Novel ini menceritakan tentang sepasang insan Tuhan yang dipertemukan sejak kecil. Dia adalah Ivanna dan Max. Namun, Max harus pergis dengan suatu alasan. Ivanna tak mendapatkan kabar dari Max selama puluhan tahun, membuatnya menjadi lupa akan sosok teman masa kecilnya.
Mereka akhirnya dipertemukan kembali setelah puluhan tahun berlalu.
"Gue benci sama lo, Max!" - Ivanna Arabelle.
"Aku bisa jelasin semuanya, Van." - Maximillian Fransisco.
Akankah perasaan Ivanna masih sama kepada Max?
Dan apakah Max selama ini memiliki rasa sayang kepada Ivanna?
Yuk mulai baca kisah mereka.
Diusahakan akan up setiap hari. Stay ya!
Thank You semua....
Happy reading ^^.......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gabrielle Apil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP 17 - Helper
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^•^
_____________________________________
Ketika sedang menempatkan barang barang barunya di berbagai tempat, Max datang ke pondok Ivanna.
"Mau apa lo?" tanya Ivanna dengan kasar.
"Mau liat apakah pondok ini baik baik saja setelah ditempati oleh mak lampir atau tidak!" jawab Max.
"Mak lampir itu apa, Len?" tanya Ivanna pada Helen.
Ya karna Ivanna tidak begitu tau bahasa seperti itu, sehingga Ivanna bertanya kepada asistennya itu.
"Hm, anu non....." jawab Helen dengan gelagapan.
"Mak lampir itu wanita yang cantik dan lemah lembut." sela Max ketika Helen masih berbicara.
"Really, Helen?"
"Sudah ah aku mau melihat perkebunan apel dulu. Sampai jumpa mak lampir!" ucap Max.
"Ko aku seperti merasa seperti bermakna buruk ya?" ujar Ivanna.
Karena rasa penasarannya, Ivanna mencari kata "Mak Lampir" di google. Yang muncul adalah foto seorang nenek dengan wajah yang seram dan menakutkan.
"AWAS AJA MAXXXX!!!!!!" teriak Ivanna.
###############################
Hari ini, uncle William datang ke perkebunan, sekaligus juga hari pertama bagi Ivanna untuk memulai pekerjaannya.
"Vanna, uncle sudah menyiapkan sebidang tanah untuk kamu kelola untuk menjadi bahan kosmetik. Kamu mau menanam apa?" tanya William.
"Vanna berencana untuk menanam bunga mawar, uncle. Dan Vanna ingin membuat produk baru berupa parfume dari bunga mawar tersebut, uncle." jawab Ivanna.
"Perfect! Sangat sempurna rencanamu itu. Baiklah, kamu lihat dulu tanahnya, dan kamu buat perencanaan pembangunannya ya, nak!"
"Baik, uncle. Akan segera Vanna selesaikan."
"Ul, antarkan Vanna ke blok B. Panggil juga Hilman dan Diky untuk membantu mencabut rumput disana." suruh William.
"Baik, tuan." jawab Maul.
Maul mengantarkan Ivanna ke tanah blok B bersama Hilman dan juga Diky yang akan membantu Ivanna disana.
"Hilman, Diky, ini adalah nona Ivanna." ucap Maul memperkenalkan Nona Mudanya disana.
"Semua juga tau, Ul. Kalau nona cantik ini Ivanna!" saut Hilman.
"Baiklah baiklah, kalian diminta tuan untuk membantu nona disini."
"Mohon bantuannya ya Diky dan Hilman." pinta Vanna.
"Baik nona cantik." jawab Diky dan Hilman secara bersamaan.
"Panggil saja namaku Vanna karna usiaku lebih muda daripada kalian."
"Jangan nona, anda disini adalah bos kami juga." ucap Diky.
"Iya betul itu!" sambung Hilman.
"Terserah kalian saja ingin memanggilku apa, yang penting kalian harus merasa nyaman saat bekerja sama denganku. Kalau ada yang kurang nyaman, bilang saja kepadaku." jelas Ivanna.
"Baik nona." saut Maul.
Disana, Hilman dan Diky mulai mencabuti rumput rumput liar yang tumbuh disana. Ivanna, Helen, dan juga Maul berkeliling bidang tanah yang terlihat luas itu.
"Aku hanya bisa merancangkan bagian bangunan saja, tetapi tidak untuk bangunan dan bahannya, Len." ujar Ivanna pada Helen.
"Kita membutuhkan arsitek nona." jawab Helen.
"Apa kamu bisa melakukannya, Helen?" tanya Ivanna.
"Aku hanya lulusan SMP nona. Mana mungkin bisa mengerjakan hal seperti itu."
"Fyuhh! Aku tidak memiliki teman seorang arsitek." keluh Ivanna.
"Nona, tuan muda punya sahabat dekat yang merupakan seorang arsitektur."
"Tidak, tidak, aku tidak mau berhubungan dengan yang namanya Max." tolak Ivanna secara langsung.
"Tapi nona, sahabat tuan muda ini sangat berbeda sikap dan sifatnya dari tuan muda." bujuk Helen.
"Benarkah?"
"Tentu nona." jawab Helen dengan yakin.
"Nanti antarkan aku kepadanya, Len."
"Siap nona!"
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