Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04
Bau antiseptik menusuk hidung Maya.
Ia membuka mata pelan. Langit-langit putih, lampu bulat, suara alat medis dari kejauhan. Bukan rumahnya. Bukan restoran. Bukan kamar hotel yang ingin ia lupakan.
“Sudah sadar?”
Suara rendah itu membuat tubuhnya menegang.
Maya menoleh.
Raka Wijaya duduk di kursi samping ranjang. Jasnya sudah dilepas. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan urat tangan yang tegas. Wajahnya tetap dingin, tapi matanya tampak kurang tidur.
Maya mencoba bangun.
“Jangan bergerak dulu.”
Perintahnya pendek.
Maya tetap mencoba duduk. Ia tidak terbiasa berbaring sementara orang lain menatapnya.
Raka berdiri, menekan tombol tempat tidur hingga sandarannya naik. Gerakannya kaku, seperti orang yang jarang merawat pasien tapi memaksa diri melakukannya.
“Terima kasih,” ucap Maya lirih.
Raka menuang air ke gelas, lalu menyerahkannya.
Maya menerimanya dengan kedua tangan. Jarinya masih gemetar.
“Dokter bilang kamu kelelahan, kurang tidur, dan tekanan darahmu turun.”
Maya menunduk. “Saya merepotkan.”
“Kamu memang merepotkan.”
Maya mengangkat wajah, terkejut.
Raka menatapnya datar. “Tapi bukan itu masalah utama.”
Pintu ruang rawat terbuka. Seorang dokter perempuan masuk bersama perawat. Wajahnya ramah, usianya sekitar empat puluhan.
“Bu Maya, bagaimana rasanya sekarang?”
“Lebih baik, Dok.”
Dokter melihat tablet di tangannya, lalu tersenyum kecil. “Ada beberapa hasil pemeriksaan yang perlu saya sampaikan. Tadi karena Ibu pingsan dan ada keluhan mual, kami lakukan tes darah lengkap.”
Maya mengangguk.
Ia mengira dokter akan mengatakan anemia, maag, atau kelelahan biasa.
Dokter menatapnya dengan hati-hati.
“Bu Maya, hasil beta-hCG Ibu positif.”
Maya berkedip.
Ia tidak langsung mengerti.
Raka yang lebih dulu bereaksi. Tubuhnya kaku.
“Maksud Anda?”
Dokter menoleh kepadanya, lalu kembali ke Maya.
“Ibu hamil.”
Gelas di tangan Maya hampir jatuh.
Raka mengambilnya tepat waktu, tapi Maya tidak merasakan apa-apa. Suara dokter seperti datang dari jauh.
Hamil.
Kata itu terlalu asing untuk tubuhnya yang sudah ia anggap memasuki masa tua. Beberapa bulan terakhir haidnya memang tidak teratur. Ia mengira itu tanda menopause. Ia bahkan sempat merasa lega karena tidak perlu lagi membeli pembalut setiap bulan.
“Tidak mungkin,” bisik Maya.
Dokter duduk di sisi ranjang. “Usia Ibu memang membuat kehamilan ini masuk kategori risiko tinggi, tapi bukan tidak mungkin. Kita perlu USG lanjutan untuk memperkirakan usia kandungan dan memastikan kondisinya.”
Maya menyentuh perutnya.
Perut itu datar, hanya sedikit lembek karena usia. Tidak ada tanda apa pun.
“Dok, saya lima puluh tahun.”
“Saya tahu.” Suara dokter tetap lembut. “Karena itu Ibu harus sangat hati-hati. Tekanan darah, nutrisi, stres, semua harus dipantau.”
Maya menoleh pelan ke Raka.
Pria itu berdiri seperti patung.
Mata mereka bertemu.
Dalam sekejap, kamar rawat itu dipenuhi ingatan malam hujan, seprai kusut, napas tertahan, dan bekas gigitan di lehernya.
Wajah Maya terbakar.
