NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami Istri

Kinara terbangun di tengah malam. Matanya membuka perlahan, tubuhnya terasa hangat karena ada sesuatu yang melingkupinya erat.

Begitu kesadarannya kembali, ia tersentak. Sebuah lengan kekar tengah melingkari pinggangnya, menahan tubuh mungilnya seolah enggan dilepaskan.

Perlahan, ia membalikkan badan, dan pandangannya jatuh pada sosok pria yang tertidur pulas di sebelahnya.

Wajah tampan itu begitu dekat, napasnya teratur, seolah dunia di luar sana tak ada hubungannya dengan mereka. Ingatan semalam pun menyeruak jelas dalam benaknya.

Renald datang dalam keadaan setengah sadar, matanya redup, langkahnya tak seimbang. Aroma alkohol yang pekat masih terasa menusuk dari napasnya. Kinara jelas tahu, bosnya itu mabuk berat.

Namun yang membuatnya bingung, bukankah seharusnya Renald masih berada di luar negeri? Setahunya, jadwal kepulangan pria itu baru beberapa hari lagi.

Mengapa tiba-tiba ia muncul di dalam apartemennya?

Ia sempat panik. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Renald yang begitu kuat, seakan pria itu mencari tempat berlindung darinya.

Butuh tenaga ekstra, sampai tubuhnya terasa pegal hanya karena mencoba keluar dari dekapan itu. Namun akhirnya, ia berhasil juga.

Ia duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Handphone di tangannya berkedip, layar menampilkan beberapa panggilan tak terjawab dari manajer club tempatnya bekerja paruh waktu. Kinara mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ia sampai lupa dengan jadwal kerjanya?

Dengan hati-hati, ia mengetikkan pesan, berusaha menyusun alasan mengapa ia tidak mengangkat telepon sekaligus menolak masuk kerja malam itu. Setelah pesannya terkirim, ia meletakkan ponselnya di meja samping ranjang.

Matanya kembali tertuju pada Renald. Lelaki itu masih tidur dengan nyenyak, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan biasanya.

Semua garis tegas yang selalu menampilkan aura dingin dan otoriter kini melunak, menyingkapkan ketampanan yang nyaris membuat Kinara tak mampu berpaling.

“Oh Tuhan, bagaimana bisa ada manusia setampan ini?” Batinnya. Jemarinya sempat tergerak ingin mengusap wajah itu, tapi ia buru-buru menarik tangannya.

Ia sadar betul siapa Renald. Bos sekaligus pria yang selama ini selalu bertindak sesuka hatinya. Dengan cepat, Kinara menggeleng, menepuk pipinya sendiri agar tidak larut dalam perasaan aneh.

“Sadarlah, Kinara. Jangan tergoda. Ingat tujuanmu,” ia berbisik pada dirinya sendiri.

Akhirnya, Kinara memutuskan membiarkan Renald beristirahat di apartemennya. Mustahil ia mengusir pria itu yang bahkan sudah terlelap tanpa sadar. Ia hanya bisa membantu sebisanya—melepas sepatu dan kaus kaki Renald, lalu menyelimutinya dengan hati-hati.

Setelah lampu dimatikan, Kinara pun ikut berbaring di ranjang. Namun ia sengaja memberi jarak beberapa jengkal, seolah menarik batas tak kasat mata di antara mereka.

Pagi hari.

Aroma masakan menguar lembut, memenuhi ruangan kecil apartemen itu. Bau tumisan bawang putih dan kecap membuat perut siapa pun akan tergelitik lapar.

Renald terbangun dengan kepala berdenyut ringan. Bekas pengaruh alkohol masih tersisa, tapi pikirannya mulai jernih. Saat ia menoleh, barulah ia sadar di mana ia berada.

Pandangan matanya tertuju pada sosok Kinara di dapur. Gadis itu sedang meletakkan piring di meja makan, masih mengenakan apron yang membuatnya tampak seperti seorang istri muda.

“Bangunlah, Renald. Aku sudah menyiapkan sarapan,” ujar Kinara, suaranya datar namun terdengar hangat.

Renald tak langsung menanggapi. Ia memilih bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajah, mencoba menghilangkan sisa mabuk di kepalanya.

Sesaat kemudian, ia keluar, rambutnya sedikit berantakan namun wajahnya lebih segar.

“Sudah? Duduklah di sana. Aku membuat nasi goreng untuk kita berdua,” kata Kinara sambil menunjuk kursi.

Anehnya, Renald menurut begitu saja. Tak ada protes, tak ada komentar dingin seperti biasanya. Ia duduk, diam, menunggu Kinara menyajikan makanan.

