Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20: Mercenary Signal in the Capital
Langkah kaki Mu Xuanyuan menyusuri karpet merah berbordir benang emas di lorong VIP lantai teratas Balai Lelang Xingzhou. Di sekelilingnya, dinding-dinding batu giok memancarkan kilau spiritual yang hangat, menyerap setiap kebisingan dari ribuan pengunjung di lantai bawah.
Leng Yan berjalan di samping Xuanyuan seraya terus mengibaskan kipas emasnya, mengumbar senyuman flamboyan yang sanggup membuat siapapun terpesona. Di belakang mereka, Leng Shuang melangkah tegap bersama Feng Wuchen dan Gu Juechen yang terus bersiap siaga.
"Oho~ Pangeranku yang tampan," bisik Leng Yan dengan nada mendayu-dayu saat mereka mendekati pintu ganda kayu cendana bertatahkan permata. "Bilik VVIP Nomor Satu ini memiliki pemandangan paling sempurna ke panggung lelang utama. Dan yang paling penting... hanya ada kita berdua di sini—eh, maksudku bersama adikku yang galak dan dua pengawalmu yang kaku ini."
PLAK!
Leng Shuang menepuk bahu Leng Yan dengan gagang pedangnya tanpa ampun. "Hentikan ocehan konyolmu itu, Kakak. Fokuslah pada situasi di luar."
Xuanyuan hanya tertawa cempreng, mendobrak pintu bilik dengan gaya konyol dan melompat ke atas sofa empuk berlapis kulit binatang spiritual. Ia langsung memeluk burung kayu mainannya seraya meraih cangkir teh di atas meja.
"Wah! Kursinya empuk sekali! Seperti tidur di atas kasur busa!" seru Xuanyuan dengan nada kanak-kanak, berakting sempurna untuk membohongi formasi pengintai yang mungkin dipasang oleh faksi luar di sekitar bilik VVIP.
Namun, begitu Leng Yan menutup pintu rapat-rapat dan Leng Shuang mengaktifkan susunan pembatas isolasi suara tingkat tinggi, raut konyol di wajah Xuanyuan perlahan menguap. Suara cemprengnya berganti menjadi nada dalam yang tenang dan penuh aura keagungan Kaisar Abadi.
"Bagaimana situasi di ruang penyimpanan utama, Leng Shuang?" tanya Xuanyuan seraya menyeruput tehnya santai.
Leng Shuang membungkuk hormat. "Han Xingzhou sudah menjaga Kotak Giok Bersegel Kaisar secara pribadi di lantai bawah tanah. Namun, ada laporan darurat dari intelijen kita: sekelompok prajurit rahasia dari Pasukan Po Jun baru saja mendeteksi sinyal berbahaya di empat titik strategis ibu kota."
Bola mata Xuanyuan menyipit tajam. "Sinyal Po Jun?"
Gu Juechen melangkah maju, mengeluarkan selembar peta kain mini yang menunjukkan peta tata ruang Kota Kekaisaran Tianming. "Benar, Yang Mulia. Sinyal Asap Darah—kode darurat paling tinggi milik Pasukan Bayaran Po Jun—baru saja dinyalakan secara rahasia di Gerbang Barat, Menara Pengawas Utara, dan dua distrik perdagangan."
"Siapa yang berani menyalakan Sinyal Asap Darah di dalam ibu kota?" gumam Feng Wuchen, tangannya mencengkeram erat hulu pedangnya.
"Bukan prajurit kita yang memulainya," jawab Leng Yan, kali ini raut flamboyannya memudar dan digantikan oleh tatapan dingin penguasa dunia bawah. "Itu adalah umpan. Seseorang telah memalsukan jimat komunikasi Po Jun untuk memancing Pasukan Bayaran Po Jun keluar dari pos-pos tersembunyi mereka di sekitar ibu kota."
"Siapa pelakunya?" tanya Xuanyuan pendek.
"Putra Mahkota Long Wuji," jawab Leng Shuang tegas. "Rupanya Long Wuji tidak hanya meminjamkan sepuluh juta Kristal Spiritual kepada Pangeran Ke-3 Lu Cangqiong. Ia juga memanfaatkan momen lelang ini untuk memancing keluar kekuatan rahasia di balik Pasukan Po Jun. Long Wuji menduga bahwa Pasukan Po Jun memiliki hubungan erat dengan Paviliun Lelang Xingzhou."
Mendengar hal itu, sudut bibir Mu Xuanyuan justru terangkat mengukir senyuman tipis yang sangat dingin dan berwibawa.
