Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: JANJI DI BAWAH POHON BERINGIN
BAB 34:PUNCAK UJIAN DAN JEJAK KANVAS MASA DEPAN
bagian I: Fajar di Pintu Gerbang
Sinar matahari terbit di bulan Mei membias lembut di atas kubah kaca Perpustakaan Kota Semarang, memantulkan gradasi warna jingga dan keemasan yang menembus sela-sela jendela tinggi lantai tiga. Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu masih amat hening. Di meja panjang nomor tujuh—meja yang selama sepuluh bulan terakhir menjadi saksi bisu tumpukan kertas kalkir, bekas guratan stabilo, dan cangkir kopi yang mendingin—Raina duduk tegak dengan pandangan yang tak bergeming sedikit pun dari layar laptopnya.
Di hadapannya, Devan sedang menekuk siku kanannya di atas meja, memegang pensil 2B yang ujungnya sudah agak tumpul. Napasnya teratur, memancarkan konsentrasi tingkat tinggi yang belum pernah terlihat pada dirinya dua tahun lalu. Di lembar simulasi Try Out terakhir tingkat nasional yang ada di meja Devan, tertera susunan soal Penalaran Matematika dan Literasi Bahasa Inggris—dua subtes yang paling sering menjadi momok bagi para calon mahasiswa.
"Dua menit lagi, Devan," bisik Raina pelan, melirik pengatur waktu digital di sudut kanan layar laptopnya. Suaranya tidak memotong konsentrasi Devan, melainkan bertindak seperti metronom yang menjaga tempo.
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Jarinya bergerak lincah, mengarsir bulatan terakhir pada lembar LJK khusus dengan ketelitian yang terlatih. Tepat saat detik pada pengatur waktu menyentuh angka nol, Devan meletakkan pensilnya di atas meja dengan bunyi klik ringan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kayu oak.
Ia menghembuskan napas panjang—sebuah hembusan napas lega yang membawa serta sisa-sisa kelelahan dari sesi belajar maraton selama lima jam berturut-turut sejak subuh.
"Selesai," ujar Devan pelan, menyisir rambut depannya yang mulai agak panjang ke belakang. Matanya menatap Raina dari balik meja dengan binar yang amat jernih.
Raina meraih lembar jawaban tersebut, mencocokkannya dengan kunci jawaban dan analisis statistik nilai yang sudah ia siapkan di spreadsheet-nya. Selama sepuluh menit berikutnya, ruangan itu hanya diisi oleh suara guratan pulpen merah Raina yang menembus kertas. Setiap centang merah yang digoreskan Raina di atas kertas itu seolah menjadi pukulan drum yang menegaskan perubahan besar dalam hidup seorang Devan Adhitama.
"Skor prediksi Penalaran Matematikanmu 720," ujar Raina akhirnya. Ia mendongak, menatap Devan dari balik kacamata berbingkai tipis pemberian cowok itu. Bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman hangat yang paling tulus. "Total akumulasi skor prediksimu menembus angka 745, Devan. Angka itu lima puluh poin di atas rata-rata batas aman jurusan Teknik dan Manajemen Industri yang kamu tuju di Bandung."
Devan tertegun sejenak. Ia memandangi angka-angka berwarna merah di kertasnya. Dulu, angka 50 adalah batas perjuangan mati-matian agar ia tidak dikeluarkan dari tim basket sekolah. Sekarang, angka 745 berdiri tegak sebagai bukti dari ribuan jam yang ia habiskan untuk menundukkan ketakutannya sendiri.
Gua... beneran bisa, Na?" bisik Devan, suaranya mengandung nada ketidakpercayaan yang samar.
"Kamu bukan 'bisa', Devan," tegas Raina lembut, menjangkau jemari Devan di atas meja dan meremasnya pelan. "Kamu 'sudah membuktikannya'. Semua rumus yang kamu tulis di sini bukan lagi sekadar hafalan untuk menyenangkan aku atau Pak Hendra. Ini murni buah dari kerja kerasmu sendiri."
