Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pagi yang Canggung
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar Su Yuhan, menyinari wajahnya yang pucat karena kurang tidur. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamarnya yang familier. Selama beberapa detik, otaknya mencoba meyakinkan bahwa kejadian semalam—Hotel Imperial yang hancur, Pasukan Bayangan yang berlutut, dan pengakuan Lin Fan sebagai pewaris kekaisaran bisnis terbesar di negara ini—hanyalah sebuah mimpi buruk yang absurd.
Namun, aroma harum kaldu ayam dan telur dadar daun bawang yang menguar dari lantai bawah membuyarkan ilusi tersebut. Itu bukan mimpi.
Yuhan bangkit dari ranjang, mengenakan piyama sutranya, dan berjalan menuruni tangga pualam dengan langkah ragu. Di benaknya, berkecamuk berbagai skenario tentang bagaimana ia harus bersikap pagi ini.
Apakah ia harus menunduk hormat? Pria itu memiliki kekuasaan mutlak yang bisa melenyapkan seluruh keluarganya dalam semalam.
Apakah ia harus menceraikannya? Lin Fan kini sudah bebas dari ujiannya, pernikahan kontrak mereka secara teknis sudah tidak memiliki alasan untuk dipertahankan.
Atau bersikap normal? Bagaimana mungkin bersikap normal di hadapan seorang tiran yang menyamar menjadi suami benalu selama tiga tahun?
Saat Yuhan tiba di ambang pintu dapur, langkahnya terhenti. Pemandangan di depannya membuat otak analitisnya kembali mengalami korsleting.
Di sana, berdiri Lin Fan. Pria yang semalam memerintahkan mutilasi seorang pewaris konglomerat tanpa mengubah ekspresi wajahnya, kini sedang berdiri membelakangi Yuhan. Ia mengenakan kaus putih polos, celana pendek santai, dan sebuah celemek merah muda bergambar Hello Kitty pudar peninggalan pelayan lama.
Tangannya yang semalam memancarkan aura dewa kematian, kini bergerak lincah membalik telur mata sapi dengan spatula silikon.
"Kau sudah bangun, Yuhan?" sapa Lin Fan tanpa menoleh, pendengarannya yang tajam telah menangkap langkah kaki istrinya. Ia mematikan kompor, memindahkan telur itu ke atas piring porselen, dan berbalik.
Senyum hangat dan sayu yang selama tiga tahun ini menemani pagi Yuhan kembali menghiasi wajah Lin Fan. Tidak ada sisa-sisa tatapan membunuh atau kharisma arogan dari Tuan Muda Lin.
"A-aku... ya," Yuhan menjawab terbata-bata. Ia berjalan kaku menuju meja makan, merasa sangat canggung. Matanya terus melirik ke arah tangan Lin Fan yang meletakkan piring sarapan dan segelas susu hangat di hadapannya.
"Makanlah selagi hangat. Hari ini kau pasti sangat sibuk mengurus proposal dari Bank Sentral," ucap Lin Fan lembut sambil menarik kursi dan duduk di seberang Yuhan.
Yuhan menunduk menatap telur mata sapi yang digoreng sempurna itu. "Lin Fan... kenapa kau masih melakukan ini?" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. "Kau adalah... kau tahu siapa dirimu. Kau tidak perlu memasak untukku, mengepel lantai, atau memakai celemek itu lagi."
Lin Fan tertawa pelan, tawanya renyah dan tulus. "Ujianku memang sudah berakhir, Yuhan. Tapi bukan berarti aku berhenti menjadi suamimu, kan? Lagipula, jika aku menyuruh Pasukan Bayangan memasak telur ini, mereka mungkin akan menggunakan flamethrower militer dan membakar dapur kita."
Tepat ketika suasana canggung di antara mereka mulai mencair oleh lelucon Lin Fan, suara langkah kaki berat dan gerutuan melengking terdengar dari arah ruang tengah.
"Lin Fan! Dasar gembel pemalas! Jam berapa ini?! Mana teh pagiku?!"
Nyonya Wang berjalan masuk ke ruang makan dengan wajah ditekuk, mengenakan jubah mandi mewahnya. Tanpa memedulikan Yuhan, ia langsung menunjuk wajah Lin Fan dengan telunjuknya yang dihiasi cincin giok.
"Kau pikir karena istriku mendapat dana 500 Miliar dari Bank Sentral, kau bisa ikut-ikutan bersantai?! Ingat posisimu di rumah ini! Kau hanyalah anjing peliharaan yang menumpang makan!" omel Nyonya Wang sambil menarik kursi dengan kasar. "Cepat cuci mobilku! Hari ini aku mau pergi ke salon dan memamerkan kekayaan baru putriku pada teman-teman arisanku!"
Mendengar makian ibunya, darah Yuhan seketika terasa membeku. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di punggungnya.
Mata Yuhan melebar penuh horor, menatap ibunya lalu beralih ke Lin Fan. Di kepalanya, terbayang Komandan Yuan tiba-tiba melompat dari atap dapur dan mematahkan leher ibunya karena berani menghina Tuan Muda Lin.
"Ibu! Hentikan!" Yuhan setengah berteriak, menggebrak meja hingga susu di gelasnya tumpah sedikit. Ia langsung berdiri, menempatkan tubuhnya seolah melindungi ibunya dari Lin Fan.
Nyonya Wang terlonjak kaget. "Y-Yuhan? Ada apa denganmu? Kenapa kau membentak Ibumu demi sampah ini?"
Keberanian Sang Istri
"Ibu tidak boleh berbicara seperti itu lagi padanya!" napas Yuhan memburu. Matanya berkaca-kaca menahan campuran rasa takut, marah, dan rasa bersalah yang luar biasa. "Mulai hari ini, Lin Fan tidak akan mengepel lantai! Dia tidak akan mencuci mobil! Dan Ibu... Ibu harus menghormatinya sebagai suamiku!"
Nyonya Wang mematung, mulutnya menganga tak percaya melihat putrinya yang selalu dingin kini membela Lin Fan mati-matian. "Kau... kau sudah gila, Yuhan? Apa pria miskin ini memberimu pelet?"
Sementara itu, Lin Fan yang duduk di seberang meja hanya diam. Namun, di balik wajah tenangnya, hatinya menghangat. Istrinya tahu persis monster seperti apa dirinya, namun insting pertama wanita itu adalah pasang badan untuk melindunginya dari hinaan—sekaligus melindungi ibunya dari murka Lin Fan.
Lin Fan tersenyum tipis. Ia berdiri, mengambil lap bersih, dan dengan tenang menyeka tumpahan susu di meja Yuhan.
"Tidak apa-apa, Yuhan," potong Lin Fan lembut, suaranya sangat menenangkan. Ia menoleh pada ibu mertuanya dan sedikit membungkuk. "Saya akan menyiapkan teh Anda sekarang, Ibu. Dan mobilnya akan bersih sebelum Anda berangkat ke salon."
"K-kau lihat itu, Yuhan?! Dia sendiri yang mau melakukannya!" Nyonya Wang mendengus angkuh, meski masih sedikit terguncang oleh bentakan putrinya tadi.
Yuhan menatap Lin Fan dengan pandangan tak berdaya dan penuh tanya. Lin Fan hanya mengedipkan sebelah matanya secara rahasia pada Yuhan, mengisyaratkan bahwa sandiwara ini adalah hiburan kecil baginya.