"Long Wuji memang jauh lebih cerdik daripada Lu Cangqiong," tutur Xuanyuan santai. Ia melangkah ke arah jendela kaca transparan satu arah yang menghadap lurus ke panggung lelang di bawah. "Dia ingin menciptakan kekacauan di luar balai lelang, memaksa Po Jun menampakkan diri, sementara Lu Cangqiong bertugas merebut Kotak Giok Bersegel Kaisar di dalam sini."
"Apakah kita perlu memerintahkan Po Jun untuk mundur dan mengabaikan sinyal umpan tersebut, Yang Mulia?" tanya Gu Juechen.
"Tidak perlu," sahut Xuanyuan. "Biarkan Po Jun bermain sesuai aturan main Long Wuji. Beritahu Komandan Po Jun untuk mengirim lima ratus prajurit bayangan untuk mengepung balik pasukan rahasia milik Putra Mahkota di Menara Utara. Jika Long Wuji ingin bermain catur di ibu kota, kita berikan dia lawan yang sepadan."
"Baik, Yang Mulia!" Gu Juechen menyunggingkan senyum patuh, lalu menghilang dalam sekelap bayangan untuk menyampaikan perintah rahasia sang Kaisar Abadi.
Sementara itu, di lantai bawah balai lelang, suasana semakin memanas. Ratusan pangeran, tetua sekte besar, dan tuan muda klan kaya telah memenuhi kursi-kursi lelang.
Di Bilik VVIP Nomor Dua—yang berada tepat di samping bilik Xuanyuan—Lu Cangqiong duduk di kursi emasnya dengan wajah penuh kemenangan. Di tangannya, ia memegang batu jimat komunikasi yang terhubung langsung dengan Putra Mahkota Long Wuji.
"Kakak Sulung," bisik Lu Cangqiong dengan nada penuh dendam melalui jimat spiritual. "Pasukan rahasiamu sudah mulai memancing Po Jun di luar, kan?"
Dari balik jimat, suara dingin dan berwibawa Long Wuji terdengar. "Semua berjalan sesuai rencana, Cangqiong. Fokuslah pada lelang di dalam. Begitu Kotak Giok Bersegel Kaisar itu muncul, gunakan seluruh dana sepuluh juta Kristal Spiritual itu untuk merebutnya. Begitu barang itu ada di tanganmu, pasukanku di luar akan memastikan tidak ada satu pun faksi termasuk Balai Xingzhou—yang bisa merebutnya kembali."
"Hahaha! Baik, Kakak Sulung!" Lu Cangqiong tertawa puas seraya mematikan jimat komunikasi. Ia melirik ke dinding pembatas Bilik VVIP Nomor Satu di sebelahnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Mu Xuanyuan... si idiot sialan," gertak Lu Cangqiong pelan. "Kau boleh duduk di bilik nomor satu berkat bantuan Leng Yan, tapi sebentar lagi, seluruh ibu kota ini akan jatuh ke dalam cengkeraman Kakak Sulung dan aku! Kita lihat apakah kau masih bisa tersenyum konyol saat seluruh kediamanmu diratakan dengan tanah!"
Teng! Teng! Teng!
Suara dentang gong emas yang bergema tiga kali memotong seluruh keributan di dalam Balai Lelang Xingzhou. Lampu-lampu kristal di atap gedung mendadak meredup, menyisakan satu sorot cahaya keemasan yang terang benderang menyinari panggung utama di tengah ruangan.
Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah putih bersih melangkah naik ke atas panggung dengan langkah tenang dan dipenuhi aura pakar ranah tinggi. Siapa lagi kalau bukan Han Xingzhou, Pemimpin Balai Lelang Xingzhou sekaligus kepercayaan nomor satu Mu Xuanyuan.
"Selamat datang para tamu agung dari seluruh penjuru Benua Tianming," suara Han Xingzhou menggema jernih di telinga setiap pengunjung tanpa perlu berteriak. "Hari ini, Balai Lelang Xingzhou dengan bangga membuka Acara Lelang Akbar Musim Gugur!"
Tepuk tangan riuh dan seruan penasaran mengguncang seluruh balai lelang.
Dari balik jendela kaca Bilik VVIP Nomor Satu, Mu Xuanyuan kembali bersandar di sofanya, mengambil burung kayu mainannya, dan tersenyum manis. Penyamarannya sebagai pangeran bodoh tetap terjaga rapi, tetapi di balik layar, tirai pertempuran besar antara para pangeran, pasukan bayaran, dan rahasia ranah Kaisar Abadi resmi diangkat.
