"Kau terlalu banyak menyimpan kebohongan sehingga kejujuran mu di pandang semu sekarang."
Kepergian Reno bukan lah sesuatu yang salah, aku yang salah disini aku paham arti perginya. "Jangan pergi! jangan tinggalkan rumah."
Dia amat marah setelah berita itu sampai ke telinga nya...
yukk buruan cari sepenggal kalimat ini dibalik cerita aku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Psikolog 2
Aku pikir sepasang suami-istri itu sudah pindah ternyata tidak, mereka membawa anak-anaknya untuk tinggal di rumah ladang sementara anak perempuan nya tinggal di rumah bisa dikatakan rumah kota mereka.
"Main-main lah kalian"Anak laki-laki tadi tidak begitu menyukai ku, ia malu dan tidak ingin berteman dengan ku. Namun ketika Abang nya keluar, dia mengajakku untuk datang ke sekolah kebetulan dekat dengan rumah ku, "Eh kita ambil ajalah alpukat itu." Ia menarik tangan ku untuk berlari ke arah belakang sekolah. Disana ada sungai kecil dan di perbatasan nya dengan tembok pagar sekolah ada pohon alpukat dengan buah banyak sekali.
Dia bisa manjat, dan aktif sekali. Aku bermain dengan nya, laki-laki itu ketika aku berusaha mengingat wajahnya gambaran -gambaran lain membuat ku berlari dalam ingatan dimana dia mendorong ku dengan kalian tau andong atau kereta dorong roda tiga untuk pupuk. Dia dan aku sering menghabiskan waktu berdua sampai suatu pagi aku baru tau kalau dia juga orang munafik...
Itu pendapat ku waktu kecil, kalian tau kan denah lokasi yang ku berikan.Rumahnya berjarak satu rumah doank antara Gereja dan sekolah. Jadi kami sering menghabiskan waktu di antara sekolah dan gereja itu, gereja itu gereja tua. buatan warga terdahulu sebelum kami, kenapa aku kata kan dia munafik ya itu... Aku menamai tempat itu tempat orang munafik memvalidasi dirinya, sejak aku melihat cara Paman dan istrinya berdoa mengakui dosa— persembahan Kudus dan lain hal tapi mampu menyimpan rasa benci dihati kan munafik banget,aku ingat sudah berapa Tahun aku tidak menginjakkan kaki kedalam Gereja atas dasar kesadaran sendiri.
Kalau dalam sosial media ku kalian melihat aku sering foto di gereja, ya itulah munafik ku terhadap pencipta.Aku memvalidasi diriku lewat foto saja guna apa, ya itu untuk sosialisasi kemitraan dan lain hal sebagai nya.
Belum sampai di situ, ingatan mula bekas luka ditubuh ku terlihat... Aku melepas rasa berani dan bahagia, ketika teman kecil itu memberikan foto hitam putih dan berjanji akan ketemu setelah dewasa kami bertemu.
"Janji ya Boru Jawa kalau aku liburan lagi kita harus ketemu, kalau kamu enggak ingat aku ini foto aku kamu simpan... Ini foto untuk ijazah aku," spontan aku mengingat bahwa clue dari pria itu adalah "kelas 6 artinya aku dan dia berjarak sekitar 4-5 Tahun."
Seperti ditarik paksa kedalam kegelapan,aku mimpi salah satu keluarga Papa kandung ku datang untuk meminta aku,dia mirip sekali dengan ku.Wanita itu tidak memiliki anak dan ingin mengadopsi ku, aku tidak dapat mengingat begitu jelas. Yang ku ingat karena aku berusaha di tarik pergi, badan ku terpental keras ke arah pot dan tanah. Kalian tau kan kalau rumah dulu atau pagar yang dapat di duduki di area teras rumah,ya kepalaku menghambat itu sebelum menyentuh tanah dan pot bunga di bawahnya.
"Enak aja kalian mau gratisan!! Aku udah habis biaya besar kan dia kalau gratisan nah ku tunjukkan dimana kalian bisa ambil." Paman mengangkat ku kuat sekali, aku sudah tidak dapat merasakan apa-apa,tapi intinya bila ada luka di pada fisik ku ketika ingatan itu terjadi aku merasakan nya sampai sekarang.
