NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Saka mengambil kuas itu dari dalam kotak kayunya dan memegangnya tinggi-tinggi di udara agar semua orang bisa melihat barang itu dengan jelas. "Sistem tadi sudah memperlihatkan sejarah aslinya yang kelam kepadaku, kau tidak akan pernah bisa menipuku dengan omong kosong akademismu itu." Batin Saka dengan tingkat kepercayaan diri yang menembus langit.

"Pertama, coba kau perhatikan baik-baik bagian pangkal bulu kuas ini yang warnanya sedikit kemerahan dan kaku." Ucap Saka menunjuk bagian bawah kuas tersebut menginstruksikan Rendi untuk melihat.

Rendi segera mengangkat kaca pembesarnya memicingkan mata dan memang benar ada noda merah pudar yang tersembunyi berkerak di sela-sela bulu kuas putih tersebut. "Itu pasti sisa noda tinta merah dari stempel kerajaan kuno masa lalu yang mengering karena tidak dicuci bersih." Bantah Rendi dengan cepat tidak mau kalah berdebat.

"Salah besar dan sangat bodoh, itu adalah noda darah segar yang mengering peninggalan dari sang penulis puisi ribuan tahun lalu." Jawab Saka dengan suara lantang yang menggelegar menyanggah teori Rendi.

"Kuas bambu ini sama sekali bukan milik keluarga kerajaan mewah, melainkan milik seorang sarjana miskin yang mati tragis karena kelaparan di pinggiran jalan." Jelas Saka mulai menceritakan secara detail kilas balik masa lalu yang dia lihat dari fitur baru sistemnya.

"Sarjana tua itu memuntahkan darah dari paru-parunya karena sakit parah saat sedang menulis puisi terakhirnya di bawah sinar rembulan menggunakan kuas ini." Lanjut Saka bercerita dengan nada suara yang begitu mendramatisir membuat suasana di sekitar lapak itu mendadak hening dan terasa sangat tegang.

Beberapa pengunjung pasar langsung mengusap lengan mereka yang merinding ketakutan mendengar kisah sejarah mengerikan di balik barang antik tersebut. "Omong kosong macam apa ini, dari mana kau mengarang cerita konyol dan mistis seperti itu untuk menipuku." Teriak Rendi mulai terlihat sangat panik karena simpati penonton mulai berbalik meragukan pengetahuannya.

"Kau butuh bukti fisik yang nyata, baiklah mari kita lihat bukti rahasia yang tersembunyi di dalam kuas mati ini bersama-sama." Tantang Saka sambil memutar pangkal gagang bambu hitam tersebut dengan jarinya.

Saka menekan sebuah titik kayu kecil yang sedikit menonjol di ujung gagang kuas yang tadi dia ketahui tata letaknya dari penglihatan sistem.

 Klak.

Bunyi klik pelan terdengar lalu ujung bambu hitam itu tiba-tiba terbuka dan menjatuhkan sebuah gulungan kertas yang sangat kecil langsung ke telapak tangan Saka.

Semua mata orang yang ada di sana terbelalak kaget tidak percaya melihat ada kompartemen rahasia yang sangat canggih di dalam gagang kuas sekecil itu. Rendi nyaris menjatuhkan kaca pembesarnya ke tanah karena terlampau terkejut dan syok melihat penemuan luar biasa yang sama sekali luput dari pengawasannya.

Saka membuka gulungan kertas yang sudah sangat rapuh itu perlahan dan memperlihatkan sebuah bait puisi kesedihan mendalam yang ternyata ditulis sepenuhnya menggunakan tinta darah. "Ini adalah puisi penderitaan terakhir dari sarjana itu, coba kau lihat stempel nama kecil di bawah sini yang jelas-jelas bukan lambang stempel naga kerajaan." Ucap Saka sambil menyodorkan kertas berdarah itu tepat ke depan hidung Rendi yang mancung.

"Bahkan seorang amatir miskin sepertiku bisa menemukan ruang rahasia ini hanya dalam sekali tatap saja." Ejek Saka dengan senyum kemenangannya yang sangat meremehkan pria berkacamata itu.

"Sementara kau yang sibuk menyombongkan diri sebagai kurator kepala malah tidak menyadarinya sama sekali dan membual soal dekrit kerajaan di depan umum." Lanjut Saka memberikan pukulan mental yang telak menghancurkan reputasi dan harga diri Rendi seketika tanpa sisa.

Penonton di sekitar lapak itu langsung tertawa keras mengejek ke arah Rendi yang kini wajahnya terlihat sepucat mayat hidup kehilangan darah. "Huuuu, ternyata kurator museum resmi juga bisa sok tahu dan berniat menipu orang awam ya kelakuannya." Sorak seorang bapak-bapak di dalam kerumunan itu dengan nada sinis.

