Naina..gadis penuh luka ditubuh dan hatinya...... Dipukul, dilukai, dikecewakan, dianggap murahan, dikasihani, sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia selalu bangkit. Bukan untuk menjadi Cinderella, tapi hanya untuk menjalani yang telah Tuhan gariskan.
Arkana...lelaki yang pernah terluka begitu dalam. Menganggap dirinya cacat dan hanya pentas dengan kesendirian.
Saat keduanya dipertemukan dalam ikatan pernikahan..... saat itulah mereka tidak bisa melawan yang Tuhan takdirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Yatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Kehilanganmu 2
Naina terbangun karena merasakan sesuatu yang dingin dan basah menyiram wajahnya. Matanya mengerjap perlahan menyesuaikan dengan cahaya redup disekitarnya. Pandangannya berhenti pada satu sosok yang sudah sangat dikenalnya.
"Ayah....." gumam Naina lemah. Tubuhnya semakin lemah saat menyadari ia berada disebuah kamar hotel dengan tangan terikat. Belum sempat ia menggerakkan tubuh, sosok laki-laki yang ia panggil ayah itu merenggut kerah bajunya dan menghadiahkan dua buah tamparan diwajahnya. Darah mengalir dari sudut bibir Naina yang pecah.
"Anak kurang ajar," Adipura Wijaya menggeram marah . Didorongnya tubuh anak sulungnya hingga terbanting ke atas tempat tidur. Ia tidak peduli dengan erangan kesakitan Naina.
" Jangan harap kau bisa lari dariku. Ank tidak tau terimakasih!"
Dengan kalapnya ia naik ke atas tempat tidur dan menginjak pergelangan kaki Naina hingga gadis itu menjerit dan menangis.
"Ampun ayah...ampun...." jeritnya disela-sela isak tangis yang semakin menjadi.
"Itu supaya kau tidak bisa lari lagi dari ku. Aku hampir mati karena ketololan mu," Adipura turun dari tempat tidur dengan senyum puas. " Kau beruntung sudah ada orang yang membeli mu malam ini. Kalau tidak aku pastikan kau akan bertemu ibumu yang tidak berguna itu," ia meludahi lantai dan menyalakan rokoknya.
" Kenapa aku selalu dikelilingi wanita bodoh," ucapnya kesal sebelum keluar ruangan dan membanting pintu.
"Ibu...." Naina memanggil lirih. Tangisnya bergema di seluruh ruangan. Air mata menghapus semua harapannya menjalani hidup baru dengan Arkana.
Joseph memelintir tangan wanita itu dan memaksanya berlutut di depan Arkana yang duduk didalam mobil.
"Bos ku tidak punya banyak waktu, katakan dimana nyonya Naina," ucap Joseph dengan nada mengancam.
Wanita yang sudah setahun menjadi istri muda Adipura itu menjerit saat Joseph semakin menekan tubuhnya ketanah karena berani menatap sosok didalam mobil.
"Aku tidak tahu dimana anak sialan itu. Aku tidak tahu!" jeritnya lagi.
Joseph membenturkan kepalanya ke tanah dan menginjak punggungnya dengan satu kaki tanpa perduli dengan jeritannya.
"Aku tahu suami mu yang menculiknya, kemana mereka?" Joseph semakin kuat menginjaknya. Wanita itu mulai goyah tak kuat menahan sakit.
"Bunuh saja" Arkana berucap tak sabar dari dalam mobil. Joseph mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan ditodongkannya ke kepala wanita itu.
"Tidak, jangan bunuh aku," ia merengek takut.
"Dimana?!" Joseph berteriak.
"Hotel kristal. Aku tidak tahu apa-apa lagi. Tolong lepaskan aku," ia mulai menangis.
"Hurry up Joseph!" seru Arkana.
Joseph meninggalkan wanita itu. Ia masuk ke mobil Arkana dan melajukan mobil secepat mungkin menuju Hotel Kristal. Dua buah mobil langsung mengikutinya sementara satu mobil lagi masih menunggu.
