NovelToon NovelToon
Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Reinkarnasi / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:198.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.

Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!

Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Pagi itu datang dengan cahaya yang lebih terang dari biasanya. Aminah bangun sebelum matahari sepenuhnya terbit. Ia mengenakan pakaian sederhana namun rapi, menyelipkan kartu identitas dan uang tunai yang sudah ia hitung berulang kali ke dalam tasnya. Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur, bukan karena takut, melainkan karena pikirannya terus menyusun langkah-langkah ke depan.

Hari ini adalah hari ia memiliki sesuatu atas namanya sendiri.

Ia mengunci kamar besarnya dengan kunci baru, memastikan tidak ada satu pun barang penting tertinggal. Rumah Andre masih sunyi; Andre dan keluarganya belum kembali sejak malam sebelumnya. Keheningan itu memberinya ruang untuk bergerak tanpa gangguan.

Ia mengendarai sepeda motor menuju Jalan Magnolia sesuai alamat yang diberikan Pak Iksan. Kawasan itu tampak biasa saja di mata orang yang tidak tahu masa depannya—rumah-rumah tua berdempetan, tembok kusam, warung kecil di sudut gang, dan kabel listrik menggantung tak beraturan. Namun Aminah melihat lebih dari itu.

Ia melihat potensi.

Pak Iksan dan Ibu Linda sudah menunggunya di depan rumah mereka. Wajah keduanya tampak tegang namun juga penuh harap.

“Kamu datang tepat waktu,” kata Pak Iksan dengan senyum tipis.

“Saya tidak ingin menunda,” jawab Aminah mantap.

Mereka bertiga kemudian menuju kantor catatan tanah. Bangunannya tidak besar, tetapi cukup ramai oleh orang-orang yang mengurus warisan, jual beli, dan berbagai administrasi lainnya. Aminah duduk di kursi kayu sambil menunggu namanya dipanggil, tangannya memegang tas dengan erat.

Proses administrasi berlangsung lebih lama dari yang ia bayangkan. Berkas diperiksa, tanda tangan dibubuhkan, identitas diverifikasi. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan jelas, suaranya stabil.

Ketika akhirnya petugas menyerahkan dokumen resmi kepemilikan rumah atas namanya, jantungnya berdegup lebih kencang.

Sertifikat itu terasa berat sekaligus ringan di tangannya.

Nama: Aminah.

Pemilik sah.

Ia menahan diri agar tidak tersenyum terlalu lebar, tetapi matanya tak bisa menyembunyikan kilau kebahagiaan.

Transaksi selesai.

Uang berpindah tangan, tanda tangan menjadi saksi, dan sebuah bab baru resmi dimulai.

Setelah keluar dari kantor, mereka berjalan kembali menuju rumah di Jalan Magnolia. Di bawah cahaya pagi, Aminah memperhatikan bangunan itu dengan lebih saksama.

Luas bangunan utama delapan puluh lima meter persegi, dengan halaman kecil sekitar lima belas meter persegi di depan. Dindingnya memang kusam, catnya mengelupas di beberapa bagian. Namun struktur rumah masih kokoh.

Dapur di bagian belakang terlihat seperti tambahan yang dibuat sendiri—atapnya berbeda, temboknya lebih baru. Ada tiga kamar tidur di dalam, cukup untuknya dan kakaknya, bahkan menyisakan ruang jika suatu hari mereka membutuhkan.

Yang membuatnya semakin yakin adalah lokasinya. Tidak jauh dari sana, papan proyek besar berdiri dengan gambar rancangan kawasan wisata kuno Kota Yogyakarta yang akan dibuka beberapa tahun mendatang. Ia pernah mendengar kabar bahwa daerah ini akan dikembangkan menjadi pusat wisata dan bisnis, dengan hotel, toko suvenir, dan restoran.

Nilai tanah di sini pasti akan melonjak.

Ketika mereka hampir tiba di depan rumah, suara tajam memecah udara.

“Pak Iksan!”

Seorang perempuan tua berdiri di depan rumah sebelah, wajahnya penuh kebencian. Rambutnya disanggul rapi, matanya kecil namun menyala.

Itulah Nenek Indah.

Ia menatap mereka dengan pandangan mencurigakan. “Kamu menjual rumahmu?”

Pak Iksan tidak menjawab. Ibu Lindamenggenggam tangan suaminya erat.

Nenek Indah mendekat beberapa langkah, lalu melontarkan kata-kata seperti pisau.

“Kamu penjual anak perempuan!” teriaknya. “Anakmu itu tidak bisa punya anak dan berselingkuh! Keluarga kalian memalukan! Kalian akan turun ke neraka!”

