NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Kekayaan Tanpa Batas

Sistem Dewa Kekayaan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:System / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: KenzieAR

Mengisahkan seorang pemuda tampan yg sering dihina sama keluarga sendiri. Hingga suatu hari memutuskan untuk kabur dari rumah karena sudah capek dengan hinaan dari keluarganya, dan mendapatkan sistem yg akan merubah nasibnya.

Bagaiman kisah nya setelah mendapatkan sistem?

Ikuti Kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KenzieAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Keluarga Xafier Mulai Menyesal

Malam itu.

Alviano masih berdiri di depan jendela kamar Presidential Suite.

Lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip seperti bintang di bumi.

Ponsel di tangannya perlahan diturunkan.

Panggilan dari keluarga Xafier telah berakhir.

Namun kata-kata yang ia dengar masih terngiang di telinganya.

"Ayahmu mengalami masalah."

"Kalau kau masih menganggap dirimu bagian keluarga, pulanglah."

Alviano tertawa kecil.

Bagian keluarga?

Bukankah mereka yang mengusirnya?

Bukankah mereka yang mengatakan bahwa dirinya tidak layak menjadi anggota keluarga Xafier?

Kini mereka berbicara tentang keluarga?

Sungguh ironis.

DING!

━━━━━━━━━━━━━━━

Misi Pilihan Muncul!

Pilihan 1:

Kembali dan Membantu Keluarga Xafier

Hadiah:

• Rp10 Miliar

• Poin Dewa Kekayaan x20

Pilihan 2:

Biarkan Mereka Menyelesaikan Masalah Sendiri

Hadiah:

• Rp30 Miliar

• Skill Mental Baja Lv.1

Pilihan 3:

Datang Sebagai Penonton dan Saksikan Penyesalan Mereka

Hadiah:

• Rp50 Miliar

• Skill Aura Dominasi Lv.1

━━━━━━━━━━━━━━━

Alviano tersenyum.

Pilihan ketiga terdengar menarik.

Ia tidak berniat membalas dendam.

Tetapi ia juga tidak berniat menjadi anak baik yang langsung berlari membantu setelah dihina selama bertahun-tahun.

"Pilihan ketiga."

DING!

━━━━━━━━━━━━━━━

Pilihan Dikonfirmasi.

━━━━━━━━━━━━━━━

Saat itu juga Alviano memesan mobil.

Ia ingin melihat sendiri masalah apa yang membuat keluarga Xafier tiba-tiba menghubunginya.

Satu jam kemudian.

Mobil mewah Alviano memasuki kawasan elit tempat rumah keluarga Xafier berada.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Biasanya rumah keluarga Xafier selalu ramai.

Hari ini suasananya justru kacau.

Beberapa mobil polisi terlihat terparkir.

Banyak tamu keluar masuk dengan wajah tegang.

Alviano turun dari mobil.

Seorang satpam yang mengenalnya langsung membelalak.

"T-Tuan Muda Alviano?"

Alviano hanya mengangguk.

Kemudian berjalan masuk.

Begitu memasuki ruang utama.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Armand Xafier.

Ibunya.

Kevin.

Para direktur perusahaan.

Beberapa investor.

Semuanya memandang ke arahnya.

Suasana mendadak sunyi.

Karena penampilan Alviano benar-benar berbeda.

Setelan jas premium.

Jam tangan mewah.

Aura percaya diri.

Dan ketampanan yang semakin menonjol.

Kevin bahkan sempat mengira orang lain yang datang.

"Alviano?"

Nada suaranya penuh ketidakpercayaan.

Armand juga tampak terkejut.

Namun ia segera menyembunyikan ekspresinya.

"Kau datang."

Alviano duduk santai di sofa.

"Aku hanya penasaran."

"Apa yang membuat kalian mencariku?"

Wajah Armand menjadi suram.

Salah satu direktur perusahaan akhirnya berbicara.

"Perusahaan mengalami krisis besar."

"Kami kehilangan kontrak utama."

"Investor mulai menarik dana."

