NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Lewat Pelipis

"Orang Tanuwijaya... Om Charles."

Pengakuan itu membuat area drop-off VIP seperti kehilangan suara.

Beberapa orang tua sponsor yang baru turun dari mobil berhenti di tempat. Siswa yang merekam dari balik pilar menurunkan ponsel, lalu mengangkatnya lagi dengan tangan gemetar. Petugas keamanan saling pandang, bingung apakah harus menahan penyerang lebih dulu atau mengejar mobil hitam yang mulai bergerak pelan ke arah gerbang keluar.

Nathan tidak bingung.

"Plat B 9 CT," katanya singkat. "Mobil hitam, kaca gelap, keluar jalur kanan."

Sebastian langsung mengulang ke petugas keamanan. "Tutup palang gerbang kanan. Sekarang."

Calvin masih memegang kantong bukti sementara. Matanya mengikuti mobil itu, manisnya hilang. "Dia mau kabur, Ci."

Jayden sudah melepas penyerang ke tangan keamanan. "Gue kejar."

"Dorong aku," kata Felicia.

Tiga kata itu membuat semua orang menoleh.

Nathan menolak lebih dulu. "Feli, kamu baru keluar observasi."

"Aku tidak bilang aku mau lari."

Jayden langsung mengambil pegangan kursi roda dari Calvin. "Akhirnya."

Calvin tidak protes. Ia mengambil tas obat dan kantong bukti, lalu berjalan di samping. Nathan tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi mata Felicia sudah berada pada mobil hitam. Akhirnya ia mengikuti, wajahnya dingin.

Kursi roda itu melaju di atas lantai drop-off.

Bukan cepat seperti balapan. Namun di bawah tangan Jayden, kursi itu bergerak lurus, tegas, dan membuat orang-orang otomatis membuka jalan. Ningrum dan Hana ikut beberapa langkah di belakang, masih pucat, tetapi tidak kabur.

Gerbang kanan tertutup tepat sebelum mobil hitam keluar.

Rem mobil berdecit pelan.

Om Charles duduk di kursi belakang. Dari balik kaca gelap, wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi tubuhnya kaku. Sopirnya menoleh panik.

Felicia berhenti dua meter dari pintu belakang mobil.

"Keluar," katanya.

Jendela turun setengah.

Om Charles menampilkan wajah marah yang dipaksa tetap berkelas. "Kamu baru saja diserang, tapi bukannya ke dokter, kamu malah membuat keributan di depan umum. Luar biasa."

"Keluar."

"Aku tidak menerima perintah dari anak yang baru kemarin diakui."

Jayden mendorong kursi roda setengah meter lebih dekat.

Nathan berkata datar, "Tiga penyerang bersenjata menyebut nama Anda. Kendaraan Anda terlihat di lokasi saat mereka ditangkap. Saya sarankan Anda tidak memperburuk posisi."

Om Charles tersenyum sinis. "Preman bisa menyebut nama siapa saja kalau ditekan. Apalagi dengan banyak kamera dan anak-anak emosional di sini."

"Benar," kata Felicia.

Semua orang terdiam.

Felicia menatap Om Charles dengan wajah sangat tenang. "Preman bisa menyebut nama siapa saja. Karena itu aku tidak sedang membawa polisi ke sini."

"Akhirnya kamu bicara masuk akal."

"Aku membawa peringatan."

Senyum Om Charles menghilang sedikit.

Calvin menoleh pada Felicia. Ia sudah tahu sebelum Felicia mengulurkan tangan.

"Yang dari pilar," kata Felicia.

Calvin ragu. "Ci, ini bukti."

"Sudah difoto?"

"Sudah."

"Berikan."

Nathan menghela napas pendek. Bukan setuju. Bukan menyerah. Lebih seperti seseorang yang tahu ia sedang berdiri di samping bencana yang sangat ia cintai, dan tugasnya adalah memastikan bencana itu tidak melukai dirinya sendiri.

Calvin menyerahkan pisau lipat murah itu dengan saputangan, gagangnya menghadap Felicia.

