NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17. Nyaris Khilaf

Habibah menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh sisa kekuatan di dalam tubuhnya yang masih ringkih. Ia menegakkan punggung, lalu meletakkan cangkir teh manisnya ke atas meja dengan gerakan yang sengaja dibuat sepadat mungkin, seolah ingin memamerkan bahwa jemarinya tidak lagi sebergetar tadi.

"Mas Imam, lihat aku," ujar Habibah, suaranya melembut namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan. Ia memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata Imam. "Aku benar-benar sudah baik-baik saja. Demamku sudah turun semalam berkat sup jahe dari Rayhan."

Imam masih bergeming di tempatnya berdiri, tatapannya belum beralih dari garis-garis kelelahan yang masih samar di wajah wanita itu.

Sebuah senyum tipis, senyuman getir yang penuh bumbu kemandirian seorang wanita paruh baya, terukir di bibir Habibah. "Lagipula, Mas... sudah belasan tahun sejak ayahnya Rayhan meninggal dunia. Sejak Mas Baskoro tiada, aku sudah terbiasa mengurus segalanya sendirian. Sakit, sehat, mencari nafkah, mendidik Rayhan... aku lalui semua tanpa bersandar pada bahu laki-laki mana pun. Aku sudah ditempa untuk menjadi wanita yang kuat. Jadi, untuk urusan lemas karena masuk angin seperti ini, aku pasti bisa mengatasinya sendiri."

Deg.

Kalimat Habibah yang bermaksud untuk menenangkan itu, justru menghantam ulu hati Imam dengan rasa nyeri yang luar biasa.

Sudah menjadi kuat karena terbiasa sendirian.

Kata-kata itu bergema di telinga Imam, merobek ego kelelakiannya. Imam mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana kainnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa sesak yang bergemuruh hebat di dalam dadanya. Saat Habibah menceritakan betapa beratnya berjuang sendirian selama belasan tahun menjanda, di situlah nalar sehat Imam mendadak menjadi abu.

Detik itu juga, ingin rasanya Imam menjadi pria yang paling egois di dunia.

Ingin rasanya ia mengabaikan semua aturan rumah kontrakan ini. Ingin rasanya ia menarik kursi di hadapan Habibah, menggenggam kedua tangan lemas itu, dan berkata bahwa Habibah tidak perlu lagi menjadi kuat sendirian. Imam ingin berteriak egois pada takdir, menuntut haknya sebagai laki-laki yang seharusnya mendampingi Habibah sejak tiga puluh tahun lalu.

‘Persetan dengan status calon besan, persetan dengan sisa kontrak rumah ini.’ bisik sisi gelap dan egois di kepala Imam yang sedang terbakar asmara masa tua. Ia ingin egois menjaga Habibah, memanjakannya, dan menggantikan belasan tahun, tahun-tahun sepi yang dilalui wanita itu dengan sisa umur yang ia miliki.

Jarak mereka yang hanya terpisah satu meter terasa begitu menyiksa. Imam memajukan langkahnya satu tapak, membuat tubuh tegapnya kini berada sangat dekat dengan meja makan. Tatapan matanya menggelap, sarat akan gejolak rasa yang sudah berada di ambang batas pertahanan.

"Bah..." suara Imam berubah parau, berat, dan terdengar begitu berbahaya bagi pertahanan hati Habibah. "Kamu tahu? Ucapanmu barusan justru membuatku tidak ingin melangkah keluar dari pintu rumah ini. Kamu bilang kamu sudah kuat karena terbiasa sendirian... tapi pernahkah kamu berpikir, seberapa tersiksanya aku diluar sana, tahu wanita yang kupuja seumur hidupku harus menanggung semuanya sendirian tanpa bisa aku peluk dan aku bantu?"

Habibah menahan napas, dadanya berdegup gila-gilaan melihat sorot mata Imam yang mendadak penuh dengan tuntutan keegoisan seorang pria dewasa. Semburat merah kembali naik ke pipinya, melunturkan sisa-sisa wajah pucatnya akibat sakit sejak kemarin.

Suasana di ruang makan itu mendadak menjelma menjadi ruang hampa udara. Pancaran sinar matahari pagi yang menerobos dari celah jendela seolah tidak lagi mampu mengusir ketegangan yang kian menebal di antara mereka berdua.

Habibah tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada satu kata pun yang sanggup lolos dari tenggorokannya. Kalimat Imam barusan melucuti seluruh perisai kemandirian yang selama puluhan tahun ini ia bangga-banggakan di depan anaknya.

