NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Titian Ombak Menuju Kuil Kaca

Perjalanan menuju pesisir selatan daratan membawa Kaelen dan Lyra melintasi kontras alam yang sangat tajam. Dari dataran tinggi perbukitan yang hijau dan sejuk, lanskap perlahan-lahan berubah menjadi hamparan sabana kering yang berdebu, sebelum akhirnya disambut oleh terpaan angin laut asin yang membawa suara deburan ombak besar dari kejauhan. Selama sepekan penuh, mereka berjalan kaki menyusuri jalur kafilah kuno yang membelah bukit batu kapur, menghindari keramaian kota pelabuhan demi menjaga ketenangan spiritual dan fokus perjalanan.

Kini, di hadapan mereka terbentang lautan lepas berwarna biru tua yang menyatu dengan garis cakrawala tanpa batas. Udara di pesisir terasa pekat oleh uap air dan garam, sementara angin kencang berembus konstan, menerbangkan ujung jubah dan helai rambut perak Lyra. Di sebuah teluk kecil yang tersembunyi di balik tebing karang terjal, sebuah perahu kayu berukuran sedang buatan nelayan lokal—yang telah dipersiapkan oleh jaringan informasi dewan penasihat—tersandar tenang di atas pasir putih. Perahu itu dilengkapi dengan layar tebal berwarna kelabu serta bilah kemudi kayu besi yang kokoh, siap mengarungi ganasnya perairan selatan.

"Peralatan alkimia untuk bertahan di bawah tekanan air laut sudah kusiapkan di dalam kompartemen khusus," ujar Lyra sambil mengikat kencang kantong perbekalannya, lalu melangkah naik ke dek perahu. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berpendar kehijauan dan meminum beberapa tetesnya; seketika itu pula, lapisan pelindung transparan tipis menyelimuti permukaan kulit gadis tersebut, memberikan kemampuan adaptasi terhadap suhu dingin dan tekanan hidrostatis ekstrem di kedalaman samudra. "Formula ini akan melindungiku dari efek dekompresi dan kekurangan oksigen. Bagaimana denganmu, Kaelen? Apakah esensi artefak di dalam dantianmu membutuhkan persiapan khusus?"

Kaelen menyusul naik ke atas perahu, memegang tali kemudi kayu besi dengan tangan kokohnya. Ia melepaskan sedikit gelombang energi biru keperakan dari dantiannya, yang langsung meresap ke seluruh pori-pori tubuhnya, menyelaraskan diri dengan tekanan alam sekitar. "Aku tidak butuh ramuan apa pun, Lyra. Esensi kosmik di dalam tubuhku mengenali elemen air dan udara sebagai bagian dari aliran sirkulasi yang sama. Kita bisa langsung berlayar."

Mengarungi Samudra Lepas

Dengan satu sentakan kuat pada tali layar, Kaelen memanfaatkan dorongan angin pesisir untuk melepas perahu dari pasir pantai. Perahu kayu itu meluncur anggun membelah ombak pertama, meninggalkan busa putih di belakang buritan. Begitu mereka melewati gugusan karang terluar, terjangan ombak besar Samudra Selatan langsung menyambut dengan kekuatan penuh. Perahu berguncang hebat naik turun mengikuti ritme gelombang raksasa yang datang silih berganti, namun dengan kendali presisi dari Kaelen, lambung kapal tetap stabil menempuh jalur pelayaran ke arah tenggara.

Hari berganti malam, dan malam kembali berganti pagi. Di tengah lautan lepas, tidak ada pemandangan lain yang tampak selain air biru tua dan gugusan bintang gemilang yang menghiasi langit malam tanpa awan. Selama pelayaran tiga hari tersebut, mereka tidak menemukan kapal lain maupun tanda-tanda kehidupan manusia; yang menemani perjalanan mereka hanyalah kawanan lumba-lumba berporos mutiara yang berenang berdampingan di sisi perahu, serta sesekali kemunculan bayangan ikan paus raksasa yang melintas di kedalaman air.

Pada hari keempat menjelang sore hari, warna air laut di sekitar perahu mulai mengalami perubahan drastis. Dari warna biru gelap pekat, air perlahan-lahan menjadi sangat jernih dan memancarkan pendaran cahaya kebiruan yang lembut dari dasarnya. Di hadapan mereka, di tengah hamparan samudra yang luas, permukaan air laut tampak berputar membentuk pusaran raksasa yang tenang—bukan pusaran destruktif yang menenggelamkan, melainkan sebuah gerbang dimensional alami yang dikelilingi oleh pilar-pilar karang kristal raksasa yang menjulang tinggi menembus permukaan air.

"Itu dia," kata Lyra, menunjuk ke arah pusat pusaran air yang memancarkan cahaya keemasan dari kedalaman. "Berdasarkan catatan peta kosmik, Kuil Kaca Bawah Laut terletak tepat di dasar pusaran itu, dilindungi oleh kubah energi kuno yang memantulkan cahaya matahari."

Kaelen mengarahkan kemudi perahu, membawa lambung kapal meluncur perlahan mendekati tepi pusaran air yang bercahaya. Begitu mereka tiba di titik tengah, perahu itu tidak tersedot ke bawah, melainkan mengapung stabil di atas permukaan air yang berputar pelan bagai cermin raksasa.

"Kita turun di sini," instruksi Kaelen.

Tanpa ragu-ragu, Kaelen dan Lyra melompat bersamaan dari atas dek perahu, menembus permukaan air yang bercahaya keemasan.

