Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN ES DAN CANGKUL BUMI
Suasana di dalam Stadion Kuarsa Putih pada pagi hari babak enam belas besar terasa seratus kali lebih menekan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi celoteh riuh dari penonton kasta rendah; tribun kini dipenuhi oleh para bangsawan kota, saudagar kaya, serta para tetua dari berbagai sekte terhormat. Arena kuarsa di tengah stadion kini telah dilapisi oleh formasi pelindung sihir transparan yang memancarkan pendaran biru tipis—sebuah tindakan pengamanan ekstra karena kekuatan para petarung di babak utama ini jauh lebih merusak.
Zei berjalan menyusuri lorong pemain dengan jubah rami cokelatnya yang telah dibersihkan oleh A-Lang, meskipun sisa-sisa robekan semalam masih menyisakan bekas jahitan yang kasar. Di sisinya, A-Lang berjalan dengan wajah tegang, sesekali melirik ke arah tribun kehormatan. Tetua Gu sendiri memilih untuk membaur di antara kerumunan penonton, mengawasi murid rahasianya dari kejauhan.
Di tengah stadion, sebuah papan pengumuman dari batu kuarsa raksasa mulai berputar, mengacak nama-nama peserta untuk menentukan bagan pertandingan. Detik berikutnya, batu tersebut berhenti bergerak, memancarkan sepasang nama dalam gumpalan cahaya emas.
Zei (Petarung Mandiri) melawan Han Ba (Sekte Taring Besi).
"Sialan, takdir benar-benar mempermainkan kita," umpat A-Lang dengan suara tertahan.
Han Ba bukan sekadar petarung bayaran seperti Gao. Dia adalah murid senior nomor satu di Sekte Taring Besi, seorang jenius lokal yang kultivasi Qi logamnya sudah berada di puncak tingkat Bumi, hanya selangkah lagi untuk menembus tingkat Langit. Han Ba dikirim secara khusus oleh Master Sektenya dengan satu perintah mutlak: mengeksekusi Zei di depan publik untuk mengembalikan harga diri sekte mereka yang telah diinjak-injak.
GONGGG!
Zei melangkah mantap menembus formasi pelindung sihir, memasuki arena yang dingin. Di seberangnya, Han Ba sudah menunggu. Pemuda kota itu bertubuh tegap dengan rahang kokoh, mengenakan zirah hitam legam berkilau. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tombak berat berhulu baja yang memancarkan aura dingin yang sangat tajam.
"Kau telah membuat kesalahan besar karena tidak melarikan diri dari kota ini semalam, Anak Sawah," ucap Han Ba, suaranya bergetar oleh kebencian yang mendalam. "Hari ini, darahmu akan membersihkan noda yang kau tinggalkan pada nama sekte kami."
Zei tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengambil posisi kuda-kuda rendah, menancapkan kedua telapak kakinya ke atas kuarsa. Di dalam tubuhnya, khasiat Pil Pemurni Sumsum Bumi dari Qian Yue’er semalam telah menyatu sempurna dengan dantiannya. Aliran Qi tanah di dalam tubuh Zei kini terasa jauh lebih padat, bergejolak seperti magma yang siap meledak di bawah permukaan bumi.
Begitu gong tanda dimulai berbunyi, Han Ba langsung melesat. Berbeda dengan Gao yang mengandalkan kekuatan kasar, gerakan Han Ba sangat taktis dan presisi. Tombak bajanya berputar, menciptakan badai tusukan yang memancarkan riak energi logam yang tajam berbentuk taring-taring serigala.
CRASH! CRASH! CRASH!
Zei mengaktifkan Sisik Naganya untuk menahan gempuran tersebut. Namun, setiap kali ujung tombak Han Ba menghantam pertahanan kulitnya, energi logam tajam milik Han Ba berhasil menembus lapisan luar dan menggetarkan organ dalamnya. Zei dipaksa mundur berulang kali, langkah kakinya terseret hingga ia nyaris menyentuh tepi garis formasi pelindung arena. Penonton dari kalangan sekte kota mulai bersorak, mengira kejutan dari sang petani desa telah berakhir di tangan sang murid elit.
"Kau hanya kura-kura yang menunggu cangkangnya pecah!" raung Han Ba, memusatkan seluruh Qi logamnya ke ujung tombak hingga senjatanya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Ia melompat ke udara, menghujamkan tombaknya lurus ke arah dada Zei dengan kekuatan penuh.
