Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Siri
Jam lima sore aku sudah sampai di rumah, tapi aku agak heran karena di depan sudah ada sepeda motor milik Dimas. Sepertinya dia datang hanya untuk mencari gara‑gara, dan tanpa rasa malu dia datang bersama Sintia, wanita simpanannya yang selalu menempel di lengannya.
Dengan malas aku turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu aku melihat pemandangan yang tidak pantas dilakukan orang yang baru saja bertamu.
“Tidak malu kalian berbuat begitu di rumah orang? Belum cukup hukuman semalam?” seruku mengagetkan pasangan yang sedang berciuman itu.
Betapa beraninya Dimas dan Sintia berciuman di ruang tamuku. Di mana rasa malu mereka?
“Katakan saja kalau kau iri,” cibir Sintia sambil menutup kembali kancing bajunya yang terbuka.
Dimas pun merapikan penampilannya dan menutup ritsleting celananya yang sempat diturunkan oleh Sintia. Sudah satu jam mereka menungguku, sehingga untuk menghilangkan rasa bosan mereka saling menyentuh. Sungguh tidak tahu malu.
“Siapa yang memberi izin kalian masuk ke rumahku tanpa sepengetahuanku? Kalian mau mencuri?” seruku sambil meninggikan suaraku.
“Hana! Jangan berlebihan, aku juga punya hak atas rumah ini. Apa kau lupa rumah ini hadiah dari Kak Farhan, dan rumah ini ada saat kau menjadi istriku. Jangan serakah ingin memiliki semuanya, bahkan mobil yang kau pakai pun ada hakku di sana,” jawab Dimas kembali mempersoalkan harta yang kumiliki.
Aku hanya bisa tertawa lebar mendengar ucapannya. Rumah, mobil? Apa lagi yang akan diklaim Dimas?
Aku tidak pernah menyangka selama ini aku menikah dan memelihara ular berbisa di rumahku sendiri.
“Sudah berapa kali aku katakan, kau dan keluargamu tidak punya hak sedikit pun atas apa yang kumiliki. Semua ini milikku, dan tidak akan ada sepeser pun uangmu di sini. Tapi jika kau memaksa, silakan saja sewa pengacara untuk memenangkan apa yang kau inginkan saat sidang perceraian nanti,” tantangku pada Dimas.
“Aku tidak akan menceraikanmu, Hana. Sampai sekarang kau masih istri sahku dan harus taat pada suamimu. Jangan durhaka, Hana, surga itu di bawah telapak kaki suami. Apa kau mau masuk neraka karena tidak patuh padaku?” balas Dimas sambil meninggikan suaranya.
Bik Jamilah yang ada di dapur pun segera mendekat untuk memastikan aku aman. Dia masih di rumahku dan baru akan pulang setelah makan malam.
“Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Dimas. Urusan surga dan neraka itu hakku, lihatlah dirimu sendiri sebelum menilai orang lain. Suami seperti apa yang harus aku taati?” jawabku dengan tegas.
“Kurang ajar kau, Hana! Semua gara‑gara kau aku sampai dipecat!” teriak Dimas sambil mengangkat tangannya ke atas.
“Jangan sentuh adikku!” teriak seseorang yang baru saja datang.
Dimas pun menurunkan tangannya yang terangkat di depanku, dan wajahnya tiba‑tiba pucat saat melihat siapa yang datang.
“Kak Farhan,” seruku bersamaan dengan Dimas.
“Dasar orang yang membawa sial,” gumam Sintia pelan.
Baik Dimas maupun Sintia tidak ada yang tahu kalau Kak Farhan orang kaya. Yang mereka tahu hanyalah dia petani yang memelihara beberapa ekor sapi dan tinggal di rumah warisan orang tua yang sudah tua. Begitulah yang mereka ketahui saat dia datang melamarku dan saat pernikahanku dengan Dimas.
“Sekali lagi tangan kotormu itu menyentuh adikku, aku pastikan tanganmu akan putus,” seru Kak Farhan dengan suara lantang.
Melihat Dimas bersuara kasar dan mengucapkan kata‑kata yang tidak pantas didengar anak‑anak, Muri segera membawa Agung masuk ke kamar, tanpa peduli kamar siapa itu, dia langsung masuk saja.
Aku pun mendekati Kak Farhan, dan dia langsung memelukku erat. Adik yang selama ini dia sayangi kini disakiti oleh suami yang sebentar lagi akan berubah statusnya.
“Hana, kenapa tidak pernah bercerita padaku? Apakah kau sudah tidak menganggapku kakakmu lagi?” tanya Kak Farhan sambil memelukku.
“Maafkan aku, Kak. Aku hanya tidak ingin Kakak memikirkan masalahku,” jawabku pelan.
