NovelToon NovelToon
PENGHIANAT

PENGHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

Cinta pertama seharusnya indah.

Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.

Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.

Tapi di balik senyum mereka... ada darah.

15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.

Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.

Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.

Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.

Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."

Salah mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

BAB 33

RAHASIA YANG TERKUNCI

Malam terasa semakin dingin.

Hutan kecil di belakang Taman Angsana mendadak sunyi.

Semua mata tertuju pada pria berambut putih yang baru saja datang bersama beberapa orang berpakaian hitam.

Pria bertato ular yang sebelumnya begitu percaya diri kini justru terlihat gugup.

Ia mundur perlahan.

"Wakil Ketua..."

Pria berambut putih itu melangkah maju tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.

"Ternyata selama ini kamu yang bergerak diam-diam."

Pria bertato menggertakkan gigi.

"Ini bukan urusan Anda lagi."

"Bukan?"

Suara pria tua itu tetap tenang.

"Kalau menyangkut kematian anak buahku... itu selalu menjadi urusanku."

Ahber mengernyit.

"Anak buah?"

Ia menoleh ke arah Arka.

"Ka... sebenarnya kalian ini siapa?"

Arka menundukkan kepala.

Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

"Aku minta maaf, Ber."

"Maaf untuk apa?"

"Aku sudah bohong selama lima belas tahun."

Ahber terdiam.

"Bohong?"

Arka menarik napas panjang.

"Dulu... kita memang sahabat."

"Tapi selain itu..."

"Aku juga bekerja untuk sebuah organisasi keamanan."

Mata Ahber membelalak.

"Apa?"

"Aku direkrut sejak SMA."

"Karena kemampuan observasi dan beladiriku."

"Aku tidak pernah menceritakannya kepada kalian."

Ahber masih sulit mempercayainya.

"Jadi semua ini..."

"Berkaitan dengan organisasi itu."

Arka mengangguk pelan.

"Iya."

---

Pria berambut putih akhirnya memperkenalkan diri.

"Namaku Bram."

"Aku dulu menjabat sebagai wakil ketua organisasi tempat Arka bekerja."

Ahber menatapnya penuh tanda tanya.

"Kalau begitu..."

"Kenapa Andkay bisa meninggal?"

Wajah Bram langsung berubah serius.

"Itulah alasan aku datang malam ini."

Ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari balik jasnya.

Map itu terlihat sudah tua.

Beberapa sudutnya bahkan mulai robek.

"Selama lima belas tahun..."

"...dokumen ini kusembunyikan."

Arka langsung mengenali map tersebut.

"Itu..."

Bram mengangguk.

"Berkas penyelidikan kematian Andkay."

Ahber spontan mengambil map itu.

Tangannya gemetar.

Ia membuka halaman pertama.

Di sana terdapat foto lokasi kecelakaan.

Foto motor Andkay yang hancur.

Foto bekas ban.

Dan beberapa laporan polisi.

Namun...

Saat membuka halaman terakhir...

Ahber terdiam.

Di sana tertulis jelas.

STATUS KASUS : DITUTUP KARENA PERINTAH ATASAN.

"Apa maksudnya ini?"

Bram mengepalkan tangan.

"Kasus itu sengaja dihentikan."

"Kenapa?"

"Karena pelaku sebenarnya memiliki kekuasaan."

Ahber mengangkat wajahnya.

"Siapa?"

Bram belum sempat menjawab.

Pria bertato tiba-tiba tertawa.

"Hahaha..."

Semua menoleh.

"Tidak ada gunanya lagi menyembunyikan semuanya."

Ia menatap Ahber dengan senyum mengejek.

"Kamu benar-benar ingin tahu siapa pembunuh Andkay?"

Ahber mengepalkan kedua tangannya.

"Iya."

Pria itu tersenyum semakin lebar.

"Bukan aku."

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

"Apa?"

"Aku memang ada di sana."

"Tapi aku hanya diperintah."

"Lalu siapa?"

Pria bertato memandang Bram beberapa detik.

Kemudian tertawa lagi.

"Orang yang memerintahku..."

"...adalah orang yang paling kalian percaya."

Arka langsung menggeleng.

"Jangan dengarkan dia."

Namun pria bertato tetap melanjutkan.

"Orang itu masih hidup."

"Masih bebas."

"Dan..."

"Masih sangat dekat dengan kalian."

Jantung Ahber berdegup semakin cepat.

"Siapa namanya?"

Pria bertato baru saja membuka mulut.

Tiba-tiba...

Dor!

Sebuah peluru melesat dari arah yang tidak diketahui.

Peluru itu menembus dada pria bertato.

Matanya langsung membelalak.

Bruk!

Tubuhnya jatuh ke tanah.

Semua orang terkejut.

"Siapa?!"

teriak Bram.

Beberapa anak buahnya langsung mencari ke segala arah.

Namun...

Hutan kembali sunyi.

Tidak ada siapa-siapa.

Pria bertato masih bernapas.

Darah mengalir dari dadanya.

Ahber berlutut di sampingnya.

"Siapa?"

"Katakan siapa!"

Pria itu batuk.

Darah keluar dari sudut bibirnya.

Ia mengangkat tangan dengan susah payah.

Telunjuknya mengarah ke arah Ahber.

"Dia..."

Ahber mengikuti arah telunjuk itu.

Namun...

Di belakangnya hanya ada Arka dan Bram.

Pria bertato berusaha berbicara lagi.

"Orang itu..."

"...berinisial..."

Belum selesai mengucapkan kata-katanya...

Kepalanya terkulai.

Napasnya berhenti.

Ia meninggal sebelum sempat menyebut nama pelaku.

Suasana mendadak hening.

Ahber memejamkan mata.

"Sial..."

Arka mengepalkan tangan.

"Mereka sengaja membungkamnya."

Bram melihat ke arah pepohonan yang gelap.

"Mereka tahu..."

"...rahasia itu hampir terbongkar."

Angin malam kembali berembus pelan.

Di kejauhan terdengar suara sirene polisi mendekat.

Bram langsung menatap Ahber.

"Kita harus pergi."

"Kalau polisi datang sekarang..."

"Kalian justru akan dijadikan tersangka."

Ahber masih memandangi jasad pria bertato itu.

Satu kesempatan untuk mengetahui dalang sebenarnya...

Hilang begitu saja.

Namun sebelum pergi, matanya menangkap sesuatu.

Di tangan kanan pria bertato yang sudah tak bernyawa...

Tergenggam selembar sobekan foto lama.

Ahber mengambilnya perlahan.

Itu adalah foto empat sahabat mereka saat masih SMA.

Tetapi...

Wajah Arka pada foto itu telah disobek dengan rapi.

Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan berwarna merah.

> "Kalian baru mengetahui permulaannya. Permainan yang sesungguhnya baru dimulai."

Ahber menggenggam foto itu erat.

Entah siapa dalang di balik semua ini...

Satu hal yang kini ia yakini.

Musuh mereka belum selesai bergerak.

Bahkan...

Mungkin selama ini musuh itu berada jauh lebih dekat daripada yang mereka bayangkan.

BERSAMBUNG...

1
Alia Chans
Hadir thor
like + bunga biar semangat deh/Smile/
nila edrina: terimah kasihh 🥰😘😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!