NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gotong Royong Kota-Desa dan Pesta Bakar Ayam di Tepi Sangker

Matahari pagi kian meninggi, mengusir sisa-sisa kabut yang bergelayut di pucuk-pucuk pohon kelapa Desa Beringin Sakti. Keputusan Anisa untuk tetap tinggal di desa dan melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh cuci dihormati oleh Zenix Dirgantara, meski di dalam lubuk hati pemuda kota itu masih tersimpan kecemasan yang mendalam.

Melihat Anisa yang kembali bersiap mengangkat keranjang bambu berisi tumpukan pakaian bersih warga, Zenix tidak tinggal diam. Naluri pelindungnya kembali bergolak. Ia merebut tali keranjang anyaman tersebut dari tangan Anisa dengan gerakan yang cepat namun tetap lembut.

"Biar aku antar pakai mobil baru di depan. Taruh keranjang ini di bagasi belakang, jadi kamu tidak perlu capai-capai memikulnya berjalan kaki sampai ke ujung desa," ujar Zenix dengan nada suara berat yang sarat akan perhatian.

Anisa tertegun sejenak, lalu menyunggingkan senyuman manis yang begitu teduh. Ia menggelengkan kepalanya dengan halus, menolak tawaran mewah tersebut dengan penuh rasa sungkan.

"Tidak usah, Mas Zenix. Terima kasih banyak atas kebaikan Mas. Lagipula, rumah warga yang mau Anisa datangi ini letaknya justru searah dan sangat dekat dengan halaman rumah warga tempat Mas Zenix menitipkan mobil SUV hitam itu. Jadi rasanya sama saja, Mas. Kalau diangkut pakai mobil, nanti jalannya terlalu sempit dan malah merepotkan warga desa yang sedang beraktivitas di jalan setapak," tolak Anisa dengan tutur kata yang sangat lembut dan sopan agar tidak menyinggung perasaan kekasihnya.

Zenix terdiam, menatap keranjang di tangannya lalu beralih menatap jalan setapak yang memang hanya berupa tanah berbatu yang cukup sempit untuk ukuran mobil SUV nya yang berbadan besar. Menyadarai kebenaran ucapan Anisa, Zenix akhirnya mengalah. Namun, ia tetap tidak membiarkan Anisa memikul beban itu sendirian.

"Kalau begitu, aku yang akan memikul keranjang ini sampai ke sana. Jangan membantah," potong Zenix tegas sebelum Anisa sempat memprotes.

Dengan tangan kekarnya yang biasa digunakan untuk mencengkeram kemudi mobil mewah atau memukul lawan di arena balap, Zenix Dirgantara kini mengangkat keranjang bambu berisi cucian warga dengan sangat santai, menaruhnya di atas bahu tegapnya yang terbalut jaket kulit hitam. Anisa hanya bisa tersenyum pasrah sekaligus terharu melihat bagaimana seorang putra konglomerat kota rela menurunkan gengsinya demi meringankan beban pekerjaannya.

Sembari menunggu Zenix dan Anisa menyelesaikan urusan mengantar cucian di ujung desa, tiga orang kota lainnya yang berada di dalam pondok Jovanka, Sasti, dan Silvia mulai berkumpul di ruang tengah. Mereka semua sepakat bahwa mereka masih belum mau pulang ke Jakarta hari ini. Suasana pedesaan yang asri, dipadu dengan ketulusan Anisa, membuat mereka merasa sangat betah dan ingin menghabiskan satu malam lagi di Desa Beringin Sakti.

"Sas, Silvi... mumpung kita masih menginap semalam lagi, gimana kalau nanti malam kita mengadakan acara bakar-bakar daging?" usul Jovanka dengan mata yang berbinar penuh semangat saat Zenix dan Anisa baru saja kembali ke pondok setelah menyelesaikan urusan cucian.

"Wah, seru banget itu, Kak Jovan! Bakar-bakar di halaman belakang pondok Kak Anisa pasti asyik banget! Di Jakarta kita mana bisa ngerasain bakar daging dengan suasana alam sedekat ini dengan hutan," sahut Silvi dengan suara cemprengnya yang ceria, langsung menyetujui ide tersebut.

Sasti ikut mengangguk setuju. "Iya, Zen. Halaman belakang gubuk Anisa kan lumayan luas dan bersih. Tapi... kita mau bakar daging apa? Di desa terpencil seperti ini mana ada diler daging steak premium atau mini market yang menjual sosis."

Anisa yang mendengar obrolan seru para tamunya tersenyum kecil, lalu memberikan sebuah solusi yang masuk akal. "Kalau daging sapi atau kambing memang tidak ada yang menjualnya di pasar desa hari ini, Mbak Sasti. Tapi kalau ayam kampung, salah satu tetangga warga desa di dekat sawah sebelah barat ada yang memelihara banyak ayam potong yang gemuk dan sehat. Kita bisa membeli beberapa ekor di sana."

