Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Jarum jam dinding digital di ruang kendali utama gedung Disaster Recovery Center Jakarta Selatan telah bergeser menunjukkan pukul satu siang. Kurang dari dua jam lagi, takdir kekuasaan dan nama baik di dalam lingkar tertinggi Baskara Group akan ditentukan.
Ketegangan di dalam ruangan ber-AC dingin itu kian menebal, seiring dengan makin cepatnya pergerakan data yang terpampang di layar monitor raksasa.
Narendra Baskara berdiri tegak di tengah ruangan, melipat kedua tangannya di depan dada. Jas formalnya kini sudah kembali rapi setelah dibantu oleh salah satu stafnya, memancarkan kembali aura kepemimpinan seorang Direktur Utama yang tak tergoyahkan.
Di sampingnya, Hani duduk dengan tenang, namun jemarinya yang mendekap buku harian sang ayah memberikan indikasi betapa cepat debar jantung di dalam dadanya.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel satelit milik Narendra yang tergeletak di atas meja bundar bergetar. Narendra langsung meraihnya dan menekan tombol hijau. "Ya, Reza. Bagaimana situasi dari posisimu?"
Di seberang panggilan, suara Reza terdengar sedikit tertahan, sebuah indikasi bahwa ia sedang menahan rasa nyeri hebat di perutnya namun nada bicaranya sangat jernih dan fokus.
"Ayah, pintu belakang jaringan siber Baskara Tower sudah berhasil kukunci. Aku masuk melalui protokol pemeliharaan darurat yang tidak akan memicu alarm di ruang kontrol utama mereka. Orang-orang Surya Adiguna di divisi TI tidak akan menyadari bahwa aliran data presentasi di ruang rapat pleno nanti sudah dialihkan sepenuhnya ke server bayangan tempat Ayah berada sekarang."
Narendra mengembuskan napas lega yang berat. "Kerja bagus, Nak. Sekarang beristirahatlah. Serahkan sisa pertempuran ini kepada Ayah dan Hani."
"Tidak, Ayah," potong Reza cepat, menolak untuk mundur begitu saja.
"Aku akan tetap memantau jalannya rapat pleno dari laptop ini. Begitu Surya Adiguna mulai mengunggah draf manipulasi Proyek-X yang baru ke layar utama, aku yang akan mengeksekusi perintah untuk menimpa file tersebut dengan dokumen arus kas dan rekaman audio dari kotak hitam ayah Hani. Pastikan Hani siap berdiri di podium tepat saat data itu muncul."
Hani yang mendengar suara Reza dari pelantang telepon bersuara lembut. "Pak Reza... terima kasih. Tolong jaga kondisi Anda di sana."
Keheningan singkat terjadi di seberang telepon, sebelum suara Reza kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut dan sarat akan emosi yang mendalam. "Bertahanlah, Hani. Sebentar lagi, nama baik ayahmu akan bersih sempurna. Aku mengawasimu dari sini."
Sambungan telepon terputus. Hani menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuatan baru mengalir ke dalam dirinya setelah mendengar untaian kata dari pria yang telah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya itu.
...****************...
Sementara itu, di lantai tiga puluh Gedung Baskara Group, atmosfer tidak kalah mencekam. Surya Adiguna berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja pribadinya yang mewah. Setelan jas mahalnya tampak necis, namun raut wajahnya menyiratkan kegelisahan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.
Sejak dua jam lalu, ia kehilangan kontak sepenuhnya dengan tim lapangan yang ia utus ke jalur perbukitan untuk menghadang Pak Gibran dan Hani. Ponsel pintar milik kepala eksekutornya sama sekali tidak bisa dihubungi, berada di luar jangkauan sinyal.
"Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi di sana?" umpat Surya berbisik, memukul permukaan meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati mahal.
Pintu ruang kerja Surya mendadak diketuk dengan tergesa-gesa. Sekretaris pribadinya masuk dengan wajah agak pucat. "Pak Surya, dewan komisaris independen dan perwakilan pemegang saham mayoritas dari faksi kita sudah mulai memasuki ruang rapat pleno di lantai atas. Rapat akan dimulai tepat tiga puluh menit lagi."
Surya merapikan kerah jasnya, mencoba mengembalikan ketenangannya. "Apakah Narendra Baskara sudah terlihat di gedung ini?"