Langkah kaki Mu Xuanyuan menyusuri karpet merah berbordir benang emas di lorong VIP lantai teratas Balai Lelang Xingzhou. Di sekelilingnya, dinding-dinding batu giok memancarkan kilau spiritual yang hangat, menyerap setiap kebisingan dari ribuan pengunjung di lantai bawah.
Leng Yan berjalan di samping Xuanyuan seraya terus mengibaskan kipas emasnya, mengumbar senyuman flamboyan yang sanggup membuat siapapun terpesona. Di belakang mereka, Leng Shuang melangkah tegap bersama Feng Wuchen dan Gu Juechen yang terus bersiap siaga.
"Oho~ Pangeranku yang tampan," bisik Leng Yan dengan nada mendayu-dayu saat mereka mendekati pintu ganda kayu cendana bertatahkan permata. "Bilik VVIP Nomor Satu ini memiliki pemandangan paling sempurna ke panggung lelang utama. Dan yang paling penting... hanya ada kita berdua di sini—eh, maksudku bersama adikku yang galak dan dua pengawalmu yang kaku ini."
PLAK!
Leng Shuang menepuk bahu Leng Yan dengan gagang pedangnya tanpa ampun. "Hentikan ocehan konyolmu itu, Kakak. Fokuslah pada situasi di luar."
Xuanyuan hanya tertawa cempreng, mendobrak pintu bilik dengan gaya konyol dan melompat ke atas sofa empuk berlapis kulit binatang spiritual. Ia langsung memeluk burung kayu mainannya seraya meraih cangkir teh di atas meja.
"Wah! Kursinya empuk sekali! Seperti tidur di atas kasur busa!" seru Xuanyuan dengan nada kanak-kanak, berakting sempurna untuk membohongi formasi pengintai yang mungkin dipasang oleh faksi luar di sekitar bilik VVIP.
Namun, begitu Leng Yan menutup pintu rapat-rapat dan Leng Shuang mengaktifkan susunan pembatas isolasi suara tingkat tinggi, raut konyol di wajah Xuanyuan perlahan menguap. Suara cemprengnya berganti menjadi nada dalam yang tenang dan penuh aura keagungan Kaisar Abadi.
"Bagaimana situasi di ruang penyimpanan utama, Leng Shuang?" tanya Xuanyuan seraya menyeruput tehnya santai.
Leng Shuang membungkuk hormat. "Han Xingzhou sudah menjaga Kotak Giok Bersegel Kaisar secara pribadi di lantai bawah tanah. Namun, ada laporan darurat dari intelijen kita: sekelompok prajurit rahasia dari Pasukan Po Jun baru saja mendeteksi sinyal berbahaya di empat titik strategis ibu kota."
Bola mata Xuanyuan menyipit tajam. "Sinyal Po Jun?"
Gu Juechen melangkah maju, mengeluarkan selembar peta kain mini yang menunjukkan peta tata ruang Kota Kekaisaran Tianming. "Benar, Yang Mulia. Sinyal Asap Darah—kode darurat paling tinggi milik Pasukan Bayaran Po Jun—baru saja dinyalakan secara rahasia di Gerbang Barat, Menara Pengawas Utara, dan dua distrik perdagangan."
"Siapa yang berani menyalakan Sinyal Asap Darah di dalam ibu kota?" gumam Feng Wuchen, tangannya mencengkeram erat hulu pedangnya.
"Bukan prajurit kita yang memulainya," jawab Leng Yan, kali ini raut flamboyannya memudar dan digantikan oleh tatapan dingin penguasa dunia bawah. "Itu adalah umpan. Seseorang telah memalsukan jimat komunikasi Po Jun untuk memancing Pasukan Bayaran Po Jun keluar dari pos-pos tersembunyi mereka di sekitar ibu kota."
"Siapa pelakunya?" tanya Xuanyuan pendek.
"Putra Mahkota Long Wuji," jawab Leng Shuang tegas. "Rupanya Long Wuji tidak hanya meminjamkan sepuluh juta Kristal Spiritual kepada Pangeran Ke-3 Lu Cangqiong. Ia juga memanfaatkan momen lelang ini untuk memancing keluar kekuatan rahasia di balik Pasukan Po Jun. Long Wuji menduga bahwa Pasukan Po Jun memiliki hubungan erat dengan Paviliun Lelang Xingzhou."
Mendengar hal itu, sudut bibir Mu Xuanyuan justru terangkat mengukir senyuman tipis yang sangat dingin dan berwibawa.
