NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Malam itu, Kianara tertidur tanpa benar-benar ingin tidur.

Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Dan ketika akhirnya kesadarannya tenggelam—Ia tidak jatuh ke dalam mimpi.

Ia… ditarik.

Dingin.

Itu yang pertama ia rasakan.

Salju turun perlahan, menutupi segalanya dengan putih yang sunyi. Udara terasa hening, terlalu hening, sampai setiap langkah terdengar jelas.

Di depannya— Seorang gadis berdiri di depan cermin. Rapi, Indah, Penuh harap. Tangannya merapikan pita kecil di rambutnya, berulang kali, seolah takut ada yang kurang sempurna. “…kalau untuknya, tidak apa-apa.” Suaranya lembut.

Rapuh.

Kianara diam, menatap. Perasaan aneh muncul di dadanya—asing, tapi familiar. Seolah ia tahu… apa yang akan terjadi selanjutnya. Langkah kaki menggema di lorong panjang.

Tidak ada jarak waktu.

Tidak ada transisi.

Tiba-tiba— Pintu di depan mereka tertutup.

Gadis itu mengetuk pelan.

“Agerald…?”

Sunyi.

Kianara ikut menahan napas.

Ia tahu jawaban apa yang akan datang.

Dan benar—

“Keluar.”

Dingin.

Tanpa ragu.

Tanpa jeda.

Sesuatu di dalam dada Kianara terasa tertarik, Seperti ikut ditolak. Namun gadis itu tetap tersenyum, tetap berdiri, tetap berharap.

Hari-hari berlalu...Tanpa terasa, Adegan berganti dengan cepat, saling menimpa.

Teh yang tidak disentuh.

Taman yang kosong.

Pintu yang selalu tertutup.

Dan senyum itu— Semakin tipis. Semakin rapuh. Lalu—retak.

Hujan turun deras dan langit gelap.

Pintu terbuka tanpa izin.

“Agerald!”

Nada itu berubah.

Tidak lagi lembut.

Tidak lagi sabar.

“Kenapa kau tidak pernah melihatku…?”

Sunyi.

Kianara merasa dadanya ikut sesak.

Dan jawaban itu—

jatuh seperti vonis.

“Karena tidak ada yang perlu dilihat.”

Tidak ada jeda.

Tidak ada perlahan.

Segalanya langsung—hancur.

Dunia berubah.

Putih menjadi gelap.

Hangat menjadi dingin.

Sunyi menjadi… menekan.

PLAK!

Suara itu menggema keras.

Seorang pelayan terjatuh.

Kianara tersentak.

Matanya melebar.

“Tidak…”

Bisiknya.

Namun tubuhnya tidak bisa bergerak.

Gadis itu berdiri di sana.

Masih sama.

Namun tidak lagi sama.

Senyumnya ada—tapi kosong.

“…kenapa kalian semua… lebih berguna dariku…?” Suaranya pelan. Namun ada sesuatu yang patah di dalamnya.

Adegan berpindah lagi dengan cepat. Kasihannya tidak diberi waktu untuk dipahami, Seorang anak kecil. Arcelio berdiri diam di ruangan dingin.Ia terlihat kecil, rentan, Namun tidak menangis.

Kianara merasakan sesuatu di dadanya tidak nyaman, takut, dan bersalah.

Gadis itu mendekat. Langkah kakinya pelan. Setiap langkah seolah terasa… salah.

“Kenapa kau tidak menangis?”

Tangannya terangkat mencengkeram.

“BERHENTI—!” Kianara berteriak. Namun suara itu tidak keluar.Ia hanya bisa melihat, lebih tepatnya dipaksa melihat. Dua sisi yang saling bertabrakan—namun berasal dari satu hati yang sama.

Tiba-tiba—semuanya berhenti.

Sunyi.

Gelap.

Tanpa ruang.

Tanpa waktu.

Di depannya dua sosok berdiri. Satu dengan mata penuh air.Satu dengan senyum kosong. Keduanya… sama. Keduanya adalah dirinya.

“Ini aku.”

“Ini aku.”

Suara mereka menyatu.

Tenang.

Menyeramkan.

Kianara mundur setengah langkah. Napasnya terasa berat. “Aku bukan kalian…” Namun suaranya goyah. Karena ia tahu—perasaan itu nyata. Cinta itu nyata. Luka itu… nyata.

“Kalau kau mencintai…” Suara lembut itu bergetar. “…kau akan hancur.”

“Kalau kau tidak dicintai…” Suara dingin itu menyusul. “…kau akan menghancurkan.”

Sunyi.

Kianara menutup matanya. Napasnya tidak stabil. Namun kali ini—ia tidak lari. Ia tidak menyangkal. Ia menerima. Bahwa di dalam dirinya…ada kemungkinan untuk menjadi keduanya.

Perlahan ia membuka mata. Tatapannya berubah. Tidak lagi panik. Tidak lagi goyah. Lebih tenang. Lebih dingin. Lebih sadar. “Aku bukan dia.”Suaranya pelan, namun jelas.

