Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Awal Dari Sebuah Ujian
Pagi itu, suasana rumah orang tua Hanifah terasa lebih ramai dari biasanya. Di meja makan sudah tersaji nasi hangat, ikan goreng, sambal, serta sayur bening hasil masakan ibu Hanifah.
"Mas Arkana, tambah nasinya," ucap ibu Hanifah sembari menyendokkan dua centong penuh nasi putIh ke atas piring menantunya.
"Wah, sudah cukup banyak ini, Bu. Terima kasih, piring saya sudah penuh sekali." jawab Arkana sambil tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa. Laki-laki itu kalau bekerja kan butuh banyak tenaga, jadi makannya juga harus ekstra banyak," balas sang ibu mertua bersikeras.
Hanifah terkekeh pelan. "Ibu, nanti Mas malah ngantuk di jalan."
"Ada-ada saja kamu." sahut sang ibu sambil mencubit pelan lengan Hanifah.
Semua tertawa kecil. Setelah sarapan selesai, Hanifah membantu membereskan piring. Namun ibunya segera menahan tangannya.
"Sudah. Kamu duduk saja." cegah sang ibu dengan nada suara yang tegas namun lembut. "Perutmu sudah mulai besar, jadi tidak boleh banyak menunduk."
Hanifah tersenyum canggung. "Hanifah masih kuat kok, Bu."
"Kalau sudah dibilang duduk, ya duduk." potong sang ibu dengan mata memelotot jenaka.
Hanifah akhirnya menurut. Sementara itu, ayah Hanifah membawa dua kantong berisi berbagai macam sayuran hijau, Cabai, dan tomat yang baru saja dipetik langsung dari kebun belakang rumah.
"Ini bawa pulang. Masih segar." ujar sang ayah sambil meletakkan plastik-plastik itu di dekat tas mereka.
"Wah, banyak sekali ini sayurnya, Yah," kata Arkana sambil memeriksa isi kantong plastik tersebut
"Itu kami sendiri yang menanamnya. Sayang kalau tidak dibawa. Lagipula di sana kan semuanya harus serba membeli," balas sang ayah sambil menepuk pundak menantunya.
"Terima kasih, Yah." sahut Arkana tulus.
Menjelang pukul sembilan pagi, Arkana dan Hanifah pun segera berpamitan untuk segera kembali ke rumah Kontrakan mereka sendiri. Hanifah melangkah maju, lalu menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Ibu, Ayah... kami pulang dulu." pamit Hanifah lembut.
"Hati-hati di jalan." pesan sang ibu dengan guratan cemas khas seorang nenek yang menanti cucunya.
"Iya, baik, Bu," jawab Arkana patuh.
Motor Arkana perlahan meninggalkan halaman rumah. Membelah jalanan pedesaan yang asri menuju ke arah area perkotaan.
...✧─────────── ✦ ───────────✧...
Perjalanan menuju rumah mereka tidak memakan waktu lama. Sesampainya di rumah, Arkana langsung menurunkan kantong berisi sayuran ke dapur.
Hanifah ikut masuk sambil memperhatikan rumah yang terlihat cukup rapi.
"Mas." panggil Hanifah lembut.
"Hm? Iya, Dek, ada apa?" sahut Arkana dari arah dapur.
"Aku nyapu ruang tamu ya." ujar Hanifah sambil meraih sapu ijuk yang bersandar di sudut dinding.
Arkana yang sedang membuka jendela langsung menoleh. "Jangan, taruh sapunya."
Hanifah mengembuskan napas pelan.
"Aku cuma mau nyapu."
"Mas saja."
Hanifah memanyunkan bibirnya, merajuk pelan. "Mas..."
"Ingat kan apa yang dipesankan oleh dokter kandungan waktu kontrol kemarin? Dokter bilang kondisi fisikmu jangan sampai kelelahan atau melakukan aktivitas fisik yang berlebihan," ujar Arkana mengingatkan.
Hanifah melipat kedua belah tangannya di depan dada sambil tetap memanyunkan bibir atasnya. "Aku bosan kalau cuma duduk."
Arkana menghampiri istrinya lalu mengusap pelan kepalanya.
"Kalau bosan... Duduk sambil nonton handphone mu, atau baca buku. Pokoknya jangan kerja berat."
Hanifah tertawa kecil. "Nyapu itu kerja berat?"
"Buat Hanifah yang lagi hamil kembar, jelas iya." sahut Arkana dengan nada suara yang tegas namun dipenuhi sorot mata protektif.
Hanifah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman manis, kalah berdebat.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Arkana melirik ke luar jendela.
"Sepertinya Ayah sama Ibu datang." ucap Arkana memberi tahu.
Hanifah yang sedang duduk di sofa langsung ikut bangkit berdiri untuK menyambut kedatangan mereka. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu depan, disusul oleh ucapan salam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Arkana dan Hanifah berbarengan.
Arkana segera membuka pintu. Di depan rumah berdiri Ayah dan Ibu Arkana. Di samping mereka tampak seorang perempuan paruh baya dengan pakaian rapi dan koper berukuran sedang.
Mereka semua masuk ke ruang tamu. Arkana dan Hanifah menyalami perempuan tersebut.
"Assalamu'alaikum, Bi."
