NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Jebakan yang Terbongkar

Lampu kecil kamera menyala merah.

Kiara memaksa tubuhnya mundur.

Sofa di belakang lututnya membuat ia hampir jatuh. Tangannya mencengkeram ponsel, tetapi layar sudah gelap. Sambungan masih berjalan, ia berharap. Ia tidak tahu apakah Rayhan mendengar napasnya, suara klik pintu, atau langkah pria berkamera yang mulai mendekat.

"Nona Kiara, duduk saja," kata pria itu. Suaranya rendah, dibuat tenang. "Kami cuma butuh beberapa foto. Kalau Anda kerja sama, semuanya cepat selesai."

Mual naik ke tenggorokan Kiara.

Beberapa foto.

Dengan jaket pria di sofa. Dengan lampu redup. Dengan tubuhnya yang tampak lemah. Besok pagi, orang-orang tidak akan bertanya siapa yang menjebaknya. Mereka hanya akan bertanya kenapa Kiara Tanuwijaya berada di lounge tertutup bersama pria asing.

Ia mengangkat ponsel dengan sisa tenaga.

"Rayhan..."

Suaranya hampir tidak keluar.

Di ujung sambungan, suara Rayhan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

"Kiara, dengarkan aku. Jangan duduk. Pegang apa pun di dekatmu."

Kiara menoleh. Di meja rendah ada vas bunga kecil dari kaca tebal.

Pria berkamera juga melihatnya.

"Jangan macam-macam."

Kiara meraih vas itu dan menjatuhkannya ke lantai.

Pecahannya menyebar dengan suara keras.

Pria itu mengumpat, mundur sedikit agar sepatunya tidak terkena kaca. Detik itu cukup untuk Kiara bergerak ke sudut ruangan, menjauh dari sofa yang sudah disiapkan.

Pintu digedor dari luar.

Sekali.

Dua kali.

Lalu suara berat Rayhan terdengar, dingin dan mengerikan.

"Buka."

Tidak ada yang menjawab.

Detik berikutnya, kunci pintu dibuka paksa dari luar oleh petugas hotel yang wajahnya pucat. Rayhan masuk lebih dulu.

Kiara melihatnya melalui pandangan yang kabur.

Setelan hitam. Mata gelap. Wajah tanpa darah.

Lalu semua udara di ruangan seperti kembali padanya.

"Koko..."

Rayhan sampai di depannya dalam dua langkah. Ia tidak langsung memeluk terlalu kuat. Tangannya berhenti di bahu Kiara, lalu turun ke wajahnya, memeriksa matanya yang tidak fokus.

"Aku di sini."

Kiara ingin mengatakan banyak hal. Bahwa Yolanda menjebaknya. Bahwa Wenny ada di dekat kamera. Bahwa ia tidak minum banyak. Bahwa ia takut.

Yang keluar hanya napas patah.

Rayhan melepas jasnya dan menyampirkannya ke tubuh Kiara, menutup gaunnya dari pandangan siapa pun. Setelah itu baru ia menarik Kiara ke dalam pelukan, cukup hati-hati agar tubuhnya tidak jatuh.

Santi menerobos masuk beberapa detik kemudian, wajahnya pucat seperti kertas.

"Kak Kiara!"

"Bawa dokter ke ruang VIP sekarang," kata Rayhan pada Adi, tanpa melepas Kiara. "Dan kunci semua akses keluar hotel."

Adi mengangguk. "Sudah, Bos."

Pria berkamera yang tadi mundur ke dekat jendela mencoba bicara. "Pak Rayhan, saya cuma dipanggil untuk dokumentasi..."

Rayhan menoleh.

Pria itu langsung berhenti.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada pukulan.

Tapi ketakutan di wajahnya lebih jelas daripada jika Rayhan menyerangnya.

"Kamera," kata Rayhan.

Adi mengambil perangkat itu dari tangan pria tersebut. Petugas keamanan hotel segera menahannya.

Kiara menggenggam kemeja Rayhan di balik jasnya.

"Yolanda..."

"Aku tahu."

"Wenny..."

"Aku tahu."

Jawaban itu membuat mata Kiara panas.

Rayhan menunduk, suaranya berubah hanya untuknya. "Kamu aman. Santi akan menemanimu. Aku selesaikan di luar."

Kiara menggeleng lemah. "Jangan..."