Devan menatap genggaman tangan Raina. Di ibu jari gadis itu, ada bekas kapalan tipis akibat terlalu banyak menulis draf analisis dan materi modul tambahan untuknya selama berbulan-bulan. Devan menyadarkan dirinya pada satu kenyataan: keberhasilannya hari ini tidak dibangun di atas ruang hampa. Keberhasilan ini dibangun di atas kesabaran tanpa batas dari seorang gadis yang dulu paling ia benci karena ketegasannya.
"Tanpa kamu yang berdiri di samping gua waktu malam di Solo itu... gua gak bakal pernah sampai di lembar simulasi ini, Raina," kata Devan serak.
"Dan tanpa kamu yang mau bangkit dari kesedihanmu, Devan... semua modul yang kubuat cuma bakal jadi kertas kosong," balas Raina mantap. "Kita melakukan ini bersama-sama. Sejak awal, memang selalu begitu."
Bagian II: Gelombang Ujian Nasional dan UTBK
Minggu berikutnya, SMA Garuda berubah menjadi arena ujian yang penuh dengan ketegangan atmosferik. Bendera-bendera motivasi dipasang di sepanjang koridor utama, sementara spanduk hitung mundur H-DAY UTBK menggantung di atas pintu gerbang. Tidak ada lagi suara dentuman bola basket di lapangan outdoor pada jam istirahat; yang ada hanyalah kelompok-kelompok siswa yang duduk bergerombol di bawah deretan pohon peneduh, saling melontarkan pertanyaan kilat mengenai materi Kimia Organik, Fisika Modern, dan Logika Analitis.
Hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang pertama akhirnya tiba. Pusat ujian lokus Universitas Diponegoro dipenuhi oleh ribuan peserta dari berbagai SMA di Jawa Tengah. Di tengah lautan seragam putih-abu-abu dan pakaian bebas rapi, Devan dan Raina berdiri di depan gedung Pusat Komputer Kampus Tembalang.
Angin pagi yang dingin berhembus dari arah perbukitan, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Devan mengenakan jaket almamater tim basket SMA Garuda yang sudah bersih dan rapi, sementara Raina menggenggam kartu peserta ujiannya dengan tangan yang sedikit dingin.
"Gugup?" tanya Devan, memiringkan kepalanya menatap Raina.
Raina terkekeh tipis, sebuah tawa langka yang menunjukkan bahwa seorang 'Ratu Disiplin' pun tetaplah manusia biasa. "Sedikit. Ini penentuan dari semua yang aku cita-citakan sejak kelas sepuluh, Devan. Teknik Kimia ITB bukan jurusan yang gampang ditembus."
Devan tersenyum lembut. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat, lalu merogoh saku jaketnya. Dari dalam saku, ia mengeluarkan sebuah benda kecil: gantungan kunci kayu berukir bola basket dan kacamata yang pernah mereka buat bersama, namun kali ini Devan telah menambahkan ukiran huruf kecil di bagian belakangnya: Pasti Lolos.
"Ingat gak waktu kamu blusukan ke rumah BK buat bela gua di depan Pak Hendra?" tanya Devan. "Waktu itu kamu gak punya keraguan sedikit pun. Sekarang, giliran gua yang pegang keyakinan itu buat kamu. Kamu itu Raina—cewek paling tangguh, paling pinter, dan paling berpengaruh dalam hidup gua. Soal-soal di dalam ruangan itu yang harusnya takut sama kamu."
Raina menatap Devan, merasakan rasa hangat yang menjalar cepat dari dadanya hingga ke ujung jari-jarinya. Rasa dingin dan gugup yang tadi membekukannya mendadak lenyap, digantikan oleh rasa percaya diri yang kokoh.
"Terima kasih, Devan," bisik Raina. Ia merapikan letak kacamata barunya, menatap pintu masuk gedung ujian yang mulai dibuka oleh pengawas. "Sampai ketemu di luar jam satu siang nanti."
"Jebol ruang ujian itu, Bu Wakil," balas Devan seraya mengedipkan sebelah matanya dengan gaya khasnya.
