NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Ancaman itu datang lebih cepat dari dugaan Naura.

Pukul sebelas siang, saat ia sedang membantu Bu Marini memilah obat lama di lemari, ponselnya berbunyi.

Dimas.

Naura mengangkat dengan firasat buruk.

"Mbak, keluarga Mbak datang ke Mahardika."

Tangan Naura berhenti di atas kotak obat.

Bu Marini langsung menatapnya.

Naura berdiri dan menjauh sedikit.

"Sekarang?"

"Iya. Di lobi. Ada bapak, ibu, sama laki-laki muda. Mereka bilang mau ketemu Mbak. Security bilang Mbak sudah tidak kerja di sini, tapi mereka tidak percaya."

Suara Dimas cepat dan tegang.

Di belakangnya terdengar keributan samar.

"Mbak, ibu Mbak teriak-teriak. Katanya Mahardika menyembunyikan Mbak karena Mbak tidak mau tanggung jawab keluarga."

Naura memejamkan mata.

Jadi dimulai.

"Dimas, kamu jangan turun."

"Tapi..."

"Jangan terlibat. Kamu bukan bagian dari masalah ini."

"Pak Bima sudah turun."

Naura membuka mata.

Tentu saja.

Bima tidak akan melewatkan kesempatan melihatnya dipermalukan, meski ia sudah tidak ada.

"Mbak, ada yang merekam."

Itu yang ia takutkan.

Naura menarik napas.

"Dimas, kalau bisa, rekam juga dari jauh. Jangan memprovokasi. Simpan bukti. Kalau mereka menyebut namaku atau menyebarkan fitnah, aku perlu tahu."

"Baik, Mbak."

Panggilan terputus.

Bu Marini berdiri perlahan. "Mereka datang?"

Naura mengangguk.

Pak Aditya yang sejak tadi membaca di ruang sebelah datang mendekat.

"Di kantor lama?"

"Iya, Pak."

"Hubungi Arkan."

"Pak..."

Bu Marini mengambil ponselnya sendiri.

"Kalau kamu tidak hubungi, saya yang hubungi."

Naura kalah lagi.

Tetapi sebelum Bu Marini menekan panggilan, ponsel Naura sudah berbunyi.

Arkan.

Ia mengangkat.

"Pak."

"Rafi dapat kabar dari orang Mahardika. Keluargamu di lobi."

Naura tidak bertanya bagaimana Rafi bisa dapat kabar secepat itu. Dunia orang kaya memang punya jalur sendiri.

"Iya."

"Kamu di rumah Kakek-Nenek?"

"Iya."

"Tetap di sana."

Naura menggenggam ponsel. "Saya harus menyelesaikan ini."

"Dengan datang ke sana dan memberi mereka panggung?"

Kalimat itu membuatnya diam.

Di kehidupan lalu, ia selalu datang. Selalu menarik mereka ke sudut. Selalu meminta maaf. Selalu membayar.

Dan setiap kali ia datang, mereka belajar bahwa keributan berhasil.

Arkan melanjutkan, "Biarkan security dan kantor lama menangani gangguan di area mereka. Kalau ada fitnah, legal kita bergerak."

"Legal kita?"

Hening setengah detik.

"Legal saya."

Bu Marini yang berdiri di dekatnya berbisik keras, "Legal kita juga boleh."

Naura hampir tertawa di tengah tegang.

Arkan pasti mendengar, karena ia menghela napas.

"Nenek di sana?"

"Iya."

"Tolong jangan biarkan dia keluar rumah."

Bu Marini langsung berseru, "Nenek dengar!"

Arkan berkata, "Justru itu."

Pak Aditya tertawa pendek.

Naura merasa ketegangan di dadanya sedikit turun.

"Saya tidak akan ke Mahardika," katanya akhirnya.

"Bagus. Kirim semua pesan ancaman dari ibumu ke saya."

"Pak Arkan..."

"Ke Rafi kalau kamu lebih nyaman."

Naura diam.

Arkan melembutkan suara, meski tetap terdengar kaku.

"Kamu tidak harus menjelaskan semuanya sekarang. Tapi bukti harus disimpan."

Naura menutup mata.

"Baik."

Setelah panggilan selesai, ia meneruskan tangkapan layar pesan ibunya ke Rafi, bukan langsung ke Arkan. Entah kenapa itu terasa lebih aman.

Rafi membalas sopan:

`Diterima, Mbak. Kami simpan sebagai dokumentasi. Tidak ada tindakan tanpa persetujuan Mbak, kecuali ada ancaman langsung ke rumah Pak Arkan atau rumah Pak Aditya.`

Naura membaca pesan itu dua kali.

Tidak ada tindakan tanpa persetujuan.

