NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Kardus Mencurigakan

Keringat tipis mulai membasahi pelipis Nezha saat ia meletakkan kardus berukuran sedang di atas lantai beton kamar nomor 1104. Napasnya agak terengah-engah. Ternyata naik turun tangga beberapa kali sambil membawa beban yang cukup berat lumayan menguras energi, terutama dengan kondisinya yang sedang berbadan dua.

"Aduh, Kak Nezha! Taruh di situ saja, jangan diangkat lagi!" Bylla buru-buru berlari kecil dari arah kamar mandi, membawa sebuah kain lap basah dan kemoceng. Wajahnya memerah karena kelelahan, namun energinya seolah tidak berkurang sama sekali. "Ya ampun, maafkan saya ya, Kak. Gara-gara lift mati, kita jadi harus bolak-balik begini."

"Tidak apa-apa, Bylla. Tinggal kardus ini saja, kan? Tidak ada lagi yang masih tertinggal di bawah?" tanya Nezha sambil menyeka dahi dengan punggung tangannya, lalu duduk bersila di atas lantai kamar yang masih agak berdebu.

"Iya, Kak! Semua sudah di sini. Terima kasih banyak ya, Kak Nezha. Kalau tidak ada Kakak, mungkin saya sudah pingsan sekarang," kata Bylla sambil terkekeh renyah. Ia mulai bergerak lincah, mengambil alat pembersih untuk membersihkan debu di lantai dengan gerakan yang sangat bersemangat.

Nezha tersenyum kecil melihat kegesitan gadis itu. Untuk membantu, Nezha perlahan mendekati salah satu kardus pakaian yang sudah terbuka dan mulai mengeluarkan beberapa seragam pengawas milik Bylla untuk digantung di lemari dinding.

"Oh ya, Kak," Bylla membuka obrolan sambil sibuk membersihkan lantai. Matanya yang bulat melirik Nezha penuh rasa ingin tahu. "Kak Nezha sudah berapa lama bekerja sebagai pengawas di Sektor Empat? Dari cara Kakak bicara dengan Kak Jena dan Kak Shanaz tadi siang di kafetaria, sepertinya Kakak sudah senior sekali."

"Hampir empat tahun, Bylla," jawab Nezha santai sambil merapikan lipatan celana seragam. "Sejak aku menyelesaikan pelatihan wajib calon pengawas. Begitu lulus, aku langsung ditempatkan di sini."

"Empat tahun? Wah, lama juga ya," Bylla menatap Nezha dengan binar kagum yang kentara. "Berarti Kak Nezha sudah hafal dong dengan semua seluk-beluk Sektor Empat? Gang-gang kecilnya, pasar gelapnya, atau... tempat-tempat rahasia lainnya?"

Nezha menghentikan gerakan tangannya sesaat, melirik Bylla sekilas sebelum kembali tersenyum tipis. "Ya, bisa dibilang begitu. Sektor Empat ini tidak terlalu besar kalau kamu sudah terbiasa berpatroli setiap hari. Lama-lama kamu juga akan hafal sendiri rute pelarian yang sering dipakai para pelanggar."

Bylla mengangguk-angguk paham, lalu duduk di lantai dekat Nezha, mulai menyortir tumpukan buku catatan akademi miliknya. "Kalau boleh tahu... kenapa Kak Nezha dulu memilih menjadi pengawas keamanan? Maksud saya, pekerjaan ini kan melelahkan sekali. Setiap hari harus berhadapan dengan debu, cuaca terik, dan orang-orang yang melanggar aturan."

Nezha terdiam sejenak. Pertanyaan itu membawanya kembali ke beberapa tahun lalu, sebelum ia bertemu Carson dan sebelum hidupnya serumit sekarang. "Alasan klasik, Bylla. Nilai evaluasi penempatan kerja dari pemerintah pusat menunjukkan kalau fisik dan ketahanan mentalku paling cocok di divisi ini."

Nezha menatap Bylla balik. "Kalau kamu sendiri? Kamu masih sangat muda, enerjik, dan sepertinya tipe orang yang ceria. Kenapa memilih pekerjaan seperti imi?"

Bylla tertawa kecil, menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Ah, kalau saya sih sebenarnya simpel saja, Kak. Saya itu anaknya suka berkelahi, Kak. Tapi, saya tidak cocok dengan lingkungan militer yang kaku. Jadilah saya memilih sebagai pengawas keamanan saja. Terlebih semua yang ada di akademi pengawas gratis. Ya, meskipun pelatihannya setengah mati membuat saya mau menangis setiap malam."

"Tapi saya bersyukur, Kak!" Bylla tiba-tiba mengepalkan tangannya ke udara dengan penuh tekad. "Sekarang saya sudah jadi petugas resmi, punya gaji sendiri, dan yang paling penting... punya tetangga yang baik seperti Kak Nezha! Jadi semua lelahnya terbayar tuntas!"

"Bisa saja kamu ini," Nezha geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan.

