Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pizza dan Kenangan
Hati Bagas merasa tak tenang saat Ayra kesal padanya. Bagas tau sekali jika Ayra kesal maka wanita itu akan mendiamkan dirinya seharian. Ya memang diakui Bagas bahwa dirinya lah yang salah karena terlalu over pada Ayra, padahal status mereka hanyalah bos dan sekretaris. Tapi anehnya kelakuan mereka berdua seperti orang pacaran yang hobinya berantem kalau ada masalah sedikit saja. Padahal dulu saat mereka pacaran begitu adem ayem, jarang ribut. Tapi sekarang ampun deh, hobinya marah-marahan.
Namun Bagas sekarang ini sangat suka dengan pertengkaran nya dengan Ayra, karena itu membuat sensasi yang berbeda ditahun-tahun sebelumnya saat mereka pacaran dulu. Seperti ada pembaharuan yang berubah drastis. Ayra semakin menggemaskan dan bisa diisengin. Bagas suka sekali momen itu.
Terbesit lah saatnya untuk mengisengi Ayra. Bagas mencoba untuk menelpon Ayra dari telepon kantor.
KRING KRING KRINGGG
"Selamat siang...," kata Ayra menjawab telepon yang belum terselesaikan ucapannya.
"Pesankan pizza ukuran besar sekarang, aku lapar!" pinta Bagas yang langsung menyambar ucapan Ayra tanpa menjeda kalimatnya dengan cepat.
TUTTTTTTT
Telepon pun terputus sepihak oleh Bagas. Ayra yang mendengarkan suara Bagas dan memerintah seperti itu menjadi aneh dengan pikirannya. Ayra semakin kesal terhadap Bagas.
"Ini orang seenaknya saja mematikan telepon. Apa dia tidak bisa memesan sendiri makanan? Bukankah dia punya handphone? Banyak saja alasan agar bisa baikan denganku," umpat Ayra yang benar-benar kesal dengan kelakuan Bagas yang makin hari makin menjadi.
Kemudian, Ayra pun memesan pizza sesuai dengan keinginan Bagas. Tapi soal topping, Ayra yang memilihkan, karena Ayra tau persis pizza kesukaan Bagas. Maka dari itu Bagas seolah tau jika dia memesan makanan melalui Ayra, wanita itu akan memesannya dengan selera rasa kesukaan Bagas. Ya sekaligus untuk mengetes Ayra, bahwa wanita itu lupa atau tidak selama putus darinya. Bagas pun berharap jika Ayra masih mengingat apa-apa yang berkaitan dengan Bagas terutama makanan kesukaannya.
Akhirnya 30 menit Ayra menunggu pizza dari kurir. Ayra pun perlahan membukanya untuk memastikan bahwa pesanan yang dia pesan sesuai dengan pesanan dirinya. Saat Ayra melihatnya, aroma pizza yang di depannya itu membuat dia ingin memakannya. Apalagi dengan toping daging yang sangat menggiurkan.
"Sepertinya enak sekali pizza ini. Aku jadi lapar," ucap Ayra sambil mengerucutkan bibirnya.
Dari ruangan lain, ternyata Bagas melihat dari CCTV di ruangan Ayra. Dia melihat ekspresi Ayra saat menatap pizza itu. Saat Ayra sedang mengerucutkan bibirnya begitu sangat lucu dan menggemaskan. Bagas suka sekali dengan ekspresi itu. Seperti ada bahan untuk memuaskan hatinya, apalagi setiap hari melihat pemandangan wanita cantik seperti Ayra.
TOK TOK TOK
Ayra masuk keruangan Bagas setelah mendapatkan sahutan dari dalam. Perlahan Ayra membawa pizza itu kehadapan Bagas. Sebenarnya malas sekali Ayra untuk menatap Bagas saat ini. Kejadian tadi pagi membuat Ayra sangat kecewa dan kesal. Ayra berharap kali ini Bagas tidak membuat ulah kembali padanya.
"Ini pizza pesanannya," ujar Ayra meletakkan bungkusan berisi pizza di atas meja kerja Bagas.
"Terimakasih," ucap Bagas.
"Saya permisi," Ayra hendak bergegas meninggalkan ruangan Bagas.
Tapi saat Bagas melihat Ayra hendak berbalik badan dan melangkahkan kakinya, dengan cepat lelaki itu menarik lengan Ayra untuk menahannya.
"Ada apa lagi? Mau kopi?" tanya Ayra sigap.
"Nggak, aku cuma mau kamu temani aku makan pizza," pinta Bagas.
"Aku masih ada kerjaan. Kamu saja yang makan sendiri," tolak Ayra dengan alasannya.
"Please, temani aku Ay. Tolong jangan marah lagi padaku. Aku minta maaf ya soal tadi, aku yang salah," kata Bagas sambil memohon maaf pada Ayra. Bagas masih memegang lengan Ayra.
"Tapi...," ucap Ayra terpotong.
"Please, Ay jangan tolak permintaan aku kali ini. Bukankah kita berteman, tolong jangan ada lagi pertengkaran ya, aku pusing Ay ribut sama kamu terus. Aku minta maaf ya," kata Bagas membujuk Ayra dengan suara yang sangat lembut.
Bisa saja Bagas membuat Ayra luluh dengan mulut manisnya agas bisa berbaikan dengan wanita pujaan hatinya. Bagas begitu banyak cara untuk bisa bersama dengan Ayra.
