Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.
Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.
Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Malam pun tiba.
Ikhsan yang pakai kemeja kotak-kotak berwarna biru dongker dan putih dan jeans biru dongker yang senada dengan bajunya, dan sepatu berwarna hitam itu.
Dia sudah sampai di depan rumah.
"Assalamualaikum." ucapnya dari luar rumah.
Aku yang memakai jeans hitam dan tunik lengan panjang berwarna merah maroon dan pakai jilbab segiempat yang berwarna hitam untuk menutupi bagian kepala.
Ketika mendengar salamnya, aku langsung keluar dan menghampirinya.
"Waalaikumsalam." ucapku tersenyum.
Dia balas dengan senyuman yang membuat aku terpesona dengannya malam ini. Dia menatapku lekat, dan senyumannya yang tidak pudar itu.
"Eh temannya sudah sampai ternyata." ucap nenek yang tiba-tiba menghampiri kita berdua.
"Oh iya nek ini Ikhsan dan Ikhsan ini nenek." kataku memperkenalkan.
"Assalamualaikum nek." ucap Ikhsan mencium tangan nenek.
"Waalaikumsalam nak." ucapnya tersenyum.
"Aku mau izin bawa Nina keluar nek, boleh?" tanya Ikhsan sopan.
"Iya nak silahkan asal jangan pulang terlalu malam." katanya.
"Iya nek, iya sudah nek, kita langsung pergi saja takut keburu malam." kata Ikhsan pamit.
"Iya sudah jagain cucu nenek." katanya.
"Iya nek." kata Ikhsan tersenyum.
"Aku berangkat dulu yah nek, assalamualaikum." ucapku mencium tangan nenek.
"waalaikumsalam, kamu hati-hati." ucap nenek.
"Aku bawa Nina dulu nek, assalamualaikum." kata Ikhsan ikut nyium tangan nenek.
"Waalaikumsalam." ucap nenek.
"Nek, kalau mau tidur, tidur saja jangan nungguin aku pulang." kataku sebelum pergi.
"Iya nak." katanya tersenyum.
Aku dan Ikhsan melangkah keluar rumah dan sudah berdiri di depan motor Ikhsan. Ikhsan terus menatapku, aku yang terus ditatapnya merasa kurang nyaman.
"Kenapa?" tanyaku karena Ikhsan terus menatapku.
"Kamu cantik." katanya.
Deg.
Mungkin kalau siang hari, dia bisa lihat wajahku sudah memerah karena malu. Beruntunglah karena ini malam, penerangan lampu di sekitar luar rumah tidak terlalu terang jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas pipiku yang sudah merona.
"Biasa saja." kataku malu.
"Serius, kamu cantik malam ini." katanya.
"Iya aku kan cewek, makanya cantik." kataku mencoba menghilangkan rasa gugupku.
"Serius Nina." katanya.
"Kamu juga ganteng malam ini Ikhsan." batinku.
"Iya aku juga serius Ikhsan." kataku tersenyum.
"Iya sudah ini pakai dulu helmnya." katanya memberikan helm.
"Iya terimakasih." kataku mengambilnya dan terus memakainya.
"Sudah siap?" tanyanya ketika aku sudah duduk di belakang.
"Iya." kataku.
Ikhsan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan tidak ada obrolan hanya suara kendaraan yang lalu lalang meramaikan jalan.
Kita sudah mau sampai lokasi. Berhubung ini malam minggu dan hari pertama pasar malam ini dibuka jadi jalanan macet. Tiba-tiba dompet Ikhsan jatuh.
"Ikhsan berhenti dulu, itu dompet kamu jatuh." kataku menepuk pundak Ikhsan.
Ikhsan langsung menghentikan motornya dan aku turun dan mengambil dompet itu.
"Ini." kataku memberikan dompetnya.
Ikhsan yang kesusahan untuk memasukan dompetnya ke saku jeansnya dan menyuruh aku pegang dulu dompetnya.
"Nin, ini kamu pegang dulu." katanya memberikan dompet itu.
Aku mengangguk dan aku memasukan dompet itu ke tas kecilku yang aku bawa.
Akhirnya kita sudah di tempat parkiran, Ikhsan yang sedang memarkirkan motor dan aku yang nunggu di tepi jalan. Ikhsan menghampiri ku dan aku memberikan dompetnya ke dia.
"Ini dompetmu." kataku memberi dompet itu.
