Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Langkah di Belakang Pintu
Suara gedoran bertubi-tubi dari tangan Irmi membuat daun pintu kayu di lantai dua itu akhirnya bergetar, sebelum akhirnya terbuka dengan satu sentakan lambat dari dalam. Linda berdiri di ambang pintu dengan wajah yang kaku namun mencoba tetap tenang. Tangan kanan wanita berusia tiga puluh satu tahun itu memegang sebuah gelas kaca berisi air putih, sementara tangan kirinya tersembunyi di balik saku celana rumahannya. Kerah pakaian dasternya yang tinggi sengaja ditarik ke atas, menyembunyikan sisa malam jahanam yang baru saja ia lalui bersama Hino.
Linda menatap Irmi yang berdiri dengan napas memburu di depannya. Dosen sosiologi itu melemparkan senyuman miring yang sarat akan penghinaan. "Kau berisik sekali, Irmi. Suamimu itu hanya datang sebentar sebelum siang tadi untuk mengambil buku catatan toko yang tertinggal di atas meja koridor luar. Apa kehamilanmu membuat otakmu menjadi sekacau ini?"
"Jangan bohong kau, Linda!" jerit Irmi, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian lorong lantai dua. Jemarinya mencengkeram kusen pintu dengan erat hingga kukunya memutih karena menahan geram. "Aku bukan perempuan bodoh yang bisa kau kelabui dengan alasan berkas tokomu! Aroma tubuh Hino masih tertinggal jelas di tangga bawah! Kau pikir aku tidak tahu jenis perempuan kesepian sepertimu yang suka mengintai pria beristri dari atas sini?"
Linda tertawa sinis, langkah kakinya maju satu tahap hingga tubuh tingginya menekan posisi berdiri Irmi di ambang pintu yang sempit. "Rumah ini mungkin milikmu, Irmi... tapi suamimu, dia sudah tidak lagi sepenuhnya menjadi milikmu sejak kau membiarkan istri sahnya memeras tokomu di bawah. Jadi, berhentilah berakting seolah kau adalah satu-satunya penguasa di rumah ini, sebelum aku menekan tombol kirim pada ponselku malam ini."
Mendengar kata ponsel disebut, Irmi mendadak terbungkam. Bayangan tentang rekaman audio pertengkaran hebat antara Hino dan Erni yang dipegang Linda kembali menghantam rasa takutnya. Sebagai janda terhormat peninggalan mendiang pilot, Irmi tahu betul reputasi dua gerai minimarketnya bisa hancur digilas gosip warga kampung jika Linda nekat menyebarkan bukti digital tersebut ke ketua RT.
Namun, ketegangan dua wanita di depan pintu itu mendadak buyar saat suara gesekan sandal dari arah anak tangga merayap naik. Erni berjalan dengan langkah pelan namun pasti, menaiki satu per satu undakan tangga kayu. Daster katun barunya tampak sedikit kusut, dan sisa rasa pening akibat obat tidur semalam membuat tatapan matanya terlihat jauh lebih tajam dan dingin dari biasanya.
Erni berdiri di ujung lorong lantai dua, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Irmi dan Linda secara bergantian dengan pandangan penuh selidik yang tidak menyenangkan. "Jadi, sejak tadi kalian berdua sibuk meributkan suara rekaman dan nama suamiku di atas sini?"
Irmi menoleh cepat, mencoba menahan rasa malunya di hadapan Erni. "Masuk ke kamarmu di bawah, Erni! Ini urusanku dengan dosen ini, kau tidak usah ikut campur!"
"Tutup mulutmu, Irmi. Aku tidak sedang bicara denganmu," potong Erni dingin. Ia melangkah mendekati pintu kamar Linda, mengabaikan Irmi yang mulai gemetar menahan mual di perutnya. Erni menatap lurus ke arah wajah Linda. Saat Linda mencoba memalingkan muka untuk mempertahankan keangkuhannya, gerakan leher dosen itu membuat kerah dasternya yang longgar sedikit merosot ke bawah, memperlihatkan gurat kemerahan yang agak membengkak di pangkal kulit lehernya.
Mata Erni yang jeli langsung mengunci noda merah tersebut. Sebagai wanita yang sudah mendampingi Hino selama lima tahun, dia tahu betul bagaimana tanda yang ditinggalkan suaminya jika sedang meluapkan amarah di atas ranjang. Otak Erni langsung merangkai keanehan sejak pagi; dari rasa kantuknya yang tidak wajar, aroma parfum Hino, hingga leher bengkak sang dosen sore ini.
Sebuah tawa pendek yang sangat sinis lolos dari bibir Erni, membuat atmosfer di lorong lantai dua mendadak berubah mencekam.
"Aduh, Jeng Irmi... lihatlah baik-baik perempuan berpendidikan yang sedang mengancam tokomu ini," ucap Erni, suaranya mendayu-dayu namun terasa seperti tusukan paku di kuping Linda. Erni langkah satu senti lebih dekat, menunjuk tepat ke arah leher Linda yang memerah. "Dia billing Hino cuma mengambil berkas di atas meja. Tapi lihat bekas di lehernya itu. Jangan-jangan, sembari ponselnya merekam pertengkaran kita semalam, tubuhnya juga membiarkan suamiku naik ke kasurnya untuk membungkam mulut pintarnya?"
Irmi tersentak gila, matanya membelalak lebar menatap leher Linda dengan rasa cemburu yang langsung membakar seluruh isi dadanya. "Apa?! Linda... kau... kau membiarkan pria itu menyentuhmu di rumahku?!"
Wajah Linda mendadak berubah pias seketika, semburat merah menahan malu bercampur syok melintas di pipinya yang mulus. Gengsi tingginya sebagai seorang dosen berusia tiga puluh satu tahun runtuh berantakan dalam sekali hantam oleh tatapan telanjang dari istri sah yang bermental benalu tersebut.
"Jaga bicaramu, Erni! Jangan sembarangan melontarkan tuduhan rendah seperti itu!" seru Linda, suaranya meninggi, mulai kehilangan ketenangannya karena rahasia malam jahanamnya mulai terkelupas di depan lingkaran bawah rumah.
Erni justru kembali tertawa kencang, sebuah tawa lepas yang terdengar sangat menghina di sepanjang lorong lantai dua. Ia menekan posisi berdiri Linda hingga punggung sang dosen hampir membentur daun pintu kamarnya sendiri.
"Kami memang rendah di matamu, Bu Dosen. Yang satu hamil karena dinikahi siri demi uang toko, dan aku bertahan jadi benalu demi masa depan anakku," bisik Erni, suaranya terdengar begitu dekat dan nyata di depan wajah Linda yang mulai gemetar. "Tapi kau jauh lebih menjijikkan karena menyerahkan harga dirimu pada pria miskin beristri ganda di dalam kamar sewaanmu sendiri. Sekarang, silakan kirim rekaman ponselmu itu ke kampus atau ke ketua RT, Linda. Mari kita lihat, siapa yang akan lebih dulu diusir dan dipecat jika dewan etik tahu dosen mereka memelihara skandal ranjang bersama suami pembantu panggilan!"