Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Meski hari sudah semakin larut, Kota Sungai Giok justru terasa kian semarak. Lampion-lampion bernuansa merah dan emas bergantungan rapi di sepanjang jalan menuju bagian timur kota.
"Itu pasti Pasar Malam Kultivator," gumam Nara dengan mata berbinar menatap keramaian di ujung jalan.
Arga tersenyum kecil. "Ayo."
Begitu melangkah memasuki kawasan pasar, mereka langsung dibuat terpukau. Lapak-lapak pedagang berjejer rapi di kanan dan kiri. Berbagai macam barang dijajakan—mulai dari pedang, pil pemulihan, jimat perlindungan, hingga telur binatang roh. Bahkan, beberapa kultivator memperdagangkan gulungan teknik bela diri secara terbuka.
"Senior..." Arga berbisik pelan ke arah liontinnya. "Bagaimana cara membedakan barang yang asli dan palsu di tempat seperti ini?"
Guru Tian terkekeh ringan. "Itulah pelajaranmu malam ini, Arga. Di dunia kultivasi... mata yang tajam dan jeli sama pentingnya dengan pedang yang tajam."
Langkah Nara mendadak terhenti di depan sebuah lapak kecil. Matanya terpaku pada sebuah jepit rambut sederhana berbentuk bunga plum. Jepit itu bukanlah sebuah artefak mistis ataupun harta roh berharga, melainkan hanya hasil kerajinan tangan biasa.
"Bagus ya..." bisik Nara pelan. Namun, ketika matanya tak sengaja melihat deretan angka pada harganya, ia menghela napas halus. "Ayo lanjut," ucapnya sambil memaksakan senyum dan berlalu pergi.
Arga sempat menangkap momen itu. Ia memperhatikan perubahan raut wajah Nara, namun memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa lapak kemudian...
"Berhenti," seru Guru Tian mendadak di dalam benak Arga.
Arga seketika menghentikan langkahnya. Di sudut pasar yang remang-remang, seorang kakek tua tampak sedang duduk santai menjual barang-barang usang. Semua barang dagangannya terlihat tak ubahnya seperti tumpukan sampah—pedang berkarat, cincin retak, hingga mangkuk keramik pecah.
"Senior... barang yang mana?"
"Gelang kulit hitam yang hampir tertutup debu tebal itu. Ambil itu."
Arga meraih gelang tersebut lalu menatap sang penjual. "Berapa harganya, Kek?"
Kakek tua itu melirik sekilas tanpa minat. "Dua keping perak."
Tanpa menawar, Arga langsung menyerahkan uangnya. Tepat saat gelang kulit itu berada di genggamannya, Guru Tian tertawa puas dari dalam liontin.
"Hahaha! Kali ini kau benar-benar beruntung, Bocah!"
"Memangnya ini barang apa, Senior?"
"Itu adalah artefak penyimpanan dimensi! Hanya saja... penampilannya sengaja disamarkan dengan mantra khusus."
Mata Arga membelalak kaget. Artefak penyimpanan sejenis itu biasanya dibanderol hingga puluhan batu roh berharga tinggi. Dan ia baru saja mendapatkannya hanya dengan dua keping perak!
Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, Arga mendadak menghentikan langkah. "Nara, tunggu sebentar di sini ya."
Sebelum Nara sempat bertanya, Arga sudah berbalik dan berlari menuju lapak yang mereka lewati tadi. Tak butuh waktu lama, pemuda itu kembali dengan kedua tangan di balik punggungnya.
"Ayo," ajaknya santai. Nara hanya mengangguk tanpa rasa curiga.
Tepat saat mereka hampir sampai di depan pintu penginapan, Arga mengulurkan sebuah kotak kayu kecil ke hadapan Nara. "Ini untukmu."
Nara menatap kotak itu bingung. "Apa ini?"
"Buka saja dulu."