Menembus Kubah Kuil Kaca

Begitu masuk ke dalam air, sensasi dingin langsung menyelimuti tubuh, namun berkat pelindungan alkimia Lyra dan esensi kosmik Kaelen, mereka dapat bernapas dan bergerak dengan leluasa seolah sedang berjalan di daratan biasa. Gravitasi di dalam area pusaran tersebut terasa jauh lebih ringan, memungkinkan mereka melayang turun dengan anggun menembus lapisan air yang jernih bagai kristal.

Semakin dalam mereka menyelam, pemandangan di dasar samudra semakin menakjubkan. Di kedalaman ratusan meter di bawah permukaan laut, sebuah kompleks arsitektur megah berdiri kokoh tanpa tersentuh oleh korosi air asin. Kompleks itu adalah Kuil Kaca Bawah Laut—sebuah bangunan raksasa yang seluruh dinding, pilar, dan atapnya terbuat dari kaca kristal murni yang memancarkan cahaya berpendar hangat ke segala arah. Ribuan ikan berwarna-warni berenang mengitari pilar-pilar kuil, menciptakan pemandangan bawah air yang begitu magis dan sakral.

Kaelen dan Lyra mendarat dengan lembut di atas halaman kuil yang terbuat dari lempengan kristal transparan. Di hadapan mereka, sebuah gerbang utama berbentuk setengah lingkaran terbuka lebar, mengundang siapa saja yang memiliki frekuensi spiritual yang tepat untuk masuk ke dalam ruang utama.

Namun, saat mereka melangkah mendekati gerbang kuil, air di sekitar mereka tiba-tiba bergetar hebat. Dari balik bayangan pilar-pilar kristal, sesosok makhluk penjaga purba muncul meluncur cepat ke arah mereka. Makhluk itu adalah Naga Air Kristal—seekor entitas spiritual berwujud ular naga raksasa transparan dengan sisik yang memantulkan cahaya pelangi dan sepasang tanduk bercabang di kepalanya. Naga itu membuka rahangnya, mengeluarkan raungan bawah air yang menciptakan gelombang kejut sonik dahsyat, menuntut pertanggungjawaban atas kehadiran penyusup di tempat suci tersebut.

"Hati-hati, Kaelen! Penjaga kuil merespons kehadiran energi asing!" seru Lyra, bersiap mengangkat tangannya untuk melepaskan ramuan pelindung elemen air.

Kaelen mengangkat tangan kirinya untuk menahan Lyra, sementara tangan kanannya perlahan menyentuh gagang pedang baja gelap di pinggangnya. Ia tidak mengeluarkan niat membunuh, melainkan mengalirkan esensi murni dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit ke seluruh permukaan kulitnya, memancarkan resonansi frekuensi kosmik yang sama persis dengan sejarah penciptaan kuil tersebut.

Seketika itu juga, Naga Air Kristal yang sedang meluncur ganas mendadak menghentikan gerakannya di tengah air. Makhluk raksasa itu menurunkan kepala besinya, mengendus-endus udara di sekitar Kaelen, lalu mengeluarkan suara dengkuran lembut yang menenangkan. Alih-alih menyerang, naga transparan itu melingkarkan tubuhnya secara damai di sekeliling Kaelen dan Lyra, menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada wadah sejati dari esensi leluhur.

"Ia mengenali kita," bisik Lyra takjub, menurunkan tangannya perlahan sambil mengusap sisi sisik naga yang melintas di dekat bahunya.

Kaelen tersenyum tipis, menepuk lembut moncong naga air tersebut. "Mari kita lanjutkan perjalanan ke ruang inti."

Cermin Matahari Purba

Dengan dikawal oleh sang penjaga purba, Kaelen dan Lyra melangkah melewati gerbang utama masuk ke dalam aula utama Kuil Kaca Bawah Laut. Ruangan di dalam kuil itu sangat luas, diterangi oleh jutaan mutiara bercahaya yang tertanam di dinding-dinding kristal. Di bagian tengah ruangan, di atas sebuah altar tinggi berukir relief matahari, sebuah artefak berbentuk cermin bundar berbingkai emas murni terapung perlahan di udara, memancarkan pendaran cahaya kuning keemasan yang menghangatkan seluruh air di dalam kuil.

Itulah Cermin Matahari Purba—artefak kembar dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit yang dicari oleh dewan penasihat. Cermin tersebut berdenyut pelan, memantulkan bayangan galaksi dan pusaran waktu di permukaan kaca kristalnya yang jernih.

Kaelen melangkah maju mendekati altar, sementara Lyra berjaga di dekat pintu masuk aula, mengawasi keadaan sekitar dengan penuh kekaguman. Begitu Kaelen berdiri tepat di hadapan cermin tersebut, pedang baja gelap di pinggangnya berdenyut keras, melepaskan cahaya biru keperakan yang melesat keluar dan menyatu langsung dengan permukaan Cermin Matahari Purba.

Seketika itu pula, air di dalam aula berputar membentuk lingkaran harmoni. Kedua artefak agung itu beresonansi dalam frekuensi yang sama, menyatukan kekuatan langit dan matahari untuk menciptakan keseimbangan mutlak bagi gravitasi seluruh planet.

Kaelen mengulurkan tangannya, menyentuh bingkai emas cermin tersebut. Tidak ada perlawanan; cermin itu menyambut kehadirannya dengan pancaran cahaya hangat yang menyelimuti seluruh tubuh pemuda tersebut, menandakan bahwa ikatan tak terpisahkan antara kedua artefak kini telah resmi disempurnakan.

Misi mereka di dasar samudra telah sukses besar. Di bawah naungan cahaya keemasan Kuil Kaca Bawah Laut, Kaelen dan Lyra kembali membuktikan bahwa keberanian, ketulusan, dan cinta selalu mampu menembus batas-batas ruang, waktu, dan kedalaman samudra demi mengukir kedamaian abadi di muka bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!