begitu ia sampai di lorong lantai atas yang sepi, ia berhenti sejenak. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, dan kali ini, sebuah tawa kecil yang rendah benar-benar keluar dari mulutnya.
"Mudah dirampok..." gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh darah dan strategi, Alistair Thorne merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar "melihatnya"—bukan sebagai monster yang harus ditakuti, tapi sebagai pria kaku yang perlu diingatkan untuk pulang sebelum malam menjadi terlalu berbahaya.
Dan bagi Alistair, itu jauh lebih berharga daripada seluruh aset gangster yang ia miliki.
To be continued.....