Dengan perlahan, Nara membuka penutup kotak kayu tersebut. Di dalamnya... terbaring indah jepit rambut berbentuk bunga plum yang sempat ia kagumi di pasar tadi.
Nara seketika membeku. Matanya menatap jepit rambut itu dan Arga secara bergantian. "Kau..."
"Katanya kau menyukainya tadi," potong Arga santai.
"Aku kan cuma melihatnya sebentar..."
"Iya, tapi senyummu waktu melihat jepit itu terasa berbeda."
Nara membisu, tidak tahu harus berkata apa. Selama ini... belum pernah ada seorang pun yang memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya sedetail itu.
"Bukankah ini mahal?" bisik Nara pelan.
"Tidak juga. Lagipula... anggap saja ini hadiah kecil dariku karena kau sudah berkali-kali menyelamatkan nyawaku."
Nara menggenggam kotak kayu itu dengan erat. Kehangatan menyeruak di dadanya, membuat matanya perlahan memanas. Namun, ia cepat-cepat memalingkan wajah agar Arga tidak melihat rona merah di pipinya.
"Dasar bodoh..."
"Hm? Kenapa?"
"Kalau kau terlalu baik begini... nanti bisa-bisa banyak gadis yang menyukaimu."
Arga tertawa kecil, tidak memikirkan maksud tersirat dari ucapan itu. "Memangnya itu sebuah masalah?"
Nara hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. "Justru itu masalah terbesarnya..." batinnya.
Jari-jemari Nara perlahan menyematkan jepit rambut bunga plum itu di sela rambutnya. Benda itu memang tidak mewah, namun baginya... jepit sederhana tersebut adalah hadiah paling berharga yang pernah ia terima sepanjang hidupnya.
Di belakang mereka, Guru Tian memperhatikan keduanya sambil menggelengkan kepala pelan.
"Murid bodoh..." batin sang guru sambil menghela napas. "Kau memberinya hadiah hanya karena ingin melihatnya senang. Tanpa kau sadari... kau justru membuat hati gadis itu semakin sulit untuk berpaling darimu."
Di bawah naungan langit malam Kota Sungai Giok, kedua sahabat itu terus melangkah berdampingan. Yang satu mulai menyadari serta meresapi benih perasaan di dalam hatinya, sementara yang satu lagi... masih polos mengira bahwa semua kehangatan ini hanyalah murni bentuk persahabatan yang tulus.
Fajar baru saja menyingsing ketika gerbang timur Kota Sungai Giok mulai dibuka. Kereta-kereta dagang keluar satu persatu, disusul oleh para kultivator pengembara yang bersiap melanjutkan perjalanan panjang mereka.
Arga dan Nara berdiri berdampingan di depan gerbang kota dengan membawa tas sederhana di punggung masing-masing. Pedang Penjaga Langit tetap tersarung aman di pinggang Arga, sengaja dibungkus kain kusam agar tidak menarik perhatian orang. Sementara itu, Nara mengenakan jubah hijau muda.
Jepit rambut berbentuk bunga plum pemberian Arga terpasang rapi di rambutnya—membuatnya beberapa kali menyentuh benda itu tanpa sadar. Guru Tian yang melihat pemandangan tersebut dari dalam liontin hanya tersenyum kecil.
"Tujuan kalian Kota Bintang?"
Seorang kusir tua mendadak menghentikan kereta kudanya tepat di hadapan mereka.
Arga mengangguk sopan. "Benar, Paman."
"Kebetulan jalur kita searah. Kalau tidak keberatan, kalian boleh ikut menumpang."
Arga segera membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Paman."
Kusir itu tertawa renyah. "Sebagai gantinya, bantu saja mengawasi barang daganganku kalau-kalau ada binatang buas yang mendekat."
"Tentu, kami akan bantu."
