"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIAT BAIK
"Seru kayaknya ya?" sindir Kak Rafly sembari menggendong bayi mungilnya. Rumah mereka sampingan, pantas saja tiap hari bapak dua anak ini nongkrong di rumah ibu.
"Seru lah, gratis semua!" balas Niar sembari memilih foto mana yang patut diunggah ke media sosial.
"Mana ada yang gratis, hari gini. Zaldy ada maunya lah!" Rafly sengaja membahas keseriusan partner kerjanya itu. Malam sebelum berangkat ke Dufan, Zaldy sempat meminta izin kalau ingin serius pada Niar, dan langkah pertamanya adalah mengajak jalan bareng ke Dufan.
"Mau apa? Aku transfer balik dia gak mau kok," Rafly tertawa keras, menganggap sang adik terlalu polos, sampai bayinya kaget.
"Bapak gak ada akhlak," sewot Niar dengan meletakkan ponsel dan mengambil si bayi untuk digendong.
"Zaldy ingin serius sama kamu. Keren sih pesona kamu, Dek. Setahu aku Zaldy sering kali dijodohkan sama Uminya tapi selalu ditolak, sama kamu kok langsung klik begitu."
Niar langsung berpose layaknya model, dengan mengibaskan rambutnya, menunjukkan kepada sang kakak bahwa pesona sebagai gadis cantik gak kaleng-kaleng sampai membuat seorang dosen dan pemilik cafe tertarik dalam waktu singkat. "Heleh, tapi susah move on sama mantan," sindir Rafly dan dijawab decakan sebal oleh Niar. Asyik bahas lucu-lucuan malah menyinggung Gesta.
"Tahu lah, Kak. Gak usah bahas Gesta napa!" protes Niar.
"Lah emang kakak sebut nama dia?" balas Rafly, sangat tahu sang adik masih berharap pada Gesta, namun bimbang akan keseriusan pemuda itu.
"Gini ya, Dek. Dari kaca mata cowok nih, Zaldy itu menanggung beban sebagai kepala rumah tangga, karena sang ayah sudah berpulang lebih dulu. Makanya dia pekerja keras, yah 11 12 lah sama kakak. Cuma kalau kakak memang berpikir realistis, saat kakak mampu dan sudah punya penghasilan, kakak berpikiran untuk menikah. Berbeda dengan Zaldy yang banyak pertimbangan. Salah satunya bagaimana kalau umi dan adiknya ditinggal menikah, siapa yang menafkahi karena pasti gaji Zaldy dan omzetnya juga dialihkan ke keluarga. Dia takut menyakiti istrinya, karena tidak semua istri menerima bila seorang suami memberi nafkah pada ibu dan adiknya!" Niar diam, memahami bahwa Zaldy masuk generasi sandwich begitu kan.
"Kakak sih sudah memberi saran sama dia, Umi dan adik Zaldy juga sudah berpenghasilan, dan mereka tidak merongrong menuntut Zaldy memberi nafkah paten, karena Umi sendiri masih punya uang pensiunan dari abah Zaldy. Zifa pun sudah bekerja, istilahnya Zaldi hanya memberi pemasukan sekunder. Cuma takut tidak bisa adil untuk keluarga dan istrinya, itu sih yang selama ini ia takutkan."
"Niar sebenarnya malas banget sih, Kak. Harus kenalan dan adaptasi lagi, cuma kalau melihat keseriusan Gesta kayaknya gak mungkin dia bisa berubah drastis sesuai keinginanku," ujar Niar.
"Kamu salah kalau mau mengubah Gesta sesuai keinginan kamu, karena jatuhnya kecewa. Dalam berumah tangga, yang terpenting komitmen dan komunikasi. Bukan mengubah karakter atau kepribadian pasangan."
"Terus Kak Rafly mengiyakan Bang Zaldy mendekatiku?" Rafly mengangguk.
"Sudah saatnya kamu memikirkan pasangan halal, Dek."
"Gak usah menikah, boleh gak sih?" inginnya Niar agar tak terikat apapun.
"Boleh, tapi ibadah kamu belum sempurna! Lagian soal cinta bisa datang dengan sendirinya kok, lelaki baik bukan meminta kamu jadi pacar yang seenaknya bisa digandeng ke mana-mana, tapi langsung meminang pada walinya. Dan hati kecil kamu pasti sudah bisa menentukan siapa yang lebih layak menjadi pasangan kamu, Zaldy atau Gesta!" ucap Rafly sembari menepuk pundak sang adik, lalu pamit pulang bersama banyinya.
Deep talk dengan sang kakak semakin membuka pikiran Niar untuk memikirkan masa depan. Melihat Gesta yang hanya bilang minta balikan, nyatanya malah dekat dengan Angel lagi. Tak patut lah untuk ditunggu berubah, toh Niar juga memberikan peringatan tidak sekali dua kali akan hal itu. Ya sudah lah, kalau memang Zaldy punya keseriusan untuk meminang Niar, apa salahnya untuk mencoba, apalagi restu dari keluarga Zaldy dan juga saran Kak Rafly sangat mendukung akan hal itu.