Dokter seperti memahami suasana. “Saya beri waktu untuk bicara dulu. Nanti perawat akan antar ke ruang USG.”
Setelah dokter keluar, ruangan menjadi sangat sunyi.
Maya menunduk, tangannya meremas selimut.
Raka akhirnya bicara.
“Anak itu milikku.”
Bukan pertanyaan.
Maya menggigit bibir.
“Saya tidak pernah bersama laki-laki lain sejak suami saya meninggal.”
Kalimat itu keluar lebih cepat dari pikirannya. Setelah mengucapkannya, ia ingin menampar dirinya sendiri. Kenapa ia harus menjelaskan seperti terdakwa?
Raka memandangnya lama.
“Aku tidak menuduhmu.”
Maya tertawa kecil, pahit. “Orang seperti saya mudah dituduh.”
Raka tidak menjawab.
Maya menatap jendela. Di luar, langit Jakarta mendung. Gedung-gedung tinggi berdiri tanpa peduli.
“Saya tidak akan meminta apa pun dari Anda.”
Alis Raka bergerak.
“Apa?”
“Saya tahu semalam bukan keinginan Anda. Saya juga korban. Jadi kita tidak perlu saling menyalahkan. Saya akan urus anak ini sendiri.”
“Kamu pikir aku akan membiarkan anakku hidup tanpa ayah?”
Maya terdiam.
Nada Raka tidak tinggi, tapi tekanan di dalamnya membuat dadanya berdebar.
“Tuan Raka, hidup saya rumit. Anak saya sendiri bahkan…” Ia berhenti, menelan sakit. “Saya tidak ingin menyeret Anda.”
“Sudah terlambat.”
Maya menatapnya.
Raka berjalan ke ujung ranjang. “Sejak kamu masuk ke kamarku, sejak namamu muncul dalam penyelidikan hotel, sejak dokter mengatakan kamu hamil, urusan ini sudah menyeretku.”
“Kalau begitu saya minta maaf.”
“Aku tidak butuh maaf.”
“Lalu apa yang Anda butuh?”
Raka diam sebentar.
“Kepastian.”
Maya tidak paham.
Raka mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat, lalu memasukkannya kembali ke saku.
“Pak Rudi sudah ditangkap pihak keamanan hotel. Dari CCTV, dia menerima uang dari orang suruhan Burhan. Rencananya kamu dibuat tidak berdaya, lalu dipakai untuk menekanmu agar tidak bisa menolak pernikahan itu.”
Maya merasa mual.
“Jadi…”
“Kamu bukan target utama di kamarku. Aku target mereka. Ada pihak yang ingin menjebakku dengan perempuan. Pak Rudi mengambil dua bayaran sekaligus dan mengacaukan semuanya.”
Maya menutup mata.
Ia tidak tahu harus lega atau semakin takut.
“Kamu hampir diserahkan kepada Burhan oleh anakmu,” lanjut Raka. “Rumahmu juga sedang diincar. Sekarang kamu hamil anakku. Kamu masih mau bilang akan mengurus semuanya sendiri?”
Maya tidak bisa menjawab.
Ia ingin berkata ya. Ia sudah menjalani hidup sendirian selama puluhan tahun. Ia bisa membersihkan kamar hotel, mengangkat galon, pulang naik bus malam, menghadapi demam Dimas sendirian. Apa lagi yang tidak bisa ia tanggung?
Tapi kali ini, ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya.
Dan untuk pertama kali, Maya takut keberaniannya tidak cukup.
Pintu diketuk.
Seorang pria muda berkacamata masuk membawa map. “Pak Raka, pengacara sudah menyiapkan laporan awal. Untuk rumah Bu Maya, kami butuh salinan sertifikat.”
Maya langsung tegang.
Raka melihat reaksinya.
“Aku akan bantu mengamankan rumahmu.”
“Saya tidak punya uang untuk membayar pengacara Anda.”
Pria berkacamata itu tampak terkejut, tapi Raka hanya menatap Maya.