"Dan saham perusahaan turun hampir empat puluh persen."

Alviano mengangguk pelan.

Kini ia mengerti.

Perusahaan keluarga Xafier bergerak di bidang properti dan konstruksi.

Jika kehilangan kontrak besar, kerugian yang terjadi memang sangat besar.

Namun yang membuatnya heran adalah...

Mengapa mereka mencarinya?

Seolah memahami pikirannya, ibunya berkata:

"Kami membutuhkan bantuanmu."

Alviano hampir tertawa.

Membutuhkan bantuannya?

Orang yang selama ini dianggap sampah?

"Dan aku bisa membantu bagaimana?"

Tak ada yang langsung menjawab.

Karena sebenarnya mereka sendiri tidak tahu.

Mereka hanya mendengar kabar bahwa Alviano sekarang tinggal di hotel mewah dan datang menggunakan mobil sport eksklusif.

Mereka curiga Alviano mendapatkan dukungan dari seseorang yang berpengaruh.

Kevin akhirnya membuka mulut.

"Kami dengar kau mengenal orang kaya."

"Kalau memang begitu, perkenalkan mereka kepada keluarga."

Alviano menatap adiknya.

Lalu tersenyum tipis.

"Jadi itu alasannya?"

Kevin tidak menjawab.

Namun ekspresinya sudah cukup menjelaskan semuanya.

Mereka menginginkan koneksi.

Mereka menginginkan uang.

Mereka menginginkan manfaat.

Bukan dirinya.

Tidak pernah dirinya.

Saat suasana semakin tegang.

Mata Alviano tiba-tiba bersinar samar.

Kemampuan Mata Dewa Analisis aktif.

Ia melihat dokumen-dokumen yang berserakan di meja.

Informasi langsung muncul.

━━━━━━━━━━━━━━━

PT Xafier Properti

Status:

Terjebak Kontrak Palsu

Kerugian Potensial:

Rp280 Miliar

Penyebab:

Pengkhianatan Internal

Pelaku:

Kevin Xafier

━━━━━━━━━━━━━━━

"..."

Alviano terdiam.

Matanya sedikit menyipit.

Kevin?

Pelakunya Kevin?

Ia kembali melihat informasi sistem.

Hasilnya tetap sama.

Pelaku kebocoran data perusahaan adalah Kevin.

Adiknya sendiri.

Menarik.

Sangat menarik.

Selama ini keluarga selalu menganggap Kevin sebagai kebanggaan keluarga.

Anak emas.

Penerus perusahaan.

Ternyata justru dia yang menghancurkan perusahaan.

Alviano tidak langsung berbicara.

Ia hanya mengamati.

Karena sistem masih terus menampilkan informasi.

━━━━━━━━━━━━━━━

Tingkat Akurasi:

99,9%

━━━━━━━━━━━━━━━

Kini ia semakin yakin.

Beberapa menit kemudian.

Seorang investor senior berdiri.

"Saya akan jujur."

"Kami membutuhkan penjelasan."

"Jika perusahaan tidak bisa memberikan solusi dalam waktu seminggu, kami akan menarik seluruh investasi."

Wajah Armand semakin pucat.

Perusahaan mereka memang sedang berada di ujung jurang.

Kevin juga mulai berkeringat.

Karena hanya dirinya yang tahu penyebab sebenarnya.

Namun ia yakin tidak ada yang akan menemukan bukti.

Sayangnya.

Ia tidak tahu bahwa di ruangan ini ada seseorang yang memiliki sistem.

Alviano perlahan berdiri.

Semua orang memandangnya.

"Kalian ingin tahu penyebab masalah ini?"

Armand mengernyit.

"Maksudmu?"

Alviano tersenyum.

"Penyebabnya ada di ruangan ini."

Suasana mendadak membeku.

Kevin langsung menegang.

"Jangan bicara omong kosong!"

Namun Alviano tidak memedulikannya.

Ia berjalan mendekati meja.

Kemudian mengambil salah satu dokumen.

"Kontrak ini bocor sebelum penandatanganan."