"Tapi aku nggak suka cara kamu seperti tadi pagi, kita ini dikantor, nggak seharusnya kamu melarang ku ini dan itu kecuali pekerjaan," ujar Ayra yang menilai Bagas tidak profesional dalam pekerjaan dan masalah pribadi.
"Iya, aku janji nggak bakalan nakal lagi sama kamu dan nggak bakal melarang kamu dekat dengan siapapun kecuali pria lain, ups...," ucap Bagas yang lagi-lagi memulai lelucon nya dengan kekesalan Ayra.
"Tuh kan mulai lagi," ujar Ayra.
"Iya, iya maaf. Aku tadi salah ngomong, Ay. Hehehe," Bagas sedikit mencairkan suasana hati Ayra.
Kemudian Bagas berjalan menuntun Ayra untuk duduk di sofa yang cukup luas agar mereka bisa leluasa makan pizza berduaan. Ayra pun menuruti kemana Bagas membawanya. Bagas pun membuka bungkusan berisi pizza, mengambilnya satu potong pizza lalu dia berikan ke Ayra.
"Ini ambil lah, rasanya pasti enak. Aku yakin kamu pasti masih ingat pizza topping daging yang aku suka. Terimakasih banyak ya," ucap Bagas dengan sangat lembut, dia begitu perhatian pada Ayra.
"Ambil Ay, atau mau aku suapin pizza nya ke mulut kamu?" kata Bagas sambil hendak memasukkan pizza ke mulut Ayra.
"Biar aku saja," Ayra langsung mengambil pizza itu dari tangan Bagas.
Bagas tersenyum senang, tenang sekali melihat jika akrab seperti ini. Tak henti Bagas menatap Ayra.
"Kamu juga makan pizza nya, jangan tatap aku seperti itu," ucap Ayra yang membuat Bagas sadar dari tatapan nya ke Ayra.
"Baiklah, kita makan bersama," Bagas mengambil sepotong pizza dan memakannya bersamaan dengan Ayra yang mengikuti Bagas yang terlebih dulu memakannya.
"Emm...enak banget, Ay. Udah lama aku tidak makan pizza seenak ini," kata Bagas.
"Emangnya kamu kemarin-kemarin nggak pernah makan pizza?" tanya Ayra bingung.
Bagas kini menatap Ayra penuh penghayatan, dia tatap teduh wajah cantik Ayra yang masih mengunyah pizza di mulutnya.
"Aku udah bilang jangan tatap aku seperti itu, Bagas. Aku malu. Apa ada sisa makanan di bibirku?" Ayra langsung mengambil handphone di kantong bajunya setelah meletakkan sisa pizza ke bungkusan dengan tujuan untuk melihat wajahnya di kamera. Tapi siapa sangka bahwa Bagas mencegahnya.
"Aman kok, Ayra. Nggak ada apa-apa di wajah cantik kamu," ucap Bagas meraih handphone dari tangan Ayra setelah meletakkan sisa pizza ke wadah bungkusan.
Kemudian Bagas meletakkan handphone milik Ayra di meja yang berhadapan dengan mereka berdua.
Ayra bingung dengan perlakuan Bagas kali ini. Bagas tiba-tiba saja meraih kedua tangan Ayra. Ayra pun tak bisa bergerak seperti terhipnotis oleh perlakuan Bagas padanya.
"Aku itu sudah lama nggak makan pizza bareng sama kamu, Ay. Jadi saat aku makan pizza selalu teringat sama kamu. Kadang setiap aku rindu kamu, aku selalu beli pizza ini untuk mengingat kamu dan setiap kenangan kita bersama dulu," ungkap Bagas dengan penuh keseriusan dengan suara yang sangat lembut menyentuh hati Ayra.
"Berhenti Bagas. Jangan mengingat masa lalu lagi, aku tidak suka. Jangan buat suasana hatiku buruk lagi seperti tadi pagi. Kau selalu saja membuat keributan," ujar Ayra sedikit terlihat kesal.
Bagas akhirnya mengalah dan kali ini dia menuruti keinginan Ayra. Bagas tersenyum menatap Ayra.
"Senyum dong, Ay. Jangan marah lagi. Kepala ku sakit kalau kita ribut," ujar Bagas.
Bagas menerbitkan senyuman dirinya dihadapan Ayra agar wanita pujaan hatinya mengikuti senyuman itu. Namun siapa sangka Ayra malah senyum nyengir dengan rasa malu-malu, wajahnya saja sudah memerah, sangat terlihat rasa malunya.
"Nah gitu dong sayang," ucap Bagas menggoda Ayra.
"Ih, apaan sih. Nggak usah aneh deh kamu Bagas. Ngeselin terus deh kamu," ucap Ayra dengan kesal tapi terlihat menggemaskan di mata Bagas.
Bagas tertawa melihat tingkah Ayra. Namun Ayra merasa malu ditertawakan oleh Bagas.
"Ihhh, ngeselin banget deh kamu Bagas!" umpat Ayra lalu beralih pergi meninggalkan Bagas di ruangannya.
"Hahaha, lucu sekali kamu Ayra," ujar Bagas dengan sendirinya saat Ayra sudah tak terlihat dari balik pintu.
Bersambung....