Om Charles melihat benda itu dan wajahnya berubah. "Kamu mau apa?"

"Menguji jarak."

"Felicia," kata Hendrick dari belakang.

Ia baru tiba bersama Mama Wenny, terlambat karena mengurus dokumen keluar rumah sakit. Wajahnya pucat melihat mobil adiknya tertahan, para penyerang di lantai, dan Felicia memegang pisau di kursi roda.

"Jangan ambil panggungku," kata Felicia tanpa menoleh.

Kalimat itu menghentikan Hendrick lebih efektif daripada petugas keamanan.

Om Charles mencoba tertawa. "Kamu tidak akan berani di depan semua orang."

Felicia mengangkat tangan kanan.

Tubuhnya memang sakit. Bahu kiri tak boleh banyak bergerak. Rusuknya masih memar. Kepala ringan berdenyut. Namun melempar benda kecil dengan satu tangan tidak membutuhkan tubuh sempurna.

Hanya butuh perhitungan.

Pisau lipat itu melesat.

Udara terbelah tipis.

Benda murah itu melewati pelipis kanan Om Charles, begitu dekat sampai rambut di sisi wajahnya bergerak, lalu menancap ke sandaran kepala kulit di belakangnya.

Tidak menyentuh kulit.

Tidak mengeluarkan darah.

Tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Om Charles membatu.

Sopirnya berteriak.

Tante Lina, yang baru keluar dari mobil lain di belakang, menutup mulut. Clarissa berdiri di sampingnya dengan wajah putih total.

Hana mengeluarkan suara kecil.

Ningrum langsung menutup mulut Hana dengan tangan, kali ini tanpa diminta.

Felicia menurunkan tangan. "Jaraknya benar."

Jayden tertawa, tetapi suaranya rendah. "Gila."

Sebastian menatap bekas jalur lemparan, lalu berkata, "Secara teknis, itu peringatan tanpa kontak fisik."

Nathan memejamkan mata sebentar.

Calvin tersenyum lagi. Senyum itu indah dan gelap. "Ci memang terlalu baik. Masih memilih sandaran kepala."

Om Charles akhirnya bisa bernapas. "Kamu mengancamku?"

"Aku membalas undanganmu."

"Aku tidak mengundangmu."

"Kamu mengirim orang dengan pisau ke pasien cedera. Itu undangan paling buruk yang pernah kuterima."

Kerumunan mulai berbisik. Kata Tanuwijaya, preman, pasien, dan pisau berpindah dari mulut ke mulut. Beberapa ponsel jelas merekam. Om Charles melihatnya dan baru sadar tempat ini bukan ruang keluarga yang bisa ia tutup dengan satu perintah.

Felicia mencondongkan tubuh sedikit. Rasa sakit menarik bahunya, tetapi wajahnya tetap kosong.

"Dengarkan baik-baik, Om Charles. Aku tidak peduli kamu takut kehilangan warisan, kursi keluarga, atau hormat palsu dari orang yang makan di mejamu. Serang aku sekali lagi, dan kali berikutnya aku tidak memilih benda di belakang kepalamu."

Tante Lina menjerit, "Kamu keterlaluan!"

"Suamimu yang mulai."

"Kamu tidak punya bukti!"

Nathan mengangkat ponselnya. "Kami punya pengakuan penyerang, rekaman CCTV, plat mobil, dan pesan ancaman yang akan kami cocokkan dengan data telekomunikasi begitu laporan dibuat."

Om Charles menatap Nathan dengan benci. "Keluarga Salim juga mau ikut campur?"

"Feli orangku," jawab Nathan.

Dua kata itu jatuh bersih.

Jayden berhenti tertawa. Calvin menatap Nathan. Sebastian mengangkat alis tipis.

Felicia melirik Nathan. Anak itu ternyata bisa memilih momen.

Om Charles memahami lebih lambat. Ketika ia paham, wajahnya semakin buruk. Menyerang Felicia bukan lagi hanya menyerang gadis dari luar. Ia sudah menyentuh Salim, Hartono, Widjaja, dan Tanuwijaya sekaligus.