“Aku tidak meminta bayaran.”
“Tidak ada bantuan gratis di dunia ini.”
“Ada.”
“Apa?”
“Tanggung jawab.”
Maya terdiam.
Kata itu terdengar sederhana. Tapi dari mulut Raka, ia terasa seperti kontrak yang tidak bisa diganggu gugat.
USG dilakukan setengah jam kemudian.
Maya berbaring dengan perut dibuka sedikit. Gel dingin menyentuh kulitnya. Dokter menggerakkan alat di perutnya, menatap layar hitam putih. Maya tidak berani bernapas.
Raka berdiri di belakang dokter.
Awalnya ia menjaga jarak. Namun ketika suara kecil terdengar dari mesin, cepat dan berulang seperti ketukan halus, tubuhnya maju setengah langkah.
“Itu detak jantungnya,” kata dokter.
Maya menutup mulut.
Air matanya jatuh begitu saja.
Di layar, bentuk itu belum jelas. Hanya titik kecil, rapuh, hampir tak terlihat. Tapi hidup.
Hidup di dalam dirinya.
Raka tidak mengatakan apa pun. Tapi Maya melihat tangannya mengepal di sisi tubuh. Wajah dinginnya retak, sedikit saja, cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang dalam.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter memberi daftar panjang larangan dan anjuran. Jangan stres. Jangan angkat berat. Jangan telat makan. Kontrol rutin. Waspadai perdarahan. Usia kandungan masih awal, tetapi risikonya tinggi.
Maya mendengarkan semuanya seperti orang menerima vonis dan mukjizat sekaligus.
Ketika dokter pergi, Raka mengambil map dari asistennya.
“Besok kita urus pernikahan.”
Maya mengira ia salah dengar.
“Apa?”
“Pernikahan. Resmi. Tercatat.”
Maya duduk lebih tegak. “Tuan Raka, jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
“Kita bahkan tidak saling kenal.”
“Kita akan saling kenal setelah menikah.”
Maya menatapnya seperti menatap orang gila.
“Pernikahan bukan cara berkenalan.”
“Untuk kondisi kita, itu cara paling jelas.” Raka membuka map, mengeluarkan beberapa lembar. “Pengacaraku akan mengurus berkas. Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak itu.”
“Saya tidak meminta Anda menikahi saya.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Raka menatapnya lurus.
“Karena aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa nama, dan aku tidak akan membiarkan ibunya diseret lagi oleh orang-orang yang menganggapnya barang.”
Maya merasa tenggorokannya tertutup.
Ia seharusnya menolak. Seharusnya berpikir jernih. Seharusnya bertanya apakah pria kaya seperti Raka tidak punya calon istri lain, apakah keluarganya akan menerima perempuan lima puluh tahun, apakah publik akan menertawakannya.
Tapi yang keluar dari mulutnya justru pertanyaan paling kecil.
“Kalau suatu hari Anda menyesal?”
Raka menjawab tanpa jeda.
“Aku tidak mengambil keputusan yang ingin kusesali.”
Ponsel Maya yang baru dinyalakan tiba-tiba bergetar.
Nama Dimas muncul di layar.
Ia ragu, lalu mengangkat.
Belum sempat ia bicara, suara anaknya sudah meledak.
“Ibu di mana? Pak Burhan membatalkan semuanya! Uang tanda jadi diminta balik! Ibu harus tanggung jawab!”
Maya menutup mata.
Raka mengambil ponsel dari tangannya.
“Mulai sekarang,” katanya dingin ke telepon, “kalau kamu ingin bicara dengan ibumu, bicara lewat pengacaraku.”
Di seberang, Dimas terdiam.
Raka memutus panggilan.
Maya menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang berdiri di antara dirinya dan anak yang selalu ia bela.
Rasa aman itu membuatnya takut.
Karena ia tahu, begitu seseorang terbiasa dilindungi, kembali sendirian akan jauh lebih menyakitkan.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