NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

"Kalau Kakak membunuh wanita itu... maka aku akan bunuh diri."

Deg.

"ALENA!!!!" Geram Nolan Murka.

Bukan Hanya Nolan Yang Geram Dengan Ancaman itu, Lucifer Yang berstatus sebagai tangan kanan dari Nolan bahkan mengerutkan keningnya tak senang lantaran Alena menggunakan nyawanya sendiri hanya untuk membuat Wanita yang bahkan tidak Alena Kenal bisa terbebas dari dari hukuman mati yang Tuan Nolan Berikan.

"Kakak tidak paham perasaanku, sahabat ku mati ditangan Kakakku sendiri. Dan sekarang aku bertemu dengan seorang yang teramat mirip dengannya, tentu saja aku tidak Akan mau melihatnya Mati ditanganmu lagi kak. Lebih baik Aku Mati dari pada harus Hidup dengan rasa bersalah ku sepanjang Hidupku."

Udara di dalam ruangan pribadi itu seolah membeku seketika.

Denting jarum jam dinding mahoni mendadak terasa begitu nyaring menembus keheningan yang mencekam. Tangan Nolan yang baru saja hendak meraih botol wiski di meja terhenti di udara. Pandangan matanya yang semula acuh tak acuh perlahan bergeser tajam, mengunci tepat pada manik mata adiknya.

Keheningan yang menyelimuti mereka berdua bukan lagi sekadar sunyi biasa, melainkan atmosfer berbahaya dari seorang pria yang tidak pernah menerima gertakan dari siapa pun—bahkan dari darah dagingnya sendiri.

"Ulangi kata-katamu, Alena," desis Nolan. Suaranya berubah menjadi sangat pelan, namun intonasinya sarat akan ancaman mematikan yang sanggup meremukkan mental siapa saja yang mendengarnya.

Alena gemetar hebat. Ia tahu persis seberapa menakutkan sosok kakak kandungnya jika diprovokasi. Namun, ingatan akan kenangan manis bersama Electra—wanita yang dulu menjadi satu-satunya pelindung dan tempatnya mengadu di dalam lingkaran yang kejam ini—membuat keberanian nekat muncul dari lubuk hatinya.

"Aku tidak bercanda, Kak..." desak Alena dengan bibir yang gemetar. "Sejak Kak Electra pergi, hidupku sudah seperti neraka. Dan sekarang... Dorris mengirim seseorang yang membawa wajahnya kembali ke hadapanku. Aku tidak peduli jika dia adalah musuh! Aku tidak peduli jika dia dikirim untuk membunuh kita! Membunuhnya sama saja dengan menyiksaku untuk kedua kalinya! Kalau Kakak menyuruh Lucifer menarik pelatuk itu malam ini, besok pagi Kakak hanya akan menemukan jasadku di dalam kamar!"

Lucifer, yang berdiri mematung di dekat pintu masuk ruangan pribadi itu sejak tadi, ikut menahan napasnya.

Sebagai tangan kanan yang telah mengabdi belasan tahun pada keluarga Ashford, Lucifer tahu betul bahwa Alena adalah satu-satunya kelemahan sekaligus harta terakhir yang paling dijaga oleh Ezequiel Nolan Ashford di dunia ini.

Pria yang tidak memiliki belas kasihan pada ribuan musuhnya itu selalu menaruh batas tegas jika hal itu berkaitan dengan keselamatan Alena.

Nolan menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi kulitnya. Matanya menyipit, mengevaluasi raut ketetapan hati yang terpancar dari wajah adiknya. Ia melihat tidak ada keraguan di mata Alena. Gadis muda itu sungguh-sungguh akan menusuk dadanya sendiri atau melompat dari balkon jika Bonna dieksekusi malam ini.

Dorris benar-benar bajingan yang licik. Detektif busuk itu tidak hanya memanfaatkan kemiripan fisik La Bonna De Luca dengan mendiang Electra untuk mengusik ketenangan pikiran Nolan, tetapi juga sudah memperhitungkan ikatan emosional Alena yang masih belum bisa merelakan kematian sahabat terbaiknya itu.

Dorris tahu persis, Alena akan menjadi benteng pertahanan terakhir yang mencegah Bonna ditembak mati di tempat.

Seringai tipis yang teramat dingin dan tajam mengukir di wajah Nolan. Sebuah seringai yang mengindikasikan bahwa pikirannya yang gelap sedang merajut rencana baru yang jauh lebih menyiksa.

