Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bab 14
Ayu yang berada di samping Rian ikut berteriak memprovokasi dengan wajah sinis, "Iya, Mas Rian! Hajar saja si miskin itu! Berani-beraninya dia melotot sama Mas Rian!"
Bagi Ayu. Pria gak modal, miskin, dan penyakitan kayak Bima itu sangat menjijikan. Dia ogah banget punya cowok kayak gitu. Dia adalah hama desa! Patut mati!
Mendengar perintah bosnya, lima orang pemuda berandalan yang membawa balok kayu dan celurit langsung merangsek maju, mencoba mengepung Bima.
Para bawahannya tersenyum dan tertawa dengan jumlah yang sebanyak ini
Mereka mengira kemenangan jumlah akan membuat Bima bertekuk lutut seperti biasanya.
"Mampus kamu, bocah gila!" teriak salah satu preman sambil mengayunkan balok kayu tebal tepat ke arah kepala Bima.
Wusss!
Gerakan itu di mata Bima terasa teramat sangat lambat. Tanpa berkedip, Bima mengangkat tangan kirinya dan langsung menangkap balok kayu tersebut dengan telapak tangan kosong.
Krakkk!
Hanya dengan satu remasan jari-jari kekar Bima yang dialiri energi Mustika Hijau, balok kayu yang keras itu langsung hancur terbelah menjadi serpihan kayu yang berhamburan di udara. Pemuda yang memegangnya langsung melotot syok, namun belum sempat dia berteriak, sebuah tendangan lurus dari kaki Bima mendarat telak di dadanya.
Bughhh! Tasss!
Tubuh preman itu melesat terbang sejauh lima meter ke belakang, menghantam pohon mangga hingga tumbang, sebelum akhirnya terkapar pingsan dengan tulang rusuk yang patah.
Melihat satu temannya tumbang dalam sekejap, empat preman lainnya menjadi panik dan nekat mengayunkan celurit mereka secara membabi buta dari berbagai arah.
“Bajingan!”
“Ternyata memang punya ilmu hitam! Mati sana!”
Bima menyeringai dingin. Tubuhnya bergerak lincah bagai bayangan hijau di antara tebasan senjata tajam.
Bugh! Plak! Duakk!
Hanya dalam tiga kali hitungan napas, terdengar bunyi gemertak tulang yang patah disusul jeritan histeris. Empat pemuda itu langsung bertumbangan di atas tanah berdebu, memegangi lengan dan kaki mereka yang tertekuk dengan sudut yang tidak wajar. Mereka melolong kesakitan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri.
Halaman gubuk reot itu kini berubah menjadi ladang pembantaian instan. Sisa-sisa antek Rian, termasuk Brian yang berdiri di barisan belakang, langsung lemas hingga mengompol di celana karena ketakutan yang teramat sangat.
Bima bantai mereka semua secepat kilat tanpa ampun.
"S-Setan... Dia beneran titisan iblis!" jerit Brian yang langsung berbalik arah dan melarikan diri terbirit-birit meninggalkan bosnya.
Rian berdiri membeku di tempatnya, seluruh keberanian yang dipicu oleh sisa alkohol di tubuhnya menguap tuntas tanpa bekas. Wajahnya yang semula beringas kini pucat pasi bak mayat, dan celana mahalnya mendadak terasa hangat karena dia tidak sanggup lagi menahan pipis akibat tekanan aura membunuh Bima yang mengunci tubuhnya.
Ayu yang tadi bersikap sombong kini terduduk di tanah dengan tubuh gemetar hebat, air matanya meleleh merusak riasan wajahnya yang menor. Dia tidak pernah menyangka si miskin Bima yang selalu menjadi bahan ejekan desa bisa memiliki kekuatan yang begitu mengerikan.
Bima melangkah perlahan mendekati Rian. Setiap ketukan langkah kaki Bima di atas tanah terdengar seperti vonis mati di telinga anak Kepala Desa tersebut.
"J-Bima... Bima, tunggu! Bapakku Kepala Desa, Bim! Kalau kamu macam-macam sama aku, kamu bakal diusir dari desa ini!" ancam Rian dengan suara yang melengking ketakutan, mencoba membawa-bawa nama kekuasaan ayahnya.
"Kepala Desa?" Bima berhenti tepat satu jengkal di depan Rian, membuat tubuh bidangnya yang tinggi besar benar-benar menenggelamkan sosok Rian. Bima menatapnya dengan pandangan merendahkan yang teramat dingin. "Bahkan kalau bapakmu itu presiden sekalipun, dia gak akan bisa menyelamatkan lehermu hari ini, Rian."
Grep!
Tangan kanan Bima yang besar sekuat jepitan hidrolik langsung mencengkram rahang Rian, lalu mengangkat tubuh anak Kepala Desa itu ke atas hingga kedua kakinya menendang-nendang udara kosong. Rian megap-megap, kedua tangannya berusaha memukul lengan Bima, namun lengan itu terasa sekeras baja tak tergoyahkan.