"Long Wuji memang jauh lebih cerdik daripada Lu Cangqiong," tutur Xuanyuan santai. Ia melangkah ke arah jendela kaca transparan satu arah yang menghadap lurus ke panggung lelang di bawah. "Dia ingin menciptakan kekacauan di luar balai lelang, memaksa Po Jun menampakkan diri, sementara Lu Cangqiong bertugas merebut Kotak Giok Bersegel Kaisar di dalam sini."
"Apakah kita perlu memerintahkan Po Jun untuk mundur dan mengabaikan sinyal umpan tersebut, Yang Mulia?" tanya Gu Juechen.
"Tidak perlu," sahut Xuanyuan. "Biarkan Po Jun bermain sesuai aturan main Long Wuji. Beritahu Komandan Po Jun untuk mengirim lima ratus prajurit bayangan untuk mengepung balik pasukan rahasia milik Putra Mahkota di Menara Utara. Jika Long Wuji ingin bermain catur di ibu kota, kita berikan dia lawan yang sepadan."
"Baik, Yang Mulia!" Gu Juechen menyunggingkan senyum patuh, lalu menghilang dalam sekelap bayangan untuk menyampaikan perintah rahasia sang Kaisar Abadi.
Sementara itu, di lantai bawah balai lelang, suasana semakin memanas. Ratusan pangeran, tetua sekte besar, dan tuan muda klan kaya telah memenuhi kursi-kursi lelang.
Di Bilik VVIP Nomor Dua—yang berada tepat di samping bilik Xuanyuan—Lu Cangqiong duduk di kursi emasnya dengan wajah penuh kemenangan. Di tangannya, ia memegang batu jimat komunikasi yang terhubung langsung dengan Putra Mahkota Long Wuji.
"Kakak Sulung," bisik Lu Cangqiong dengan nada penuh dendam melalui jimat spiritual. "Pasukan rahasiamu sudah mulai memancing Po Jun di luar, kan?"
Dari balik jimat, suara dingin dan berwibawa Long Wuji terdengar. "Semua berjalan sesuai rencana, Cangqiong. Fokuslah pada lelang di dalam. Begitu Kotak Giok Bersegel Kaisar itu muncul, gunakan seluruh dana sepuluh juta Kristal Spiritual itu untuk merebutnya. Begitu barang itu ada di tanganmu, pasukanku di luar akan memastikan tidak ada satu pun faksi—termasuk Balai Xingzhou—yang bisa merebutnya kembali."
"Hahaha! Baik, Kakak Sulung!" Lu Cangqiong tertawa puas seraya mematikan jimat komunikasi. Ia melirik ke dinding pembatas Bilik VVIP Nomor Satu di sebelahnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Mu Xuanyuan... si idiot sialan," gertak Lu Cangqiong pelan. "Kau boleh duduk di bilik nomor satu berkat bantuan Leng Yan, tapi sebentar lagi, seluruh ibu kota ini akan jatuh ke dalam cengkeraman Kakak Sulung dan aku! Kita lihat apakah kau masih bisa tersenyum konyol saat seluruh kediamanmu diratakan dengan tanah!"
Teng! Teng! Teng!
Suara dentang gong emas yang bergema tiga kali memotong seluruh keributan di dalam Balai Lelang Xingzhou. Lampu-lampu kristal di atap gedung mendadak meredup, menyisakan satu sorot cahaya keemasan yang terang benderang menyinari panggung utama di tengah ruangan.
Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah putih bersih melangkah naik ke atas panggung dengan langkah tenang dan dipenuhi aura pakar ranah tinggi. Siapa lagi kalau bukan Han Xingzhou, Pemimpin Balai Lelang Xingzhou sekaligus kepercayaan nomor satu Mu Xuanyuan.
"Selamat datang para tamu agung dari seluruh penjuru Benua Tianming," suara Han Xingzhou menggema jernih di telinga setiap pengunjung tanpa perlu berteriak. "Hari ini, Balai Lelang Xingzhou dengan bangga membuka Acara Lelang Akbar Musim Gugur!"
Tepuk tangan riuh dan seruan penasaran mengguncang seluruh balai lelang.
Dari balik jendela kaca Bilik VVIP Nomor Satu, Mu Xuanyuan kembali bersandar di sofanya, mengambil burung kayu mainannya, dan tersenyum manis. Penyamarannya sebagai pangeran bodoh tetap terjaga rapi, tetapi di balik layar, tirai pertempuran besar antara para pangeran, pasukan bayaran, dan rahasia ranah Kaisar Abadi resmi diangkat.