Mereka melemparkan ku ke sungai dekat dengan sekolah, rumah begitu sepi...kan rumah ini ditengah-tengah hutan perladangan jadi apapun yang terjadi mereka bebas melakukan nya itu kepada ku. Keluarga pihak ayah maupun paman enggan menarik ku, aku merasakan kembali rasanya air itu memberikan rasa pedih dan terus mengalir kan aku juga darah dari luka ku.
"Haaaaaaaaaa." Teriakkan itu murni dari hatiku yang terbawa jelas ke dunia nyata.
Penglihatan terhadap opung, Papa nya Tante membuat ku sedikit tenang. Malam hari opung membawa ku kerumah sakit dan tidak memulangkan ku kerumah itu, ia menyembunyikan ku ke dalam rumah pribadinya yang tidak jauh berjarak dari rumah kebun itu. Aku lalu ketemu dengan Tante kebetulan baru pulang dari Jakarta, pandangan tulus nya bernegosiasi dan membawa ku kedalam kehidupannya. Aku menangis ketika ingatan mulai mengacak-acak isi pikiran ku, bahkan parah nya ungkapan teman masa kecil itu terus berulang untuk aku datang.
Kecupan di kening itu nyata atau enggak, intinya aku dan dia sempat berpisah didepan gereja katolik kampung kami.
Bangun dari situ badan ku lelah sekali, telinga ku seperti kehilangan pendengarannya. Mata ku tak ingin terbuka. Aku dibiarkan rileks setelah itu, dan ketika aku bangun ternyata hari sudah berganti, mereka tidak menghakimi hanya terapis ku menatap ku dengan tatapan tertunggu, mandilah dibawah air mengalir ini.
Di area gelap itu ada air mengalir dengan lantai bebatuan sepertinya semua terasa ringan, aku dapat tersenyum bebas menikmati segar sekaligus berisik air menghantam bebatuan, setelahnya aku mendapatkan segelas ramuan dan jamu-jamuan. Obrolan kami mendalam.
"Apa kau ingin pulang ke tempat itu lagi" Gelengan kepala menolak dengan penuh untuk aku kembali ke wilayah itu lagi. "Kalau begitu ambil sarung tangan, kubur lah segala hal yang kau pake kemarin dibawah pohon itu." Ini merupakan simbolisasi bahwasanya ingatan-ingatan berat kemarin harus tinggal disini, aku mengikutinya. Dia memintaku merangkum segala kesakitan ku dalam secarik kertas lalu harapan ku. Di pohon itu segalanya ku tempel sebagai simbol harapan ku yang terus bertumbuh diatas akar kepedihan.
Suatu gerakan dia berikan ditangan ku, seperti meramal suatu hal. "Kamu bakal pulang ke asal mu, karena suatu pekerjaan dan kamu bakal ketemu kembali dengan orang yang ada di masa kecil mu... Dunia masih menarik mu untuk melawan atau memaafkan... Kalau untuk pria dimasa kecil mu, kalian saling mengingat,hanya saja dia sudah terikat bukan di pernikahan sih yang ku lihat, kalau kalian bersikeras kalian bisa bersatu."
"Jangan paksa dirimu untuk selalu sempurna,"
Tidak berapa lama, satu buah sirsak dibawa kan kepada ku. Sirsak ranum pasti enak untuk dimakan, "Ingatan mu menolak ini untuk timbul, kamu suka dengan buah ini karena teman masa kecil mu pernah membawakan nya kan." Aku tersenyum kembali, akhirnya ada yang paham dengan kesukaan ku.
"Nikmati lah, habiskan untuk kemenangan mu." Lagi-lagi aku dibiarkan untuk merenung, ia pergi sementara aku mengangkat kaki ke kursi. Seolah jiwa anak kecil ku mendapatkan apa yang seharusnya dia temukan di masa kecil. Satu hal yang pasti aku kini mulai berdamai dengan diriku sendiri.
Last day mereka memberikan aku secarik kertas kembali di kertas kuning, yang bertuliskan apa yang harus aku lakukan setelah keluar dari sini.
"Ini handphone kamu, aku tidak menyentuh ranah pribadi mu tapi suatu bahaya jika terus kamu lakukan, stop beranggapan kalau pria yang saat ini bersama mu adalah dia di masa kecil mu... Dan putus rantai... Kamu tau lah maksud ku, mulailah berjalan sesuai dengan keimanan mu."
"Jauhkan dirimu dari karma yang tak seharusnya."