"Kamu bilang utangku sisa empat juta karena bunga perasmu?" desis Bima tepat di depan wajah Rian yang sudah membiru kehabisan napas. "Sekarang, aku kasih kamu dua pilihan. Kamu anggap utang itu lunas dan pergi dari sini merangkak, atau aku patahkan kedua tanganmu sekarang juga sebagai biaya kompensasi karena sudah membuat Mbak Rasti menangis?"
"A-Ampun, Bim... Lunas! Utangmu lunas! Nggak ada sisa-sisaan lagi!" racau Rian dengan suara parau bergetar, air matanya mulai menetes karena rasa sakit di rahangnya semakin menyiksa. Nyalinya sudah ciut total menghadapi monster di depannya. "Aku anggap lunas... Lepasin aku, Bim... tolong..."
Bima menyunggingkan senyum dingin penuh penghinaan. Dia menoleh sekilas ke arah Rasti yang masih berdiri bergetar di dekat pintu, menatapnya dengan binar mata yang penuh keterpukauan sekaligus rasa aman. Melihat kakak iparnya sudah tidak lagi menangis ketakutan, Bima memutuskan untuk memberikan sedikit belas kasihan.
Bugh!
Bima mengempaskan tubuh Rian ke atas tanah berdebu dengan sangat kasar, membuat anak Kepala Desa itu terbatuk-batuk sembari memegangi lehernya yang memerah. Rian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya bagai ikan yang baru keluar dari air.
"Pilihan yang bagus," ucap Bima, suaranya yang berat terdengar begitu mutlak. "Sekarang, tepati syarat berikutnya. Bawa semua kasur rusak ini, dan pergilah dari halamanku dengan cara merangkak!"
Rian melotot syok. Merangkak? Di siang bolong begini, di hadapan anak buahnya dan Ayu? Harga dirinya sebagai anak tunggal penguasa desa seolah diinjak-injak sampai ke dasar bumi. Namun, begitu dia mendongak dan bersitatap dengan mata Bima yang kembali berkilat hijau menyala, Rian langsung membuang jauh-jockey gengsinya.
"I-Iya, Bim... iya!"
Rian buru-buru membalikkan badannya, menurunkan lutut dan kedua tangannya ke tanah berdebu. Dengan sangat memalukan, sosok yang biasanya dipuja dan ditakuti di Desa Sukamaju itu kini merangkak seperti anjing, diikuti oleh sisa-sisa anak buahnya yang menahan sakit, bergerak menjauh dari halaman gubuk Bima.
Ayu yang menyaksikan kekalahan telak pacar kayanya itu langsung bangkit dengan kaki gemetar. Otak liciknya berputar cepat. Melihat Rian yang ternyata sangat lemah di hadapan Bima, dan melihat bagaimana Bima sekarang bertransformasi menjadi pria yang begitu gagah, tampan, dan luar biasa kuat, getaran aneh mendadak muncul di dada Ayu.
‘Gila... Bima kok bisa jadi se-macho dan sekaya ini? Kalau aku bisa deketin dia, jatah uangku pasti jauh lebih banyak daripada dari si Rian sialan itu!’ batin Ayu melirik liar ke arah dada bidang Bima yang tercetak di balik kaos oblongnya.
Sambil sengaja meliukkan pinggulnya yang ramping, Ayu melangkah mendekati Bima dengan tatapan mata yang mendadak dibuat sayu dan manja. "M-Mas Bima... hebat banget. Sebenarnya dari dulu Ayu tuh gak suka sama Rian, Ayu cuma terpaksa. Mas Bima gak berniat main ke rumah Ayu nanti malam? Ayu sendirian loh..." goda Ayu dengan suara yang mendayu-dayu, sengaja membusungkan dada atasnya yang setengah terbuka.
Bima hanya melirik dingin ke arah gadis matre tersebut. Lewat mata terawangnya, dia bisa melihat aura Ayu yang dipenuhi warna abu-abu kebusukan dan penyakit menular akibat sering bergonta-ganti pria di tempat maksiat.
"Pergi sebelum aku patahkan kakimu," desis Bima kejam tanpa emosi.
Mendengar ancaman mematikan itu, senyum genit Ayu langsung luntur. Dengan wajah pucat pasi penuh ketakutan, dia buru-buru berbalik dan berlari kencang menyusul rombongan Rian yang masih merangkak di kejauhan.
Setelah halaman gubuknya kembali sepi, aura membunuh di tubuh Bima perlahan memudar, digantikan oleh hawa hangat Mustika Hijau yang menenangkan. Dia berbalik, mendapati Rasti yang kini melangkah perlahan mendekatinya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca.
"Bima... kamu... kamu beneran Bima adik iparku?" bisik Rasti seolah masih tidak percaya dengan keajaiban yang baru saja disaksikannya. Sosok pria yang barusan menghajar belasan preman dengan tangan kosong terasa begitu asing, namun dada bidang yang hangat itu sangat dia kenali.
Bima tersenyum lembut, hilangnya raut kejam di wajah tampannya langsung digantikan oleh ketampanan yang menawan. "Iya, Mbak. Ini Bima. Sudah kubilang kan, sekarang Bima sudah kuat. Gak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau merendahkan Mbak Rasti."
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