Selama empat jam berikutnya, waktu seolah berjalan dalam rotasi yang amat lambat namun intens. Di dalam Ruang Laboratorium Komputer 3, Devan duduk di depan monitor nomor 42. Jemarinya menari di atas tetikus dan papan ketik. Setiap kali ia menemukan soal logika yang rumit atau grafik persamaan fisika yang membingungkan, bayangan penjelasan Raina di bawah pohon beringin sekolah muncul secara otomatis di benaknya.
Ia tidak lagi merasa dikejar oleh bayang-bayang kegagalan. Setiap pilihan jawaban yang ia kklik adalah sebuah pernyataan tegas: Devan Adhitama bukan lagi pembuat masalah yang tidak punya masa depan.
Di lantai dua, di Ruang Laboratorium Komputer 8, Raina menyelesaikan soal-soal Kimia dan Fisika Lanjutan dengan kecepatan dan akurasi yang luar biasa. Setiap perhitungan stokiometri dan hukum termodinamika dikerjakannya dengan tenang. Di sudut meja komputernya, gantungan kunci kayu dari Devan berdiri sebagai jimat keberuntungan yang terus memberinya energi positif.
Bagian III: Pengumuman dan Titik Balik
Masa-masa menunggu pengumuman hasil UTBK dan jalur seleksi universitas menjadi minggu-minggu paling panjang dalam sejarah siswa kelas 12 SMA Garuda. Pesta perpisahan sekolah (prom night) telah usai dua hari lalu, meninggalkan selasar sekolah yang kini lengang.
Sore itu, tanggal 23 Juni 2026, jam menunjukkan pukul 14.50 WIB. Sepuluh menit sebelum portal resmi pengumuman hasil seleksi nasional dibuka.
Devan dan Raina duduk bersama di bangku kayu di bawah pohon beringin pinggir lapangan basket—tempat yang sama di mana kisah mereka bermula dari sebuah lemparan bola nyasar. Laptop Raina terbuka di atas meja kayu, menampilkan dua tab peramban yang siap dimuat ulang. Di samping laptop, dua cangkir teh chamomile hangat yang sudah agak dingin berdiri tanpa tersentuh.
Ponsel Devan di atas meja terus bergetar oleh pesan-pesan panik dari grup percakapan tim basket dan teman-teman kelas 12 IPA 1. Rio, mantan kapten sebelum Devan, sudah mengirimkan puluhan stiker cemas.
"Satu menit lagi," ujar Raina pelan. Tangannya yang memegang tetikus terasa sedikit gemetar.
Devan mengulurkan tangan kirinya, merengkuh jemari Raina dan menggenggamnya rapat-rapat. "Apapun hasilnya nanti, Na... gua bangga sama perjalanan kita. Gua bangga bisa berdiri di samping kamu sampai detik ini."
Raina menengok, menatap Devan dengan mata yang merebakkan keharuan. "Aku juga, Devan."
Jam digital di sudut layar laptop berganti menjadi pukul 15.00 WIB.
Raina menarik napas panjang, lalu mengklik tombol refresh pada tab pertama—halaman pengumuman milik Devan Adhitama.
Layar putih berputar selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa. Garis pemuatan berjalan lambat, sebelum akhirnya halaman resmi itu terbuka penuh dengan latar belakang kotak berwarna HIJAU BENDERA.
SELAMAT! ANDA DINATAKAN LULUS SELEKSI SNBT 2026 Nama: Devan Adhitama Nomer Peserta: 3260819201 Program Studi: Teknik dan Manajemen Industri PTN: Universitas Padjadjaran / Institut Teknologi Bandung (Kampus Jatinangor/Ganesha)
Devan membeku di tempatnya. Matanya terbelalak menatap tulisan bercetak tebal itu. Kata 'LULUS' berwarna hijau itu seolah berpendar melampaui layar monitor.
"Devan... kamu lulus! Kamu diterima!" jerit Raina, suaranya pecah oleh kombinasi rasa terkejut, bahagia, dan haru yang tak terbendung.
Sebelum Devan sempat mencerna seluruh perasaannya, Raina bergerak cepat mengklik tab kedua—halaman pengumuman atas nama Raina Natasya.
Layar berputar sejenak, dan kotak berwarna HIJAU BENDERA yang sama kembali merekah indah di layar.