Dan dalam sekejap, suasana itu membuat keduanya tampak seperti pasangan suami istri yang sedang sarapan di pagi hari.

Hanya bunyi dentingan sendok dan piring yang terdengar. Kinara, yang merasa canggung, mencoba mencairkan suasana. “Bagaimana rasanya?” tanyanya dengan senyum kecil.

Renald mengunyah sebentar, lalu menjawab singkat, “Lumayan.”

Kinara mendesah dalam hati. Satu kata itu terasa terlalu pelit. Ia berharap setidaknya Renald mau menambahkan satu atau dua kalimat lagi, tapi sepertinya itu mustahil.

Sarapan pun selesai tanpa banyak obrolan. Setelah meletakkan sendoknya, Renald bangkit. “Terima kasih untuk sarapannya.”

Kinara hanya mengangguk. Namun tiba-tiba, pria itu menoleh.

“Apa kau ingin berangkat ke kantor bersamaku?” tanyanya.

Kinara sempat terkejut. “Eh? Apa tadi katamu?”

Renald mengulang, kali ini lebih jelas, “Apa kau ingin berangkat ke kantor bersamaku?”

Pipinya memanas. Ia buru-buru menggeleng. “Tidak perlu. Kita masing-masing saja. Lagi pula aku belum bersiap.”

Ia tak ingin mengambil risiko. Bagaimana jika ada yang melihat mereka keluar dari mobil yang sama? Itu pasti akan memicu gosip yang lebih heboh di kantor.

Renald mengerutkan dahi. “Apa kau yakin?”

“Iya, aku yakin. Sudah, kau berangkat duluan saja. Aku harus bersiap sekarang.” Kinara dengan cepat mendorong tubuh Renald ke arah pintu.

“Tapi—”

Ucapan itu terpotong. Pintu apartemen telah menutup rapat, meninggalkan Renald di luar dengan wajah kaget.

“Bisa-bisanya kau memperlakukanku seperti ini. Awas saja nanti di kantor!” gerutunya pelan.

Ia kesal. Semua wanita selalu berharap bisa menghabiskan waktu bersamanya, tapi Kinara malah mengusirnya tanpa ampun seperti ini.

Pada akhirnya ia pun pergi melangkah meninggalkan apartemen. Instingnya, yang terasah dari bertahun-tahun berkecimpung di dunia hitam, membuatnya sadar ada sesuatu yang janggal.

Dari sudut mata, ia melihat pergerakan mencurigakan. Ada seseorang yang mengintai, seakan memantau dirinya juga apartemen Kinara.

“William?” batinnya. Ia langsung mengenali tanda-tanda bawahan salah satu sahabatnya itu..

Renald hanya melirik dari ujung matanya dan terus melangkah hingga ia masuk ke dalam mobilnya yang terparkir.

Tiba di kantor, Kinara berlari kecil saat memasuki gedung tersebut. Nafasnya terengah, wajahnya agak pucat karena panik.

Ia menyesal terlalu lama menyiapkan sarapan tadi. Jika saja Renald tidak datang ke apartemen miliknya, mungkin ia masih bisa bersantai seperti biasanya.

Tapi sayangnya ia terlambat, dan juga merasa sedikit takut jika Renal sudah tiba lebih dulu, karena ia tahu pria itu bukan tipe yang bisa menoleransi keterlambatan.

Dengan cepat, Kinara menuju ruang kerja Renald. Ia sedikit mengintip dan akhirnya dapat bernafas lega. "Ah, syukurlah...!" Ujarnya.

Renald belum tiba dan ruangan itu masih dalam keadaan berantakan karena semalam ia langsung pulang setelah menyelesaikan proyek lego yang diberikan Renald.

Tanpa membuang waktu, ia mulai membereskan ruangan. Tumpukan berkas ia rapikan, debu di meja ia lap dengan sigap. Lego yang sudah ia susun ia letakkan di atas meja kerjanya sendiri, tepat di sisi meja Renald.

Satu tugas lagi: membuat kopi. Kinara segera berjalan ke pantry dan menyalakan mesin kopi, menyiapkan secangkir untuk bosnya.

“Ah, akhirnya selesai juga,” gumamnya dengan senyum kecil, menatap hasil kerjanya. Walau hanya sekadar membersihkan ruangan dan menyiapkan kopi, ia merasa lega karena semua tampak rapi.

Dan kini, ia hanya bisa menunggu kedatangan Renald—bos dingin yang tadi pagi sempat ia usir halus dari apartemennya.

1
Siti Naimah
busett...bener2 keluarga toxic
semoga kelakuan Rani segera terbongkar...lewat Danu yg merupakan ayah biologis Diana..
geregetan banget kok Kinara yg dijadiin sapi perah
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!