Mendengar hal itu, Zenix langsung menjentikkan jarinya. "Oke. Siang ini kita ke sana. Jovan, ikut gua."

Sekitar pukul satu siang, Zenix, Jovanka, dan Anisa berjalan kaki menuju rumah salah seorang warga desa yang memelihara ayam kampung. Rumah tersebut tampak bersahaja dengan kandang bambu yang cukup luas di sampingnya. Seorang pria paruh baya mengenakan caping dan sarung yang sedang memberi makan ternaknya langsung menoleh menyambut kedatangan mereka.

"Mari, Neng Anisa... ada yang bisa dibantu? Wah, bawa tamu-tamu agung dari kota ya?" sapa pemilik ayam tersebut dengan logat jawa pedesaan yang sangat ramah.

"Iya, Pak. Ini teman-teman saya dari kota mau membeli ayam kampung Bapak untuk acara makan malam nanti. Apakah ada tiga ekor ayam yang ukurannya cukup besar dan gemuk?" tanya Anisa dengan santun.

"Oh, ada, ada banyak, Neng! Mari silakan dipilih sendiri," ujar warga tersebut dengan gembira, langsung masuk ke dalam kandang dan menangkap tiga ekor ayam kampung jantan yang paling besar, sehat, dan memiliki daging yang tebal.

Zenix yang berdiri di samping Jovanka mengamati ayam-ayam tersebut, lalu berkata, "Pak, kami minta terima beres. Tolong ayam-ayam ini disembelih sekalian di sini, dibersihkan bulu-bulunya, dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian yang siap bakar. Jadi kami tinggal membawa dagingnya saja yang sudah bersih ke pondok."

"Oh, siap, Mas Ganteng! Bisa, bisa banget. Tunggu sebentar ya, saya kerjakan sekarang bersama istri saya di belakang," jawab warga itu dengan penuh semangat, merasa senang karena mendapatkan pelayanan jasa tambahan.

Proses penyembelihan dan pembersihan ayam kampung berjalan dengan sangat cepat dan higienis. Tidak sampai satu jam, tiga ekor ayam tersebut telah berubah menjadi tumpukan daging ayam potong yang sangat bersih, segar, dan ditata rapi di dalam sebuah wadah baskom plastik besar yang tertutup.

Pemilik ayam berjalan menghampiri Zenix sembari menyerahkan wadah tersebut. "Ini, Mas... sudah bersih semuanya, tinggal dikasih bumbu lalu dibakar nanti malam. Total harganya untuk tiga ekor ayam besar ditambah jasa potong dan bersihkan, semuanya jadi seratus lima puluh ribu rupiah saja, Mas."

Zenix Dirgantara merogoh dompet kulit premiumnya. Dari dalam barisan kartu dan lembaran uang, ia mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah dan dua lembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah, dengan total keseluruhan dua ratus ribu rupiah. Zenix menyerahkan uang tersebut langsung ke tangan sang warga desa.

"Ini uangnya, Pak. Ambil saja semuanya, tidak perlu ada kembalian," ujar Zenix dengan nada suara yang datar namun sarat akan ketulusan.

Warga desa penjual ayam itu seketika terkejut melihat nominal uang yang diterimanya. Ia buru-buru merogoh saku celananya, hendak mengeluarkan uang kembalian sebesar lima puluh ribu rupiah. "Aduh, Mas... ini kebanyakan! Harga aslinya kan cuma seratus lima puluh ribu. Di desa ini uang lima puluh ribu itu besar nilainya, Mas. Saya tidak boleh mengambil keuntungan berlebih, ini kembaliannya mohon diterima," tolak warga tersebut dengan jujur, mencoba mengembalikan selembar uang lima puluh ribu ke tangan Zenix.

Namun, Zenix yang memang berwatak keras kepala dan memiliki kedermawanan yang tinggi langsung memundurkan langkahnya, menolak dengan tegas lambaian tangan warga tersebut.

"Tidak usah, Pak. Simpan saja uang lebihnya itu untuk membeli pakan ayam Bapak yang lain atau untuk keperluan dapur istri Bapak. Saya ikhlas memberikannya, anggap saja ini rezeki tambahan karena Bapak sudah membantu memotong ayam kami dengan sangat bersih," tutur Zenix dengan kalimat yang sangat sopan namun tidak menerima penolakan kembali.

Melihat kekehan dan ketulusan di sepasang mata tajam Zenix, warga desa tersebut akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima uang tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar karena haru. Wajah tuanya tampak berbinar penuh rasa syukur yang teramat sangat.