"Malu-maluin saja gelar sarjana kuratornya, masa kalah teliti dan kalah pintar sama anak muda yang penampilannya santai begitu." Tambah seorang ibu-ibu di sebelahnya ikut memanaskan suasana yang sangat memalukan bagi Rendi.

Harga diri Rendi benar-benar hancur lebur berkeping-keping diremukkan oleh fakta fisik tak terbantahkan yang dibeberkan oleh Saka di depan matanya. Dia tidak berani mengangkat wajahnya lagi untuk menatap orang-orang dan langsung lari terbirit-birit menembus kerumunan padat itu meninggalkan area pasar loak secepat mungkin.

"Loh Tuan Rendi tolong tunggu dulu uang tunai lima jutanya bagaimana kelanjutannya." Teriak kakek penjual buku itu dengan nada kecewa berat melihat calon pembeli kayanya kabur begitu saja seperti pencuri.

Saka hanya terkekeh pelan melihat kepanikan kakek itu dan segera memasukkan kembali kertas puisi berdarah itu ke dalam rongga gagang kuas dengan hati-hati. "Sudahlah Kek, jangan pernah mengharapkan uang dari orang pembohong dan sombong seperti pria buta barusan." Ucap Saka mencoba menenangkan kakek rakus tersebut.

"Ini uang lima ratus ribu dariku sesuai dengan harga kesepakatan awal kita sebelum orang itu datang mengacau." Saka menyodorkan lima lembar uang kertas berwarna merah langsung ke telapak tangan kakek itu.

Kakek itu menghela napas panjang merasa sangat pasrah dan akhirnya menerima uang tersebut dengan wajah yang sedikit cemberut. "Yaudah kamu bawa sana kuas berdarah itu pergi, ngeri juga bapak nyimpen barang peninggalan orang mati kelaparan di lapak ini."

Saka segera memasukkan kotak kayu berisi kuas pusaka itu ke dalam kantong belanjanya dan berjalan cepat menjauh menghindari kerumunan yang mulai bubar. Dia mencari sebuah lorong sempit yang sepi dan kumuh di bagian paling belakang pasar yang jauh dari jangkauan pandangan orang lain untuk mengeksekusi rencananya.

Setelah memastikan kondisi sekitarnya benar-benar aman dari intaian Saka mengeluarkan kuas itu kembali dan memegangnya erat dengan kedua tangannya. "Sistem, segera serap semua energi Qi murni yang ada di dalam kuas kaligrafi ini sekarang juga jangan sisakan setetespun." Perintah Saka di dalam pikirannya dengan sangat antusias.

[Merespons perintah Master, memulai proses penyerapan energi Qi tingkat tinggi dari Kuas Kaligrafi Tinta Jiwa secara bertahap.]

Sebuah cahaya keemasan yang sangat terang dan menyilaukan mata mengalir deras dari gagang bambu hitam itu merasuk langsung ke dalam pori-pori kulit tangan Saka. Hawa hangat yang luar biasa nyaman langsung menyelimuti sekujur tubuhnya seolah dia sedang berendam di dalam kolam mata air panas pegunungan yang sangat menyegarkan.

Aliran energi kehidupan itu mengalir deras ke setiap pembuluh darahnya membersihkan racun sisa makanan dan rasa lelah secara instan tanpa rasa sakit sedikitpun.

[Penyerapan energi Qi berhasil diselesaikan dengan sempurna.]

[Progres Misi Utama Tahap Dua: 400 dari 1000 Poin Qi.]

Saka mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan merasakan kekuatan fisik ototnya meningkat drastis berkat asupan energi murni yang besar itu. Pandangan matanya menjadi jauh lebih tajam membelah kegelapan lorong dan pendengarannya kini bisa menangkap kepakan sayap lalat dari jarak puluhan meter dengan sangat jelas.

"Ini benar-benar luar biasa, baru mendapat empat ratus poin saja tubuhku sudah terasa seringan bulu dan sekuat besi baja." Gumam Saka takjub sambil menatap kedua telapak tangannya sendiri yang kini memancarkan vitalitas tinggi.

Kuas kaligrafi kuno di tangannya kini langsung berubah warna menjadi sangat kusam dan kayunya terasa rapuh karena kehilangan nyawa magis utamanya. Saka kembali membuang barang antik yang sudah kosong melompong energinya itu ke dalam kantong plastiknya untuk dijual kiloan nanti.

"Tinggal mengumpulkan enam ratus poin lagi ibu, tunggu Saka sebentar lagi dan ibu pasti akan membuka mata." Ucap Saka dengan senyum penuh harapan menatap langit biru yang cerah di atas pasar kota lama tersebut.

1
yani
seru banget
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!