Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sergapan Api Penyucian
Pintu kayu ek berukir di ruangan VIP nomor tujuh terbuka dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian.
Seorang pria tua berpakaian mewah yang merupakan manajer utama Paviliun Anggrek Hitam melangkah masuk sambil membawa sebuah nampan berlapis sutra emas.
Di atas nampan tersebut, terletak sebuah peti besi hitam yang masih memancarkan hawa dingin mematikan dari energi Yin purba.
Tangan pria tua itu bergetar hebat saat ia meletakkan peti besi itu ke atas meja batu giok di hadapan Lin Ye.
"T-Tuan Muda, ini adalah Mutiara Jiwa Neraka yang Anda menangkan dalam pelelangan barusan," ucap manajer itu dengan suara yang sangat gugup.
"Total transaksinya adalah dua juta keping batu spiritual tingkat menengah, sesuai dengan penawaran tertinggi Anda."
Lin Ye sama sekali tidak menoleh untuk menatap wajah pria tua yang sedang berkeringat dingin tersebut.
Ia hanya mengibaskan lengan jubah abu-abunya dengan sangat santai ke atas meja batu giok itu.
Seketika itu juga, sebuah cincin penyimpanan melesat keluar dan mendarat tepat di samping peti besi hitam.
"Di dalam cincin itu terdapat tepat dua juta keping batu spiritual tingkat menengah tanpa kurang satu keping pun," jawab Lin Ye dengan nada datar.
Manajer itu segera mengambil cincin penyimpanan tersebut dan memindai isinya dengan kesadaran spiritualnya yang lemah.
Matanya langsung terbelalak lebar saat melihat tumpukan batu spiritual yang menggunung layaknya sebuah bukit kecil di dalam ruang dimensi cincin tersebut.
"S-sempurna, Tuan Muda! Transaksi ini telah diselesaikan dengan sangat lancar dan tanpa masalah sedikit pun!" seru manajer itu sambil membungkuk dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai.
"Paviliun Anggrek Hitam akan selalu menyambut kedatangan Anda sebagai tamu kehormatan tingkat tertinggi kami di masa depan."
Lin Ye tidak menanggapi basa-basi murahan tersebut dan hanya melambaikan tangannya untuk mengusir manajer bawelan itu keluar dari ruangannya.
Pria tua itu segera mengerti isyarat tersebut dan mundur perlahan dari ruangan VIP nomor tujuh sebelum menutup pintu kayu ek itu rapat-rapat.
Kini, Lin Ye tinggal sendirian di dalam ruangan yang sunyi dan diisolasi oleh tirai manik-manik kristal pengacak aura.
Tatapan mata pemuda pucat itu langsung terkunci erat pada peti besi hitam yang memancarkan aura kematian sangat pekat di atas meja.
Ia mengulurkan tangan kanannya yang pucat dan menyentuh permukaan peti besi yang sedingin balok es abadi tersebut.
"Sistem, lakukan analisis mendalam terhadap struktur dan asal-usul Mutiara Jiwa Neraka ini," perintah Lin Ye di dalam benaknya.
Layar panel biru transparan seketika muncul dan memancarkan sinar pemindaian ke arah artefak kuno di dalam peti.
"Proses pemindaian sedang berlangsung, menembus lapisan segel besi dan menganalisis esensi Yin di dalam mutiara."
"Analisis selesai: Objek teridentifikasi sebagai Mutiara Hati Iblis Neraka, sebuah artefak tingkat Surga Kuno yang telah terdegradasi."
"Mutiara ini terbentuk dari kristalisasi air mata dan darah jutaan jiwa penasaran yang mati dalam Perang Kuno puluhan ribu tahun yang lalu."
"Di dalamnya terkandung Hukum Keputusasaan dan Energi Yin Absolut yang sangat murni."
"Sistem menyarankan agar inang segera memfusikan mutiara ini dengan Jenderal Darah Kutukan untuk memicu evolusi tingkat lanjut."
Mendengar laporan komprehensif dari sistem, ujung bibir Lin Ye melengkung membentuk senyuman iblis yang sangat menakutkan.
Benda ini ternyata jauh lebih berharga dan mengerikan daripada deskripsi konyol yang diberikan oleh juru lelang wanita tadi.
Sebuah artefak tingkat Surga Kuno, meskipun telah terdegradasi, memiliki kekuatan yang cukup untuk mengguncang seluruh fondasi Benua Awan Ilahi.