“Aku tidak akan hidup dari cerita yang sudah ditulis untukku.”

Retakan mulai muncul di dunia gelap itu halus, namun nyata.

“Aku tidak akan mencintai… sampai kehilangan diriku.”

Satu langkah maju lalu bayangan itu mulai pecah.

“Dan aku tidak akan melukai… hanya karena aku tidak dicintai.”

Retakan menyebar dan dunia mulai runtuh.

Kianara menatap kedua sosok itu untuk terakhir kalinya. Ada sisa emosi di matanya, sisa luka. Sisa sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dihapus.

“…cinta…” Ia berhenti sejenak. “…adalah hal terakhir yang akan kupilih.”

CRACK—Segalanya hancur...

Kianara terbangun. Napasnya memberat. Dada naik turun cepat. Keringat dingin menempel di kulitnya.

Ruangan gelap.

Sunyi.

Nyata.

Ia menatap kosong ke depan dengan sangat lama. Tangannya perlahan mengepal di atas selimut. “…cukup.” Bisiknya pelan. Hampir tidak terdengar.

Malam masih panjang. Namun sesuatu di dalam dirinya—telah berhenti bergerak ke arah yang sama.

Dan tanpa ia sadari—di tempat lain, Agerald menghentikan langkahnya sejenak. Alisnya sedikit berkerut. Seolah ada sesuatu yang hilang…atau berubah. Namun ia tidak tahu apa.

...*****...

Pagi itu datang tanpa suara.

Cahaya tipis menyusup melalui celah tirai, jatuh pelan di lantai kamar Kianara. Udara terasa dingin, tapi tidak menusuk. Semuanya… biasa saja. Namun justru itu yang terasa berbeda.

Kianara sudah terbangun sejak lama. ia duduk diam di tepi ranjang, punggungnya tegak, tangannya bertumpu ringan di atas lutut. Tidak ada gerakan gelisah. Tidak ada helaan napas berat. Tidak ada ekspresi kosong yang kehilangan arah. Ia hanya… diam.

Dan di dalam diam itu—tidak ada lagi suara yang biasanya memenuhi kepalanya.

Tidak ada bayangan seseorang.

Tidak ada skenario-skenario kecil tentang pertemuan.

Tidak ada keinginan untuk dilihat.

Nama itu—tidak muncul.

Perlahan, ia menurunkan pandangannya ke tangannya sendiri. Jari-jarinya bergerak sedikit, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada. Bahwa ia… sadar. “…jadi seperti ini rasanya,” bisiknya lirih.

Tidak sakit.

Tidak sesak.

Tidak berharap.

Perasaan yang dulu terasa seperti sesuatu yang mengikat, yang menahan, yang terus menariknya ke satu arah—

kini… hilang.

Bukan dipaksa hilang.

Tapi dilepaskan.

Ia berdiri. Langkahnya pelan, tapi pasti. Setiap gerakan terasa ringan, seolah tubuhnya tidak lagi membawa sesuatu yang sebelumnya terlalu berat untuk ditanggung.

Di depan cermin—ia berhenti. Pantulannya menatap balik. Wajah yang sama. Garis yang sama. Namun matanya…tidak lagi sama. Tidak ada lagi kilau yang terlalu mudah menyala hanya karena satu orang. Tidak ada lagi ketegangan halus yang selalu muncul setiap kali memikirkan kemungkinan bertemu. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang dingin. Kesadaran yang jernih.

Kianara mengangkat tangannya, menyentuh permukaan cermin dengan ujung jarinya.

Dingin.

Nyata.

“Aku tidak akan…” suaranya pelan, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri, “…mengulangi hal yang sama.”

Ia menatap lurus ke dalam matanya sendiri. Tidak menghindar. Tidak ragu.

“Aku tidak akan hidup dari sesuatu yang bahkan bukan milikku.”

Bayangan dalam mimpi semalam terlintas sekilas—cukup untuk diingat, tidak cukup untuk menguasai. Cinta yang menghancurkan. Dan kebencian yang melukai. Keduanya—ia tolak.

“…cinta,” ia berhenti sejenak, napasnya teratur, stabil, “…bukan sesuatu yang kubutuhkan.” Bukan sekarang. Mungkin… tidak akan pernah.

Ia menarik tangannya dari cermin. Berbalik lalu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi.

Di sisi lain kediaman—pagi berjalan seperti biasa.

Pelayan berlalu-lalang. Suara langkah terdengar samar. Kehidupan tetap bergerak tanpa peduli perubahan yang terjadi pada satu orang.

Namun di dalam ruang kerja—Agerald berdiri diam. Dokumen terbuka di atas mejanya. Namun matanya tidak benar-benar membaca. Ada sesuatu yang… mengganggu.

Tidak besar.

Tidak jelas.

Namun cukup untuk membuatnya tidak fokus. Ia terbiasa dengan ketenangan. Dengan rutinitas yang tidak berubah. Dengan segala sesuatu yang berjalan sesuai jalur yang ia tentukan.

Namun pagi ini—ada sesuatu yang hilang dari pola itu.