Wajah Ibu Linda memerah seketika. “Jangan bohong!” balasnya dengan suara bergetar namun tegas. “Anakku diperlakukan buruk oleh keluargamu! Dia dihina setiap hari! Kamu yang jahat!”

“Kalau dia perempuan baik-baik, dia pasti sudah punya anak!” bentak Nenek Indah.

Pak Iksan akhirnya bersuara, “Cukup! Kami sudah tidak ada hubungan apa pun dengan keluargamu.”

Suasana memanas. Beberapa tetangga mulai mengintip dari balik pintu.

Aminah berdiri sedikit di belakang, memperhatikan dengan tenang. Ia tidak ikut berdebat. Bibirnya justru melengkung tipis.

Ia sudah menghadapi jenis perempuan seperti ini sebelumnya—perempuan yang menggunakan usia dan status sebagai senjata untuk merendahkan orang lain.

Jika Nenek Indah mencoba mengganggunya nanti, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Aminah melangkah maju satu langkah, menatap Nenek Indah tanpa gentar. Tidak ada kata-kata yang keluar, hanya tatapan yang tenang namun tajam.

Untuk sesaat, Nenek Indah terdiam. Mungkin ia tidak terbiasa ditatap seperti itu oleh perempuan muda.

Akhirnya, dengan dengusan kesal, ia berbalik masuk ke rumahnya sambil terus mengomel.

Ibu Linda menghela napas panjang. “Maaf kamu harus melihat itu.”

“Tidak apa-apa,” jawab Aminah ringan. “Saya tidak takut.”

Pak Iksan mengangguk pelan. “Semoga kamu bisa hidup tenang di sini.”

“Saya akan membuatnya tenang,” jawab Aminah.

Setelah berpamitan, ia kembali mengendarai sepeda motor menuju rumah Andre. Angin siang terasa hangat di wajahnya, tetapi kali ini berbeda. Di dalam tasnya, sertifikat kepemilikan rumah tersimpan rapi.

Ia memikirkan langkah selanjutnya.

Akhir bulan nanti, ia akan pergi ke tambang tempat kakaknya bekerja. Ia akan membawanya pergi dari pekerjaan berat yang menguras tenaga itu. Mereka akan pindah ke Jalan Magnolia, memperbaiki rumah sedikit demi sedikit.

Ia juga harus kembali ke rumah orang tuanya untuk mengambil dokumen identitasnya yang mungkin masih mereka simpan. Tanpa itu, beberapa urusan administratif bisa terhambat. Namun setelah semuanya selesai, ia berniat memutus hubungan dengan mereka secara permanen.

Tidak ada lagi kembali.

Tidak ada lagi mencari pengakuan.

Ketika ia tiba di rumah Andre, suasana masih sepi. Ia masuk ke kamar besarnya, membuka tas, dan mengeluarkan sertifikat itu.

Ia membentangkannya di atas meja.

Nama itu kembali terlihat jelas.

Aminah.

Ia menyentuh kertas itu dengan ujung jari, merasakan teksturnya, memastikan bahwa semua ini nyata.

Jalan Magnolia mungkin masih terlihat sederhana hari ini.

Namun suatu saat, orang-orang akan menyebutnya jalan mewah.

1
syska
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ sᴇʀɪᴜs... ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
syska
😭😭😭
syska
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ.... ɢᴏᴏᴅ ᴊᴏʙ ᴀᴍɪɴᴀʜ...👍👍
WHATEA SALA
Beli rumah pake ngomong sih...
Fitrian
yang ini dina yang ono siti🤔🤔🤔
Fitrian
loh 3 anak🤔
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔
Rangiku Gin
kerenn 🔥🤭
Rangiku Gin
🔥😈
Rangiku Gin
mantapp 🔥🥰
Rangiku Gin
astagaaa 🔥😈
Rangiku Gin
terharuuuu 😩😩
Rangiku Gin
😩😢
Rangiku Gin
omo 🔥😈
Rangiku Gin
🔥😈
Anifa
kenapa seperti di ulang2 ceritanya, bisa nggak sih bikin cerita 🙄
Anifa
aku skip skip ceritanya kek di ulang2 🙄
Yuyun Zampiet
mohon maaf thor, aku baca nya skip aja, karena sdh bbrp BAB kok ceritanya mutar2 naik turun seperti tidak nyambung, bingung aku 🙏
Yuyun Zampiet
knp gak langsung urus surat cerai aj
Yuyun Zampiet
murah sekali harga rumah, aku juga pengen dpt rumah murah🤣
Yuyun Zampiet
ya ampun, ajaran sesat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!