"Ya Allah... terima kasih banyak ya, Mas Ganteng. Semoga Gusti Allah membalas semua kebaikan Mas dengan rezeki yang berlipat ganda, diberikan kesehatan, dan dilancarkan segala urusannya bersama Neng Anisa," doa warga tersebut dengan tulus ikhlas sembari menundukkan kepalanya beberapa kali.

Anisa yang berdiri di samping Zenix hanya bisa menatap kekasihnya dengan pandangan mata yang berbinar penuh rasa kagum dan cinta. Di balik penampilan luarnya yang tampak dingin, cuek, dan seperti berandalan jalanan, Zenix Dirgantara ternyata memiliki hati emas yang sangat peka terhadap kesusahan orang-orang kecil di sekitarnya.

Sore harinya, suasana di halaman belakang pondok bambu Anisa mulai sibuk. Area belakang pondok ini memang tergolong cukup luas dan bersih, berbatasan langsung dengan sebaris tanaman pagar hidup dan rimbunnya pepohonan pisang yang menjadi batas suci sebelum memasuki keheningan Hutan Sangker.

Jovanka dan Zenix bertugas mencari kayu-kayu bakar kering di sekitar pinggiran kebun, lalu menyusunnya di atas sebuah wadah pembakaran tradisional yang terbuat dari susunan batu bata merah. Sementara itu, di dalam dapur, Anisa dibantu oleh Sasti dan Silvi sedang sibuk meracik bumbu olesan ayam bakar tradisional pedesaan. Mereka menggunakan perpaduan bumbu alami seperti bawang putih, kemiri, ketumbar, kecap manis bumbu rempah, serta sedikit madu hutan asli untuk menciptakan cita rasa yang meresap hingga ke dalam tulang daging ayam kampung tersebut.

"Wah, Kak Sasti, Kak Anisa... aku baru pertama kali nih mengulek bumbu pakai cobek batu asli kayak begini! Pegal juga ya ternyata tangan koki-koki desa," celoteh Silvi dengan suara cemprengnya sembari mengayunkan ulekan batu dengan canggung, memicu tawa renyah dari Anisa dan Sasti.

"Makanya, Silvi... di kota kamu cuma tahu tinggal makan di restoran mewah. Di sini kita belajar bahwa untuk menghasilkan makanan yang enak itu butuh perjuangan dan ketulusan," timpal Sasti sembari mengolesi potongan daging ayam dengan bumbu yang sudah jadi.

Ketika malam akhirnya benar-benar turun dan kegelapan Hutan Sangker mulai mengepung perimeter desa, api unggun di halaman belakang gubuk Anisa resmi dinyalakan oleh Jovanka. Kobaran api yang berwarna jingga keemasan itu menari-nari dengan indahnya, memecah kegelapan malam sekaligus mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.

Tumpukan daging ayam kampung yang sudah dibumbui diletakkan di atas panggangan besi di atas bara api yang menyala merah. Seketika, aroma harum yang sangat gurih, manis, dan menggoda selera langsung menguar hebat ke udara malam, berbaur dengan wangi asap kayu bakar yang khas.

Mereka berlima Zenix, Anisa, Jovanka, Sasti, dan Silvi duduk melingkar di atas sebuah tikar besar yang digelar di atas tanah rerumputan halaman belakang. Silvi yang semalam sempat mengalami trauma ketakutan akibat melihat teror pocong, malam ini tampak jauh lebih tenang dan ceria. Kehadiran abangnya yang kokoh duduk di sampingnya, ditambah kehangatan api unggun dan obrolan kocak dari Wang Nan, membuat rasa amannya kembali pulih sepenuhnya.

"Ayamnya udah matang belum nih, Sas? Perut gua udah konser rock dari tadi," canda Jovanka sembari membolak-balikkan potongan paha ayam kampung yang kulitnya sudah mulai mengilat kecokelatan penuh karamel bumbu.

"Sabar, Jovan! Ayam kampung itu dagingnya padat, harus benar-benar matang sampai ke dalam biar enggak alot pas digigit," sahut Sasti sembari mengipasi bara api dengan selembar kipas anyaman bambu.

Anisa duduk dengan anggun di samping Sasti, sesekali melirik ke arah tangan kanan Zenix yang tampak terampil membantu Jovanka menata kayu bakar. Di jari manis Anisa sendiri, cincin emas putih pemberian Zenix berkilau indah memantulkan cahaya dari kobaran api unggun malam itu.

Acara pesta bakar-bakar ayam kampung di halaman belakang pondok itu berjalan dengan sangat sempurna. Di tengah kesunyian malam yang berbatasan langsung dengan sayap mistis Hutan Sangker, kehangatan persahabatan, tawa riang Silvi, dan ikatan janji suci cinta yang tulus di antara Zenix dan Anisa terbukti menjadi sebuah energi positif yang sangat kuat sebuah benteng cahaya kehidupan yang tidak akan pernah bisa diusik oleh kegelapan malam sedalam apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!