Ketukan pintu, Tidak ada.

Suara pelan yang biasanya terdengar—tidak ada.

Kehadiran yang… sering muncul tanpa alasan—tidak ada.

Agerald mengangkat kepalanya sedikit. Tatapannya mengarah ke pintu. Beberapa detik berlalu. Lebih lama dari yang seharusnya untuk sesuatu yang… tidak penting. “…aneh,” gumamnya pelan. Alisnya sedikit berkerut. Bukan karena ia menunggu. Tentu saja tidak. Namun—ketiadaan itu terasa… nyata.

Ia mengalihkan pandangan kembali ke dokumen. Mencoba fokus. Namun kata-kata di atas kertas terasa datar. Tidak ada yang masuk, tidak tertangkap. Dan tanpa ia sadari—pikirannya kembali ke hal yang sama.

“…merepotkan,” ucapnya singkat. Seolah ingin menutup pikiran itu. Ia tidak tahu— yang hilang itu siapa.

Lorong utama kediaman Anwealda terasa panjang pagi itu. Cahaya matahari memantul lembut di lantai marmer, menciptakan garis-garis terang yang tenang. Langkah kaki terdengar pelan dan teratur.

Kianara berjalan menyusuri lorong itu.

Tidak terburu-buru.

Tidak lambat.

Hanya… berjalan.

Tatapannya lurus ke depan.

Tidak mencari.

Tidak menunggu.

Dan di ujung lorong—sebuah sosok muncul.

Tinggi.

Tegas.

Tidak asing.

Langkah Kianara tidak berubah. Tidak melambat. Tidak berhenti.

Sementara itu—Agerald yang berjalan dari arah berlawanan—menyadari keberadaan itu lebih dulu. Biasanya, ini adalah momen yang sudah ia kenal. Langkah yang terhenti, Tatapan yang menunggu, Suara yang memanggil.

Namun kali ini—tidak ada.

Kianara tetap berjalan, Seolah—ia tidak melihatnya. Atau mungkin— melihat, tapi tidak menganggap penting. Dan itu—cukup untuk membuat langkah Agerald melambat.

Sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Jarak di antara mereka semakin dekat.

Langkah demi langkah.

Sunyi.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada usaha.

Hanya dua orang—yang berjalan melewati satu sama lain. Dan tepat saat mereka sejajar— Kianara berhenti. Bukan karena ragu. Bukan karena kebiasaan. Namun karena—ia memilih untuk berhenti.

“Agerald.” Suaranya keluar tenang dan datar. Tanpa emosi yang berlebihan.

Agerald menoleh. Alisnya sedikit terangkat. Itu berbeda. Nada itu— tidak membawa apa pun. Tidak ada harap. Tidak ada gugup. Tidak ada sesuatu yang biasanya selalu ada.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.” Kianara menatapnya langsung. Tanpa menghindar. Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa detik—Agerald tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan lebih lama dari biasanya. “…bicara.”

“Mulai hari ini,” Kianara berkata pelan, namun jelas, “aku tidak akan lagi mengganggumu.”

Sunyi jatuh di antara mereka.

Kalimat itu sederhana.

Ringan.

Namun entah kenapa—terasa… berat.

Agerald mengernyit sedikit. “Lalu?”

“Tidak ada.” Jawaban cepat namun stabil. “Aku hanya memberitahumu agar tidak ada kesalahpahaman.”

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada alasan.

Tidak ada emosi.

Hanya keputusan.

Kianara menundukkan kepala sedikit.

Formal.

Sekilas.

Lalu ia melangkah maju melewati Agerald.

Tidak berhenti.

Tidak menunggu.

Tidak menoleh.

Langkahnya tetap sama.

Tenang.

Terukur.

Dan saat jaraknya semakin jauh—

Agerald tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti punggung Kianara. Ada sesuatu yang terasa… tidak tepat. Harusnya—ini tidak berarti apa-apa. Namun ruang di sekitarnya terasa lebih kosong. Lebih sunyi.

“…tidak akan mengganggu?” ulangnya pelan.

Kata-kata itu kembali terngiang. Anehnya— ia mengingatnya terlalu jelas. Dan untuk pertama kalinya—ia menyadari sesuatu yang kecil. Namun tidak bisa diabaikan.

Hari ini, Kianara tidak mencoba mendekat. Tidak mencoba bicara lebih lama. Tidak mencoba… apa pun. Dan justru itu—yang tertinggal.

Di kejauhan—Kianara terus berjalan.

Tidak melambat.

Tidak berhenti.

Wajahnya tenang.

Langkahnya stabil.

Namun jauh di dalam—ia tahu...Ia tidak kehilangan apa pun. Ia hanya berhenti berharap.

Dan sejak saat itu, jarak di antara mereka bukan lagi sesuatu yang tidak terlihat. Melainkan—sesuatu yang benar-benar ada.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...To Be Continue...

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
Lia.nara: thks ya /Smile/
total 1 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Lia.nara: teeimakasih atas sarannya, ikuti alurnya saja...akan banyak kejutan di depan
total 1 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!