NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sumber Kehidupan yang Tersembunyi

Mendengar cerita tentang sumber air itu, rasa penasaran sekaligus tanggung jawab segera menguasai hati Aldo dan Naura. Setelah acara peresmian selesai, mereka meminta kepala desa dan beberapa warga yang mengetahui lokasinya untuk menunjukkan jalan ke tempat itu. Perjalanan menembus hutan yang masih lebat memakan waktu sekitar satu jam, namun pemandangan sepanjang jalan membuat mereka terpesona—pohon-pohon besar yang rindang, aliran sungai kecil yang jernih, dan udara yang terasa sangat segar.

Saat sampai di lokasi yang dimaksud, mereka tertegun. Di celah bebatuan yang tertutup lumut, air mengalir deras namun tenang, bening hingga terlihat butiran pasir di dasarnya. Di sekelilingnya tumbuh berbagai jenis tanaman yang jarang ditemukan di tempat lain.

"Ini adalah mata air utama yang memberi kehidupan bagi seluruh daerah di sekitar sini," jelas kepala desa dengan suara hormat. "Selama turun-temurun kami menjaganya dengan ketat, tidak boleh merusak apapun di sekitarnya. Namun belakangan ini, kami mendengar kabar bahwa ada pihak luar yang mulai mencari lokasi sumber air ini untuk diambil dan diperjualbelikan dalam kemasan."

Naura mendekat, membasuh tangannya dengan air yang terasa sejuk dan lembut. "Benar-benar anugerah alam yang luar biasa. Jika dikelola dengan bijak, ini bisa menjadi manfaat besar bagi semua orang, tapi jika disalahgunakan, sumber ini bisa habis dalam waktu singkat."

Aldo mengamati sekelilingnya dengan pandangan tajam, lalu berkata tegas: "Kita akan menjadikan bagian ini sebagai kawasan lindung. Tidak ada siapa pun yang boleh mengambil air ini secara sembarangan atau merusak lingkungannya. Kita akan bekerja sama dengan warga desa untuk mengawasi dan mengelolanya bersama."

Mereka segera menyusun rencana pengelolaan yang adil dan berkelanjutan. Tidak ada pengeboran besar atau pengambilan air dalam jumlah banyak untuk keuntungan komersial semata. Sebaliknya, mereka membangun saluran air sederhana yang mengalirkan air bersih secara cuma-cuma ke warga desa, sekolah, dan fasilitas yayasan. Sebagian kecil airnya diolah secara terbatas untuk dijual dengan harga terjangkau, dan seluruh keuntungannya dikembalikan untuk memelihara lingkungan dan membantu warga yang membutuhkan.

"Kita tidak ingin menjual sumber kehidupan ini," jelas Naura saat menyampaikan rencananya kepada warga. "Kita hanya ingin memastikan ia tetap ada dan bisa dinikmati oleh generasi sekarang dan yang akan datang."

Rencana itu disambut dengan sukacita oleh seluruh warga desa. Mereka merasa tenang karena sumber air yang dijaga turun-temurun itu kini berada di tangan orang-orang yang memiliki niat baik. Bersama-sama, mereka membangun pagar pembatas alami, menanam pohon pelindung, dan membuat jadwal pengawasan bergilir untuk mencegah pendatang yang tidak bertanggung jawab masuk ke kawasan itu.

Namun, seperti yang dikhawatirkan, berita tentang keberadaan mata air itu cepat menyebar. Beberapa minggu kemudian, datanglah sekelompok pengusaha yang berniat mengambil alih pengelolaan. Mereka datang dengan membawa tawaran uang yang sangat besar, bahkan berjanji akan membangun jalan dan fasilitas umum jika izin pengelolaan diberikan kepada mereka.

"Kalian bisa mendapatkan uang yang cukup untuk hidup nyaman selama bertahun-tahun hanya dengan menandatangani perjanjian ini," buka pemimpin rombongan itu dengan nada meyakinkan. "Kami memiliki peralatan canggih dan pasar yang luas, sehingga air ini bisa memberikan nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar dialirkan secara cuma-cuma."