Felicia tersenyum kecil. "Pergi. Bawa kepalamu yang masih utuh."

Palang gerbang terbuka setelah petugas keamanan mendapat instruksi dari pihak rumah sakit. Bukan karena Om Charles menang, tetapi karena Nathan sudah meminta plat dan rekaman diamankan sebelum mobil dibiarkan keluar.

Mobil hitam itu pergi.

Tante Lina dan Clarissa mengikuti dengan mobil lain, wajah mereka kaku seperti topeng retak.

Begitu mobil-mobil itu hilang, tubuh Felicia memberi tagihan. Pusingnya naik, cepat dan kasar. Ia menutup mata sebentar.

Nathan langsung berlutut di depannya. "Feli."

"Aku tidak pingsan."

"Aku tidak bertanya."

Sebastian memeriksa pupilnya dengan senter kecil dari kotak P3K. "Respons masih baik, tapi kamu jelas memperburuk sakit kepala."

"Worth it."

"Itu bukan istilah medis."

"Tapi akurat."

Hana tiba-tiba berkata, "Aku mau ikut."

Semua orang menoleh.

Hana memeluk tote bag-nya, wajah masih bengkak karena menangis, tetapi dagunya terangkat. "Kalau ada orang yang mau ganggu kamu lagi, aku... aku mungkin belum bisa berantem. Tapi aku bisa rekam. Aku bisa teriak. Aku bisa panggil orang."

Ningrum menarik napas. "Aku juga. Aku bisa belajar. Apa pun yang kamu butuhkan."

Felicia menatap dua gadis itu.

"Pengikut setia tidak dipakai untuk mati konyol," katanya.

Hana berkedip. "Itu berarti kami diterima?"

"Itu berarti kalian mulai dari belajar tidak panik."

Ningrum mengangguk cepat, air matanya hampir jatuh lagi. "Iya."

Di tempat lain, jauh dari rumah sakit, sebuah ponsel di dapur besar rumah Tanuwijaya bergetar.

Sri, ART muda yang sedang mengelap meja marmer, melihat layar.

Pesan dari Tante Lina masuk singkat.

Gadis itu akan dibawa ke rumah. Awasi. Cari kelemahannya. Kalau bisa, buat dia pergi sendiri.

Sri membaca pesan itu dua kali.

Lalu ia melihat amplop uang yang sebelumnya diselipkan di bawah vas bunga.

Tangannya menggenggam lap lebih erat.

Uang itu lebih tebal daripada gajinya sebulan. Tante Lina tidak perlu menjelaskan banyak ketika menaruhnya tadi pagi. Di rumah sebesar ini, perintah jarang datang sebagai ancaman. Perintah datang sebagai senyum, amplop, dan kalimat pendek: kamu anak pintar, jangan salah pilih pihak.

Sri sudah salah pilih terlalu sering dalam hidupnya.

Ia bekerja di rumah Tanuwijaya karena adiknya masih sekolah dan ibunya masih minum obat rutin. Menolak uang berarti pulang dengan tangan kosong. Menerima uang berarti masuk ke masalah keluarga orang kaya yang tidak pernah selesai bahkan setelah lantainya dipel setiap pagi.

Ponsel staf dapur lain menyala di meja. Video dari rumah sakit berputar tanpa suara: seorang gadis di kursi roda, bahu ditahan penyangga, melempar pisau melewati pelipis Om Charles dengan presisi yang membuat semua ART di dapur berhenti bekerja.

Seorang sopir bahkan lupa mengangkat galon air besar yang sudah miring berbahaya di dekat pintu dapur.

Sri menatap wajah gadis itu.

Tidak tampak seperti orang yang bisa diusir hanya dengan trik kecil.

Pesan Tante Lina kembali muncul di layar ponselnya.

Awasi.

Sri memasukkan amplop ke saku celemek, tetapi bukan dengan rasa aman.

Untuk pertama kalinya, tugas mudah itu terasa seperti pintu yang kalau dibuka mungkin tidak bisa ditutup lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!