Di ambang batas kekalahan itu, mata Zei mendadak terbuka lebar. Alih-alih merasa panik, ia merasakan ketenangan yang luar biasa mengalir dari sumsum tulangnya—berkat pemurnian pil semalam. Teknik Bumi Bergeser kini telah berevolusi dari sekadar taktik menjadi bagian dari insting alaminya.
Zei tidak menghindar. Tepat saat mata tombak Han Ba berada satu inci dari dadanya, Zei menghentakkan kedua tumitnya secara bersamaan ke lantai arena.
WUSH!
Struktur kuarsa di bawah mereka tidak lagi melunak menjadi lumpur, melainkan bergerak naik secara instan membentuk sepasang tangan batu raksasa yang mencuat dari lantai arena. Tangan batu itu mencengkeram poros tombak baja Han Ba di udara, mengunci momentum serangannya dalam sekejap mata.
"Apa?!" Han Ba terkejut mendapati senjatanya tertahan kokoh di udara oleh struktur arena itu sendiri.
Sebelum Han Ba sempat melepaskan senjatanya, Zei sudah merangsek maju. Menggunakan gerakan melingkar yang meniru teknik "membalik tanah sawah dengan cangkul", Zei mencengkeram poros tombak dengan tangan kosong dan memutarnya dengan kekuatan masif. PRAKK! Poros baja tebal itu patah menjadi dua bagian.
Han Ba terbelalak horor, namun ruang geraknya sudah habis. Zei melepaskan pukulan Membajak Bumi beruntun yang kini telah dilapisi oleh getaran energi tanah murni tingkat tinggi. Tinju kanan Zei melesat lurus, menghantam tepat di tengah pelindung dada zirah hitam Han Ba.
GEBUMMM!
Hantaman itu begitu kuat hingga menghasilkan gelombang kejut yang menggetarkan seluruh formasi pelindung stadion. Zirah hitam legam milik Han Ba hancur total, hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam yang berterbangan. Tubuh Han Ba terlempar horizontal seperti peluru, menghantam dinding formasi pelindung sihir dengan sangat keras sebelum akhirnya jatuh terjerembab ke lantai, pingsan seketika dengan darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.
Stadion megah itu seketika hening mencekam untuk ketiga kalinya. Murid elit nomor satu Sekte Taring Besi tumbang dalam satu kombinasi serangan tangan kosong oleh seorang anak desa. Di tribun VIP, Master Sekte Taring Besi berdiri dari kursinya dengan wajah yang sangat merah padam oleh amarah; cangkir giok di tangan kanannya hancur menjadi debu halus karena tekanan emosinya yang tak terkendali.
Wasit turnamen menelan ludah dengan susah payah sebelum mengangkat tangannya. "Pemenang... Zei dari Desa Danau Keruh!"
Gemuruh sorak-sorai penonton kasta rendah di bagian belakang tribun meledak, merayakan kemenangan sang petani. Zei berdiri di tengah arena, napasnya teratur, menatap puing-puing zirah logam yang berserakan di sekitarnya.
Namun, perhatian seisi stadion mendadak teralih ketika papan kuarsa raksasa kembali berputar, memunculkan nama peserta untuk pertandingan berikutnya.
Qian Yue’er (Sekte Cendrawasih) melawan Lin Ran (Sekte Pedang Hijau).
Suasana stadion kembali bergemuruh menyambut nama sang dewi kota. Qian Yue’er perlahan bangkit dari kursi singgasana VIP-nya. Jubah putih murninya berkibar anggun tertiup angin buatan stadion, memancarkan pesona dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
Sebelum melangkah turun menuju tangga arena, Qian Yue’er menghentikan langkahnya sejenak. Ia memutar tubuhnya, mengarahkan sepasang mata indahnya yang sedingin es lurus ke arah Zei yang masih berdiri di atas panggung kuarsa dengan jubah rami cokelatnya. Tatapan itu tidak lagi penuh misteri; itu adalah sebuah tantangan terbuka dari sang pemilik langit. Seolah-olah ia sedang berkata: 'Kau telah menunjukkan kekuatan bumimu, sekarang lihatlah tarian langitku.' Zei mengepalkan tinjunya, menatap balik sang dewi dengan binar mata yang menyala-nyala.