Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Setelah semua persiapan selesai, suasana di rumah Siska semakin ramai.
Keluarga besar mulai berkumpul di halaman depan. Beberapa tamu dan kerabat yang ikut mengantar rombongan pengantin mulai bersiap masuk ke kendaraan masing-masing.
Di dekat gerbang rumah, sebuah sedan hitam yang dihias rangkaian bunga mawar putih dan pita abu-abu sudah bersiaga.
Siska melangkah keluar dari pintu depan rumah dengan perlahan. Kedua tangannya memegang lipatan kain bagian depan gaun agar ujung roknya yang panjang tak menginjak lantai.
Semua mata yang berdiri di halaman langsung tertuju padanya.
"Masya Allah..."
"Cantik banget, ya..."
"Sudah kayak putri kerajaan..."
Pujian dan decak kagum terdengar bersahut-sahutan dari para tetangga dan kerabat.
Siska menunduk malu, tersenyum kecil. Ibunya berjalan memegangi lengannya seraya menyapu air mata bahagia yang kembali jatuh di pipinya.
"Jaga diri baik-baik ya, Nak," bisik Ibu Rahmi haru.
"Iya, Bu," sahut Siska pelan.
Ayah Siska yang biasanya pembawaannya tegar pun nampak berkaca-kaca di samping pintu mobil. Hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba—hari ketika putri tunggal mereka melepas masa bujang dan memulai hidup baru bersama pria pilihannya.
Anindiya berdiri tak jauh dari rombongan itu. Melihat momen hangat sebuah keluarga selalu membuat dadanya berdesir haru. Selama delapan tahun menjadi makeup artist, ia sudah berkali-kali menyaksikan pemandangan seperti ini. Namun, setiap pengantin selalu punya kesan cerita yang membekas.
Rina menyenggol pelan lengan Anindiya. "Mbak Anin."
"Hm?"
"Riasannya awet banget ya, padahal hawanya lumayan panas begini."
Anindiya mengamati wajah Siska dari kejauhan. "Iya, complexion-nya masih mengunci sempurna. Lipstik dan bulu matanya juga aman."
"Alhamdulillah..."
Siska yang menyadari keberadaan Anindiya lantas menyempatkan diri melangkah mendekat. "Kak Anin..."
"Iya, Mbak Siska?"
"Makasih banyak ya, Kak. Aku suka banget sama riasan dan gaunnya," ujar Siska tulus.
Anindiya tersenyum hangat. "Sama-sama, Mbak. Semoga acara akad dan resepsinya lancar ya."
"Aamiin!"
Tak lama kemudian, panitia acara dari pihak keluarga memberi aba-aba bahwa rombongan sudah harus berangkat menuju gedung resepsi. Gedung pertemuan tersebut berada di pusat Kota B, memakan waktu perjalanan sekitar dua puluh menit dari rumah Siska.
Siska bersama kedua orang tuanya naik ke dalam sedan hitam mobil pengantin. Sementara saudara-saudara yang lain mengekor menggunakan beberapa mobil pribadi di belakangnya.
Anindiya dan Rina pun bergegas kembali ke mobil sedan putih mereka. Sebagai perias, mereka harus tiba lebih dulu di gedung untuk menyiapkan sesi touch-up sebelum Siska dipandu naik ke pelaminan.
"Oke, kita berangkat sekarang," kata Anindiya seraya memutar kunci kontak.
Mobil Anindiya melaju santai menyusuri jalan raya, mengekor di belakang rombongan mobil pengantin. Jalanan pagi menuju pusat kota cukup padat karena bertepatan dengan akhir pekan, namun arus lalu lintas masih mengalir lancar.
Di dalam mobil, Rina meneguk air mineralnya. "Capai juga ya dari Subuh tadi."
"Iya, tapi puas banget kan?" Anindiya tersenyum seraya menatap jalanan di depannya. "Kalau lihat pengantinnya bahagia dan puas begitu, rasa capeknya langsung hilang."
"Setuju sih. Mbak Anin memang jiwanya udah melekat banget jadi MUA."
Anindiya tertawa kecil. "Semoga saja usaha sanggar kita makin maju ya, Rin."
"Aamiin kencang!" Rina melirik ke arah mobil pengantin hitam di depan mereka. "Siska cantik banget pas pakai gaun itu tadi."
"Iya, gaunnya pas banget jatuh di tubuhnya," aku Anindiya bangga. "Perasaan aku makin mantap kalau keputusan beli gaun mahal itu nggak salah sama sekali."
Di sisi lain, di dalam sedan pengantin hitam, suasana diliputi canda tawa hangat. Siska duduk di kursi belakang bersama ibunya, sementara sang ayah duduk di samping sopir.
Siska berulang kali melirik cermin kecil di dalam tasnya, memandangi pantulan wajahnya sendiri. Ia masih merasa seperti bermimpi—hari pernikahan yang selama ini ia rancang akhirnya terwujud sempurna.
"Bu..." panggil Siska pelan.
"Iya, Nak?"