"Aku mau dibawa kemana? Aku sudah mengatakan semuanya. Tolong lepaskan aku," ia masih saja merengek saat anak buah Joseph mengikat tangan dan kakinya. Mereka juga menutupnya dengan lakban hitam sebelum memasukkannya kedalam bagasi mobil tanpa sedikitpun merasa kasihan.
Adipura berjalan riang menuju mobilnya di lapangan parkir. Sesekali ia melihat amplop coklat berisi uang yang ia dapatkan dari menjual anaknya sendiri.
Ia baru akan membuka pintu mobil ketika beberapa orang menarik tubuhnya kesudut gelap tempat parkir basement.
"Apa-apaan ini, siapa kalian," Adipura memberontak. Dua pukulan keras bersarang di perutnya membuat ia terbatuk dan tersungkur ke lantai.
Joseph mengangkatnya, menariknya ke tembok pembatas lapangan parkir dan membenturkan kepalanya dengan kuat.
Adipura mengumpat meraba darah yang keluar dari pelipisnya.
"Dimana nyonya Naina?" tanya Joseph.
"Ada urusan apa kalian dengan gadis pembawa sial itu?" Adipura masih saja menguji kesabaran Joseph.
Lelaki itu menendang wajahnya. Tak sabar ia menarik pistolnya dan mengarahkan ke kepala Adipura.
"Oke. . oke... sabar ...."Adipura mengangkat kedua tangannya.
"Dimana nyonya Naina?" Joseph bertanya lagi dengan ketenangan yang lebih menakutkan dari kemarahannya.
"Kamar nomor 213. Apa pun urusan kalian aku tidak ada sangkut pautnya dengan perempuan itu," ucap Adipura.
"Diam kau," Joseph memukul belakang kepala Adipura dan membuat lelaki itu tak sadarkan diri.
Ia menghubungi anak buahnya yang bersama Arkana masuk melalui loby.
"Kamar 213. Jangan sampai terjadi apapun pada Tuan Arkana," perintahnya. Joseph khawatir Arkana akan bertindak impulsif dan membahayakan dirinya sendiri.
Ia membagi anak buahnya menjadi tiga bagian. Dua orang mengurus Adipura, empat orang bersama Arkana dan dua orang lagi bersamanya. Bertiga mereka menyusul ke kamar 213.
Sementara itu Arkana dengan cepat menyusuri lorong lantai empat mencari kamar yang disebut Joseph.
"Tunggu aku sayang, i'm coming to get you," gumamnya dalam hati.
Seorang laki-laki tua dengan tubuh gemuk menatap Naina dengan pandangan tak senonoh.
" Tolong... keluarkan saya dari sini," Naina mengiba dengan tangan dan kaki yang masih terikat. Tubuhnya yang masih sakit hanya bisa bersandar lemah pada tempat tidur.
"Tentu sayang....." lelaki itu mulai melucuti pakaiannya. "Aku akan melepaskanmu setelah kau melayaniku," ia menyeringai menampakkan sederetan gigi yang kotor karena nikotin.
Naina langsung terserang mual. Ia semakin panik saat lelaki itu naik ke atas tempat tidur dalam keadaan bugil.
Naina berusaha memberontak dengan sisa-sisa tenaganya. Tapi lelaki itu jauh lebih kuat.
Ia menindih tubuh Naina dengan tubuh telanjangnya, Naina memejamkan matanya dan menangis keras.
""Buka matamu sayang...." lelaki itu memaksa mencium Naina. Secara refleks Naina menggigit bibir kotor itu sekuat tenaga.
"Bocah sialan," umpat lelaki itu dengan mulut berdarah. Ia membalas Naina dengan sebuah tamparan keras yang membuat gadis itu hampir tak sadarkan diri.
Naina seolah sudah mati saat lelaki itu menarik helai demi helai pakaiannya. Air mata bergulir dipipinya yang merah.
Perlahan pandangannya tertutup awan pekat.
Ibu......aku pulang......
maaf ya thor itu cuma pendapat q 🙏