Hm Niar. Sore. Aku mau tanya nih, pulang kantor ada janji gak? Ada yang mau aku bicarakan, dan aku sudah izin ke Rafly. Pesan dari Zaldy di saat Niar bersiap pulang.
"Ni, balik dulu ya!" pamit Meta dilanjut Bang Aji, dan gadis itu hanya mengacungkan jempol saja.
Tentang?
Kita. Jantung Niar langsung berdetak cepat, tak perlu bertele-tele, Zaldy langsung to the point.
Oh. Baiklah, ketemu di mana?
Aku jemput di depan kantor kamu ya. Aku sudah di depan.
"Busyet. Ini mah kecepetan ah si bapak dosen," omel Niar yang tak mau Zaldy menunggu terlalu lama.
Canggung sebenarnya duduk berdua, tapi ingat kata Kak Rafly lelaki baik akan mengajaknya serius dengan membicarakan pernikahan, maka Niar tak mau mengabaikan lelaki baik yang datang padanya. Memberi kesempatan dulu, diterima atau enggak urusan belakang.
Mobil mereka menuju ke sebuah restoran makanan sunda, sekalian makan malam kata Zaldy. Niar manut saja.
"Maaf ya kalau terlalu cepat begini," ucap Zaldy membuka obrolan mereka.
"Gak pa-pa, kata Kak Rafly niatan baik harus disegerakan," jawab Niar dan disambut tawa oleh Zaldy. Nasehat andalan Rafly itu mah.
"Sebenarnya saya waktu bertemu kamu pertama kali, tidak ada niatan apapun. Ya aku anggap kamu teman Zifa saja. Tapi setelah Umi bertemu kamu, hampir tiap hari beliau membicarakan kamu, calon mantu ideal beliau, dan betapa baiknya kamu di pertemuan pertama, gongnya saat transaksi alpukat dulu, akhirnya hati saya tergerak dan tertarik sama kamu. Mungkin, Rafly sudah menceritakan sedikit tentang saya ataupun keluarga, cuma secara pribadi saya memang baru tertarik dan memikirkan pernikahan saat bersama kamu," jangan ditanya wajah Niar bagaimana. Malu-malu kucing begitulah, dengan semburat merah, ya gimana gak deg-deg ser, khawatir ngakak juga maklum baru kali ini loh ada lelaki serius dan ngomong langsung di depan Niar soal pernikahan.
Jangan sampai kentut atau sendawa, sumpah malu kalau itu terjadi. Batin Niar mengultimatum situasi perut.
"Saya juga sudah mendengar tentang kamu dari Rafly, terutama pengalaman patah hati kamu," Niar seketika menunduk, duh Kak Rafly oversharing deh. "Nah sekarang saya mau tanya, apa kamu ada rencana untuk balikan dengan lelaki itu atau tidak? Saya bukan ingin mencampuri masa lalu kamu, tapi saya hanya butuh kepastian, saya boleh melangkah maju atau berhenti sampai di sini," ucap Zaldy tegas.
Duh, hati Niar meleleh seketika. Sosok pria tegas ternyata ditemukan dalam diri Zaldy. Haruskah ia langsung mengiyakan ajakan nikah, oh hati tidak bisa kah kamu jaga image dulu?
"Sebenarnya saya malas untuk PDKT dan memulai hubungan dari awal, karena bukan remaja lagi. Hanya saja, saya juga tidak mungkin mengharap seseorang yang dirinya saja tidak serius sama saya. Niatan balikan ada, hanya saja masih ragu. Hem dengan kondisi galau begini, Bang Zaldy yakin sama saya?" tanya Niar balik.
"Asalkan kamu tidak ada janji atau memberikan tenggang waktu kepada lelaki itu untuk balikan artinya kamu sendiri, dan kamu bisa memutuskan untuk memberi kesempatan pada saya atau tidak," ucap Zaldy yang butuh kepastian juga.
"Saya dan lelaki itu tidak ada janji apapun. Dia memang sering mengajak balikan, hanya saja saya menolaknya."
"Jadi?"
Niar mengangguk pelan, sudah gak mau berharap dengan Gesta lagi, karena dia juga sudah tak ada usaha untuk meyakinkan Niar. "Memang kakak mau langsung menikah atau bagaimana?" tanya Niar.
"Iya langsung menikah, saya gak mau lama-lama, selain karena usia, saya bukan tipe laki-laki yang ingin mengulur hal baik. Iya ayo, enggak ya berhenti. Pacaran lebih baik setelah akad nikah!" Rasanya Niar ingin bersorak gembira, ternyata benar lebih baik mencari suamj yang umurnya di atas kita, yang pasti lebih dewasa dan punya prinsip.
"Segera temui Bang Rafly, karena saya tidak akan menghalangi niat baik untuk menyempurnakan ibadah kita sebagai sesama muslim," ucap Niar tak kalah tegas. Zaldy mengangguk sembari tersenyum manis.
Meleleh hati ini, Bang. Batin Niar.
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...