“Kau kira aku tidak akan tahu kalau kau menderita seperti ini? Aku malah semakin cemas. Sekarang masuklah ke kamar, biar aku yang mengurus dua orang yang tidak tahu malu ini,” ujar Kak Farhan.
Aku mengangguk pelan lalu masuk ke kamar, meninggalkan Dimas dan Sintia berhadapan dengan Kak Farhan.
Dimas menunduk dalam, sedangkan Sintia tersenyum sinis.
“Maaf,” ucap Dimas pelan.
“Maaf? Orang sepertimu tidak pantas dimaafkan, kelakuanmu sudah seperti binatang. Kalau bukan karena Hana, mungkin aku sudah membunuhmu,” jawab Kak Farhan sambil mencengkeram lengan Dimas.
“Dasar orang miskin! Lepaskan tanganku, datang‑datang malah bikin keributan,” makian Sintia pada Kak Farhan.
“Kau berani menghinaku? Kau yang sebenarnya iri hati. Aku tidak mau bertengkar dengan wanita, jadi diamlah sebelum aku menutup mulutmu dengan bantal itu,” ancam Kak Farhan sambil menunjuk ke arah bantal di kursi.
Sintia hanya bisa menelan ludah dan diam saat Kak Farhan menatapnya tajam.
“Pergilah!” seru Kak Farhan.
“Beri aku kesempatan untuk menjelaskan,” coba Dimas memohon.
Namun yang menjawab bukan kata‑kata, melainkan dua pukulan keras yang mendarat tepat di wajah Dimas.
“Pergi atau aku seret kalian ke kantor polisi!” seru Kak Farhan lagi.
Tanpa berani membantah, Dimas segera mengajak Sintia pergi. Akhirnya kedua orang yang tidak tahu malu itu pun meninggalkan rumahku.
“Apakah kau sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, Hana?” tanya Kak Farhan.
“Sudah, Kak. Sehari sebelum keributan itu aku sudah mendaftarkannya. Mungkin sekitar dua minggu lagi surat panggilan sidang akan sampai ke sini. Dimas belum mengetahuinya,” jawabku jujur.
“Bagus, semakin cepat semakin baik. Di mana mereka tinggal sekarang?” tanya Kak Farhan.
“Aku tidak tahu, Kak. Semalam aku sudah mengusir mereka, sepertinya mereka tinggal di perumahan sebelah, di sana banyak rumah kontrakan,” jawabku lagi.
Kak Farhan hanya menghela napas panjang, kasihan melihat nasib pernikahanku yang hanya bertahan tiga tahun. Untunglah aku belum punya anak, jadi tidak ada anak yang menjadi korban perceraian orang tuanya.
Malam itu di kontrakan Dimas, Ketua RT setempat bersama dua warga datang ke tempat mereka. Mereka hanya ingin memastikan apakah benar Dimas dan Sintia yang terlihat dalam video yang menyebar semalam.
Setelah dipastikan benar, Ketua RT memberi syarat: Dimas dan Sintia harus segera menikah, karena mereka tidak mengizinkan ada pasangan pezina tinggal di lingkungan mereka.
Akhirnya malam itu juga Dimas dan Sintia resmi menjadi suami istri. Itulah yang selama ini diinginkan Sintia, silakan saja nikmati suami pengangguran itu. Apakah Sintia sanggup bertahan hidup bersama Dimas? apakah dia akan meninggalkan Dimas?
“Kalian sudah sah menjadi suami istri, saya harap kalian jangan bikin ulah di komplek ini. Jika kalian berulah warga tidak segan‑segan untuk mengusir kalian.” Ucap pak Rt dengan tegas.
“Iya pak.” Jawab Dimas singkat.
“Akhirnya komplek ini terbebas dari pezina. Tapi hati‑hati bu ibu, jaga suami kita baik‑baik agar tidak diganggu sama wanita murahan ini. Adik ipar yang sudah beristri saja bisa dia rebut, padahal statusnya adik dari suaminya loh. Bagaimana dengan kita yang cuma orang lain. Hhiiihhh takut.” Seru salah satu ibu‑ibu.
“Jangan hina menantuku, dasar rakyat jelata miskin. Bisanya cuma gosip terus.” Ucap ibu Sundari dengan gaya angkuhnya.
“Ibu‑ibu, sudah cukup. Jangan buat keributan, lebih baik sekarang kita semua pulang dan beristirahat.” Ucap pak Rt menengahi keributan yang hampir terjadi.
Para ibu‑ibu bersorak, mereka menyoraki ibu Sundari sebagai bentuk kekesalan mereka terhadap ibu Sundari yang sombong dan angkuh. Dia lupa, saat ini sudah tidak ada lagi Hana yang akan memberikan uang bulanan. Dan Dimas pun seorang pengangguran.