Obrolan mereka berlanjut mengalir dengan santai. Bylla bercerita tentang betapa buruknya makanan di asrama akademi, tentang instruktur mereka yang hobi berteriak menggunakan pengeras suara di jam tiga subuh, hingga obrolan yang sebenarnya tidak penting. Tapi, Nezha melayani setiap pertanyaan Bylla dengan sabar, merasa terhibur dengan celotehan gadis itu.

Setelah hampir satu jam, sebagian besar ruangan sudah terlihat lebih rapi. Pakaian Bylla sudah tergantung, dan lantai apartemennya sudah bersih dari debu. Hanya tersisa satu kardus berukuran agak panjang yang terletak menyendiri di sudut dekat ranjang lipat. Kardus itu tampak dilakban sangat rapat dengan beberapa lapisan segel berwarna hitam.

"Tinggal satu kardus ini lagi, Bylla. Biar kubantu buka lakbannya," kata Nezha sambil melangkah mendekati kardus tersebut. Ia berlutut di depannya, tangannya baru saja hendak menjangkau ujung lakban hitam untuk menariknya.

"JANGAN, KAK!"

Teriakan tiba-tiba dari Bylla membuat Nezha tersentak hebat. Nezha reflek menarik kembali tangannya, jantungnya berdegup cepat karena terkejut.

Saat Nezha menoleh, ia mendapati ekspresi wajah Bylla berubah total. Keceriaan yang sejak tadi mendominasi wajah gadis itu lenyap seketika, digantikan oleh ketegangan yang sangat pekat. Matanya melebar panik, dan tubuhnya mendadak kaku di tempatnya berdiri dengan alat pembersih yang masih digenggam erat.

Suasana kamar yang tadinya hangat langsung berubah menjadi canggung dan dingin selama beberapa detik.

Menyadari reaksi berlebihannya yang terlalu mencolok, Bylla buru-buru menarik napas dalam-dalam. Ia memaksakan sebuah tawa yang terdengar sangat tidak natural dan canggung, lalu melangkah cepat mendekati Nezha, memposisikan dirinya di antara Nezha dan kardus misterius itu.

"Ah... maksud saya, jangan yang itu, Kak! Biar... biar saya saja yang urus kardus itu nanti," kata Bylla, suaranya sedikit bergetar sebelum ia mencoba menstabilkannya kembali. "Itu... isinya cuma barang-barang pribadi perempuan yang... yah, agak berantakan dan memalukan kalau dilihat orang lain. Benar, Kak! Cuma pakaian dalam lama dan kosmetik rusak yang belum sempat saya buang. Hehe."

Nezha menatap Bylla lekat-lekat. Sebagai seorang pengawas keamanan yang terlatih membaca gerak-gerik orang, Nezha tahu persis bahwa Bylla sedang berbohong. Alasan "pakaian dalam" tidak akan membuat seorang petugas keamanan magang berteriak histeris dan memasang wajah seolah rahasia negaranya baru saja terbongkar. Belum lagi segel hitam tebal di kardus itu, yang sangat mirip dengan jenis segel kedap udara yang biasa dipakai untuk membungkus barang-barang selundupan ilegal dari luar distrik.

Apakah Bylla membawa sesuatu yang dilarang?

Nezha memandang kardus itu sekali lagi, lalu beralih menatap wajah Bylla yang kini sedang memandangnya dengan tatapan cemas, seolah takut Nezha akan menginterogasinya lebih jauh atau melaporkannya.

Namun, Nezha bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain jika tidak mendesak. Lagipula, dirinya sendiri sedang menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dan berbahaya bersama Carson. Mengapa dia harus sibuk mengurusi apa yang dibawa oleh gadis magang ini, selama itu tidak mengancam keselamatan dirinya?

Nezha mengembuskan napas perlahan, lalu bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk debu di celananya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

"Baiklah kalau begitu. Lagipula ini sudah sore, barang-barang utamamu juga sudah selesai ditata," ujar Nezha dengan nada suara yang kembali tenang dan biasa, sengaja tidak membahas soal kardus itu lagi untuk meredakan kepanikan Bylla.

Mendengar respons Nezha, pundak Bylla yang tegang seketika merosot turun. Sebuah embusan napas lega yang sangat panjang keluar dari bibirnya. "Iya, Kak. Ya ampun, terima kasih banyak ya, Kak Nezha. Bantuan Kakak hari ini benar-benar berarti buat saya."

"Sama-sama, Bylla. Kalau begitu, aku naik ke atas dulu ya. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, ketuk saja kamarku di lantai dua belas, tepat di atas kamarmu," pamit Nezha sambil berjalan menuju pintu.

"Siap, Kak Nezha! Selamat istirahat!" Bylla melambaikan tangannya dengan keceriaan yang perlahan kembali ke wajahnya, meskipun masih ada sisa-sisa ketegangan di matanya.

Begitu pintu kamar 1104 tertutup rapat di belakangnya, Nezha berdiri sesaat di lorong apartemen yang sepi. Ia melirik lantai beton di bawah kakinya, memikirkan kardus misterius di kamar Bylla. Sebuah firasat samar melintas di benaknya, namun Nezha menggelengkan kepala cepat, menepis pikiran itu, lalu melangkah menuju tangga untuk pulang ke kamarnya sendiri.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!