Lin Ye segera membuka tutup peti besi itu dan mencengkeram Mutiara Jiwa Neraka yang memancarkan cahaya hitam keunguan tersebut dengan tangan kosong.
Ribuan wajah hantu di dalam mutiara itu seketika menjerit histeris saat merasakan sentuhan dari Inti Yin Sempurna milik Lin Ye.
Energi kematian yang dipancarkan oleh tangan Lin Ye jauh lebih dominan dan menindas daripada energi yang ada di dalam mutiara tersebut.
Jiwa-jiwa purba di dalam benda itu langsung menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan manusia, melainkan dengan raja sejati dari alam baka.
"Keluarlah, Jenderal Darah Kutukan," panggil Lin Ye dengan suara yang sangat rendah dan menggetarkan udara di dalam ruangan.
Dari dalam bayangan di bawah kaki Lin Ye, pusaran darah kental yang sangat pekat dan berbau anyir meledak keluar.
Sosok raksasa berzirah merah karat yang dipenuhi ukiran wajah penderitaan bangkit berdiri di hadapan tuannya.
Jenderal Darah Kutukan itu menundukkan kepalanya yang tertutup helm besi tanpa mata dengan penuh rasa hormat dan ketundukan mutlak.
"Ambil mutiara ini dan jadikan sebagai inti jantung barumu," perintah Lin Ye sambil menyodorkan Mutiara Jiwa Neraka ke arah dada sang jenderal.
Jenderal raksasa itu tidak ragu sedikit pun, ia meraih mutiara kuno itu dengan tangan kirinya yang berlapis zirah logam tajam.
Ia kemudian menancapkan Mutiara Jiwa Neraka itu secara brutal tepat ke bagian tengah pelat dadanya sendiri, menembus lapisan urat darah kental di baliknya.
Seketika itu juga, sebuah ledakan energi Yin berwarna ungu kehitaman menyapu seluruh ruangan VIP nomor tujuh.
Jika bukan karena Lin Ye yang dengan cepat menciptakan kubah pelindung dari Inti Yin Sempurnanya, ledakan itu pasti sudah menghancurkan seluruh bangunan Paviliun Anggrek Hitam.
Tubuh Jenderal Darah Kutukan bergetar sangat hebat, urat-urat darah di tubuhnya menyerap energi ungu dari mutiara tersebut dengan sangat rakus.
Zirah logam berkaratnya perlahan berubah warna menjadi hitam keunguan yang mengkilap dan memancarkan cahaya rune kutukan kuno yang mematikan.
Pedang gergaji mesin di tangan kanannya berevolusi menjadi lebih besar, dengan gigi-gigi gergaji yang kini terbakar oleh api roh berwarna ungu gelap.
"Sistem melaporkan: Fusi Mutiara Hati Iblis Neraka berhasil dilakukan dengan tingkat kesempurnaan mutlak."
"Jenderal Darah Kutukan telah berevolusi menjadi Jenderal Iblis Neraka Darah."
"Kultivasi bawahan telah meningkat menembus puncak Alam Pembentukan Inti dan mencapai ambang batas Alam Jiwa Baru Lahir."
Lin Ye tertawa pelan melihat perubahan wujud yang sangat mengerikan dan mengintimidasi dari senjata pembunuh barunya ini.
"Sangat sempurna, ini adalah persiapan yang sangat manis sebelum kita menghadiri pesta penyambutan yang diadakan oleh anak anjing berambut merah itu," gumam Lin Ye.
Ia memerintahkan sang Jenderal Iblis Neraka Darah untuk kembali ke dalam bayangannya, menutupi seluruh aura mematikan yang baru saja tercipta.
Lin Ye mengambil kembali caping bambunya, mengenakannya untuk menutupi sebagian wajah pucatnya, dan melangkah keluar dari ruangan VIP tersebut.
Ia menuruni tangga Paviliun Anggrek Hitam tanpa ada satu pun orang yang menyadari bahwa monster paling mematikan di benua ini baru saja lewat di sebelah mereka.
Malam telah sepenuhnya turun menyelimuti Kota Angin Merah saat Lin Ye melangkah keluar dari pintu utama paviliun lelang tersebut.