Ia sendiri tidak tahu apa yang ia minta. Jangan pergi. Jangan menjadi terlalu menakutkan. Jangan lakukan sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali.

Rayhan memahami terlalu banyak dari satu kata itu.

Ia mencium kening Kiara sangat ringan.

"Aku tidak akan membuatmu takut."

Lalu ia menyerahkan Kiara pada Santi dan dokter yang baru datang, sebelum berjalan keluar dari lounge.

Di ballroom, acara amal belum benar-benar bubar. Para tamu berdiri berkelompok, sebagian sudah mendengar keributan di koridor. Yolanda berada di dekat panggung dengan wajah cemas yang sempurna. Wenny berdiri beberapa langkah darinya, tangannya menggenggam clutch terlalu erat.

Saat Rayhan masuk, seluruh ruangan otomatis diam.

Tidak ada musik.

Tidak ada suara gelas.

Hanya langkah Rayhan di atas lantai marmer.

Yolanda maju lebih dulu, mata berkaca-kaca.

"Pak Rayhan, Kiara baik-baik saja? Aku tadi mengantarnya istirahat karena dia pucat sekali. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba..."

"Kamu punya kunci lounge itu dari mana?"

Pertanyaan itu memotong kalimatnya.

Yolanda berhenti.

"Saya... panitia memberi akses karena keluarga saya donatur."

Rayhan mengangguk seolah menerima.

"Jadi kamu mengakui membawa Kiara ke ruangan yang aksesnya kamu pegang."

Wajah Yolanda berubah sangat halus.

"Saya membantunya."

Adi berdiri di samping layar ballroom. Dengan satu isyarat pada tim hotel, layar yang tadi menampilkan video amal berubah menjadi rekaman CCTV koridor.

Gambar pertama menunjukkan Santi diarahkan staf acara ke meja registrasi samping.

Gambar kedua menunjukkan Yolanda mengambil gelas dari nampan dan menyerahkannya pada Kiara.

Gambar ketiga menunjukkan Wenny berbicara dengan dua orang berkamera dekat pilar, lalu mengirim pesan.

Gambar keempat menunjukkan Yolanda membawa Kiara ke koridor lounge, sementara Kiara beberapa kali mencoba berhenti.

Bisik-bisik meledak.

Wenny memucat. "Itu tidak seperti kelihatannya."

Rayhan bahkan tidak menatapnya.

"Gelas yang diminum Kiara sudah diamankan. Hasil pemeriksaan akan dikirim ke kuasa hukum saya dan pihak berwenang."

Yolanda menggigit bibir. Air mata jatuh dengan indah.

"Pak Rayhan, saya benar-benar hanya ingin membantu. Saya tidak tahu ada orang di lounge. Mungkin ada kesalahpahaman..."

Adi menyalakan audio dari ponsel Kiara yang masih tersambung saat kejadian. Napas Kiara yang kacau terdengar di ballroom, lalu suara pria berkamera.

Kami cuma butuh beberapa foto.

Kalau Anda kerja sama, semuanya cepat selesai.

Tidak ada yang bicara lagi.

Yolanda tampak seperti seseorang yang baru menyadari lantai di bawah kakinya hilang.

Rayhan berkata pelan, "Kesalahpahaman apa?"

Wenny mundur setengah langkah.

Hendra dan Lina tidak ada di acara itu. Tidak ada orang tua yang bisa ia jadikan perisai. Tidak ada Mama yang langsung memeluknya. Tidak ada Papa yang memarahi Kiara untuk membuat Wenny terlihat rapuh.

Untuk pertama kalinya, Wenny berdiri sendirian di depan akibat dari pilihannya.

"Aku hanya diminta Yolanda menemani media," ucap Wenny cepat. "Aku tidak tahu ada rencana seperti itu."

Yolanda menoleh padanya.

Senyum lembut itu retak.

Rayhan akhirnya memandang Wenny.

"Aku belum bertanya padamu."

Wenny langsung menutup mulut.

Rayhan kembali pada Yolanda.

"Mulai malam ini, Purnawan Group menarik semua dukungan dari program, yayasan, acara, dan proyek yang melibatkan keluarga Yanuar."

Keributan kembali pecah.

Seorang panitia acara hampir menjatuhkan tabletnya.

"Pak Rayhan..."