SELAMAT! ANDA DINATAKAN LULUS SELEKSI SNBT 2026 Nama: Raina Natasya Nomer Peserta: 3260819202 Program Studi: Teknik Kimia PTN: Institut Teknologi Bandung (ITB)
"Kita... kita berdua lolos ke Bandung, Na..." bisik Devan, suaranya gemetar parau.
Raina tidak bisa lagi menahan air mata bahagianya. Air mata itu menetes melewati pipinya, jatuh di atas bingkai kacamata tipisnya. Devan seketika menarik Raina ke dalam pelukannya yang paling erat—sebuah pelukan kemenangan yang merayakan setiap tetes keringat, setiap argumen, setiap malam tanpa tidur, dan setiap duka yang telah berhasil mereka lewati bersama.
Di bawah rindahnya pohon beringin yang memayungi mereka dari terik sore, dua insan itu meluapkan seluruh kebahagiaan mereka. Janji yang pernah terucap di bawah bintang-bintang Bukit Candi kini bukan lagi sekadar impian gantung; janji itu telah berubah menjadi kenyataan yang berdiri kokoh di depan mata.
EPILOG BERSAMBUNG: BANDUNG DAN LEMBARAN BARU
Tiga bulan kemudian.
Kota Bandung diselimuti udara dingin khas bulan September saat angin sore berhembus melintasi pelataran Kampus Ganesha ITB. Gedung-gedung tua berarsitektur megah berdiri anggun di antara pepohonan pinus yang tinggi.
Di selasar depan Gedung Program Studi Teknik Kimia, Raina berjalan dengan mengenakan jaket almamater warna biru tua khas kampus Ganesha. Kacamatanya yang berbingkai tipis berkilat terkena pantulan sinar matahari sore. Di tangannya, sebuah draf laporan praktikum Dasar Kimia Organik sudah terjilid rapi.
Di ujung jalan setapak dekat kolam intel, seorang cowok jangkung berjaket almamater yang sama sedang berdiri sambil menyandarkan sepeda gunungnya. Di punggungnya, tas ransel hitam tergantung santai, dan di tangannya ada dua cangkir kopi hangat.
"Lama banget praktikumnya, Bu Ketua Himpunan?" goda Devan saat Raina melangkah mendekat.
Raina tertawa kecil, rasa lelah akibat analisis laboratorium selama empat jam seketika menguap begitu melihat senyum jahil cowok di depannya. Devan kini tampak jauh lebih dewasa, dengan potongan rambut yang lebih rapi dan postur tubuh atletis yang makin tegap. Di tim basket kampus, Devan sudah terdaftar sebagai salah satu pemain rookie yang paling diperhitungkan untuk liga mahasiswa nasional mendatang.
"Dosennya nambah materi analisis spektroskopi tadi," jawab Raina, menerima cangkir kopi dari Devan dan meresapi hangatnya di antara telapak tangannya. "Kamu sendiri gimana latihan tim hari ini?"
"Lancar. Coach tim kampus memuji manuver step-back tiga poin gua," Devan tersenyum bangga, lalu merengkuh pundak Raina dengan tangan kirinya saat mereka mulai berjalan berdampingan menyusuri koridor kampus menuju arah gerbang luar.
"Ingat ya, Devan," ujar Raina melirik Devan dari samping dengan tatapan penuh arti, "ipk semester satu gak boleh di bawah 3.5. Kalau turun, jadwal latihan basket weekend aku potong."
Devan tertawa lepas, suaranya menggema hangat di antara pepohonan pinus kampus. "Siap, Ratu Disiplin. Peraturan berlaku seumur hidup, kan?"
"Berlaku seumur hidup," balas Raina mantap, menyunggingkan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki.
Gantungan kunci kayu berbentuk bola basket dan kacamata bulat yang terpasang di tas mereka berdampingan bergoyang pelan seirama langkah kaki mereka. Di bawah naungan langit Bandung yang tenang, perjalanan Devan dan Raina tidak lagi tentang memperbaiki masa lalu yang patah, melainkan tentang melangkah bersama mengukir masa depan yang tak terbatas.