Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Tumben kamu ngajakin Opa makan malam di luar? Biasanya kalau malam 'kan kamu paling males keluar, kecuali kalau teman-temanmu yang ngajakin nongkrong. Sekarang malah kamu ngajakin Opa," tanya Malik sambil mengemudikan mobilnya.
Tadi pria itu sedang bersantai di rumahnya, kebetulan dia juga belum makan malam. Biasanya Malik akan membelinya dari luar, kalau malas hanya goreng telur atau masak mie instan saja, tapi tiba-tiba saja Fajar menghubunginya dan mengajaknya makan di luar.
Awalnya pria itu berpikir jika tidak hanya berdua dengan Fajar saja. Dia pikir Laila dan Harun juga akan ikut, tapi lagi-lagi Fajar hanya keluar sendiri dan mengatakan jika opa dan omanya tidak akan pergi, hanya mereka berdua saja. Mungkin Fajar memang ingin membicarakan sesuatu rahasia dengan Malik. Pria tua itu pun hanya bisa mengikuti apa yang akan anak-anak ingin lakukan.
"Kalau Opa tidak mau 'kan bisa menolak tadi, kenapa Opa mau saja waktu aku ajakin keluar," sahut Fajar tanpa menoleh karena dirinya sedang berkirim pesan dengan Alif.
"Ya, nggak gitu juga maksud Opa. Tumben saja kamu ngajakin Opa. Justru Opa senang kalau kamu sering ngajak Opa keluar, setidaknya Opa tidak akan di rumah sendirian. Kamu sendiri Opa ajak tinggal di rumah Opa nggak mau, kamu malah milih tinggal di rumahnya Harun."
"Aku nggak mungkin ninggalin opa dan oma sendirian."
"Mereka 'kan berdua, beda sama Opa sendirian, tidak ada siapa pun."
"Makanya, Opa tuh seharusnya nikah, ngapain juga harus nungguin wanita yang sudah berkeluarga. Banyak wanita cantik malah dianggurin."
"Kenapa kamu lama-lama jadi nyebelin seperti Harun? Sudahlah, Opa tanya kenapa kamu ngajakin keluar malah bahas hal yang lainnya," sahut Malik dengan kesal.
Diam-diam Fajar menahan tawanya. Andai saja Malik tahu ke mana mereka akan pergi, pasti pria itu akan senang sekali. Dia memang sengaja tidak memberitahu pria tua itu agar menjadi kejutan untuknya.
Fajar juga tidak memberitahu kakek dan neneknya mengenai rencana ini. Nanti setelah pulang, Malik juga sendiri yang akan menceritakannya pada kakek dan neneknya. Jika berhasil tentunya. Jika tidak mungkin keinginan Malik harus dikubur dalam-dalam.
"Apa yang menurut Opa spesial dari Omanya Alif? Kenapa Opa lebih memilih tidak menikah selamanya dan pergi dari keluarga? Kalau Opa sudah menikah pasti sudah memiliki anak dan cucu, tapi Opa malah memilih hidup sendiri. Bukankah hidup sendiri itu sangat tidak enak? Opa juga sering kesepian 'kan?"
"Memang kamu benar, tapi setelah sekian lama Papa berusaha untuk melupakannya, justru bayangan itu semakin jelas. Opa sudah berusaha untuk membuka hati untuk wanita lain, tapi tidak bisa. Opa tidak mau menyakiti hati wanita lain karena di hati Opa masih ada nama seorang wanita yang selalu Opa cintai, sampai kapan pun."
"Jarang sekali ada orang yang begitu setia seperti Opa. Omanya Alif benar-benar beruntung dicintai Opa dengan begitu besarnya."
"Iya, tapi bukan berarti apa yang Opa lakukan itu pantas untuk ditiru. Kamu jangan ikut-ikutan Opa, ya! Kalau kamu nanti putus cinta cari yang baru."
"Tentu saja. Ngapain aku ngikutin jejak Opa. Rugi yang ada, bertahun-tahun hidup sendiri, nyatanya orang yang dicintai sudah bahagia dengan suaminya, bahkan punya anak dan cucu. Ya ... meskipun pada akhirnya suaminya meninggal juga, tapi setidaknya 'kan pernah merasakan cinta di usia muda dan mengarungi kehidupan berumah tangga."
"Kenapa kamu jadi mengejek Opa? Padahal niat Opa itu ingin menasehatimu, tapi kamu malah bilang seperti itu. Ayo, berani kamu bilang begitu lagi!"
"Bercanda, Opa, tapi apa yang aku katakan tadi bener 'kan? Opa seharusnya itu bisa menikmati indahnya berkeluarga. Bagaimana rasanya punya anak dan cucu seperti mantannya Opa itu."
"Sudahlah, kamu jangan banyak tanya. Kamu tidak tahu saja bagaimana rasanya cinta pada seseorang yang begitu dalam."
Fajar hanya mendengus saja. Namun, dalam hati dia cukup kagum dengan orang yang dipanggil opa itu. Jika orang lain mungkin sudah memiliki kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga. Padahal tidak sedikit yang mendekatinya, tapi Malik lebih memilih untuk bertahan dengan cinta lamanya.
Semoga saja omanya Alif mau kembali dengan Malik. Jika tidak, bukankah pengorbanan pak tua itu selama ini yang akan terasa sia-sia karena pada akhirnya tidak akan pernah bisa memiliki.
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