Aldo dan Naura mendengarkan dengan tenang, lalu menjawab dengan tegas: "Terima kasih atas tawaran Anda, tapi kami tidak akan menyerahkan pengelolaan sumber ini. Mata air ini bukan milik seseorang atau sekadar barang dagangan—ia adalah anugerah alam yang menjadi hak bersama seluruh makhluk hidup di daerah ini. Kami akan mengelolanya untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk keuntungan pribadi."

Pengusaha itu tidak terima dengan jawaban itu. Ia mencoba mengancam, mengatakan bahwa ia memiliki koneksi dan bisa mengurus segala izin yang diperlukan melalui jalur lain. Namun, ia tidak menyadari bahwa Aldo dan Naura sudah mempersiapkan segalanya. Mereka telah mendaftarkan kawasan itu sebagai kawasan lindung bersama instansi terkait, dan memiliki dukungan penuh dari warga desa serta lembaga lingkungan yang percaya pada komitmen mereka.

"Silakan coba jalur apa pun yang Anda inginkan," kata Aldo dengan nada dingin namun tetap tenang. "Tapi ketahuilah, kami akan mempertahankan tempat ini sampai akhir. Kami tidak akan membiarkan keserakahan merusak apa yang telah dijaga selama ratusan tahun."

Melihat ketegasan yang tidak bisa digoyahkan, serta dukungan yang kuat dari warga sekitar, pengusaha itu akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi dengan rasa kecewa. Ia sadar bahwa usahanya tidak akan berhasil jika harus melawan keinginan bersama dan prinsip yang teguh.

Setelah kejadian itu, pengawasan di kawasan mata air semakin diperketat. Tim pengawas yang terdiri dari karyawan yayasan dan warga desa bekerja sama secara rutin, memastikan tidak ada aktivitas yang bisa membahayakan lingkungan.

Sementara itu, kehidupan di yayasan berjalan semakin harmonis. Anak-anak bersekolah dengan semangat, warga desa mendapatkan air bersih yang cukup, dan alam di sekitarnya tetap terjaga keasliannya. Arka yang kini sering diajak berkunjung ke tempat itu mulai memahami arti menjaga alam dan berbagi dengan sesama.

Suatu sore, saat mereka duduk di dekat mata air sambil mendengarkan aliran air yang menenangkan, Arka bertanya dengan suara polos: "Ayah, Ibu... mengapa kita tidak menjual air ini saja kalau uangnya bisa banyak? Kita bisa membeli apa saja yang kita inginkan."

Naura tersenyum, lalu menjawab lembut sambil menunjuk ke air yang mengalir: "Nak, coba lihat air ini. Ia mengalir terus tanpa meminta imbalan apa pun, memberi kehidupan bagi semua makhluk. Jika kita mengambilnya hanya untuk keuntungan sendiri, suatu saat ia akan habis dan tidak ada lagi yang bisa menikmatinya. Kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tapi dari seberapa banyak yang bisa kita berikan dan jaga untuk orang lain."

Aldo menambahkan sambil memegang bahu putranya: "Kekayaan yang sesungguhnya bukanlah uang yang bisa habis, tapi kebaikan yang kita tanam dan alam yang tetap terjaga. Itulah warisan terindah yang bisa kita berikan kepadamu dan adik-adikmu kelak."

Mendengar penjelasan itu, Arka mengangguk mengerti, lalu mengambil air sedikit di telapak tangannya dan menuangkannya kembali ke aliran. "Aku mengerti. Aku juga akan menjaganya seperti Ayah dan Ibu."

Namun, ketenangan yang tercipta tidak berlangsung selamanya. Beberapa bulan kemudian, saat mereka sedang sibuk mengembangkan program pelatihan keterampilan di yayasan, datanglah kabar dari kantor pusat perusahaan. Sebuah perusahaan raksasa dari luar negeri telah mengajukan rencana pembangunan jalur kereta api yang melintasi wilayah pegunungan tempat yayasan dan mata air itu berada. Jika rencana itu disetujui, maka sebagian besar kawasan lindung akan terkena dampak dan terancam rusak.

Sekali lagi, Aldo dan Naura dihadapkan pada tantangan besar—kali ini melibatkan kepentingan yang lebih luas dan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar. Mereka harus berpikir cerdas dan bekerja sama dengan banyak pihak untuk menemukan jalan keluar yang tidak merugikan siapa pun, namun tetap menjaga apa yang telah mereka perjuangkan selama ini.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!