"Data perusahaan juga bocor."

"Dan hanya beberapa orang yang memiliki akses."

Wajah Kevin mulai berubah.

"Jadi?"

kata Kevin dengan nada tinggi.

Alviano menatap langsung ke matanya.

"Lalu kenapa rekening pribadimu menerima transfer dua miliar rupiah tiga minggu lalu?"

BOOM!

Ucapan itu seperti petir yang menyambar ruangan.

Kevin langsung berdiri.

"Itu fitnah!"

Namun ekspresi paniknya sudah terlihat jelas.

Beberapa direktur saling berpandangan.

Armand juga mulai curiga.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Kevin semakin gugup.

"Kalian percaya omongan dia?"

"Dia hanya sampah keluarga!"

Kalimat itu membuat suasana menjadi semakin aneh.

Karena kali ini tidak ada yang setuju.

Semua orang justru memperhatikan Kevin.

Terlalu banyak tanda-tanda mencurigakan.

Terlalu banyak kejanggalan.

Seorang direktur segera memerintahkan pemeriksaan data internal.

Beberapa menit kemudian.

Wajahnya langsung berubah pucat.

"Ditemukan."

"Ada transfer ke rekening Tuan Muda Kevin."

"Dan akses kebocoran data memang berasal dari akun miliknya."

Ruangan langsung gempar.

Kevin membeku.

Armand berdiri dengan wajah merah.

"Kau..."

"Kau yang melakukannya?"

Kevin tidak bisa menjawab.

Karena semua bukti telah ditemukan.

Tampar!

Sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.

Semua orang terkejut.

Armand baru saja menampar anak kesayangannya sendiri.

"Dasar bodoh!"

"Karena keserakahanmu, perusahaan hampir hancur!"

Kevin jatuh terduduk.

Wajahnya pucat seperti mayat.

Sementara itu.

Semua orang mulai memandang Alviano dengan tatapan berbeda.

Karena dialah yang mengungkap semuanya.

Bahkan lebih cepat daripada tim audit perusahaan.

Salah satu investor senior mendekatinya.

"Kau luar biasa."

"Bagaimana kau mengetahuinya?"

Alviano tersenyum.

"Hanya firasat."

Tentu saja ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya memiliki sistem.

Namun bagi para investor.

Firasat seperti itu justru terdengar lebih mengesankan.

Karena dunia bisnis sering kali dipenuhi orang-orang jenius yang memiliki insting luar biasa.

Saat itu juga suara sistem terdengar.

DING!

━━━━━━━━━━━━━━━

Misi Selesai!

Datang Sebagai Penonton dan Saksikan Penyesalan Mereka

Hadiah:

• Rp50 Miliar

• Aura Dominasi Lv.1

Sedang Dibagikan...

━━━━━━━━━━━━━━━

Gelombang energi hangat menyebar ke seluruh tubuh Alviano.

Pada saat yang sama.

Auranya berubah.

Tidak terlalu mencolok.

Namun cukup membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar merasa segan.

Seolah mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih tinggi dari mereka.

Bahkan investor-investor senior mulai berbicara lebih sopan.

Setelah semuanya berakhir.

Armand akhirnya mendekati Alviano.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Tatapan pria itu tidak dipenuhi penghinaan.

Melainkan penyesalan.

"Alviano..."

"Kita perlu bicara."

Namun Alviano hanya tersenyum tipis.

"Tidak sekarang."

"Aku sibuk."

Lalu ia berbalik.

Dan berjalan keluar dari rumah itu.

Rumah yang dulu menjadi sumber penderitaannya.

Kini untuk pertama kalinya.

Orang-orang di dalam rumah itu menyaksikan punggungnya pergi dengan perasaan kehilangan.

Karena mereka mulai menyadari satu hal.

Orang yang selama ini mereka hina...

Mungkin justru adalah anggota keluarga paling luar biasa yang pernah mereka miliki.

Dan penyesalan itu baru saja dimulai.

[Tamat Bab 3]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!