"Wa'alaikumsalam," jawab perempuan itu singkat. Beliau tampak menganggukkan kepalanya pelan sambil mengulas seulas senyuman tipis yang terkesan formal di bibirnya.
Perempuan itu menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Ayah Arkana kemudian memperkenalkan.
Ayah Arkana kemudian berdeham pelan untuk memulai sesi perkenalan resmi keluarga. "Nah, mari Ayah perkenalkan secara resmi. Ini adalah Kakak kandung perempuan Ayah yang paling tua, namanya Ratna. Jadi mulai sekarang, kalian berdua bisa memanggil beliau dengan sebutan Bibi Ratna. Nah, Ratna... pemuda ini adalah Arkana, anakku. Dan perempuan berhijab di sebelahnya ini adalah istrinya, Hanifah."
Ratna memperhatikan Hanifah beberapa detik.
"Kamu Hanifah?"
"Iya, Bi."
Ratna tersenyum tipis. "Perutmu sudah mulai kelihatan."
Hanifah ikut tersenyum. "Alhamdulillah, Bi." Kemudian ia meminta izin untuk bangkit dari tempat duduknya menuju ke arah dapur. "Ayah, Ibu, Bibi Ratna... saya izin ke belakang dulu ya untuk membuatkan teh hangat untuk kalian."
"Ah, tidak usah repot-repot membuatkan minuman segala, Hanifah. Kami di sini juga tidak akan bertamu lama-lama kok," tolak Ibu Arkana.
"Tidak apa-apa, Bu, sama sekali tidak merepotkan kok. Cuma sebentar saja," balas Hanifah ramah.
Beberapa menit kemudian, Hanifah kembali membawa empat gelas teh hangat dan sepiring biskuit.
Suasana kembali dipenuhi obrolan ringan. Ayah Arkana sesekali menceritakan pekerjaan Ratna yang mengharuskannya berada di kota itu selama kurang lebih satu bulan.
Tak terasa waktu terus berjalan. Ayah Arkana akhirnya berdiri. "Kalau begitu... Ayah sama Ibu pamit dulu."
Arkana ikut berdiri. "Iya, Yah."
Sebelum keluar rumah, Ayah menepuk pelan bahu putranya.
"Titip Bibi ya."
"Iya, Yah."
Ibu Arkana memeluk Hanifah. "Jaga kesehatan. Jangan terlalu capek."
"Iya, Bu." jawab Hanifah sopan.
Mobil mereka perlahan meninggalkan halaman rumah. Rumah itu kini hanya dihuni oleh tiga orang. Suasana mendadak terasa lebih sepi.
Menjelang malam, Hanifah mulai menyiapkan tempat tidur. Ia membentangkan kasur di kamar. Ratna memperhatikan dari balik pintu.
"Hanifah."
Hanifah menghentikan aktivitasnya sejenak dan menolehkan wajahnya ramah. "Iya, ada apa, Bi?"
"Bibi tidur di kamar saja ya. Bibi kurang terbiasa dan tidak bisa tidur kalau harus di luar kamar," ujar Bibi Ratna langsung pada poinnya tanpa basa-basi.
Hanifah mengangguk tanpa berpikir panjang.
"Tentu saja boleh, Bi."
"Lalu... kalau Bibi tidur di sini, kamu sendiri rencananya tidur di mana?" tanya Bibi Ratna sambil melirik kasur busa di lantai.
"Saya juga akan tetap ikut tidur di dalam kamar ini bersama Bibi kok. Nanti kasur busa tambahan yang di lantai ini yang akan saya pakai untuk tidur," jawab Hanifah jujur.
Bibi Ratna tampak menganggukkan kepalanya puas. "Oh, begitu. Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan suamimu, Arkana?"
Arkana yang sedang menggelar tikar di ruang tamu tersenyum.
"Saya tidur di luar saja, Bi. Tidak apa-apa."
Ratna membalas anggukan itu. "Baiklah, maaf ya bibi merepotkan kalian sebulan ini."
"Iya tidak apa-apa bi, sama keponakan sendiri," jawab Arkana.
Setelah Bibi Ratna membalikkan badan, Hanifah melangkah keluar kamar dan memandang wajah suaminya. "Mas Arkana... kamu benar-benar tidak apa-apa tidur di luar sendirian seperti ini? Lantainya pasti sangat dingin loh kalau malam."
Arkana tersenyum menenangkan.
"Tidak apa-apa. Mas sendirian laki-laki. Lagipula cuma sementara."
Hanifah mengangguk pelan. Ia merasa sedikit tidak enak, tetapi tidak mungkin membiarkan tamunya tidur di luar.
Saat Hanifah hendak masuk ke kamar, suara Ratna kembali terdengar.
"Hanifah."
"Iya, Bi?"
"Kalau bisa... besok pagi-pagi sekali setelah bangun tidur, Bibi maunya langsung disediakan secangkir teh manis Hangat yang baru diseduh, ya," pinta Bibi Ratna dengan nada perintah yang halus namun tegas. "Soalnya Bibi dari dulu punya kebiasaan tidak pernah bisa dan tidak terbiasa kalau harus minum air putih biasa setelah bangun tidur pagi."
Hanifah tersenyum ramah. "Baik, Bi. Besok saya buatkan."
Ratna mengangguk puas.
Sementara Arkana yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tipis. Baginya, permintaan itu masih terdengar wajar.