"Kau pikir dengan mengancam nyawamu sendiri, kau bisa memaksaku menuruti keinginanmu, Alena?" tanya Nolan pelan, melangkah bangkit dari kursinya.

Pria bertubuh tegap itu berjalan mendekati adiknya, melangkah perlahan hingga ujung sepatu kulit mewahnya berhenti tepat di depan tempat Alena berlutut. Nolan merendahkan tubuhnya, mencengkeram lembut dagu Alena dan memaksanya untuk menatap matanya secara langsung.

"Baiklah..." kata Nolan halus, namun nada bicaranya justru lebih menyeramkan daripada suara letusan senapan. "...wanita itu tidak akan mati malam ini. Aku akan membiarkannya bernapas."

Alena menghembuskan napas lega yang amat panjang, matanya berbinar haru. "Kakak bersungguh-sungguh?"

"Tapi ingat ini baik-baik," potong Nolan dingin, mencengkeram dagu adiknya sedikit lebih erat untuk menegaskan kekuasaannya. "Aku membiarkannya hidup bukan karena aku tersentuh oleh drama kekanak-kanakanmu, dan bukan pula karena wajah murahan itu menyerupai Electra. Aku membiarkannya bernapas karena aku ingin Dorris menyaksikan sendiri... bagaimana bidak catur kesayangannya ini berbalik menjadi neraka bagi dirinya sendiri."

Nolan melepas cengkeramannya pada dagu Alena dan berdiri tegak kembali. Ia menoleh ke arah Lucifer yang masih berdiri kaku di dekat pintu.

"Lucifer," panggil Nolan tanpa membalikkan badan.

"Ya, Tuan Nolan?" sahut Lucifer sigap.

"Bawa wanita itu keluar dari ruangan eksekusi. Bersihkan darah dari wajahnya, obati lehernya yang terbakar, dan kunci dia di kamar tahanan bawah tanah sektor barat. Pastikan dia tidak mati karena kehabisan darah atau infeksi," perintah Nolan terstruktur.

"Lalu bagaimana dengan tugas pertunjukannya, Tuan? Apakah kita harus mengembalikan dia ke panggung?" tanya Lucifer memastikan.

Nolan terkekeh sinis, mengambil botol wiski baru dan menuang isinya ke dalam gelasnya kembali. "Panggung pole dance terlalu mewah untuk seorang pengkhianat. Mulai besok pagi, biarkan dia merasakan bagaimana rasanya hidup di tempat ini. Dan kau, Alena..." Nolan menatap adiknya dari sudut mata. "...kau boleh melihatnya dari jauh, tapi jika kau berani melepaskannya atau membantunya melarikan diri, aku sendiri yang akan memastikan wanita itu mati di depan matamu dengan cara yang jauh lebih mengerikan."

Alena menganggukkan kepalanya cepat, menelan kembali rasa takutnya demi keselamatan wanita yang berwajah mirip Electra itu. "Terima kasih, Kak... terima kasih."

"Keluar dari ruanganku sekarang," usir Nolan dingin tanpa memandang mereka lagi.

Lucifer memberi penghormatan singkat, lalu membimbing Alena keluar dari ruangan pribadi yang terasa membekukan itu. Begitu pintu ganda berlapis mahoni itu tertutup rapat, Nolan berdiri seorang diri di dalam ruangannya.

Ia memandangi sisa wiski di dalam gelasnya, lalu melemparkan gelas tersebut ke arah perapian batu di sudut ruangan hingga pecah berantakan.

PRANG!

Rahang Nolan Mengeras, "Aku tidak akan membunuhnya, tapi jangan kau berpikir aku akan membiarkan wanita itu pergi dari sini dan melanjutkan hidupnya seolah tidak terjadi apa-apa. Aku akan memastikan hidupnya lebih buruk dari neraka hingga wanita itu tidak punya pilihan lain selain membunuh dirinya Sendiri."

...ΩΩΩΩΩ...

Kepala La Bonna mendongak ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Hatinya menciut. Apakah itu Lucifer yang kembali datang untuk mengeksekusi dirinya?

Namun, tebakannya salah. Yang datang bukanlah Lucifer, melainkan sang iblis utama itu sendiri—Nolan. Pria incaran Dorris yang telah membuat Bonna terjebak dalam situasi yang teramat menyebalkan dan mematikan ini.

