Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
BRAK!
Terdengar suara keras tinju Sean yang menghantam meja makan.
Martha, Rika, Bianca, dan yang lainnya serentak meloncat kaget, darah seakan berhenti mengalir di pembuluh mereka. Udara di ruangan itu terasa mendadak dingin.
Sean menatap tajam ke arah Martha, matanya menyala, urat-urat di dahinya menonjol yang menandakan kali ini pria itu sangat murka.
"Apa hubungannya biaya pengeluaran dengan keputusanmu sendiri!"
"Dana untuk para pelayan itu bukan urusanmu, Martha. Kau diangkat menjadi kepala pelayan hanya untuk mengatur tugas mereka, bukan berhak memecat siapa pun sesukamu. Saya yang membayar kalian semua. Kenapa saya tidak pernah tahu kalau ada masalah pemecatan yang terjadi selama ini?"
Sean berhenti sejenak, menatap lekat wanita yang sudah bekerja puluhan tahun di rumahnya itu.
"Kau pikir karena kau sudah lama ada di sini, kau bisa berbuat semaumu? Aku membiayai putrimu, Alena, sampai dia bisa menjadi arsitek bangunan bertaraf internasional... Bukan berarti aku terlalu baik sampai kau berani berbuat sesuka hatimu dan menindas orang lain di belakangku!"
Martha hanya bisa diam terpaku, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, tak berani mengangkat wajah sedikit pun. Tubuhnya bergetar hebat.
Sera melirik ke arah Alena dengan tatapan meremehkan.
Kebetulan Alena juga sedang menatapnya balik. Perlahan Sera menarik salah satu sudut bibirnya miring, seolah berkata: Ternyata posisi yang kau banggakan ini cuma karena dibiayai Tuan Sean, tapi kau bersikap seolah kau jauh lebih mulia daripada kakakku.
Alena mengepalkan tangannya di bawah meja, darahnya mendidih saat menangkap tatapan itu. Dia dapat merasakan kalau tatapan Sera sedang merendahkannya.
Kau tidak ada apa-apanya dibanding kakakku... Dan kau sudah berani bersikap seangkuh itu? Kau terlalu naif... batin Sera.
Alena yang tak terima, langsung menggerakkan kakinya, lalu menginjak keras kaki Sera di bawah meja menggunakan sepatu tumit tingginya. Sera yang tidak menduga perbuatan licik itu tak sengaja meringis pelan.
"Aah..."
Suara Sera terdengar jelas, membuat Sean yang sedang dilanda amarah besar seketika menoleh tajam ke arahnya.
Mampus kau... batin Alena girang.
"Kau kenapa, Sarah?" tanya Sean dingin.
Sera menatap tajam kearah Alena yang seperti sengaja memancing Sean.
Tanpa berpikir, dia langsung membalas dengan menendang sekaligus menginjak kaki Alena jauh lebih keras di bawah meja.
Alena ingin sekali meringis kesakitan, namun ia menahannya mati-matian karena takut Sean akan kembali mengarahkan kemarahannya padanya.
Awalnya aku ingin diam saja... Tapi sepertinya kau sendiri yang memancingku, batin Sera.
"Aku tidak apa-apa, Paman," jawab Sera sambil memasang wajah sendu dan tertunduk sedih.
"Sera... Kau tahu kan selama pelayan-pelayan dipecat satu per satu di sini, siapa yang mengurus semua pekerjaan rumah ini?" tanya Sean padanya.
Aku sudah menduga kau akan bertanya hal itu padaku, batin Sera. Ia melirik sekilas ke arah Alena, lalu mengangkat wajahnya kembali.
Awalnya aku tidak mau mengatakannya... Tapi kau sendiri yang memancingku untuk bicara perempuan licik. Batin Sera tersenyum jahat.
Tidak! Jangan sampai Sarah buka mulut, bisa gawat kami semua! Batin Rika.
"Tentu saja Bibi-Bibi yang ada di sini, Paman."
"Kau yakin?" Sean menatap mata Sera.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu, Sean? Ya tentu saja pelayan-pelayan yang mengurus semua pekerjaan di rumah ini. Siapa lagi yang akan melakukannya kalau bukan mereka?" ucap Rika buru-buru, berusaha memotong dan mencegah Sera bicara lebih jauh.
"Iya, bah—"
Ucapan Raisa seketika terhenti saat Sean mengangkat tangannya, memberi isyarat tegas agar mereka semua diam.
"Diam! Kalian semua diam! Saya tidak sedang bicara dengan kalian. Saya lagi bertanya pada Sarah. Kenapa kalian yang sibuk bersuara? Ini rumah saya, dan kalian tidak berhak bicara jika saya belum menyuruh kalian. Kalau kalian semua masih ingin tinggal di sini, lebih baik kalian tutup rapat mulut kalian!" ucap Sean dengan nada semakin dingin, menatap tajam satu per satu wajah mereka yang kini pucat pasi.
Sera lagi-lagi tersenyum tipis melihat ketakutan mereka.
Aku suka sekali caramu bertindak, sayang... Kau benar-benar senjata paling ampuh yang kumiliki, batin Sera penuh kemenangan.
"Katakan, Sarah!" Tegas Sean kembali bertanya.
"Apalagi yang perlu saya jelaskan pada Paman? Apa yang dikatakan Ibu itu benar. Memang mereka semua pelayan yang mengerjakan pekerjaan di sini.." ucap Sera pelan.
Rika tersenyum tipis penuh kemenangan dalam hati. Berpikir mana mungkin Sarah berani bicara jujur.
Namun yang tak dia duga, Sera kembali melanjutkan ucapannya dengan nada dibuat-buat polos.
"Tapi karena pekerjaan yang tidak mungkin diselesaikan dalam sehari dengan jumlah yang sedikit orang..." Sera menggantung ucapannya membuat Rika dan Martha menelan saliva.
"Bayangkan saja, Paman. Rumah ini kan sangat besar. Saking besarnya, rumah ini rasanya sudah seluas lapangan pesawat terbang. Jadi ya begitulah..." Membuat wajah rapuh.
Licik!
"Saya juga harus terpaksa membantunya. Mulai dari membersihkan sarang laba-laba di langit-langit, membersihkan kamar mandi, menyapu seluruh ruangan ini, mengganti kolam renang yang penuh cabe, dan segala macam pekerjaan kotor lainnya..."
"Kalau aku tidak membantu, siapa lagi yang akan melakukannya? Tapi tidak apa-apa, Paman... Aku sudah terbiasa melakukan semua itu selama 5 tahun menjadi istri Mas Adrian, apa lagi tanpa diberi upah sedikit pun."
"Iya, hitung-hitung kami jugakan tinggal disini menumpang hidup dirumah, Paman."
Wajah Sera dibuat-buat menyedihkan hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa iba.
Adrian langsung melotot kearah Sera dengan rahang mengeras. Akan aku bunuh kau Sarah!!! Batin Adrian berteriak dalam hati.
Sean menatap horor kearah mereka semua terkecuali Sera dan Bik Siska.