Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17 — Perburuan Sudah Mencapai Target
Rasanya seperti ia baru saja menelan segumpal lumpur busuk yang dicampur dengan dedaunan basi!
Pil itu tidak menyakiti tubuhnya, khasiat penyembuhannya tetap bekerja perlahan memulihkan otot-ototnya yang tegang. Namun, bagi dantian emasnya yang terbiasa dengan kemurnian dari Energi Surgawi, energi spiritual dari pil tersebut terasa sangat kotor, kasar, dan penuh dengan kotoran duniawi.
Lautan energi emas di dalam perutnya bahkan tampak 'bergejolak jijik', dengan cepat menghancurkan ampas energi spiritual dari pil itu dan membuangnya melalui keringat.
"Benar-benar aneh..." gumam Huo Li sambil mengusap bibirnya, wajahnya masih memucat karena rasa yang menjijikkan itu.
Sebagai kultivator Jalur Dewa Surgawi, tubuhnya kini berada di dimensi kemurnian yang menolak keras asupan energi spiritual dunia ini. Jika ia terus memaksakan diri memakan pil biasa, meski menyembuhkan, itu akan meninggalkan terlalu banyak ampas kotoran di meridiannya.
"Kalau begini... Sepertinya ke depannya aku perlu belajar alkimia dan meracik pil menggunakan Energi Surgawiku sendiri," simpulnya dengan tekad bulat.
.....
Dua minggu berlalu dalam sekejap mata.
Hutan Seratus Binatang Buas menjadi saksi bisu dari latihan gila yang dilakukan oleh Huo Li. Ia tidak keluar dari hutan sama sekali. Gua kecil tertutup rumput itu menjadi basis pertahanannya.
Setiap hari, ia menggunakan Kristal Surgawi hasil pertukarannya untuk menstabilkan dan memperkuat kultivasinya di Ranah Surgawi Bintang 2 Tahap Menengah. Begitu energinya penuh, ia akan keluar untuk berburu.
Sasarannya adalah Babi Hutan Berkulit Besi tingkat 2 tahap awal, demi memenuhi kuota dua puluh ekor untuk misi sekte.
Selama dua minggu itu, Huo Li mengubah dirinya menjadi hantu di dalam hutan. Panca indranya yang tajam karena Energi Surgawi memungkinkannya mendeteksi pergerakan dari jarak jauh. Setiap kali ia merasakan fluktuasi energi dari murid Sekte Pedang Tiran yang sedang berpatroli atau berburu, Huo Li akan menyembunyikan auranya secara total dan menghindar ke arah lain. Pertemuan yang tidak perlu hanya akan membawa masalah.
Gaya bertarungnya pun semakin efisien. Penguasaannya terhadap Langkah Pemutus Nadi dan Tebasan Bayangan Berat kini mencapai tahap yang mengalir seperti air, tidak lagi kaku seperti saat ia melawan Zhao Feng.
Namun, hidup di hutan tanpa perbekalan ganti membawa dampak pada penampilannya.
Jubah abu-abu murid sekte miliknya kini telah sobek di banyak tempat, dipenuhi noda tanah, lumpur kering, dan percikan darah babi hutan yang telah menghitam. Rambutnya sedikit berantakan. Jika orang melihatnya sekarang, ia tak ada bedanya seperti gembel liar yang hidup di pegunungan, mengembalikan citranya seperti saat ia pertama kali masuk sekte.
Meski begitu, di balik penampilan yang kusam itu, sepasang mata gelap Huo Li memancarkan ketajaman yang setenang dan sedingin pedang es.
Setelah merasa misinya telah terpenuhi dengan cukup aman dan jarak waktu kematian Zhao Feng dirasa telah berlalu cukup lama untuk mengaburkan jejak, Huo Li memutuskan untuk kembali.
.....
Sekte Pedang Tiran, Paviliun Balai Misi.
Suasana di balai misi selalu ramai oleh hilir suara riuh murid luar maupun murid dalam yang menyerahkan material atau mengambil tugas baru.
Ketika Huo Li melangkah masuk, bau anyir darah kering dan lumpur yang menguar dari tubuhnya langsung membuat beberapa murid di sekitarnya menutup hidung dan menyingkir.
"Ugh, bau apa ini? Apakah dia baru saja tidur di kandang babi?" bisik seorang murid dengan nada jijik.
Huo Li tidak memedulikan tatapan dan bisikan mereka. Melangkah lurus menuju meja pendaftaran misi di ujung ruangan.
'Kalian benar, lebih tepatnya kandang alam... habitat babi hutan berkulit besi.' batinnya geli.
Di balik meja kayu tebal itu, duduk seorang Tetua wanita paruh baya. Wajahnya cantik namun memancarkan aura tegas dan tampak sopan. Ia mengenakan jubah hitam dengan sulaman benang merah yang menandakan posisinya sebagai pengurus sumber daya sekte.
Huo Li berhenti tepat di hadapannya.
"Murid Huo Li dari Puncak Pedang Kedua, datang untuk menyerahkan hasil misi perburuan." ucapnya tenang, suaranya jernih membelah hiruk-pikuk balai misi.