Nolan tidak datang sendirian. Pria itu melangkah masuk diiringi dua orang laki-laki bertubuh tegap yang sudah bisa Bonna tebak adalah anak buahnya. Terlihat jelas dari gerak-gerik mereka yang serba segan, cemas, dan patuh penuh pada setiap helai perintah yang Nolan berikan.

Nolan mengibaskan tangannya pelan, menyuruh dua anak buahnya itu untuk melepaskan Bonna dari ikatan tali tambang yang menyiksanya di kursi kayu. Mereka bergerak cepat memotong tali di kaki dan dadanya, namun hanya melepaskan ikatan yang menempel pada kursi saja—bukan ikatan pada kedua pergelangan tangan Bonna yang masih terikat erat di depan, membatasi gerakannya seutuhnya.

Nolan juga menyuruh kedua anak buahnya itu untuk membawa dua mayat yang membeku—mayat bodyguard dan mayat Nyonya Elizabeth yang berdarah kental. Dengan sigap dan tanpa ekspresi, kedua anak buah itu menyeret dua jasad kaku tersebut keluar dari ruangan.

Brak!

La Bonna didorong secara kasar oleh Nolan dari belakang, dipaksa melangkah mengikuti jejak kedua anak buah yang menyeret mayat di depannya. Sementara Nolan sendiri berjalan santai tepat di belakang Bonna.

Jarak yang begitu dekat itu membuat Bonna merasa merinding hebat. Bagian belakang leher dan tengkuknya terasa amat panas, terintimidasi oleh rasa seolah-olah Nolan terus menatapnya dengan tatapan membunuh yang tajam tanpa berkedip.

Bonna tahu betul, di balik kemeja mewah berwarna hitam yang melekat di tubuh tegap pria itu, terdapat senjata api yang siap melubangi kepalanya kapan saja jika ia berani melangkah terlalu lambat atau berbuat ulah.

Kedua anak buah itu membawa mereka menyusuri lorong sepi yang semakin melandai ke dalam. Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah lorong buntu. Di ujung sana tidak ada pintu kayu atau besi, hanya ada dinding batu polos yang dingin.

Namun, itu bukan dinding biasa. Salah satu pengawal maju dan menekan sudut tersembunyi, hingga dinding batu tersebut tergeser secara otomatis—memamerkan sebuah lorong rahasia yang panjang, remang, dan dipenuhi aroma besi karat yang pekat di dalamnya.

Di dalam lorong tersebut, Bonna dapat melihat sebuah lift berteknologi tinggi dengan pintu baja tebal. Lift itu memerlukan verifikasi keamanan khusus untuk diakses.

Salah satu pengawal maju mendekati panel kontrol digital, dan tak lama kemudian, kedua orang anak buah itu di-scan oleh pancaran cahaya biru yang memindai retina serta bentuk wajah mereka.

Bip.

Namun, pintu lift masih tetap terkunci rapat. Sistem melepaskan bunyi peringatan pendek.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, salah satu pengawal menarik Bonna maju ke depan panel scanner. Wajah Bonna dan wajah Nolan yang berdiri di belakangnya ikut di-scan oleh pancaran cahaya biru terang tersebut.

Diiing.

Lampu hijau berkedip, dan pintu baja lift itu akhirnya terbuka perlahan.

Dinding lift yang dingin membungkus mereka berlima—dua jasad tanpa nyawa, dua anak buah yang diam membisu, Bonna yang gemetar dipenuhi ketakutan, dan Nolan yang berdiri tegap beraroma maskulin bercampur asap cerutu.

Mesin lift bergerak meluncur dengan kecepatan tinggi, membawa mereka entah ke lantai atas atau ke lantai bawah tanah—demi Tuhan, Bonna sama sekali tidak tahu ke mana tempat ini akan membawanya.

Atmosfer di dalam kabin lift terasa amat mengimpit. Bonna berusaha mencuri pandang melalui pantulan kaca pintu baja. Nolan berdiri di belakangnya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Tatapan mata pria itu lurus ke depan, namun bayangan masa lalu seolah berputar di balik manik matanya yang pekat.

Brak.

Lift berhenti dengan guncangan halus. Pintu baja berdecit terbuka, menyuguhkan pemandangan sebuah lorong bawah tanah berlantai semen dingin yang dipenuhi lampu-lampu pijar bernuansa kuning temaram. Aroma tempat ini sangat berbeda—kombinasi antara antiseptik yang menyengat, bau darah kental, dan kelembapan tanah yang pekat.