Batas.

Mereka benar-benar memberinya batas.

Sementara itu, di lobi Mahardika, keadaan makin panas.

Dimas mengirim video pendek.

Dalam video, Ibu berdiri di depan security sambil menangis keras.

"Anak saya kerja di sini! Kalian sembunyikan dia, ya? Dia sekarang sudah sukses, malu punya orang tua miskin!"

Bapak berdiri di sampingnya, wajah keras.

Bagas memakai jaket denim, memegang ponsel seolah merekam balik.

Beberapa karyawan menonton dari jauh.

Lalu Bima muncul.

Naura melihat wajah lama itu di layar dan merasakan perutnya mual.

Bima berkata dengan nada dibuat tenang, "Bu, Naura sudah mengundurkan diri. Dia tidak bekerja di sini lagi."

Ibu langsung berteriak, "Bohong! Anak itu tidak mungkin keluar. Gajinya besar. Jangan lindungi dia!"

Bagas menambahkan, "Mbak gue pasti masih di sini. Dia cuma kabur dari tanggung jawab."

Bima menoleh ke arah seseorang yang merekam. Wajahnya tampak tidak senang.

Mungkin ia baru sadar keributan ini juga mempermalukan Mahardika, bukan hanya Naura.

Video berhenti.

Naura menatap layar dengan perasaan aneh.

Dulu ia akan menangis.

Sekarang ia hanya lelah.

Bu Marini duduk di sampingnya.

"Itu ibumu?"

Naura mengangguk.

"Mulutnya kuat."

Pak Aditya berkata dari seberang, "Tapi posisinya lemah. Dia datang ke kantor orang, membuat keributan, dan ada bukti ancaman sebelumnya."

Bu Marini menatap suaminya. "Kamu jangan terlalu dingin. Naura sedang sedih."

"Aku sedang menjelaskan supaya dia tahu dia tidak salah."

Naura menatap pasangan tua itu.

Dadanya kembali panas.

"Saya tidak apa-apa."

Bu Marini menggenggam tangannya.

"Tidak apa-apa itu tidak harus sekarang. Nanti saja kalau sudah benar-benar tidak apa-apa."

Naura menunduk.

Ia tidak menangis.

Tapi genggaman Bu Marini membuatnya ingin menjadi anak kecil sebentar.

Sore hari, Rafi mengirim laporan.

Keluarga Naura akhirnya dikeluarkan dari gedung setelah security mengancam memanggil polisi. Bima meminta mereka pergi karena sudah mengganggu operasional kantor. Beberapa video sempat direkam karyawan, tetapi belum tersebar luas. Legal Arkan sudah menyiapkan surat jika ada unggahan fitnah.

Naura membalas:

`Terima kasih. Untuk sementara jangan kirim apa pun.`

Rafi:

`Baik, Mbak.`

Malam itu, Naura tetap pergi ke rumah Arkan sesuai jadwal.

Ia merasa harus bekerja. Rutinitas membuatnya tidak tenggelam.

Arkan sudah di rumah ketika ia datang.

Tidak seperti biasa, ia tidak duduk di ruang kerja. Ia berdiri di dekat jendela ruang keluarga, tangan masuk saku, wajah lebih dingin dari biasanya.

"Pak."

Ia menoleh.

"Kamu tetap datang."

"Saya punya jadwal."

"Kamu bisa izin."

"Saya tidak mau mereka membuat hidup saya berhenti lagi."

Arkan menatapnya.

Lama.

Lalu ia berkata, "Baik."

Hanya itu.

Tidak ada ceramah. Tidak ada tatapan kasihan.

Naura berjalan ke dapur.

Ia membuka kulkas, mengeluarkan bahan, dan mulai memasak. Tangannya sempat gemetar ketika memotong bawang, tetapi ia menahannya.

Beberapa menit kemudian, Arkan masuk.

Ia tidak berdiri menghalangi apa pun.

Ia hanya meletakkan segelas air hangat di meja dekat Naura.

"Minum."

Naura menoleh.

"Saya baik-baik saja."

"Nanti saja kalau sudah benar-benar baik-baik saja."

Kalimat Bu Marini.

Naura menatapnya.

Arkan tidak tersenyum.

Tetapi matanya tenang.

Naura mengambil gelas itu dan minum.

Air hangat melewati tenggorokannya.

Baru saat itu ia sadar, sejak siang ia belum minum dengan benar.

"Terima kasih," katanya pelan.

Arkan mengangguk.

Ia tidak pergi.

Ia tetap berdiri di sana, diam-diam menemani.

Untuk pertama kalinya, keberadaan seseorang di dapur tidak membuat Naura merasa diawasi.

Ia merasa dijaga.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!