"Dada Siska makin deg-degan nih," akunya terkekeh canggung.
Ibu Rahmi membelai lembut jemari putrinya. "Biasa itu. Nanti kalau sudah ijab kabul juga hilang sendiri."
Di luar jendela mobil, deretan pepohonan dan bangunan kota bergerak bergantian. Tak ada satu pun dari mereka yang menyimpan firasat buruk. Semuanya terasa begitu tenang dan berjalan sesuai rencana.
Namun... sekitar dua ratus meter di depan jalur rombongan mereka, sebuah truk engkel besar bermuatan berat sedang meluncur menuruni jalanan yang sedikit melandai.
Awalnya tidak ada yang aneh dengan truk tersebut. Hingga tiba-tiba... sopir truk itu menginjak pedal rem.
Plong.
Pedal rem itu ambles tanpa hambatan. Raut wajah sopir truk seketika berubah pucat pasi.
"Lho... Astagfirullah!" Sopir itu kembali menginjak pedal rem sekuat tenaga. Nihil. "Remnya blong! Remnya blong!"
Dengan panik, tangannya menarik tuas rem tangan sekuat-kuatnya. Namun beban berat truk justru membuatnya terus meluncur makin kencang tak terkendali.
Teeettt...! Teeettt...!
Suara klakson truk membahana panjang berkali-kali, membelah kebisingan jalanan. Pengendara motor dan beberapa mobil kecil di depan truk berhamburan membanting setir ke bahu jalan untuk menyelamatkan diri.
Dari kaca spion mobilnya, Rina yang menoleh ke belakang seketika membelalakkan mata. "M-Mbak Anin!"
Anindiya melirik kaca spion tengah. Jantungnya serasa berhenti berdetak. "Ya Tuhan... itu truk kenapa cepat banget?!"
Teeettt...!
Jeritan dan teriakan peringatan bermunculan dari pengguna jalan. Suasana jalan raya yang semula tertib mendadak kacau balau.
Sedan pengantin yang berada tepat di depan truk tersebut berupaya menghindar. Sopir sedan memutar setir sekuat tenaga ke arah kiri. Namun naas, di sisi kiri jalan sebuah mobil minibus sedang melaju sejajar, menutup ruang menghindar mereka.
"Pak! Awas Pak!" teriak Ibu Rahmi histeris dari kursi belakang.
Dan...
BRAAAKKK!!
Benturan dahsyat menghantam bagian belakang sedan pengantin. Suara logam beradu dengan kekuatan penuh menggelegar menghancurkan keheningan pagi.
Sedan hitam itu terdorong hebat ke depan seperti bola liar. Siska menjerit histeris. "Ya Allah...!"
Sedan pengantin meluncur tak terkendali lalu menghantam pembatas jalan beton dengan kecepatan tinggi.
BRAAKK!
Hantaman kedua membuat bagian depan sedan ringsek parah dan terangkat sesaat ke udara, sebelum akhirnya...
BRUUKK!
Mobil itu terguling beberapa kali di atas aspal dan berhenti dalam posisi miring. Suara kaca pecah yang menabrak jalanan memenuhi udara, disusul kepulan asap tebal dari bagian kap mesin.
kejadian tragis itu terjadi hanya dalam hitungan detik.
Di belakangnya, Anindiya refleks menginjak pedal rem mobilnya sekuat tenaga.
CITTTT...!
Ban mobil Anindiya mendecit keras menembus aspal, berhenti hanya beberapa meter dari lokasi tabrakan.
"Mbak Anin!" jerit Rina sambil berpegangan erat pada dashboard.
Begitu mobil berhenti, Anindiya dan Rina langsung meloncat keluar dengan tubuh gemetar hebat. Pemandangan di depan mata membuat darah Anindiya terasa membeku seketika.
Sedan pengantin yang beberapa menit lalu dihiasi rangkaian bunga cantik kini berubah menjadi gundukan logam ringsek tak berbentuk. Kaca-kacanya hancur berkeping-keping.
"Ya Allah... Mbak Siska..." bisik Anindiya dengan wajah pucat pasi.
Orang-orang di sekitar jalanan mulai berlarian menghampiri lokasi kejadian. Suara klakson, teriakan panik, dan tangisan heboh memecah suasana.
"Tolong! Ada yang masih terjebak di dalam!" teriak seorang warga.
Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, Anindiya langsung berlari kencang menuju bangkai sedan hitam yang terguling tersebut. Kakinya terasa lemas seperti jeli, dadanya bergemuruh hebat. Di pikirannya hanya ada satu nama: Siska.
Dan di tengah kepulan asap mesin, serpihan kaca yang berserakan, serta tumpahan bahan bakar di aspal...
Aroma wangi bunga melati yang amat harum mendadak merebak kembali.
Wanginya begitu dingin, tajam, dan dominan—mengalahkan bau sangit oli dan asap kendaraan.
Namun, di tengah hiruk-pikuk jeritan histeris dan kepanikan warga yang berusaha menolong... tak ada satu orang pun yang menyadari kehadiran aroma gaib tersebut.