Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Dada Reka terasa sesak, Leon pasti semakin berpikiran buruk terhadapnya. Reka berusaha tetap tegar meskipun di mata Leon harga dirinya tak ada lagi yang tersisa.
"Kamu tidak boleh rapuh, Reka! Ingat... kamu harus tetap tegar demi menghidupi putramu!." Batin Reka. Wanita itu berusaha mengabaikan rasa sesak di dada.
Leon menghentikan laju mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah, pertanda semua pengendara di minta untuk berhenti sejenak.
Secara tidak sengaja pandangan Reka menangkap keberadaan seorang wanita yang tengah menggendong anaknya, berdiri di bawah terik matahari sambil meminta sedikit sedekah dari pengendara yang berhenti di lampu merah.
Reka merogoh tasnya dan mengambil dua lembar uang kertas berwarna biru. Tanpa sepatah katapun, Reka membuka pintu mobil dan berlalu menghampiri wanita itu.
"Ini ada sedikit rezeki buat ibu dan anak ibu." Reka menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna biru kepada si ibu. Di satu sisi, Reka ingin sekali mengatakan pada si ibu bahwa mengajak serta anak seusia itu ke jalanan sangatlah beresiko. Namun di sisi lain, Reka juga tidak tahu sesulit apa kehidupan yang tengah dijalani si ibu hingga tega mengajak serta buah hatinya untuk meminta-minta seperti yang dilakukannya saat ini. Karena menurut Reka, apapun status sosialnya pastinya seorang ibu tak akan tega mengajak serta buah hatinya dalam kesulitan, namun bisa jadi situasi dan kondisi lah yang memaksa hingga si ibu melakukannya. Apa yang dilakukan oleh Reka tentunya tak luput dari perhatian Leon.
Reka buru-buru kembali ke mobil Leon saat menyadari lampu lalu lintas berubah hijau dan kendaraan di belakang mobil Leon mulai membunyikan klaksonnya.
"Maaf...." Gumam Reka sekembalinya di mobil.
Setelahnya, Reka dan Leon tak lagi terlibat obrolan apapun hingga mereka tiba di tujuan. Keduanya bersikap professional layaknya bos dan pegawainya dihadapan orang lain. Usai dari lokasi satu, Leon dan Reka lanjut menuju lokasi selanjutnya. Setelah pukul dua belas siang akhirnya semua sesi kunjungan selesai dan keduanya pun kembali ke perusahaan.
Sekembalinya ke perusahaan, Reka baru menyadari ada panggilan tak terjawab dari ibu pemilik yayasan. Ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor kontak milik wanita paruh baya tersebut.
Reka mulai cemas. Pasalnya, sangat jarang sekali ibu pemilik yayasan melakukan panggilan telepon sampai sebanyak itu, kecuali ada hal penting. Reka lantas melakukan panggilan balik.
"Ada apa, Bu? Richard baik-baik saja kan Bu?." Begitu panggilan tersambung, Reka langsung mencecar wanita itu dengan berbagai macam pertanyaan.
"Itu Reka...Ibu ingin menyampaikan kalau Richard badannya panas banget. Ibu khawatir dia kejang kalau tidak segera di bawa ke rumah sakit."
Jantung Reka seperti dihantam batu besar mendengarnya.
"Saya akan segera ke sana, Bu." Tanpa berpikir panjang, Reka langsung menyambar tasnya dari atas meja kemudian berlalu dengan terburu-buru. Saking buru-buru nya, Reka sampai lupa meminta izin terlebih dahulu pada atasannya untuk meninggalkan perusahaan di saat jam kerja.
Tanpa di sadari oleh Reka rupanya ada sepasang mata yang menyaksikan dirinya dari balik jendela kaca, tengah menaiki ojek online dengan terburu-buru. Pemilik sepasang mata tersebut tak lain adalah Leon yang kebetulan tengah berdiri di tepi jendela ruang kerjanya.
"Mau pergi ke mana dia, kelihatannya terburu-buru? Bukankah jam kerja belum berakhir." Batin Leon. Sesaat kemudian, Leon menepis perasaan ingin taunya dan melupakan begitu saja pertanyaan yang sempat terbesit di benaknya. Pria itu lantas kembali ke kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaannya, bersikap seolah tidak melihat apapun barusan. Entah apa yang ada dipikiran Leon tentang mantan istrinya tersebut, hanya pria itu seorang yang tahu.