"Nama Kiara tidak akan muncul dalam berita fitnah apa pun." Rayhan menatap para tamu, termasuk beberapa wartawan yang tadi menunggu bahan gosip. "Jika satu foto, satu kalimat, atau satu spekulasi dari ruangan itu keluar, kuasa hukum Purnawan Group akan mendatangi kalian sebelum matahari terbit."

Tidak ada yang meragukan kalimat itu.

Adi menambahkan satu berkas lagi ke layar. Bukti transfer ke rekening staf acara yang tadi membawa Santi ke meja registrasi muncul bersama rekaman pesan singkat berisi instruksi memisahkan asisten Kiara selama lima menit.

Staf itu sudah berdiri di samping petugas keamanan, wajahnya basah oleh keringat.

"Saya hanya diminta mengalihkan sebentar," ucapnya gemetar. "Saya tidak tahu akan seperti ini."

Rayhan bahkan tidak menoleh padanya.

"Kamu akan menjelaskan itu pada pengacara."

Yolanda mencoba bicara lagi, tetapi suara sosialita lain lebih dulu terdengar.

"Yolanda, ini acara amal."

Kalimat itu pelan, tetapi cukup untuk membuka retakan.

Yang lain mulai mundur darinya. Tidak jauh. Tidak dramatis. Cukup satu langkah, dua langkah, ruang kosong kecil yang tumbuh di sekitar tubuh Yolanda. Dalam dunia sosialita Jakarta, itu lebih menyakitkan daripada teriakan.

Dikucilkan tidak selalu dimulai dengan pintu tertutup.

Kadang dimulai dari orang-orang yang tidak lagi mau berdiri di sebelahmu saat kamera menyala.

Rayhan tidak menunggu tangis Yolanda selesai.

Ia berbalik pada Adi.

"Semua bukti disalin. Serahkan pada pengacara. Orang berkamera itu jangan keluar sampai identitas pemberi perintahnya tertulis."

"Baik, Bos."

"Dan Wenny."

Wenny menegang.

Rayhan tidak meninggikan suara.

"Kali ini kamu masih punya kesempatan menjelaskan pada keluargamu sendiri kenapa kamu ada di dekat kamera itu."

Wajah Wenny putih total.

"Lain kali, aku yang akan menjelaskan."

Ancaman itu jatuh tanpa darah, tanpa teriakan, tetapi membuat Wenny hampir kehilangan keseimbangan.

Di ruang VIP, Kiara berbaring di sofa dengan Santi memegang tangannya. Dokter sudah memeriksa tekanan darah dan denyut jantungnya. Obat penenang ringan tidak diberikan sembarangan; dokter hanya memastikan ia sadar, minum air, dan terus dipantau sampai efek pusingnya turun.

Kiara mendengar sebagian suara dari ballroom, tapi tidak semuanya.

"Rayhan..." bisiknya.

Santi mengusap tangannya, mata merah. "Pak Rayhan sedang mengurus semuanya. Kakak jangan mikir dulu."

Kiara menutup mata.

Tubuhnya masih lemas.

Tapi di balik ketakutan itu, ada satu rasa yang membuatnya hampir menangis lagi.

Ia berhasil menghubungi Rayhan.

Dan seperti janjinya, Rayhan datang.

Tidak lama kemudian, pintu ruang VIP terbuka.

Rayhan masuk.

Semua dingin di wajahnya tertinggal di luar. Saat mendekati Kiara, ia kembali menjadi pria yang menunduk hati-hati, memegang ujung selimut, dan bertanya dengan suara rendah.

"Masih takut?"

Kiara menatapnya.

Air matanya jatuh.

"Tadi iya."

Rayhan berlutut di samping sofa agar matanya sejajar dengan Kiara.

"Sekarang?"

Kiara mengulurkan tangan yang masih lemah.

Rayhan langsung menggenggamnya.

"Sekarang Koko sudah datang."

Untuk sesaat, sesuatu yang gelap dan rapuh pecah di mata Rayhan.

Ia menunduk, mencium punggung tangan Kiara, lalu menempelkan dahinya di sana.

"Maaf aku terlambat."

Kiara menggeleng pelan.

"Kamu datang."

Dan di luar ruang VIP, nama Yolanda Yanuar mulai runtuh dari meja ke meja, dari layar ponsel ke grup sosialita, lebih cepat daripada ia bisa menghapus air matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!