"Belum ada laporan dari bagian keamanan lobi bawah, Pak. Mobil dinas Pak Narendra juga tidak terlihat di area parkir eksekutif," jawab sang sekretaris. Sebuah senyum licik dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah Surya Adiguna.
Ia berasumsi bahwa absennya Narendra adalah bukti bahwa pria itu sedang panik mengurus kondisi putranya yang sekarat di rumah sakit, atau mungkin tim lapangannya di perbukitan sebenarnya berhasil melenyapkan Hani dan Pak Gibran, sehingga Narendra tidak memiliki senjata apa pun untuk melawannya sore ini.
"Bagus. Jika Narendra tidak hadir dalam tiga puluh menit pertama, kita akan langsung melakukan voting mosi tidak percaya dan mengambil alih kepemimpinan Baskara Group secara mutlak," gumam Surya penuh percaya diri. Ia meraih map dokumen draf Proyek-X miliknya, lalu melangkah keluar menuju ruang rapat pleno dengan kepala tegak.
...****************...
Pak Gibran yang bahunya sudah selesai dibalut rapi tampak berdiri di dekat jendela, menatap sebuah mobil hitam cadangan yang sudah disiapkan di halaman bawah. Meskipun fisiknya belum pulih seratus persen, sorot matanya memancarkan kesiapan tempur seorang mantan kepala pengamanan elite.
"Narendra, sudah waktunya kita berangkat," ucap Pak Gibran sambil memeriksa jam tangannya yang menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit siang. "Jalur arteri menuju Sudirman agak padat, tapi tim pengawalan kita akan membuka jalan tanpa menarik perhatian publik."
Narendra mengangguk pasti. Ia menoleh ke arah Hani yang kini sudah mengenakan pakaian formal berupa blazer hitam yang rapi, pemberian dari salah satu staf wanita di gedung tersebut agar Hani tampak pantas berdiri di ruang rapat para petinggi korporasi.
"Hani, apakah kamu gugup?" tanya Narendra lembut.
Hani menatap buku harian cokelat di tangannya, lalu mendongak menatap Narendra dengan sepasang mata yang berbinar tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Delapan tahun lalu, saya hanya seorang anak sekolah yang tidak berdaya saat ayah saya disingkirkan dan difitnah sebagai pengkhianat perusahaan. Hari ini, di gedung itu, saya akan memastikan semua orang tahu siapa pengkhianat yang sebenarnya. Saya tidak gugup, Pak Narendra. Saya siap."
Narendra tersenyum bangga, melihat bayangan ketegasan almarhum Gunawan di dalam diri putri sahabatnya itu. "Mari kita selesaikan apa yang sudah dimulai delapan tahun lalu."
Mereka bertiga, dikawal oleh empat agen pengamanan internal tertutup, langsung bergegas turun menggunakan lift privat menuju ke basemen. Dua mobil hitam dengan kaca film antipeluru segera melesat keluar dari kompleks bangunan, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati oleh volume kendaraan sore hari.
Di dalam mobil, Hani membuka kembali halaman pertama buku harian ayahnya. Di sana tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan sang ayah yang mulai memudar.
"Kebenaran mungkin bisa ditekan dan disembunyikan untuk sementara waktu, namun ia tidak akan pernah bisa dimusnahkan. Suatu hari, cahaya akan menembus kegelapan terpekat sekalipun."
Hani mendekap tulisan itu di dadanya. Di dalam benaknya, wajah sang ayah tersenyum hangat, seolah memberikan restu spiritual untuk langkah besar yang akan ia ambil sebentar lagi. Di sisi lain, ia juga membayangkan wajah Reza yang kini sedang berjuang melawan rasa sakit di ranjang rumah sakit demi membukakan jalan digital untuknya.
"Aku tidak akan mengecewakan kalian semua," batin Hani penuh tekad, seraya menatap gedung pencakar langit Baskara Group yang kini mulai terlihat di balik kaca jendela mobil yang bergerak cepat.
Waktu menunjukkan pukul dua lewat lima puluh menit sore. Konvoi mobil Narendra Baskara perlahan memasuki pintu basemen rahasia gedung pusat, bersiap meluncurkan serangan fajar di tengah rapat pleno dewan komisaris yang akan segera bergulir sepuluh menit lagi.