"Terimakasih yah." katanya dan meletakan di saku jeans bagian depan.
"Iya." kataku.
Ikhsan menggenggam tanganku dan menuntun jalan. Aku yang syok hanya mengikutinya dan menatapnya tanpa berkedip.
Kita berdua mengelilingi pasar malam itu. Dari orang yang jualan baju-baju, tas, sepatu, jam tangan dan lain-lain. Terus beralih melihat-lihat jajanan-jajanan yang mengelilingi pasar malam itu.
Mataku tertuju ke jajanan sosis bakar yang super besar itu. Dan aku mengajak Ikhsan ke sana.
"Ikhsan, kita kesana dulu yuk." ucapku menunjuk orang jualan itu.
"Ayok." ucapnya mengikuti langkahku.
"Ikhsan kamu mau?" tanyaku.
"Tidak, kamu saja." katanya.
"Serius?" tanyaku memastikan. Dan dijawab anggukan olehnya.
"Mas sosisnya satu." kataku memesan.
"Ini." kata penjual itu memberikan sosisnya.
"Berapa mas?" tanyaku.
"Sepuluh ribu neng." katanya.
Aku yang sedang membuka tas dan mencari uang sepuluh ribu. Tiba-tiba Ikhsan sudah duluan membayar.
"Ikhsan, ini." kataku ngasih balik uangnya.
"Sudah simpan lagi saja." katanya.
"Ihh apaan dah." kataku.
Ikhsan yang meninggalkanku jalan duluan.
"Ihh tungguin." kataku mensejajarkan jalannya dengannya.
"Kamu mau?" tanyaku sebelum memakannya.
"Tidak, kamu makan saja." katanya.
Aku makan sambil jalan melihat-lihat pasar malam itu.
"Kamu ada bawa tissu?" tanya Ikhsan tiba-tiba.
"Ini." kataku mengambil tissu di dalam tas dan mengasihnya ke dia.
Dia mengambil tissu itu dan mengarahkan tangannya ke mulut aku yang ada bekas mayonis di bawah bibirku.
Aku hanya diam menatapnya membersihkan mayonis di mulutku.
"Terimakasih." kataku ketika dia sudah selesai membersihkannya.
"Sama-sama." katanya tersenyum.
Aku yang sudah selesai makan sosisnya lalu ambil tissu lagi dan membersihkan mulutku sendiri.
"Mau naik wahana?" tanyanya.
"Hmmm..." kataku sok-sokan mikir.
"Ah lama." katanya menarik tanganku dan menuju loket tiket untuk membeli tiket masuk wahana.
Aku hanya tersenyum melihatnya, ntah malam ini aku sangat bahagia bersamanya.
Kita menuju wahana bianglala. Banyak pasangan yang sedang mengantri di depan dan kita ikut dalam antrian tersebut. Menurut aku wahana ini memang cocok untuk pasangan yang lagi di mabuk asmara. Dimana ketika kita lagi berada di atas wahana, itu moment yang paling romantis karena bisa melihat kemerlap kemerlip lampu yang menghiasai pasar malam itu. Ditemani sang pujaan hati.
"Kamu suka naik ini?" tanya Ikhsan saat wahananya lagi naik ke atas.
"Suka banget malah, karena bisa lihat keindahan malam ini dari atas sini." kataku tersenyum.
"Kalau kamu?" tanyaku.
"Apapun yang kamu suka, aku juga. Ditambah bareng kamu itu double sukanya." katanya menatap dalam mataku.
Blush pipi ku merona seketika.
"Apaan sih." kataku yang sudah salah tingkah. Dan memalingkan wajahku ke arah lain.
"Aku juga maunya kita seperti ini terus." batinku.
Wahana selanjutnya yaitu kora-kora karena aku yang minta.
"Ikhan, kita naik kora-kora yuk." ucapku setelah turun dari bianglala.
"Kamu yakin mau naik itu?" tanyanya memastikan.
"Iya." kataku memelas.
"Kok bisa yah mukanya berubah-ubah." katanya melihat raut muka ku memelas.
"Au ah." kataku pergi.
Tak sampai pergi dia menarik tanganku dan menuntunku masuk ke wahana kora-kora. Aku tersenyum bahagia berasa anak kecil yang dikasih ice cream.
Kita berdua duduk dipaling atas.
"Kamu yakin kita duduk di sini?" tanyanya.
"Tidak tahu." kataku cengingisan.
"Kita duduk dibarisan dua dari depan saja." katanya.