Tak lama kemudian, kereta pun mulai berderap meninggalkan gerbang kota. Di sepanjang perjalanan, mereka disuguhi hamparan padang rumput yang luas dengan barisan gunung menjulang di kejauhan. Sesekali, tampak burung-burung roh melintas bebas di langit biru.
Nara duduk tenang di samping Arga. Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka membuka suara. Namun, keheningan itu justru terasa begitu nyaman.
Menjelang siang, rombongan memutuskan untuk berhenti sejenak di dekat sebuah mata air yang jernih. Para kusir memberi makan kuda-kuda mereka, sementara Arga berinisiatif mengambil air dan Nara menyiapkan bekal makanan.
"Kau selalu saja menolong orang lain..." ucap Nara tiba-tiba, memecah kesunyian.
Arga tersenyum tipis. "Kalau memang bisa membantu, kenapa tidak?"
"Tapi... bagaimana kalau suatu hari nanti orang yang kaubantu justru berbalik mengkhianatimu?"
Arga terdiam sejenak. Pandangannya menerawang pada riak air yang menari di permukaan mata air. "Kalau itu terjadi, mungkin aku akan kecewa... tapi itu sama sekali bukan alasan untuk berhenti berbuat baik."
Jawaban sederhana itu kembali membuat Nara terdiam. Semakin ia mengenal Arga, semakin ia mengerti mengapa pemuda itu begitu berbeda dari kebanyakan kultivator di luar sana. Di dunia yang kejam dan dipenuhi perebutan kekuasaan, Arga tetap teguh memilih untuk menjadi dirinya sendiri.
Sore harinya...
"Berhenti," suara Guru Tian mendadak terdengar memperingatkan di dalam benak Arga.
Arga langsung memasang kuda-kuda waspada. "Ada apa, Senior?"
"Di depan sana... ada lebih dari tiga puluh orang. Tidak semuanya musuh, tapi ada beberapa aura yang terasa sangat tidak bersahabat."
Benar saja. Tak lama kemudian, rombongan kereta tiba di sebuah area persimpangan jalan yang cukup luas. Puluhan pemuda dan pemudi dari berbagai latar belakang—ada yang membawa pedang, tombak, kipas perang, hingga busur—telah berkumpul di sana. Tujuan mereka semua sama: mengikuti Ujian Tujuh Sekte.
Seorang pemuda berpakaian mewah melirik ke arah Arga dan Nara sekilas. Matanya berhenti pada busur yang tersandang di punggung Nara, lalu tersenyum meremehkan. "Seorang pemanah? Jarang sekali ada orang yang masih memilih jalan itu di era sekarang."
Nara hanya membalas dengan senyuman tipis tanpa terpancing emosi. Arga pun memilih untuk bergeming.
Di dalam liontin, Guru Tianberbisik pelan, "Bagus... Kadang kala, kemenangan terbesar justru dimulai dari kemampuan seseorang dalam menahan diri."
Rombongan pun akhirnya melanjutkan perjalanan bersama-sama demi keamanan.
Namun, tak seorang pun dari mereka menyadari...
Di atas tebing curam yang mengawasi jalan utama dari kejauhan, lima sosok berjubah hitam tengah mengamati gerak-gerik mereka dengan seksama. Sang pemimpin perlahan membuka gulungan buronan di tangannya, membandingkan gambar di sana dengan sosok Arga yang kepalanya tertutup topi bambu.
Sebuah senyum dingin tersungging di bibirnya.
"Kau bisa menyamar. Tapi kau tak bisa menipuku." bisiknya keji. "Jangan serang sekarang. Tunggu sampai mereka memasuki Hutan Seribu Cemara. Di tempat terpencil itu... tidak akan ada Pengawal Kota yang bisa menyelamatkan nyawa mereka."
Di bawah naungan langit senja yang mulai memerah, rombongan calon peserta Ujian Tujuh Sekte terus melangkah mantap menuju Kota Bintang.
Tanpa mereka ketahui, bahaya besar telah siap menyambut di ujung jalan.