Melihat Habibah yang hanya diam dengan napas yang mulai memburu, keegoisan Imam benar-benar berada di titik puncak. Nalar dan logikanya sebagai pria paruh baya yang terpandang seketika lumpuh.

Imam mengulurkan tangan kanannya, bergerak perlahan namun pasti menangkup punggung tangan Habibah yang berada di atas meja. Kulit mereka kembali bersentuhan hangat, pasrah, dan sarat akan kerinduan yang teramat sangat. Kali ini, Habibah tidak menolak. Jemari lemasnya justru bergetar hebat di bawah kekuasaan telapak tangan Imam yang kokoh.

"Mas Imam..." lirih Habibah, suaranya serak, matanya yang berkaca-kaca menatap Imam dengan pandangan yang campur aduk antara takut, bersalah, namun juga mendamba kehangatan yang sama.

Imam tidak tahan lagi. Ia melangkah memutari meja makan, mengikis jarak satu-satunya yang tersisa di antara mereka. Pria itu membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga Habibah bisa merasakan embusan napas hangat Imam yang beraroma kopi menyapu permukaan kulit pipinya.

Kedua mata mereka saling mengunci. Di dalam manik mata Imam, Habibah melihat pantulan dirinya yang rapuh, sementara di mata Habibah, Imam melihat seorang pria kesepian yang sedang mengemis sisa cinta masa mudanya. Tangan Imam yang lain perlahan terangkat, naik menyentuh sisi wajah Habibah, mengusap lembut pipi wanita itu dengan ibu jarinya yang kasar.

Waktu seolah berhenti berputar. Debaran jantung di dada mereka berdua berdentum begitu keras, bersahutan, mengalahkan akal sehat. Wajah Imam kian merapat, menunduk perlahan menuju bibir pucat Habibah yang bergetar. Habibah memejamkan matanya, cengkeraman jemarinya pada kain khimarnya mengencang, pasrah pada ketertarikan magnetis yang siap meruntuhkan seluruh kehormatan mereka sebagai calon besan pagi itu. Tinggal hitungan sentimeter lagi sebelum bibir mereka bertemu, sebelum mereka benar-benar melompati batas takdir yang terlarang.

Kringgg! Kringgg!

Suara dering nyaring dari ponsel milik Imam yang tergeletak di atas meja ruang tengah mendadak memecah keheningan dengan begitu brutal.

Suara itu seperti sebuah hantaman palu godam yang seketika merobek atmosfer intim di antara mereka. Habibah tersentak kencang, matanya terbuka lebar dengan binar kepanikan yang luar biasa. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Imam dan menggeser kursinya mundur hingga menimbulkan suara decit yang keras di atas lantai tegel.

"A-astagfirullahaladzim..." bisik Habibah dengan bibir bergetar hebat, wajahnya yang tadi merona merah seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, badannya gemetar menyadari betapa dekatnya mereka dengan jurang kekhilafan barusan.

Imam pun membeku di tempatnya berdiri, tangannya masih menggantung di udara. Dadanya naik turun memburu napas. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke bumi. Pria paruh baya itu memejamkan mata erat-erat, merutuki dirinya sendiri yang nyaris saja kehilangan akal sehat dan merusak segalanya demi pemuasan ego masa lalu.

"Astagfirullah..." gumam Imam parau, suaranya terdengar sangat bersalah dan penuh penyesalan. Ia mundur dua langkah, menjauhkan tubuhnya dari Habibah.

Ponsel di ruang tengah masih terus berdering dengan gigih. Imam membalikkan badannya dengan kaku, melangkah cepat menuju ruang tengah untuk menyambar ponselnya tanpa berani melirik Habibah lagi. Di layar tertera nama "Hendra".

Imam menarik napas sedalam-dalamnya, mencoba menstabilkan suaranya yang terguncang hebat sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Hen... Iya, ini aku jalan ke kantor sekarang."

Sementara di meja makan, Habibah langsung bangkit berdiri dengan lutut yang lemas luar biasa. Tanpa menengok ke belakang, ia setengah berlari masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kayu itu dengan rapat, dan langsung menguncinya dari dalam. Habibah menyandarkan punggungnya di balik pintu, merosot duduk di lantai sambil menangis tanpa suara, merutuki hatinya yang ternyata masih begitu lemah di hadapan Imam.

****

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!