"Jalan," desis Nolan dingin tepat di dekat telinga Bonna, mendorong bahunya agar kembali melangkah.

Bonna melangkah dengan kaki yang lemas, melewati beberapa pintu besi bertuliskan nomor-nomor khusus.

Di ujung lorong, kedua anak buah Nolan belok ke arah kiri menuju sebuah ruangan berlampu terang benderang dengan meja-meja operasi perak—tempat di mana mayat Nyonya Elizabeth dan sang bodyguard diyakini akan dipreteli organ dalamnya.

Bonna memalingkan wajahnya dengan mual saat melihat kilatan pisau bedah di dalam ruangan tersebut sebelum pintunya tertutup rapat.

Sementara itu, Nolan menuntun Bonna belok ke arah kanan, menyusuri lorong yang makin sepi dan berhawa dingin menusuk tulang.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi berat bertuliskan sektor barat. Nolan menempelkan telapak tangannya pada sensor pintu.

CEKLEK.

Pintu besi itu terbuka, memperlihatkan sebuah kamar tahanan bawah tanah yang sederhana namun kokoh.

Di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur besi dengan kasur tipis, sebuah meja kecil, dan selimut. Tempat ini tidak seperti penjara biasa; tidak ada jeruji besi, melainkan dinding beton tebal bercat abu-abu tanpa jendela sedikit pun.

Nolan mendorong Bonna masuk ke dalam kamar tersebut hingga gadis itu agak tersandung ke depan.

Bonna berbalik cepat, menatap Nolan yang berdiri di ambang pintu. "Apa... apa yang akan kau lakukan padaku?" suara Bonna akhirnya pecah, serak dan penuh kepasrahan yang tertahan. "Jika kau tidak berniat membunuhku, untuk apa kau mengurungku di sini?"

Nolan melipat kedua tangannya di dada. Senyum tipis yang sarat akan kekejaman terukir di bibirnya.

"Kau harus berterima kasih pada Alena," kata Nolan pelan. "Adikku begitu bodoh hingga ia memohon agar nyawamu diampuni hanya karena wajah sialanmu itu mengingatkannya pada Electra."

Bonna menelan ludahnya yang terasa pahit. "Aku bukan Electra! Aku bahkan tidak tahu siapa wanita itu!"

"Aku tahu kau bukan dia," potong Nolan cepat, matanya menajam. "Kau hanyalah sampah murahan yang dikirim oleh Dorris untuk menjadi umpan."

Nolan melangkah satu ketuk memasuki ruangan, membuat Bonna refleks mundur hingga punggungnya menabrak dinding beton yang dingin.

Pria itu mengulurkan tangannya, meraih pisau lipat kecil dari dalam saku jasnya, lalu dengan satu gerakan cepat, menyayat ikatan tali di pergelangan tangan Bonna hingga terputus.

Bonna memegangi pergelangan tangannya yang memerah dan lecet, menatap Nolan dengan tatapan waspada.

"Jangan berpikir kau bisa bersantai di tempat ini, Bonna," desis Nolan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Bonna. "Dorris membuangmu kemari untuk mati, tapi aku akan membuatmu tetap hidup... agar kau bisa merasakan bagaimana neraka yang sebenarnya di bawah kekuasaanku."

Pria itu berbalik dan melangkah keluar dari kamar tahanan. Sebelum pintu besi itu tertutup seutuhnya, Nolan menoleh untuk terakhir kalinya.

"Selamat datang di tempat barumu. Dan ingat... jangan pernah mencoba melarikan diri jika kau tidak ingin potongan tubuhmu berakhir di meja operasi tadi."

BLAM!

Pintu besi tebal itu tertutup rapat dan terkunci secara otomatis dari luar. Suara sistem pengunci digital berbunyi nyaring, menandakan kebebasan La Bonna De Luca telah direnggut seutuhnya.

Bonna terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin, menyandarkan kepalanya pada dinding beton. Ia menatap pergelangan tangannya yang terluka, lalu beralih menatap kegelapan kamar tahanan bawah tanah itu.

Ia selamat dari peluru Lucifer malam ini, namun permainan berdarah antara Nolan dan Dorris baru saja dimulai—dan ia terjebak persis di tengah-tengah pertempuran dua iblis tersebut.

1
Nita Nita
hahaha sama2 bingung jg🤔
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!