*
Setibanya di yayasan penitipan anak, Reka langsung membawa putranya ke rumah sakit dengan di antarkan oleh ibu pemilik yayasan.
"Kamu harus tetap tenang, Reka!." Sebenarnya untuk mengatakan kalimat itu terasa sangat berat bagi si ibu pemilik yayasan, karena faktanya meminta seorang ibu untuk tetap tenang di saat kondisi buah hatinya sedang tidak baik-baik saja adalah hal yang mustahil.
"Bagaimana saya bisa tenang melihat putraku dalam kondisi seperti ini, Bu." Balas Reka yang kini memangku sang buah hati. Ibu pemilik yayasan tak lagi banyak berkata-kata. Dalam hati, wanita itu mengiyakan ucapan Reka. Jika seandainya dirinya yang ada diposisi Reka saat ini, pastinya ia pun akan bersikap serupa dengan Reka, panik sekaligus cemas. Wanita paruh baya tersebut kembali memfokuskan diri mengemudikan mobilnya hingga dua puluh menit kemudian mereka pun tiba di rumah sakit terdekat.
Reka gegas turun dari mobil dan membawa putranya menuju ruang IGD. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh nakes yang bertugas di ruangan tersebut. Richard dibaringkan pada bed pasien dan diperiksa kondisinya oleh dokter.
"Dokter Linda, saya sudah merekomendasikan pasien anak yang kemarin untuk berkonsultasi ke dokter saraf." Suara yang terdengar begitu familiar di telinganya berhasil mengalihkan perhatian Reka ke sumber suara.
Kebetulan pula seseorang yang tak lain adalah Georgina tersebut tengah memandang ke arah Reka, lebih tepatnya ke arah dokter Linda yang kini tengah memeriksa kondisi putranya Reka.
"Reka....Apa yang kamu lakukan di sini?." Georgina mengayunkan langkah mendekat pada Reka yang tengah berdiri di samping bed putranya. Reka langsung panik saat pandangan Georgina menangkap keberadaan putranya. Terlebih wanita itu sempat menyapa si ibu pemilik yayasan penitipan anak. Dari sikap Georgina, Reka dapat menebak bahwa Georgina mengenal ibu pemilik yayasan dan begitu pula sebaliknya.
Jantung Reka seperti berhenti berdetak saat ibu pemilik yayasan penitipan anak tiba-tiba memperkenalkan dirinya sebagai ibu kandung Richard. Georgina sontak kembali menatap Reka.
"Kenapa tidak pernah cerita kalau kamu sudah menikah dan memiliki seorang putra yang tampan dan juga menggemaskan, hm?." Georgina jadi merasa bersalah, karena sebelumnya ia sempat menduga bahwa Reka menjalin hubungan asmara dengan Ibnu, sedangkan wanita itu sudah menikah dan memiliki seorang putra.
"Maaf...." Tak ingin salah bicara, Reka pun memilih meminta maaf karena tidak pernah menceritakan tentang putranya pada Georgina.
"Tidak perlu minta maaf, Reka!."Balas Georgina sambil mengusap punggung Reka.
"Bagaimana kondisi keponakan saya, dokter Linda?." Wanita berprofesi sebagai dokter spesialis anak tersebut lantas menanyakan tentang kondisi Richard pada dokter yang baru saja memeriksa kondisi bayi mungil tersebut. Georgina bahkan mengakui Richard sebagai keponakannya di hadapan rekan sejawatnya, hingga Reka pun dibuat tersentuh dengan sikap Georgina tersebut.
"Pasien mengalami demam tinggi. Kami akan memberikan obat penurun demam. Jika sampai dengan beberapa jam ke depan demamnya belum juga turun, maka kami akan merekomendasikan pasien ke dokter Georgina selaku dokter spesialis anak." Jelas dokter Linda, seorang dokter umum yang bertugas di ruangan IGD.
Georgina pun mengangguk paham. Ia yang tadinya bermaksud menemui dokter Linda malah secara tidak sengaja menemukan keberadaan Reka yang tengah mengantarkan putranya yang sedang demam. Dan yang tak kalah mengejutkan bagi Georgina, ternyata bayi tampan nan menggemaskan yang pernah ditemuinya di yayasan penitipan anak kemarin adalah putranya Reka.
trimakasih Thor sudah menghibur dengan karyamu..sehat selalu.. semangat untuk berkarya 👍