"Tidak ahh, emang kamu takut?" tanyaku menantang.
"Aku cuma khawatir sama kamu takut pusing." katanya.
"Aku beneran tidak apa-apa." kataku menyakinkan.
"Iya sudah." katanya mengeratkan genggaman tangannya. Dan aku tersenyum.
Kora-kora sudah mulai berjalan. Awal-awal masih biasa saja tapi lama-kelamaan berasa jantungnya masih nyangkut di atas sedangkan raganya sudah turun. Iya gitulah aku refleks memeluk Ikhsan dengan eratnya. Kora-kora sudah berhenti tapi tidak dengan pelukanku.
"Tenang, aku disini kok tidak bakal kemana-mana. Takut banget kehilangan aku yah." ucapnya mengelus lembut kepalaku.
Aku refleks melepaskan pelukanku dan merapihkan jilbabku. Dan meninggalkan Ikhsan.
"Katanya tidak apa-apa, tapi meluknya erat banget." kata Ikhsan menyindirku tepat berada di sampingku.
Kali ini aku dibuat tidak berkutik olehnya, karena rasa maluku.
"Hahaha..." kata Ikhsan tertawa.
"Aku hanya becanda Nin, sudah jangan cemberut lagi. Jelek tahu." katanya.
Aku tersenyum menatapnya.
"Nah kan kalau kayak begini manis." katanya tersenyum.
"Mau masuk wahana lain?" tanyanya.
"Tidak ahh, sudah cukup." kataku.
"Sekali lagi ya, please." kata Ikhsan memohon.
"Emang mau wahana apa?" tanyaku.
"Rumah hantu." katanya.
"Ogah." kataku menolaknya dengan cepat.
"Kenapa? takut? kan ada aku disini. Tadi saja kan meluknya erat banget." katanya menggodaku.
"Sudah deh jangan bahas itu lagi, malu tahu." kataku menunduk.
"Hehehe iya sudah makanya mau wahana apa lagi?" tanyanya.
"Aku mau pulang saja, sudah malam takut nenek nungguin." kataku melihat jam tangan.
"Oh iya, iya sudah kita pulang." katanya dan menggandeng tanganku, karena dia pun baru sadar kalau sudah jam 10 malam.
Kita berdua menuju tempat parkir, tapi sebelum ke tempat parkir Ikhsan membeli martabak dulu.
"Bentar yah aku beli martabak dulu buat nenek." katanya menghentikan langkah kakinya.
Sebelum aku menolaknya, dia sudah duluan bicara.
"Tidak ada penolakan. Niat baik itu jangan ditolak." katanya.
Jadi yang tadinya aku mau menolaknya tapi karena dia bilang seperti itu aku hanya diam.
Kita meninggalkan pasar malam itu dan sudah sampai di rumah nenek.
"Mau ngapain?" tanyaku yang melihat Ikhsan ikut turun dari motornya.
"Iya mau minta maaf lah karena sudah bawa kamu pulang malam." katanya.
"Hmm iya sudah." kataku pasrah.
Aku membuka pintu dan mengucapkan salam, tetapi rupanya nenek sudah tidur.
"Kamu pulang saja, sudah larut malam. Nanti besok aku salamin ke nenek." kataku menghadap Ikhsan.
"Iya sudah aku pulang dulu, kamu langsung tidur sudah malam." katanya.
"Iya, kamu juga hati-hati pulangnya." kataku.
Dia hanya menganggukan kepala dan tersenyum. Baru dua langkah menuju motornya, aku memanggilnya.
"Ikhsan." ucapku memanggilnya.
Dia menoleh menatapku.
"Terimakasih." ucapku sambil tersenyum.
Dia pun balas tersenyum dan pergi.
Setelah dia benar-benar pergi, aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Lalu meletakan martabak yang tadi Ikhsan beli itu di atas meja makan. Dan aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka setelah itu merebahkan diri di atas kasur dan memeluk boneka. Mengingat kejadian tadi di pasar malam yang terus berputar di pikiranku. Dan senyuman di bibir ku tidak pudar ketika mengingatnya. Iya malam ini aku merasa sangat bahagia. Aku mengeratkan pelukan ke guling dan kemudian aku sudah terlelap dalam tidurku.
...****************...
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
minding baca komik bobo
salam dari Barryneald :))
#Izin Thor
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Terima-kasih banyak.
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️
tinggalkan like and comment ya 🥭