Lampu-lampu lampion berwarna merah dan kuning menghiasi sepanjang jalanan kota, menciptakan pemandangan malam yang sangat indah dan hidup.
Namun bagi Lin Ye, semua keindahan duniawi ini hanyalah ilusi rapuh yang suatu saat nanti akan ia hancurkan hingga menjadi debu.
Langkahnya meluncur dengan sangat tenang menuju ke arah gerbang utama kota yang mengarah ke wilayah perbukitan tandus di selatan.
Beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengannya tanpa sadar menyingkir dan merinding kedinginan saat merasakan hawa yang berhembus dari jubah abu-abu pemuda itu.
Lin Ye sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh mereka dan terus berjalan hingga ia akhirnya melewati lorong gelap gerbang kota.
Angin malam di luar tembok Kota Angin Merah berhembus jauh lebih kencang dan membawa debu pasir kering yang berterbangan liar.
Pemandangan di luar kota sangat sepi dan terpencil, hanya ada jalanan tanah berbatu yang membelah lembah curam di antara dua bukit tandus.
Bulan purnama yang bersinar terang di atas langit malam memberikan satu-satunya sumber cahaya yang menyinari jalanan mati tersebut.
Lin Ye terus berjalan menembus lembah berbatu itu sekitar lima mil jauhnya dari tembok kota, seolah-olah ia benar-benar seorang musafir bodoh yang tidak takut mati.
Tiba-tiba, suhu udara di sekeliling lembah itu melonjak naik dengan sangat drastis dan ekstrem.
Sebuah dinding api setinggi sepuluh meter yang berwarna merah darah meledak dari dalam tanah, memotong jalan tanah berbatu tepat di depan langkah Lin Ye.
Hawa panas yang menyengat langsung membakar rumput-rumput liar di sekitar dinding api tersebut menjadi abu hitam dalam hitungan detik.
Dari balik kobaran api yang menari-nari liar itu, tiga sosok manusia melangkah maju membelah tirai api dengan sangat angkuh.
Di posisi paling depan, berdirilah Gao Chen, putra mahkota Sekte Api Penyucian yang mengenakan jubah merah api dengan senyuman yang sangat merendahkan dan kejam.
Di sisi kiri dan kanannya, berdiri dua orang pengawal tua yang memancarkan tekanan aura mengerikan dari tahap awal Alam Pembentukan Inti.
Kedua pengawal itu memegang pedang besar yang bilahnya terbakar oleh api spiritual, memancarkan niat membunuh yang mengunci setiap pergerakan Lin Ye.
"Akhirnya kau muncul juga, tikus tanah pengecut," sapa Gao Chen dengan suara lantang yang menggema memantul di dinding tebing lembah.
"Aku sempat berpikir bahwa kau akan bersembunyi di dalam pelukan pelacur Paviliun Anggrek Hitam selama sisa hidupmu karena takut berhadapan denganku."
Lin Ye menghentikan langkahnya tepat lima meter dari dinding api yang berkobar panas itu, ekspresinya di balik caping bambu sama sekali tidak berubah.
Ia menatap Gao Chen dengan pandangan yang sama seperti saat ia melihat seonggok sampah yang menghalangi jalannya.
"Kau membuang waktuku dengan membuat api unggun murahan di tengah jalan ini hanya untuk menyapaku?" tanya Lin Ye dengan nada suara yang sangat bosan dan datar.
Kata-kata Lin Ye yang tidak terduga dan sangat meremehkan itu seketika membuat wajah arogan Gao Chen berkerut menahan amarah yang meledak.
Sebagai putra mahkota dari sekte raksasa yang menguasai wilayah selatan, belum pernah ada satu orang pun yang berani merendahkan elemen apinya.
"Kau benar-benar tidak tahu arti kata takut, dasar anjing rendahan yang tidak tahu diuntung!" raung Gao Chen sambil menunjuk wajah Lin Ye.
"Serahkan cincin penyimpananmu sekarang juga, berikan mutiara itu kepadaku, dan bersujudlah seratus kali hingga kepalamu berdarah!"
"Jika kau melakukan semua itu dengan patuh, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk hanya memotong keempat anggota tubuhmu dan membiarkanmu hidup sebagai pengemis buta!"
Ancaman sadis itu diucapkan dengan sangat bangga oleh Gao Chen, seolah-olah ia sedang memberikan sebuah kemurahan hati yang sangat besar kepada Lin Ye.