Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala dan Cahaya Misterius
Grey terus berjalan menyusuri lorong-lorong belakang gedung teater, matanya bergerak cepat mencari setiap tanda keberadaan Ressa. Hatinya berdebar tidak menentu, pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ressa... di mana kau?"
Akhirnya, di halaman belakang yang jarang dikunjungi, ia menemukannya.
Ressa terduduk lemah di dalam kandang besi besar yang biasanya digunakan untuk mengurung hewan-hewan liar pertunjukan. Tubuhnya gemetar, pakaiannya kusut dan berantakan, dan di matanya masih tersisa ketakutan yang mendalam.
Namun, yang membuat Grey terkejut adalah seekor serigala abu-abu besar yang duduk diam di sisi Ressa. Matanya yang berwarna kuning menatap gadis itu dengan tatapan tenang, tidak menunjukkan niat agresif sama sekali. Serigala itu hanya duduk, seolah melindungi Ressa daripada mengancamnya.
Grey bergegas menghampiri, membuka pintu kandang dengan kasar dan meraih Ressa, menariknya ke pelukannya.
"Tuan Grey?" Ressa terkejut, tetapi ia tidak menolak.
"Katakan padaku," ucap Grey, suaranya dingin namun penuh emosi, "siapa yang membuatmu seperti ini?"
Matanya yang biasanya tenang kini menyala-nyala dengan amarah yang tertahan. Ia menatap Ressa yang tampak berantakan dan ketakutan, dan di dalam hatinya, api kebencian mulai menyala terhadap siapa pun yang berani menyentuh gadis di pelukannya.
Ressa mengatur napasnya, mencoba menenangkan diri. "Angel. Dia menyeretku ke sini dan melemparku ke dekat serigala itu." Ia menunjuk ke arah serigala abu-abu yang masih duduk diam. "Dia bilang serigala itu akan memakanku."
Grey menatap serigala itu dengan tatapan curiga. "Tapi serigala itu tidak memakanmu?"
Ressa menggeleng. "Tidak. Dia hanya duduk di tempatnya, tidak bergerak. Aku juga bingung. Angel sudah pergi setelah melemparku, dan serigala itu hanya duduk di sampingku seolah menjagaku."
Grey menghela napas panjang, lega karena Ressa baik-baik saja.
"Angel..." pikirnya, matanya menyipit. "Dia sepertinya memang membenci Ressa."
Ia mengepalkan tangannya.
"Aku harus berhati-hati dengannya."
Grrrh!
Auuu!
Serigala itu tiba-tiba melolong, lalu berdiri dengan tenang. Ia berjalan keluar dari kandang besi yang terbuka, melewati Grey dan Ressa tanpa menunjukkan permusuhan sedikit pun. Kemudian, dengan langkah anggun, ia berjalan menuju hutan dan menghilang di balik pepohonan.
Ressa menatap kepergian serigala itu, lalu melambaikan tangannya. "Sampai jumpa, serigala."
Grey mengamati semua ini dengan tatapan bingung.
"Ini aneh," pikirnya dalam hati. "Kenapa serigala itu tidak memangsa Ressa? Biasanya hewan liar akan menyerang manusia yang terperangkap."
Ia menatap Ressa, mencoba mencari penjelasan.
"Sepertinya serigala itu tahu sesuatu tentang Ressa hingga tidak berniat memangsanya."
Namun, Grey segera menggeleng, mengusir pikirannya.
"Lupakan saja," pikirnya. "Yang terpenting Ressa tidak kenapa-napa."
Tanpa bertanya lebih lanjut, Grey meraih Ressa dan menggendongnya dengan lembut.
"Tuan Grey!" Ressa kaget, wajahnya memerah. "Saya bisa berjalan sendiri!"
"Percuma saja," jawab Grey tegas. "Aku akan tetap membawamu. Kau terlalu lelah untuk berjalan."
Ressa tidak bisa membantah. Ia hanya diam, menundukkan kepalanya di bahu Grey, merasakan hangatnya pelukan pemuda itu.
Mereka berjalan kembali menuju gedung teater, melewati halaman yang mulai gelap.
Dari kejauhan, banyak pasang mata memperhatikan mereka.
"Bukankah itu Tuan Muda Grey?" bisik seorang pelayan yang sedang menyapu halaman.
"Benar! Dia menggendong seorang gadis!" sahut temannya, matanya membelalak.
"Hei, lihat! Tuan Muda Grey seperti menggendong seorang putri kerajaan!"
"Hei, jangan berisik! Nanti kita dimarahi!"
"Tapi ini pemandangan yang tidak biasa! Tuan Muda Grey yang dikenal dingin kini menggendong seorang gadis!"
Grey tidak mempedulikan bisik-bisik itu. Ia terus berjalan, matanya lurus ke depan.
Namun, pada saat yang sama, cahaya samar muncul di leher Ressa. Kalung yang ia kenakan bersinar terang—hanya sesaat, tetapi cukup jelas bagi siapa pun yang memperhatikan.
Ressa yang merasakan cahaya itu panik. Ia segera menyembunyikan kalungnya di balik kerah bajunya, menekan cahaya itu hingga padam.
"Semoga saja Tuan Grey tidak melihatnya," pikirnya, hatinya berdebar kencang.
Ia kembali tersenyum ke arah Grey, tetapi di dalam hatinya ia lega.